
Lilian melajukan motornya dengan perlahan dengan selalu mendengarkan panduan arah dari Avanti.
Setelah beberapa menit motor berhenti di dekat tugu dusun di suatu perempatan. Tidak lama kemudian motor Bram ikut berhenti di belakang motor Lilian.
"Itu mas rumah nya" ucap Avanti sambil menatap pada Bram. Bram sejenak menatap pada rumah yang ditunjuk oleh Avanti. Sangat di luar perkiraan Bram kalau melihat dari profil dan tampilan pak Heri apalagi kalau mendengar dari informasi warga pak Heri selalu membeli hasil bumi warga dengan harga sangat rendah dan dia menjualnya kembali dengan harga sangat tinggi, berarti dapat keuntungan besar. Bram membayangkan rumah pak Heri bangunan yang megah... ah..mungkin rumah jelek tapi tabungan banyak begitu batin Bram.
"Ayo mas" ucap Nindya yang sudah turun dari motor. Bram tersadar dari bengongnya lalu turun dari motor dan mengambil oleh oleh yang dibelinya tadi.
Mereka berempat lalu berjalan menuju ke rumah pak Heri. Rumah dengan dinding tembok separo tanpa cat dan dibagian atasnya disambung dengan papan kayu tipis dan jelas bukan kayu jati. Mereka berempat sudah berada di depan pintu yang tidak tertutup. Terlihat lantai nya terbuat dari semen di ruang tamu terlihat ada bangku kursi panjang dari kayu seperti bangku buatan sendiri. Di lantai terlihat ada beberapa ceceran nasi
"Assalamualaikum..." ucap Avanti
"Wa'allaikumsalam..." ucap seorang perempuan dari dalam rumah.
Tidak berapa lama nampak seorang perempuan kurus dengan menggendong seorang anak kira kira usia setahun lebih dan disampingnya ikut berjalan seorang anak balita sambil memegang baju daster lusuh perempuan tersebut
"Maaf ada perlu apa?" tanya perempuan tersebut setelah mendekat
"Pak Heri ada Bu?" tanya Bram
"Oo ada ada, silahkan masuk" ucap perempuan itu kemudian
Lalu Bram, Nindya, Lilian dan Avanti masuk ke dalam rumah. Mereka lalu duduk di bangku panjang secara berjejer berdempetan. Bram di paling ujung lalu di sampingnya Nindya kemudian Lilian dan Avanti di sisi ujung lainnya.
Terlihat Bram dan Nindya masih membawa oleh oleh nya. Tidak berapa lama muncul pak Heri dari ruang belakang yang tersekat oleh dinding papan dan pintu yang tertutup oleh tirai kain.
"Ooo mas Bram" ucap pak Heri yang sudah tahu nama Bram
"Sebentar mas" ucap pak Heri kemudian dan tidak berapa lama dia datang lagi sambil membawa kursi plastik lalu dia duduk di kursi plastik tersebut.
"Maaf mas, kondisinya seperti ini" ucap Pak Heri sambil tersenyum kikuk
"Iya Pak santai saja ga apa apa" jawab Bram
__ADS_1
"Ada perlu apa Mas?" tanya pak Heri serius dan seksama
"Hanya silaturahmi saja Pak, maaf ini oleh oleh buat anak pak Heri" ucap Bram sambil mengulurkan buah buahan yang dibawanya, kemudian dikuti Nindya menyerahkan. satu kantong besar berisi cemilan
"Terima kasih mas mbak" ucap pak Heri
"Buk... sini ada rejeki nih, dan buatkan minum untuk tamu nya" teriak pak Heri pada istrinya
"Ya Pak sebentar" jawaban istri pak Heri dari dalam ruang belakang
Tidak berapa lama perempuan yang dipanggil pak Heri datang sambil membawa nampan berisi empat gelas teh, masih dengan posisi sama mengendong anak dan diikuti anak balita satunya yang selalu memegang baju daster nya.
Perempuan itu lalu menaruh nampan di meja yang ada di dekat Bram.
"Silahkan mas mbak diminum hanya teh, kenalkan saya istrinya pak Heri" ucap perempuan tersebut sambil menaruh nampan dan mengenalkan diri.
"Terimakasih Bu" ucap Bram dan tiga perempuan di sampingnya secara bersamaan
"Pak Heri anaknya berapa?" tanya Bram
"Tiga mas, yang paling besar laki laki kelas dua SD sedang bermain" jawab pak Heri
"Begini mas keadaan saya anak tiga masih kecil kecil, dan istri saya sakit sakit an" ucap pak Heri dengan ekspresi mengiba
"Sakit apa Pak?" tanya Nindya
"Macem macem mbak, saya sampai bingung katanya darah rendah, kurang darah, sakit lambung, migren, vertigo, tapi kadang juga malah darah tinggi, benar benar bingung saya" jawab pak Heri
"Uang yang di dapat hanya habis untuk berobat obat puskesmas tidak mempan baginya" ucap pak Heri kemudian
"Belum lagi sering dapat musibah entah istri atau anak saya, kemarin anak saya jatuh dari naik sepeda masuk selokan kepala bocor" ucap pak Heri kemudian
"Maaf Pak kalau menyinggung perasaan, ini hanya kata dari seorang pak Man tukang kebun saya, katanya kalau cari rejeki dengan cara menzolimi orang lain tidak jadi berkah" ucap Bram karena dia sudah tahu pekerjaan pak Heri, dan pak Heri sendiri juga sudah mengakui pekerjaannya waktu di kantor polisi
__ADS_1
"Mungkin bisa dapat uang banyak tapi hati tidak tenang kalau tidak ya sering dapat musibah entah masalah kesehatan atau yang lainnya" ucap Bram selanjutnya namun mendapat sikutan dari Nindya. Nindya kuatir kalau pak Heri tersinggung
"Iya mas, saya juga merasakan hal seperti itu, dapat uang berapapun selalu kurang hanya lewat sebentar, dan uang kadang melayang tidak jelas kadang juga kena tipu kawan sendiri" ucap pak Heri
"Tapi susah mas cari pekerjaan" ucap pak Heri kemudian
"Ayo sambil diminum" katanya selanjutnya sambil tangan memberi kode mempersilahkan
"Pak Heri apa mau bekerja sungguh sungguh dan jujur agar menjadi berkah, agar pikiran pak Heri tenang juga keluarga sehat?" tanya Bram setelah meneguk minuman. Sungguh hati Bram sangat tersentuh melihat kondisi rumah dan anak istri pak Heri.
"Saya akan berusaha mas, saya tidak ditahan kemarin sudah bersyukur sekali saya pengen memulai dengan kerja yang benar" ucap pak Heri dengan sungguh sungguh.
Bram lalu terlihat mengambil dompetnya dan mengambil selembar kartu nama.
"Bapak bisa datangi alamat ini" ucap Bram pada pak Heri sambil menyerahkan sehelai kartu nama
"Bharata Group, perusahan eksport hasil bumi yang terkenal di kota ini mas, apa mau menerima saya sebagai pegawai" ucap pak Heri dengan bingung setelah membaca tulisan di kartu nama tersebut
"Bilang saja bapak dapat kartu nama ini dari saya, temui langsung pak Bharata jangan yang lain bilang saja temannya Bram" ucap Bram
"Tapi bapak harus bisa dipercaya karena saya sudah berusaha mempercayai pak Heri, nanti membeli hasil bumi warga dengan harga yang layak yang fair" ucap Bram kemudian
"Baik baik mas terima kasih" ucap pak Heri sambil memegang tangan Bram dan menciuminya.
"Baiklah, nanti saya akan hubungi pak Bharata" ucap Bram lalu menghabiskan minumannya.
"Okey kalau begitu kami pamit" ucap Bram sambil menoleh pada ketiga perempuan di sampingnya.
"Iya terima kasih mas" ucap pak Heri
"Buk tamunya pamit nih" teriak pak Heri
Tidak lama kemudian istri pak Heri yang masih menggendong anaknya keluar dari ruang belakang dan anaknya yang balita ikut berjalan di belakangnya sambil membawa apel dan membrakotinya
__ADS_1