Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
129. Misteri liontin


__ADS_3

Tedy lalu menatap ke arah wajah Bram dengan serius.


“Aku kemarin bilang ke Nindya siap jika harus melamar Lilian, tapi kok sekarang aku deg deg an ya....” jawab Tedy dengan ekspresi wajah memelasnya.


“Gimana sih kakak ipar, kita semua mendukung mati matian yang didukung malah loyo di medan perang" ucap Bram lalu bangkit dari tidurnya sambil memegang guling kemudian dipukulkan di punggung Tedy.


“Siap sih siap Bro, tapi deg deg an mosok ga boleh deg degan, itu kan manusiawi” ucap Tedy


“Aku belum bisa beli rumah gimana nanti kalau ditanya orang tua Lilian, kesiapan apa yang sudah aku miliki, kondisiku beda sama kamu Bro" ucap Tedy selanjutnya


“Kamu jangan nyindir aku, aku juga belum beli rumah” ucap Bram sambil matanya melirik ke Tedy


“Iya kalau kamu belum beli rumah tapi sekarang juga kalau kamu mau beli rumah kamu bisa tinggal pencet pencet atau gesek gesek" jawab Tedy


“Sudah jangan mikir yang berat berat dulu, dijalani saja dulu...kalau ada niat itu sudah bagus ha...ha... “ ucap Bram sambil tertawa kecil


“Kenapa kita kalau kepentok cinta otak jadi bumbet ya Bro he...he... kakak ipar masih untung adik bisa untuk curhat adik ipar bisa diandalkan” ucap Bram sambil menepuk dadanya


“Aku dulu juga jadi bego sampai sampai curhatnya ke pak Man, tapi untung juga karena cinta tidak mengenal kasta jadi setiap orang pernah disinggahi oleh cinta” ucap Bram


“Iya ya Bro jadi kita bisa curhat cinta dengan siapa saja” saut Tedy


“Iya tapi yang sefrekwensi ....” ucapan Bram belum selesai karena pintu kamar terdengar ada suara ketukan


Bram lalu bangkit berdiri dan membuka pelan daun pintu kamar tersebut, terlihat sosok Rangga dengan senyum bahagianya. Dia sangat bahagia karena punya teman teman cowok di dalam rumah.


“Mas Bram belum mandi?” tanya Rangga saat melihat Bram masih dengan baju yang sama saat tadi datang.


“Kakak ipar mandi dulu sana biar tubuh segar nanti otak juga jadi segar" ucap Bram sambil menoleh ke arah Tedy sambil membuka pintu lebih lebar


“Kakak ipar" gumam Rangga sambil masuk ke dalam kamar


“Aku panggilnya juga kakak ipar saja” ucap Rangga dengan bibir tersenyum lebar


“Kakak ipar juga belum mandi?” tanya Rangga sambil menatap Tedy yang masih duduk di kursi. Tedy terlihat menjawab dengan anggukan kepala dan tertawa kecil.


“Mandi aja sekarang, mbak Nindya dan mbak Lilian sudah mandi mereka sedang membantu ibu nyiapin makan malam, paling sebentar lagi selesai kita dipanggil untuk makan" ucap Rangga sambil duduk di samping Bram di tepi tempat tidur.


Terlihat Tedy lalu bangkit berdiri meletakkan hapenya di meja, lalu menuju ke tempat tasnya berada untuk mengambil perlengkapan mandi lalu berjalan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Sementara itu Nindya dan Lilian baru saja berada di ruang makan, mereka sudah cantik cantik natural dengan baju santai rumahnya yang sopan.


“Nin maaf ya tadi malah belum sempat mengucapkan selamat atas lamaranmu” ucap Ibunya Lilian sambil memeluk Nindya


“Terimakasih Bu" jawab Nindya sambil membalas pelukan ibunya Lilian


“Semoga segera menikah resmi ya, dan harus bisa jaga diri sampai nikah resmi jangan tergoda ya...” ucap ibunya Lilian lagi sambil mengurai pelukannya


“Aaaminnn" ucap Nindya dan Lilian


“Semoga Lilian juga segera menyusul" ucap Ibunya Lilian yang sekarang tatapan matanya tertuju pada sosok Lilian.


Namun tiba tiba ekspresi wajahnya terlihat kaget saat melihat liontin yang menempel di dada Lilian. Saat tadi Lilian baru datang kalung dan liontin yang menempel di tubuhnya tidak terlihat oleh siapapun sebab tertutup oleh kain bajunya. Sekarang Lilian memakai baju rumah tanpa krah, kalung dan liontinnya jadi terlihat oleh Ibunya.


“Li, kamu kok memakai liontin mahal, punya siapa dapat dari mana?” tanya ibunya beruntun sambil serius menatap liontin Lilian. Dan sekarang tidak hanya melihat tetapi tangannya sudah terukur memegang dan mengamati liontin Lilian. Sedangkan Lilian hanya bisa saling pandang dengan Nindya.


“Meskipun ibumu ini orang desa tetapi Ibu tahu ini batu permata mahal" ucap Ibunya Lilian kemudian


“Kok ibu tahu ini batu permata mahal, sebelum ada yang bilang ini harganya mahal aku tidak tahu, Cuma tahuku ini bagus banget" ucap Lilian sambil menatap ibunya.


“Kakek buyutmu pernah punya batu permata seperti ini, punya beliau lebih besar tapi dibuat cincin, punya kamu memang design nya bagus, kalau punya kakek buyut hanya mentol besar" ucap Ibu Lilian yang masih mengamati amati liontin anak gadisnya.


“Kok bisa ada perampok Bu?” tanya Nindya dan Lilian secara bersamaan.


Kini ibunya Lilian sudah tidak mengamati liontin Lilian tetapi sudah mulai sibuk menyiapkan meja makan dan dibantu oleh Nindya dan Lilian.


“Kakek buyutmu kan terkenal orang kaya di desa, tanah perkebunan dan sawah luas hasil kebun dan sawah juga banyak, sering ada tamu dari kota. Hasil panen yang berlebih dibelikan perhiasan sampai sekotak perhiasan kakek nenek buyutmu itu. Saat menemui orang orang penting itulah kadang kakek dan nenek buyut memakai perhiasan mahalnya. Mungkin itulah yang membuat orang iri dan serakah lalu berbuat jahat" jawab ibunya Lilian menceritakan masa lalu kakeknya


“Padahal barang barang perhiasan kakek sudah disimpan di tempat yang paling aman, anak anaknya saja tidak tahu" ucapnya selanjutnya


“Kok perampoknya bisa tahu Bu?” tanya Lilian


“Heleh yang ngasih tahu itu si burung beo kesayangan Kakek buyut yang selalu diajak kemana mana” jawab ibunya Lilian


“Ealahhhh beo beo...beo kurang ajar ga tahu disayang sayang" gerutuan ibunya Lilian


“Terus Bu....” ucap Nindya dan Lilian ingin tahu kelanjutan ceritanya


“Ya terus dimatikan si beo itu karena kakek buyut sangat kecewa, maka beliau berpesan semua keturunannya tidak boleh memelihara burung beo" jawab ibunya Lilian

__ADS_1


“Ooooo” gumam Lilian dan Nindya bersamaan


“Ya sudah yang penting nyawa keluarga saat itu selamat, harta bisa dicari lagi" ucap Ibunya Lilian


“Besok kita tanya ke Nenek kamu tentang liontin kamu itu sama tidak batu permatanya dengan kepunyaan kakek buyut, beliau yang lebih paham. Kalau sama pasti beliau sangat senang sekali" ucap ibunya Lilian selanjutnya


“Tapi kamu belum jawab dari mana kamu dapat liontin ini?” tanya ibunya Lilian lagi sambil menatap Lilian


“Dari kak Tedy” jawab Lilian pelan


“Tapi dia tidak mencuri Bu" saut Nindya dengan nada suara kuatir


“Ibu tidak menuduh kakakmu mencuri Nin, ibu tadi hanya menceritakan sejarah he..he...” ucap Ibunya Lilian sambil tertawa kecil agar Nindya tidak merasa kuatir.


“Kak Tedy hanya bilang itu hasil design temannya yang berprofesi sebagai designer perhiasan Bu" ucap Nindya


“Saudaranya mas Bram juga bilang kalau ini barang limited edition dan hanya orang orang tertentu saja yang bisa mendapatkan" ucap Lilian turut menambahi perkataan Nindya


“Ibu jadi percaya kalau kamu dan Tedy bener bener pacaran, sudah dipeneng kamu rupanya” ucap Ibunya Lilian sambil tersenyum lebar menatap Lilian


“Dipeneng itu apa Bu?” tanya Nindya dengan nada suara yang kembali kuatir, sebab sepengetahuan kakaknya belum ngapain ngapain Lilian.


“Lah itu sudah dikasih kalung dan liontin, sapi kalau dikasih kalung dan tanda itu kan dibilangnya dipeneng" jawab ibu nya Lilian..


“Hua..ha....ha.... kamu disamain sapi Li" tawa Nindya pecah mendengar penjelasan ibunya Lilian sedangkan Lilian tampak cemberut.


“Li kamu sudah dipeneng tinggal nunggu dipinang ... “ ucap Nindya kemudian sambil menatap Lilian


“Iya kan Bu?” ucap Nindya selanjutnya sambil menatap ibunya Lilian, Nindya bagaikan mendapat angin segar, tugasnya sepertinya lebih ringan tinggal membujuk Lilian sahabatnya.


“Iya, sudah sekarang panggil para laki laki sana, makan malam sudah siap" ucap Ibunya Lilian


“O ya, kok Mak dan Astri tidak nongol dari tadi ya...coba lihat mereka di kamar Astri, suruh ke sini juga” perintah ibunya Lilian lagi


Nindya dan Lilian akhirnya berjalan meninggalkan ruang makan untuk memanggil yang lain agar berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.


*****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2