Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
123. Telpon dari Ibunya Lilian


__ADS_3

Nindya lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya di samping Lilian sambil tersenyum menatap wajah Lilian yang sudah terpejam matanya. Namun Nindya tidak dapat memejamkan matanya pikirannya berkecamuk bahagia karena acara lamaran berjalan lancar dan tinggal satu tahap lagi dia resmi menjadi milik Bram, namun dia juga memikir sahabatnya Lilian dan kakaknya Tedy. Nindya menatap cincin lamaran yang tersemat di jari manisnya lalu dia menatap Lilian.


"Kenapa Lilian susah move on, sejauh mana hubungannya dulu dengan pacarnya, bukannya dulu dia masih SMA kenapa hatinya sudah sangat terpatri dengan pacarnya" gumam Nindya dalam hati. Dia membandingkan dengan dirinya sendiri dulu waktu SMA rasa ketertarikan pada laki laki tidak sekuat dengan Bram sekarang.


Nindya berusaha memejamkan matanya namun tetap tidak bisa tidur, mata terpejam tetapi pikirannya masih berputar putar. Nindya lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tas nya berada, dia mengambil lap topnya. Lalu membuka laptop dan mengaktifkan. Nampak Nindya mulai fokus menatap layar lap topnya. Dia menyibukkan diri melanjutkan mengerjakan skripsinya, berharap dengan mengerjakan skripsi rasa kantuknya akan datang.


Namun saat dia sedang asyik memencet mencet tuts keyboard, pintu kamar yang tidak dia kunci terbuka pelan pelan. Nampak sosok mamah Indah muncul di balik daun pintu. Dia nampak kaget melihat Nindya yang masih sibuk di depan layar lap top.


"Nin kok belum tidur?" tanya mamah Indah pelan agar tidak mengganggu tidurnya Lilian sambil berjalan mendekati Nindya


"Ga bisa tidur mah, Kok mamah juga belum tidur?" jawab Nindya kemudian balik bertanya


"Mamah habis sembahyang lihat lampu kamar kamu masih terang" jawab mamah Indah


"Kalau tidak bisa tidur tidak begini caranya, semakin otak berpikir semakin tidak bisa tidur. Sembayang sana dan nih.." ucap mamah Indah sambil memberikan tasbih nya pada Nindya. Dan mamah Indah berjalan meninggalkan kamar Nindya. Nindya lalu menutup layar lap top nya kemudian ikut berjalan mengikuti mamah Indah.


"Mah... aku sembayang di kamar mamah aja" ucap Nindya setelah berada di luar kamarnya. Nindya lalu berjalan menuju ke kamar mandi dan setelahnya berjalan menuju ke kamarnya mamah Indah. Dan selanjutnya melaksanakan nasehat mamahnya, Nindya khusuk berdoa. Setelah selesai berdoa Nindya memang jadi tenang hatinya lalu matanya terasa mengantuk akhirnya dia ikut tidur di tempat tidur orang tuanya.


Pagi harinya Mamah Indah dan Nindya terbangun bersamaan sebelum papah Mahendra terbangun. Sambil masih rebahan di tempat tidur Nindya mengutarakan kepada Mamah Indah penyebab kemarin tidak bisa tidur. Akhirnya mamah Indah pun menceritakan masa lalu Lilian. Setelah mendengar cerita Lilian dari mamahnya, nampak Nindya terisak demikian juga mamah Indah juga ikut terisak kembali. Suara isakan mereka menyebabkan papah Mahendra terbangun. Betapa kagetnya papah Mahendra saat membuka mata dilihat mamah Indah menangis dan juga ada Nindya berada di tempat tidurnya yang juga menangis.


"Ada masalah apa?" tanya papah Mahendra lalu bangkit dari tidurnya dan duduk di tempat tidur mengamati anak istrinya yang sedang mengusap air matanya.


"Ga apa apa Pah, hanya terharu saja Nindya sudah dilamar" jawab mamah Indah bohong.


"Ya sudah kita syukuri, ayo bangun kita sembayang bersama, nanti Nindya jadi balik ke Yogya kan" ucap papah Mahendra lalu turun dari tempat tidurnya dan diikuti oleh mamah Indah dan Nindya.

__ADS_1


Sementara itu di kamar lainnya, Lilian saat terbangun merasa kaget karena tidak ada Nindya di sampingnya.


"Tumben Nindya tidur belakangan, bangun lebih awal" gumam Lilian lalu bangkit dari tidurnya. Tidak berapa lama kemudian terdengar hape milik Lilian berdering. Lilian lalu meraih hape nya yang tidak jauh berada dari tempat tidurnya. Saat di lihat ada nama Ibunya di layar hapenya.


"Kenapa Ibu pagi pagi menelpon?" tanya Lilian dalam hati. Lilian lalu menggeser tombol hijau. Dia lalu nampak terlihat serius berbincang bincang dengan ibunya, sesekali nampak Lilian mengangguk angguk kan kepalanya.


Tidak lama kemudian nampak pintu kamar Nindya terbuka dan muncul sosok Nindya yang berjalan memasuki kamarnya. Nindya sekilas menatap Lilian. yang sedang berbicara dengan hapenya. Sebenarnya Nindya sangat ingin memeluk Lilian saat ini karena cerita dari mamah Indah tadi. Nindya ingin mencurahkan segala kasih sayang, empati dan dukungan pada sahabatnya dengan memeluknya. Tapi dipikir pikir pasti Lilian malah curiga dan bingung.


Nindya duduk di tepi tempat tidurnya dan menunggu Lilian selesai dengan pembicaraan di telpon. Tidak lama kemudian Lilian selesai berbicara dengan sambungan telponnya


"Nin dapat salam dari bapak ibu dan adik adik, katanya selamat ya... semoga segera menikah" ucap Lilian sambil tersenyum menatap Nindya lalu duduk di samping Nindya


"Terimakasih Li... " ucap Nindya lalu memeluk erat Lilian sambil terisak menangis


"Aku terharu Li" jawab Nindya yang sebenarnya dia menangis karena mendengar cerita masa lalu Lilian


"Ya sudah, terharunya sudah dong, eh kamu dan mas Bram diundang Ibu katanya mau diajak makan makan di rumah sebagai ucapan selamat, kata Ibu mau dibuatkan ikan bakar kesukaanmu" ucap Lilian kemudian


"Benar Li, aku dan mas Bram diundang Ibu kamu?" tanya Nindya sambil mengurai pelukannya dan menatap Lilian nampak Lilian mengangguk kan kepala memberi keyakinan.


"Sama kak Tedy juga ya, mumpung dia masih cuti?" pinta Nindya


"Boleh" jawab Lilian


"Asyik...." ucap Nindya lalu dia bangkit berdiri dan berlari ke luar kamarnya. Lilian yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya bisa tepuk jidat.

__ADS_1


"Dasar BonTot habis nangis nangis sekarang sudah senang berlari lari" gumam Lilian lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi.


Sedangkan Nindya langsung berlari menuju ke lantai atas tujuannya ke kamar kakaknya Tedy. Nampak pintu kamar kakaknya Tedy masih tertutup rapat. Nindya mengetuk ngetuk pelan pintu kamar itu, namun tetap tertutup rapat.


"Kenapa Nin?" tanya lik Marni yang berjalan melewati Nindya yang sedang mengetuk ngetuk pintu


"Mau ngabari kak Tedy kabar penting" jawab Nindya


"Kabar penting opo, dibuka saja tidak dikunci" ucap lik Marni kemudian berlalu menuju ke lantai bawah. Namun sebelum Nindya membuka pintu kamar Tedy, tampak sosok Mak dan mbah Girah keluar dari kamar Alvin yang bersebelahan dengan kamar Tedy. Terlihat wajah mbah Girah masih dengan riasannya kemarin, rupanya dia memang enggan menghapus riasannya.


"Mbah kok masih cantik he...he..?" tanya Nindya sambil tersenyum menatap mbah Girah dan Mak secara bergantian.


"Iya mbak sayang kalau dihapus ini mau ke pasar sama Mak" jawab mbah Girah kemudian berlalu menuju ke lantai bawah


"Saya mau ditraktir nasi rawon di pasar mbak, katanya enak sekali" ucap Mak sambil tersenyum menatap Nindya lalu berjalan menyusul mbah Girah.


"Makkkk... aku bungkusin ya..." teriak Nindya yang lalu membuka pintu kamar Tedy.


Setelah pintu terbuka nampak Tedy, Mbah Karto dan Tole masih tertidur dengan nyenyaknya. Nindya berjalan mendekati kakaknya Tedy, lalu pelan pelan menepuk nepuk kaki Tedy, agar tidak membangunkan mbah Karto dan Tole.


"Kak Tedy bangun ada kabar bahagia dari Lilian" ucap Nindya di dekat telinga Tedy. Tedy yang tertidur nyenyak namun saat ada kata Lilian disebut langsung terbuka matanya.


"Ha? Apa?" tanya Tedy setengah sadar


"Kita diundang Ibu nya Lilian makan makan, katanya sebagai ucapan selamat aku dan mas Bram sudah lamaran, kata Lilian kak Tedy boleh ikut" ucap Nindya dengan suara pelan. Namun meskipun dengan suara pelan Tedy mendengarkan dengan jelas karena kesadarannya sudah ngumpul seratus persen.

__ADS_1


__ADS_2