
Bram langsung mendekati Nindya yang sedang duduk di sofa, dia menarik tangan Tedy yang duduk di sebelah Nindya agar menyingkir.
“Mas Brammmmm" ucap Nindya dan mereka berdua pun saling berpelukan.
Sedangkan yang lain tampak tersenyum sekaligus terharu.
“Sudah pelukannya dilanjut nanti di kamar" ucap Om Prabu yang sudah ikut duduk di sofa. Bram dan Nindya lalu saling mengurai pelukannya.
“Kamarku di mana?” tanya Bram sambil menatap Om Prabu
“Di atas, itu tempat khusus hanya ada satu kamar. Tapi naik tangga itu sudah tidak ada lift" jawab Tedy sambil menatap tangga yang menuju ke lantai atasnya.
“Aku susah jalan naik tangga dengan kain ini” ucap Nindya saat melihat tangga di ruangan itu
“Tugas suamimu menggendongmu” ucap Alvin
“Kalian tinggal di sini selama satu minggu, setelah itu dijemput untuk pulang ke Yogya langsung acara ngunduh mantu" Ucap Om Prabu sambil menatap Bram. Bram tampak berpikir koper dia masih berada di kamar hotelnya, segala perlengkapannya berada di dalam koper tersebut termasuk jamu yang sudah disiapkan Mak tersayang.
“Kopermu sudah berada di dalam mobil, biar nanti petugas hotel yang ngantar ke kamarmu" ucap Om Prabu lagi seperti nya memahami apa yang dipikirkan Bram.
“Dan ada koper kecil itu buat Nindya hadiah dari Arum" ucap Johan.
“Aku juga nginap di sini tapi hanya dua hari” ucap Om Prabu lalu beliau bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai tesebut.
Bram terlihat menatap Nindya, rasanya dia sudah tidak sabar untuk berduaan dengan Nindya tanpa ada gangguan. Sedangkan Nindya yang ditatap terlihat tersipu malu.
“Bro, lantai atas tempat privasi hanya kamu dan Nindya yang di sana, petugas hotel pun hanya diijinkan sampai di depan pintu” bisik Tedy pada Bram yang duduk di dekat Bram.
“Kamu bisa bermain dengan segala macam imajinasi" bisiknya lagi. Bram kemudian terlihat menoleh ke arah Tedy.
“Sepertinya kakak ipar yang sudah berimajinasi" bisik Bram di telinga Tedy
__ADS_1
“Iya tapi aku hanya bisa berimajinasi belum bisa membuat menjadi nyata ha...ha...” ucap Tedy
Tidak lama kemudian Johan dan Erlangga datang membawa dua nampan yang berisi makanan dan minuman.
“Ini buat pengantin aku tahu tadi kalian hanya makan sedikit" ucap Erlangga sambil menaruh nampan makanan di depan Nindya. Sedangkan Johan menaruh nampan makanan dan minuman di depan Bram.
Nindya yang melihat menu steak kesukaan dengan versi jumbo langsung tersenyum lebar.
“Kalian memang adik adik yang baik hati" ucap Nindya lalu mengambil makanan tersebut. Bram yang juga merasa lapar akhirnya juga menghabiskan makanan dan minuman tersebut.
Terlihat dua pegawai hotel datang membawa dua koper besar dan koper kecil. Selanjutnya mereka disuruh Johan untuk mengantar kedua koper tersebut ke lantai atas. Benar koper tersebut hanya di taruh di depan pintu.
Bram yang melihat koper miliknya spontan teringat jamu di dalamnya apalagi dia habis makan.
“Sudah Bro segera bawa Nindya ke atas. Aku mau abadikan perjalanan kalian berdua naik ke lantai atas" ucap Tedy yang sudah menyiapkan kameranya.
Tidak mau membuang buang waktu Bram pun langsung menggendong Nindya. Kali ini Nindya digendong Bram ala bridal, kalau tadi dia digendong Alvin ala karung.
“Berat Mas?” tanya Nindya saat Bram sudah menaiki tangga.
“Lumayan” jawab Bram sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di lantai atas di depan pintu.
“Turun ya, susah buka pintu dan bawa koper kalau sambil gendong" ucap Bram dan tampak Nindya mengangguk.
Mereka berdua melihat ke lantai bawah tampak saudara saudara mereka melambaikan tangan lalu berjalan menuju ke lift dan meninggalkan mereka berdua.
Bram lalu membuka pintu tersebut. Setelah pintu terbuka Bram dan Nindya tampak kagum. Sebab yang dilihat bukan suatu ruangan tertutup namun suatu ruangan terbuka. Mereka berdua berjalan masuk sambil menarik koper, tidak lupa menutup pintu. Dilihatnya ada taman dan kolam renang dan sebuah bangunan mirip villa kecil yang merupakan kamar buat mereka berdua.
“Mas, bagus ya.. kita lihat sun set dan sun rise di taman ya.. “ pinta Nindya sambil berjalan tanpa alas kaki sebab sandalnya jatuh saat digendong paksa Alvin tadi.
__ADS_1
“Iya tapi masuk ke kamar dulu” ucap Bram yang berjalan di samping Nindya sambil menarik koper besarnya.
Setelah masuk ke dalam kamar Nindya duduk di kursi depan meja rias untuk melepas segala asesoris dan perlengkapan rambutnya. Sedangkan Bram sudah buru buru melepas pakaiannya.
“Aku mandi ya Nin, penat banget badan agar segar" ucap Bram lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Nindya menjawab dengan anggukan kepala dan memikirkan apa yang akan dilakukan suaminya nanti pada dirinya.
Beberapa menit kemudian Bram sudah keluar dari kamar mandi, sudah memakai bathrobe yang sudah tersedia di kamar mandi hotel. Sedangkan Nindya sudah selesai membersihkan wajahnya dan rambutnya pun sudah tergerai. Namun Nindya masih memakai baju lengkap. Nindya lalu berdiri dari kursi dia akan melepas baju pengantinnya.
“Aku bantu Nin" ucap Bram menawarkan bantuannya. Pikiran Brampun sudah berkelana membayangkan tubuh lugu Nindya dibalik baju pengantin itu.
“Bisa sendiri Mas, ini kainnya tadi panjang banget, aku kayak lemper dibungkus bergulung gulung" ucap Nindya sambil melepas setagen. Namun Bram tidak mempedulikan ucapan Nindya Bram langsung mendekat dan membantu Nindya, dia ikut memegangi kain setagen yang dilepas Nindya. Dan selanjutnya Bram ikut menarik pelan pelan kain batik yang membungkus tubuh Nindya bagian bawah. Bram menelan air liurnya membayangkan sesuatu dibalik kain batik tersebut.
“Panjang banget ya Nin, ga habis habis" gumam Bram
“Dibilangi kok" jawab Nindya
Dan tidak lama kemudian kain batik Nindya sudah terlepas namun Bram sangat terkejut dan kecewa sebab apa yang dilihat tidak seperti yang dibayangkan. Bram melihat kedua kaki Nindya yang hitam legam dari atas sampai di bawah betis.
“Kamu kok pakai legging sih?” Tanya Bram dengan nada kekecewaan tingkat tinggi.
“Ya malu Mas, meskipun sama sama cewek tetap malu kalau dilihat orang. Apalagi di kamar rias orang keluar masuk meskipun sodara sendiri tetap malu... kalau aku sih" ucap Nindya yang sekarang membuka baju kebayanya.
“Ya sudah kamu selesai ini terus mandi aku tunggu ya" ucap Bram sambil mencium kening Nindya lalu dia berjalan menuju ke sofa. Bram sudah putus asa membantu membuka baju Nindya dari ucapan Nindya tadi sudah bisa dipastikan pasti bagian tubuh ataspun tertutup.
“Iya Mas, aku juga mau buru buru mandi terus mau lihat sun set” ucap Nindya sambil meneruskan kegiatannya.
“Enggak nyangka aku Mas hotel ini bagian roof top nya keren banget ada taman dan kolam renang, pemandangan dari taman tadi bagus banget bisa melihat menyeluruh" ucap Nindya
“Iya kayak di puncak" ucap Bram sambil duduk di sofa mencet mencet remot teve, tapi pikirannya berkelana mencerna bisikan Tedy tadi yang mengatakan bisa bermain dengan segala imajinasi
“Bisa dicoba main di taman, di kolam renang, Nindya mau tidak ya...” gumam Bram dalam hati sambil tersenyum. Namun tiba tiba Bram merasakan kantuk yang luar biasa hebat. Berkali kali dia menguap untuk bangkit berdiripun sudah tak berdaya dan sudah tidak bisa ditahan lagi akhirnya dia tertidur di sofa.
__ADS_1