Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
28 Menuju beautiful hill


__ADS_3

Keesokan harinya


Di lantai bawah semua penghuni sudah bangun. Mamah Indah sudah sibuk di dapur dibantu oleh Nindya. Sedangkan papah Mahendra sudah berada di halaman rumah berolah raga sekaligus memanasi mesin mobilnya.


"Nin kamu bangunin kakakmu, kalau tidak dibangunkan pasti siang baru bangun" ucap Mamah Indah sambil mengaduk aduk masakan. Tanpa menjawab Nindya langsung berjalan menuju lantai dua, dimana kamar kakaknya Tedy berada.


"Kak bangun" ucap Nindya sambil mengetuk pintu sesaat sampai di depan kamar kakaknya.


"Kakkkk" ucapnya lebih keras karena tidak ada sautan dan tanda tanda kehidupan. Nindya memutar pelan handel pintu dan mendorongnya pelan ternyata pintu tidak dikunci.


"Ya ampun" teriak Nindya saat melihat dua makluk di tempat tidur kakaknya yang tertidur lelap tanpa beraturan.


"Benar benar kayak bayi kembar di dalam kandungan berebut mau keluar he..he..." gumam Nindya sambil keluar menuju kamar mandi yang berada di sebelah kamar kakaknya. Nindya kemudian mengambil air dengan gayung yang berada di kamar mandi tersebut. Kemudian Nindya berjalan kembali ke kamar kakaknya, kemudian memerciki dengan air kepada kedua makhluk yang berada di tempat tidur.


"Accch..." teriak Tedy lalu membuka matanya setelah tahu kalau itu kelakuan adiknya langsung bangkit berdiri mau menarik tubuh Nindya. Namun Nindya langsung berlari keluar kamar sambil berteriak.


"Cepat bangun kakak" teriak Nindya sambil berjalan turun ke lantai bawah.


Sementara Bram yang terkena percikan dan mendengar keributan langsung terbangun dan bangkit berdiri.


Nindya masih cekikikan saat di lantai bawah berjalan ke dapur.


"Kenapa cekikikan" Tanya mamah Indah


"Ga apa apa"


"Sudah kamu mandi sana" ucap Mamah Indah dan Nindyapun berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Tak berapa lama Tedy sudah berada di belakang mamah Indah


"Berangkat jam berapa Mah?" tanya Tedy sambil berdiri dengan wajah yang masih kusut


"Habis makan pagi, kamu dan Bram mandi di kamar mandi atas saja, biar cepet" ucap mamah Indah. Tedy tidak menjawab namun berjalan menuju lemari tempat cangkir kopi berada kemudian mengambil dua buah cangkir kosong, lalu berjalan membuat dua cangkir kopi hitam. Setelah selesai Tedy berjalan menuju lantai atas.


Setelah beberapa saat mereka semua telah rapi duduk berkumpul di meja makan. Mereka semua tampil dengan pakaian santainya. Tedy berempati dengan Bram lalu juga memakai celana pendek begitupun papah Mahendra. Namun mamah Indah dan Nindya tidak, mereka memakai kulot dengan panjang di bawah lutut. Mereka makan pagi tanpa banyak keributan. Setelah selesai mamah Indah dan Nindya membereskan alat alat makan. Sedangkan ke tiga lelaki berjalan ke halaman untuk pergi mengecek kesiapan mobilnya.


Beberapa saat kemudian mereka telah siap di dalam mobil. Mamah Indah sudah mengunci pintu rumah, dan menyalakan penerangan di rumah yang diperlukan sebab mereka berencana untuk menginap di tempat yang akan dituju.


Tedy berada di depan kemudi mobilnya disampingnya duduk Bram, Mamah Indah dan papah Mahendra duduk di belakangnya sedang kan Nindya duduk sendiri di jok paling belakang.


Mobil berjalan meninggalkan rumah keluarga Mahendra, tak lupa pintu pagar sudah digembok oleh papah Mahendra. Sesaat tidak lama mobil berjalan Bram matanya menangkap seseorang yang dilihatnya kemarin di rumah Nindya.


"Ted bukannya itu teman Nindya?" ucap pelan Bram pada Tedy sambil menunjuk sosok orang tersebut dengan wajahnya yang sedikit terangkat.


"Iya, Bison ngapain pagi pagi di situ, kayak orang kurang kerjaan" gumam Tedy


"Iya, dia tanya kapan berangkat" jawab Nindya


"Noh orangnya sudah nongkrong di simpang jalan" ucap Tedy masih fokus dengan kemudinya.


"Iya apa" jawab Nindya sambil menoleh ke belakang.


"Kamu tuh kalau ga suka sama cowok jangan kasih harapan" ucap Tedy kemudian.


"Aku ga kasih harapan, aku berteman biasa kayak yang lain" elak Nindya

__ADS_1


"Bukannya Bison pacar Valeri?" tanya mamah Indah sambil tangannya sibuk mengusap usap hape


"Sudah putus lama Mah, pacaran cuma sebentar waktu kelas satu, terus Valeri stres waktu diputus he ..he..."


"Makanya papah pesan jangan pacaran dulu kalau putus stres terus sakit nilai jelek" ucap papah Mahendra ikut berkomentar. Kemudian beberapa saat mereka terdiam. Bram termenung dalam hati ucapan papah Mahendra merupakan peringatan baginya, meskipun keluarga Mahendra terbuka menerima kehadirannya mungkin belum tentu menerima jika dia menjadikan Nindya sebagai pacarnya. Mungkin mereka menerima karena Bram sudah menolong Nindya. Begitu Bram bermonolog di dalam hatinya.


Kini mobil melewati sederet toko toko oleh oleh.


"Ted minggir di toko depan ya, beli oleh oleh buat lik Marni" ucap Mamah Indah. Dan Tedy pun pelan pelan mengambil jalan di samping kiri lalu pelan pelan berhenti di salah satu toko oleh oleh. Kemudian. Mamah Indah membuka pintu mobil


"Mah beliin yang asin asin ya" pinta Nindya


"Upil" ucap mamah Indah sambil turun dari mobil kemudian berjalan.


"Mamah..." ucap Nindya kemudian dia ikut turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki mamah Indah. Sedangkan tiga laki laki masih setia duduk di dalam mobil.


"Siapa lik Marni, Ted?" ucap Bram ingin tahu


"Sepupu Mamah" jawab Tedy santai sambil memencet mencet bagian mobil untuk memilih milih lagu.


Tidak berapa lama mamah Indah dan Nindya sudah keluar dari toko oleh oleh dengan membawa 3 kantong plastik. Kemudian mereka berjalan menuju mobil terparkir. Setelah mamah Indah dan Nindya masuk mobil. Tedy kembali menjalankan mobilnya pelan pelan, tidak lupa dia membuka sedikit jendela mobilnya dan memberikan uang parkir pada petugas parkir di toko tersebut.


Mobil terus berjalan membelah jalan raya, Mamah Indah dan Nindya sudah membuka beberapa bungkus makanan dan seisi mobil sudah mengemil ria kecuali papah Mahendra menolak saat ditawari mamah Indah dan Nindya, Beliau lebih senang minum air putih yang sudah dibawa dari rumah, entahlah demi menjaga kesehatan tubuh atau kesehatan apa.


Setelah kira kira dua jam perjalanan mobil sudah mulai memasuki daerah pegunungan, mereka mulai membuka jendela mobil dan mematikan ac mobil. Nampak di kanan kiri jalan raya ada beberapa bangunan megah yang orang sebut itu sebagai villa. Mobil masih terus berjalan masuk ke jalan yang lebih kecil tapi masih beraspal. Sudah tidak banyak bangunan megah di daerah tersebut, tetapi suasana terasa lebih tenang dan udara terasa lebih segar, terdengar suara burung burung berkicau di balik pohon pohon besar di tepi jalan.


Kemudian mobil menepi dan masuk ke dalam halaman suatu bangunan rumah dengan dinding depan terbuat dari kayu yang terplitur dengan warna coklat nampak sangat eksotik.Dan mobil berhenti. Tedy mematikan mesin mobilnya kemudian membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Turun Bram" ajak Tedy dan Brampun ikut membuka pintu dan turun dari mobil. Mamah Indah, papah Mahendra dan Nindyapun turun dari mobil. Tidak berapa lama pintu rumah tersebut terbuka dan nampak sesosok perempuan kira kira seusia mamah Indah.


Mamah Indah berjalan paling depan menuju ke pintu rumah tersebut dan diikuti oleh yang lainnya. Sedangkan Bram berada di posisi paling belakang dia berdiri mematung tubuhnya membelakangi rumah tersebut dia memandang ke depan nampak pemandangan yang sangat bagus baginya. Rumah ini mempunyai view yang sangat bagus begitu gumamnya.


__ADS_2