
Bram membukakan matanya di pagi menuju siang hari. Malam hari tak bisa tertidur nyenyak tapi entahlah kenapa badan tidak terasa loyo, dia masih merasa segar meskipun tidak mendapatkan tidur yang berkualitas baik, apa karena pengaruh jatuh cinta entahlah.
Jam menunjukkan pukul sembilan lebih, setelah mengerjap ngerjapkan matanya mengumpulkan seluruh jiwanya Bram bangkit dari tempat duduknya, kemudian menuju wastafel di dinding kamarnya, untuk membasuh muka dan berkumur kumur, karena malam sebelum tidur sudah menggosok gigi dengan bersih.
Bram membuka pintu kamar, rumah terasa sepi mungkin semua penghuni sudah menjalankan aktifitasnya. Bram melangkah menuju ruang makan, dia mengambil gelas dan membuat kopi, setelahnya menarik kursi makan dan mendudukinya. Setelah kopi di gelasnya tidak begitu panas kemudian dia menyesapnya pelan pelan menikmati antara aroma kopi dan rasa pait kopi dengan manis rasa gula yang hanya super sedikit.
Saat Bram masih menikmati kopinya terlihat Mak datang dengan belanjaan di tangannya.
"Dari pasar Mak?" tanya Bram
"Tidak Mas, cuma belanjaan di warung sayur, Mas Bram pengen dimasakin apa mumpung di rumah" kata Mak
"Apa saja Mak yang penting mateng dan enak" jawab Bram.
"Arum kemana Mak?" tanya Bram kemudian
"Mbak Arum sama Mas Johan katanya mau ikut ke kantor Bapak dan Ibu, tapi mereka pakai mobil sendiri sendiri, mbak Arum ikut mobil mas Johan" jawab Mak yang kemudian berjalan ke dapur kemudian mencuci buah buahan yang dibeli lalu di tempatkan di keranjang buah dan dibawa lagi ke ruang makan.
Tapi saat di ruang makan sudah tidak ada Bram, hanya tertinggal gelas kopi yang hanya tertinggal ampasnya.
Rupanya Bram sudah keluar rumah dan di halaman samping menemui pak Man tukang kebun yang membereskan halaman dan pekerjaan pekerjaan rumah tangga yang berat. Tapi pak Man tidak tidur di rumah Bram, kalau pekerjaan sedikit habis makan siang sudah pulang.
Saat ini pak Man membersihkan taman samping rumah.
"Baru bangun Mas?" tanya pak Man saat Bram sudah mendekat
"Sudah tadi Pak he..he..."
"Tadi apa, tadi pak Man masuk ke dapur ambil sarapan pintu kamar mas Bram masih tertutup rapat" kata pak Man
"Iya tapi sudah bangun tapi entah apa yang bangun ha...ha..." ucap Bram sambil tertawa kemudian ikut sibuk tangannya memegang megang tanaman.
"Banyak tanaman baru Pak?" tanya Bram
"Iya Ibu beli banyak tanaman baru, tapi sudah ada yang mati busuk yang itu tuh" ucap pak Man sambil menunjuk beberapa pot tanaman kemudian Bram mendekati pada tanaman yang ditunjuk pak Man
"Ini tuh karena Pak Man terlalu rajin, jenis yang ini jangan setiap hari disiram, kalau tanah bagian atas sudah mengering aja baru di semprot semprot air" kata Bram sambil mengorek orek tanah di pot pot tersebut
"Oooo" ucap pak Man sambil melihat Bram membongkar bongkar pot tanaman untuk menyelamatkan nyawanya. Akhirnya mereka sibuk dengan membongkar tanaman tanaman yang mulai membusuk.
"Mas Bram" ucap pak Man memecah keheningan
"Hmmm" gumam Bram
"Mbak Nuke kok sudah lama sekali ga main ke sini?" tanya pak Man
"Sudah dideportasi" jawab Bram
"Ke luar negeri?" tanya pak Man lagi
"Iya" jawab Bram singkat
__ADS_1
"Ooo, terus mas Bram akhirnya serius sama siapa mbak Devina, mb Lilian apa jarak jauh dengan mb Nuke, ato sama siapa itu yang anaknya temen Ibu" kepo pak Man
"Gak semua" saut Bram
"Kalau menurut pak Man, mb Lilian itu baik mas" ucap pak Man
"Terus...
"Ga pengen apa mas Bram seriusan"
"Pengen tapi... " belum selesai omongan Bram terdengar bunyi klakson mobil di pintu pagar, kemudian pak Man berlari menuju pintu pagar untuk membuka. Setelah pintu pagar dibuka pak Man kembali menutup pagar dan berlari kembali ke tempat Bram.
Terlihat mobil berjalan masuk dan berhenti di depan pintu masuk rumah kemudian Johan membuka pintu dan berlari memutari mobil kemudian membukakan pintu sebelahnya dan keluar Arum dengan kantong belanjaan. Terlihat Johan kembali masuk mobil, dan mobil berlalu menuju pintu pagar dan kembali membunyikan klakson
"Haleh tahu kalau cuma sebentar tadi kutunggu di pintu pagar" gerutu pak Man sambil berlari lagi.
"Olah raga siang Pak" ucap Bram setelah pak Man sudah kembali
"Iya" jawab pak Man dengan nafas masih terenggeh enggeh
"Sudah Pak istirahat saja, nanti sore aku lanjutkan" ucap Bram saat melihat pak Man berkeringat dan Mak sudah nampak berjalan menuju mereka membawa makan siang Pak Man
"Mas Bram makan di dalam saja, mbak Arum juga makan siang di rumah" ucap Mak karena kadang Bram suka makan siang bersama pak Man kalau di rumah tidak ada orang.
Pak Man dan Bram akhirnya berjalan menuju kran air di taman untuk mencuci tangan dan kakinya. Kemudian Pak Man berjalan ke bangunan tempat parkir untuk makan siang sedangkan Bram berjalan menuju rumah utama menyusul Mak yang sudah lebih dulu.
Saat masuk ke dalam rumah terlihat Arum masih duduk di sofa ruang tengah sambil melihat lihat belanjaannya. Bram duduk mendekat
"Katanya dari kantor Bapak?" tanya Bram
"Ih mas Bram bau keringat" ucap Arum selanjutnya sambil mengipas ngipaskan tangannya di depan hidungnya
"Haaa haaa emang belum mandi" ucap Bram sambil tertawa
"Mandi sana, bau" ucap Arum sambil mengipas tangannya
"Kamu borong apa itu" tanya Bram masih duduk di sofa
"Johan yang beliin" jawab Arum
"Kamu yang minta?" tanya Bram lagi
"Enggak, ini hadiah semesteran" jawab Arum
"Haduh" gumam Bram lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah mandi Bram menuju ruang makan terlihat Arum adiknya sudah duduk menunggunya di meja makan kemudian mereka makan siang berdua. Setelah selesai mereka masuk ke kamarnya masing masing. Arum membawa barang belanjaannya ke dalam kamarnya.
Sesampai di kamar Bram mengambil hape nya ada banyak pesan masuk, dia masih mengabaikan belum niat untuk membukanya. Niatnya saat ini akan menghubungi Nindya. Tadi saat di ruang makan Arum bilang katanya perempuan suka dikasih hadiah hadiah. Bram mengusap usap hape nya dan mendapatkan nama Nindya kemudian mengetuknya.. terdengar nada panggilan...
"Hallo" suara Nindya dari dalam hape
__ADS_1
"Nin sudah makan" tanya Bram
"Sudah baru selesai" ucap Nindya
"Ada apa Mas?" tanya Nindya
"Kamu mau hadiah ga?" tanya Bram
"Hadiah apa?" ucap Nindya balik bertanya
"Semesteran" Bram terdiam merasa bodoh apalagi terdengar suara tawa Nindya
"Haaa ha.... " tawa Nindya pecah di ujung sana
"Kok tertawa?" tanya Bram
"Abis aneh buatku sih, sejak kecil aja aku ga dapat hadiah kenaikan kelas sebab kata papah naik kelas itu sudah tanggung jawabku" ucap Nindya
"Terus kamu mau hadiah apa?"
"Apa ya..., ngapain sih mas Bram tanya gituan" kata Nindya
"Pengen kamu bahagia aja" kata Bram
"Punya sahabat kayak mas Bram dan Lilian aku sudah bahagia Mas, sudah hadiah itu" ucap Nindya
"Nin...."
"Hmm..."
"Awas jangan kasih hape ke papahmu lagi" ucap Bram
"Ke mamah ya, nih ada mamah di sini" goda Nindya
"Ha bener mamah disampingmu, dia denger aku omong?" tanya Bram dan Nindya hanya tertawa
"Awas ya kamu" ucap Bram lalu mereka terdiam beberapa saat.
"Hallo" ucap Bram memecah keheningan
"Hallo" saut Nindya
"Ooo masih hidup" kata Bram
"Udah dulu ya Mas, mau bantuin mamah nih" ucap Nindya
"Ya " ucap Bram tapi tidak memutus sambungan telpon nya, beberapa saat kemudian sambungan terputus. Nindya yang menutupnya.
Bram meletakkan hape nya, kemudian merebahkan diri di tempat tidur
"Aku kok jadi bodoh sih" gumamnya
__ADS_1
"Nin i love you.. kok geli sendiri aku denger nya.." gumam Bram sambil terkekeh
"Nindya termasuk tipe apa ya sepertinya tidak seperti Arum, apa dia seperti Ratih ya" ucap Bram pada dirinya sendiri