
Mobil berhenti di dekat pembatas jalan tol secara mendadak. Setelah mobil berhenti Bram langsung menyalakan lampu hazard kemudian menundukkankan kepalanya di taruh di atas kemudi mobil. Sedangkan Nindya memeluk erat Bram dari samping.
Sementara itu Ibu Murti dan mamah Indah memegang dadanya sambil mengusap syukur. Bapak Bharata dan papah Mahendra berusaha bangkit dari tempat duduknya.
"Mah buka pintu aku mau turun" perintah papah Mahendra karena mamah Indah yang duduk di dekat pintu mobil sebelah kiri.
Untung posisi mobil berhenti mendadak di posisi tempat yang aman untuk mobil menepi. Terlihat Bapak Bharata juga ikut turun dari mobil. Nampak papah Mahendra membuka bagasi mobil mengambil segitiga pengaman lalu menaruh di belakang mobil.
Kedua orang tersebut mengecek mobil, dan mobil nampak aman tidak tidak ada kerusakan dan masalah.
Bapak Bharata dan papah Mahendra lalu berjalan menuju ke pintu mobil depan. Terlihat Nindya membukakan pintu.
"Kamu kenapa Bram?" tanya bapak Bharata
"Maaf ngantuk Pak" jawab Bram yang sekarang sudah menegakkan punggungnya sambil menatap takut bapak Bharata dan papah Mahendra.
"Kamu sekarang duduk di belakang aja, tidur, biar aku yang nyetir" ucap papah Mahendra. Terlihat Nindya turun dari mobil kemudian diikuti oleh Bram.
"Kali ini kuijinkan kamu duduk berdua di belakang dengan Nindya" ucap papah Mahendra sambil masuk ke dalam mobil.
"Tapi bener bener tidur" ucap Bapak Bharata sambil menimpali ucapan papah Mahendra.
"Bram ambil segitiga pengamannya dulu" teriak bapak Bharata sambil melongokkan kepala dari jendela mobil.
Terlihat Bram melangkahkan kaki menuju ke belakang mobil lalu mengambil segitiga pengaman dan menaruhnya lagi ke dalam bagasi. Nindya sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Nampak mamah Indah masih berdiri mematung di luar mobil, selain memberi jalan buat yang keluar masuk mobil beliau juga masih merasa deg degan.
Bram sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang di samping Nindya.
"Mah... Kamu mau jadi patung di situ" teriak papah Mahendra sambil berusaha melongokkan wajahnya di jendela samping kiri meskipun tidak sampai, namun suaranya sudah bisa di dengar oleh mamah Indah.
__ADS_1
"Ooo iya iya... " ucap mamah Indah lalu dengan segera melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil. Mobil lalu kembali berjalan .
Di jok belakang Bram menyandarkan kepalanya di sandaran, mencoba memejamkan matanya.
"Piye (Bagaimana) tho Bram?" tanya ibu Murti
"Maaf Bu, ngantuk tadi belum sempat ngopi" jawab Bram dengan mata masih terpejam tapi belum tidur.
"Lahhhh kok tidak bilang tadi" ucap mamah Indah
"Ya sudah sekarang tidur saja" ucap Ibu Murti kemudian.
Bram tidak menjawab matanya masih terpejam dengan kepala bersandar di sandaran namun pelan pelan kepalanya semakin condong ke arah tubuh Nindya. Nindya menoleh sebentar namun kembali lagi pada posisinya dan membiarkan tubuh dan kepala Bram bersandar pada tubuhnya. Lama lama terasa semakin berat tubuh Bram yang bersandar pada dirinya, entah Bram sudah tidur beneran entah hanya pura pura tidur. Tidak berapa lama terdengar suara denguran halus dari mulut Bram.
"Ooo tidur beneran bukan modus" begitu ucap Nindya dalam hati sambil tersenyum.
Melihat sepertinya ada sesuatu yang berubah posisi duduknya ibu Murti dan mamah Indah menoleh ke belakang. Nampak ekspresi wajah Nindya antara takut dan malu.
Terlihat tangan ibu Murti mulai terulur mau membangunkan Bram. Namun tangannya ditarik pelan oleh mamah Indah.
"Biarkan saja Jeng, dia tidur saja ga apa apa, kasihan kalau terbangun" ucap Mamah Indah sambil masih memegang tangan ibu Murti. Kemudian ke dua ibu tersebut kembali menghadap ke depan.
Namun suara mamah Indah justru membangunkan Bram. Mata Bram terbuka di saat bersamaan Nindya menundukkan kepala menatap wajah Bram. Seketika Bram mengedipkan satu matanya lalu tersenyum senang, lalu Nindya mencubit kecil lengan Bram. Nampak Bram dengan ekspresi wajah dengan tawa yang tertahan.
Beberapa menit kemudian mobil sudah keluar dari jalan tol, lalu memasuki jalan yang menuju ke jalan beutiful hill. Dan tidak lama kemudian mobil memasuki halaman rumah orang tua mamah Indah.
Nampak Bram sudah duduk di jok dengan sempurna dan mata sudah terbuka, sesaat menoleh ke arah Nindya, namun Nindya tidak melihatnya mata Nindya menatap pada ibu Murti dan mamah Indah yang siap siap akan turun dari mobil. Mereka semua akhirnya turun dari mobil menuju ke rumah orang tua mamah Indah. Sesaat kemudian pintu rumah terbuka nampak sosok perempuan tua berdiri di tengah pintu yang sudah terbuka. Tidak lama kemudian muncul sosok anak laki laki kecil kira kira berusia sepuluh tahun.
"Bram tolong ambil oleh oleh di bagasi" ucap mamah Indah. Lalu Bram nampak berjalan menuju ke bagasi mobil. Sedangkan yang lain berjalan menuju pintu rumah.
__ADS_1
"Mari Jeng.. dan bapak Bharata he.. he.. saya tidak berani memanggil kang" ucap mamah Indah mempersilahkan tamunya masuk.
Tidak lama kemudian Bram muncul dengan membawa kardus bakpia darinya dan beberapa paper bag.
"Mbah.. , le... ini oleh oleh dari mas Bram" ucap mamah Indah pada mbah Girah istri mbah Karto dan cucunya. Mereka berdua masih menyalami tamu yang datang. Kemudian menerima oleh oleh dari Bram.
"Ini calon e mbak Nindya?" tanya mbah Girah pada Bram. Bram menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala.
"Ganteng tenan" puji mbah Girah sambil tersenyum menatap Bram. Bram semakin tersenyum senang.
Mereka semua akhirnya duduk di kursi tamu, kecuali mamah Indah, mbah Girah dan Nindya. Mereka bertiga berjalan ke belakang untuk membuatkan minum.
Tidak lama kemudian Mamah Indah dan Nindya sudah kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi minuman dan snack yang sudah dibawanya.
"Silahkan Jeng.. "
"Kang.." ucap Ibu Murti memotong ucapan mamah Indah sambil menatap bapak Bharata, dan disambut tawa oleh lainnya.
Mereka akhirnya mmenikmati suguhan yang ada sambil beristirahat dan berbincang bincang.
"Kita langsung aja ke beautiful hill, Nindya ga usah ikut bantu mbah Girah masak, nanti kita makan siang di sini. Habis makan siang langsung balik lagi" ucap mamah Indah
"Bram kamu sudah bisa nyetir ga?" tanya papah Mahendra
"Masih ngantuk Om, saya ga usah ikut ya.. mau tidur lagi biar nanti bisa nyetir saat pulangnya" ucap Bram dengan wajah memohon
"Ya sudah sana tidur di kamar saja" jawab papah Mahendra
"Awas kalau tidak tidur malah mengganggu Nindya" ucap Bapak Bharata, dan Bram hanya bisa nyengir... ach bapak tahu aja.. gumamnya dalam hati
__ADS_1