
Pagi harinya, Nindya, Bram dan Rangga sudah bangun lebih pagi mereka bertiga kemudian jalan jalan di sekitar desa Lilian. Sedangkan Tedy sudah dibangunksn berkali kali tetapi tidak mempan, sepertinya Tedy sedang berminoi indah eh...bermimpi Lilian.
Setelah puas bermimpi Tedy terbangun saat membukakan matanya, dia kaget sudah tidak melihat sosok Bram di tempat tidur.
“Apa aku kesiangan bangun, tapi lampu kamar masih mmenyala" gumam Tedy lalu dia menoleh ke arah jam dinding yang berada di dalam kamar
“Padahal masih pagi sekali, di luar juga masih gelap" ucap Tedy setelah melihat jam dinding dan melihat suasana luar dari celah ventilasi. Tedy lalu bangkit dari tidurnya, pelan pelan dia berjalan menuju pintu kamar, kemudian membuka daun pintu kamar tersebut.
“Kemana sih itu anak, suasana kok masih sepi, apa dia di dalam kamar mandi ya" gumam Tedy lalu kembali lagi masuk ke dalam kamar, kemudian menuju ke kamar mandi, dia mengetuk ngetuk pintu kamar mandi tetapi tidak ada reaksi apa apa. Tedy lalu membuka pintu dan kosong tidak ada Bram di dalam kemudian Tedy masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka.
“Siapa tahu setelah cuci muka bisa melihat Bram he...he.... mungkin mataku tertutup dengan mimpi Lilian tadi" gumam Tedy sambil tersenyum.
Setelah mencuci mukanya, Tedy keluar dari kamar mandi, namun tetap tidak melihat sosok Bram, dia lalu berjalan keluar kamar.
“Kemana sih itu anak, kamar yang lain juga sepi tampak pintu pintu kamar tertutup rapat" gumam Tedy dengan kepala celingukan. Dia lalu melangkahkan kaki menuju ke ruang makan, di saat dia masuk ke ruang makan tampak sosok Lilian muncul dari pintu penghubung ruang belakang yang ada longkangannya.
“Eh kak Tedy sudah bangun" ucap Lilian yang sedikit kaget melihat ada Tedy di ruang makan
“Bram hilang Li" ucap Tedy
“He... he... Tidak hilang kak, mereka sedang jalan jalan di sekitar desa. Kata Mas Bram untuk mengobati rasa kangen nya pada kegiatan out door" jawab Lilian sambil tertawa kecil yang menurut Tedy semakin membuat manis wajah tambatan hatinya itu.
“Kok aku tidak dibangunkan" gumam Tedy yang terdengar oleh Lilian.
“Kata mereka kak Tedy sudah dibangunkan tapi tetap nyenyak tidurnya" ucap Lilian sambil membuka pintu kulkas yang berada di ruang makan. Lalu Lilian mengeluarkan bahan bahan yang ada di dalam kulkas untuk dimasak.
“Kak Tedy” ucap Lilian kemudian yang akan meninggalkan ruang makan
“Hmmm" ucap Tedy
“Aku mau masak di dapur belakang, kak Tedy bisa jalan jalan keluar atau terserahlah. Ibu, Mak dan Astri ke pasar. Bapak sedang ke sawah, ngecek pengairan sambil mengantar Nenek pulang" ucap Lilian
“Aku bantu kamu masak aja" jawab Tedy.
“Tapi kotor Kak, nanti kena asap" ucap Lilian yang merasa tidak enak sebab melihat di rumah mamah Indah dapurnya dapur kering tidak mempunyai dapur kayu bakar.
“Tidak apa apa yang penting tidak kena azab" jawab Tedy sambil tersenyum
Tampak Lilian lalu berjalan meninggalkan ruang makan dan diikuti oleh langkah Tedy. Lilian kemudian terus melangkah dan memasuki dapur belakang dan Tedy pun setia mengikuti.
__ADS_1
“Duduk sini Mas, ini namanya dingklik" ucap Lilian yang sudah lebih dulu duduk di dingklik sambil menggeser dingklik yang lain ke arah Tedy yang sudah jongkok di depan tungku kayu bakar.
Lilian terlihat memperbaiki posisi kayu bakar agar nyala api membara lagi.
“Aku bisa Li, kamu kerjakan yang lain" ucap Tedy lalu mengambil alih kerjaan Lilian mengatur posisi kayu bakar. Terlihat Lilian menatap Tedy sambil tersenyum karena mata Tedy menyipit nyipit menghindari asap.
“Dibuat tetap ada baranya agar tidak ada asap" ucap Lilian. Kemudian Lilian melakukan hal yang lain menyiapkan bumbu bumbu untuk masakan.
Sementara Tedy menjaga bara api, matanya menatap ada seonggok ubi jalar dan singkong.
“Li boleh dibakar ga itu, kayaknya enak dech" ucap Tedy sambil menatap Lilian
“Boleh” jawab Lilian. Tedy lalu bangkit berdiri dan mengambil beberapa ubi dan singkong untuk dibakar di dalam tungku.
“Sering masak pakai kayu bakar ya Li?” tanya Tedy sambil membolak balik ubi di dalam tungku
“Iya Mas, banyak kayu bakar sayang bila tidak digunakan, ngirit listrik dan gas juga. Itu nanti sebentar nasi dan air matang, kemudian dilanjut buat sayur dan lauk. Selesai dech" jawab Lilian
“Bisa dapat snack juga, ini ubi bakar he...he...” timpal Tedy sambil tertawa kecil.
“Iya, murah dan multi fungsi, itu nanti abunya dikumpulkan ibu bisa untuk pupuk tanaman" ucap Lilian sambil tangannya terus bekerja.
“Wah keren dong pupuk alami ya" ucap Tedy sambil menatap wajah Lilian dan menatap gerak lincah jari jarinya yang menyiapkan bahan bahan masakan. Kekaguman Tedy pada sosok Lilian bertambah berlipat lipat. Tidak berapa lama kemudian Lilian sudah selesai meracik masakan dan air yang dimasak sudah mendidih.
“Bisa” jawab Tedy. Lilian kemudian memberi tahu apa saja yang harus dilakukan oleh Tedy. Tedy dengan senang hati dan bahagia melakukan apa yang dikatakan oleh Lilian. Dan akhirnya di meja besar di dekat dapur sudah tersaji minuman bergelas gelas kopi dan teh. Tedy lalu kembali duduk di dingkik di depan tungku masih setia menemani Likian sambil menikmati singkong dan ubi bakar hasil karyanya. Meskipun sedikit gosong namun terasa nikmat bagai coklat. He... he...
Namun tiba tiba....
“Ealah... dicari dimana mana tidak ketemu aku kira hilang digondol kolor ijo ternyata asyik pacaran di sini" ucap Nindya yang sudah pulang dari jalan jalan pagi, sosoknya sudah berdiri tegak di tengah pintu dapur sambil menatap kakaknya Tedy dan Lilian. Tedy dan Lilian tentu saja langsung menoleh menatap Nindya.
“Ada Nin orangnya?” tanya Bram yang sekarang sudah berdiri tepat di belakang Nindya dan juga menatap Tedy dan Lilian
“Ada tuh lagi pacaran he...he... pacaran memang bisa di mana saja ya Kak” ucap Nindya
“Memang lebih mesra bila pacaran tanpa biaya ha...ha...” ucap Bram yang lalu mengambil segelas kopi yang sudah dibuatkan oleh Tedy tadi.
“Sharing pengalaman ya Bro" teriak Tedy lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekati bro Bram. Sedangkan posisinya sekarang sudah digantikan oleh Nindya. Nindya membantu menyiaokan masakan dan nasi.
Tidak lama kemudian yang dari pasar sudah datang. Mereka datang membawa segala macam jajanan pasar. Bram dan Tedy dengan semangat menikmati jajan pasar sebagai teman kopi nya kemudian disusul oleh Rangga yang sudah mandi dan rapi.
__ADS_1
Setelah semua persiapan selesai, dan mereka semua sudah lengkap dan sudah mandi, lalu mereka sarapan pagi bersama. Setelah selesai sarapan pagi, tidak lama kemudian sopir yang menjemput mereka datang.
Mereka pamit pada keluarga Lilian. Orang tua Lilian berkali kali memberi pesan pada Tedy agar menjaga Lilian dengan baik baik, meskipun pacaran jarak jauh diharuskan selalu berkomunikasi. Tedy menyanggupi semua pesan yang disampaikan oleh orang tua Lilian.
Mereka memasuki mobil jemputan dan duduk dengan posisi seperti waktu datang. Mobil lalu berjalan pelan pelan sebab masih dalam lingkunhan jalan desa, belum memasuki jalan raya. Setelah memasuki jalan raya mobil menambah kecepatannya.
“Mas Bram kita jadi ke makam Mas Adit dulu?” tanya pak Sopir yang dulu sudah mengenal Adit teman SMA Bram
“Iya Pak" jawab Bram
“Pak, mampir beli bunga tabur dulu ya.. di tempat sebelum masuk jalan ke kubur itu” ucap Lilian
“Baik mbak" jawab pak Sopir.
Mobil terus melaju menuju ke makam, setelah mendekati jalan makam, mobil berhenti sejenak untuk membeli bunga tabur. Setelah mendapatkan bunga tabur mobil kembali berjalan menuju ke makam yang sudah tidak lagi jauh.
Mobil berhenti di depan pintu gerbang makam. Mereka semua turun dari mobil. Terlihat semua wajah berekspresi sendu, terutama ekspresi wajah Lilian dan Bram. Meskipun sudah meninggal beberapa tahun tetapi mereka berdua masih terkenang kenang semua kejadian yang menimpa.
Terlihat Nindya mengandeng tangan Lilian untuk memberi kekuatan. Mereka berdua berjalan di barisan paling depan.
“Di sana Nin, di bawah pohon kamboja yang bunganya warna kuning" ucap Lilian sambil dagunya menunjuk ke arah makam di bawah pohon kamboja.
Tidak lama kemudian mereka semua sudah berada di dekat makam Adit. Mereka semua berdoa untuk arwah Adit.
“Dit, sepertinya tugasku sudah selesai, sudah ada orang yang tepat untuk menjaga Lilian” ucap Bram setelah selesai berdoa
“Semoga kamu tenang di sana" ucap Bram lagi
“Kenalkan ya, itu bro Tedy yang akan menjaga Lilian dan yang ada di sampingku ini Nindya calon istriku adiknya bro Tedy” ucap Bram sambil tersenyum merangkul Nindya dari samping.
Namun tiba tiba ada kupu kupu dari atas pohon kamboja terbang dan hinggap di atas nisan makam Adit, lalu kupu kupu tersebut terbang kemudian hinggap di puncak kepala Lilian, setelahnya terbang lagi dan kemudian hinggap di bahu Tedy, kupu kupu tersebut hinggap sambil mengepak ngepakkan sayapnya. Setelahnya kupu kupu tersebut terbang dan hinggap di pucuk hidung Bram dan tidak lupa mengepak ngepakkan sayapnya. Setelahnya kupu kupu tersebut terbang karena Bram mengibas ngibaskan tangannya. Saat kupu kupu tersebut mau hinggap di tubuh Nindya diusir oleh Bram.
“Hust...” desis Bram lalu kupu kupu tersebut terbang jauh entah kemana.
“Sudah selesai Li, doa mu?” tanya Bram
“Sudah Mas, ayo pulang" jawab Lilian
Namun saat mereka membalikkan tubuhnya terlihat ada wanita setengah baya yang sedang memasuki pintu pagar makam dan berjalan menuju ke arah mereka.
__ADS_1
******
Bersambung