Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
114. Masalah warna


__ADS_3

Mobil sampai di depan kost Nindya. Papah Mahendra dan mamah Indah turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih dan selamat malam pada Bram. Dan Brampun mengucapkan selamat malam dan salam buat Nindya kemudian melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah karena sudah larut malam.


Mendengar suara mobil Bram, Lilian dan Nindya yang belum tidur langsung membukakan pintu kamar dan berdiri di depan pintu.


"Gimana Mah hasil pembicaraan?" tanya Nindya setelah mamah Indah dan papah Mahendra sudah berada di depan mereka.


"Sudah kalian tidur sana di kamar Lilian, aku sama papah mau tidur" ucap mamah Indah yang langsung nyelonong masuk kamar Nindya dan diikuti langkah papah Mahendra.


"Mah ceritain dong, aku ga bisa tidur sebelum tahu hasil pembicaraan" ucap Nindya ikut berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya. Lilian yang juga ingin ikut mendengar hasil kesepakatan ikut berdiri di depan pintu yang masih terbuka.


"Besok saja" ucap mamah Indah sambil berjalan masuk ke kamar mandi.


"Pah gimana?" tanya Nindya dengan ekspresi wajah memohon papahnya memberi jawaban


"Satu minggu sebelum kamu KKN acaranya" jawab papah Mahendra


"Seragam keluarga kita warna nya pink" jawab mamah Indah yang sedang membuka pintu kamar mandi sambil tersenyum lebar


"Kok pink sih Mah, pasti itu warna pilihan mamah" ucap Nindya


"Iya warna seragam keluarga Bharata ungu lilac warna pilihan Arum" ucap mamah Indah


"Aku ikut seragam keluarga Bharata aja ach" saut Lilian sambil tersenyum lalu melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.


"Sudah kalian tidur sana, besok pagi kita belanja seragam" ucap mamah Indah yang sudah berganti baju daster dan siap merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.


Nindya mau tak mau ikut berjalan meninggalkan kamar kostnya menuju ke kamar Lilian. Sesampai di kamar Lilian, Nindya langsung mengusap usap hapenya untuk menghubungi Bram, akan menanyakan tentang hasil pembicaraan.


"Hallo, tutup dulu ya Nin ini baru mau markir mobil, nanti aku telpon balik" ucap Bram saat membuka sambungan telponnya. Nindya lalu duduk di kursi belajar Lilian.


"Gimana?" tanya Lilian


"Mas Bram baru sampai rumah, nanti mau nelpon balik" jawab Nindya


"Mamah tuh sukanya warna pink, warna pink kalau ga pas warnanya jadi norak menurutku, belum lagi nanti kalau yang pakai orang tua" gerutu Nindya


"Sabar Nin... tapi maaf ya aku ikut seragam nya keluarga Bharata aku suka warna lilac daripada pink" ucap Lilian sambil tersenyum


"Iya mirip mirip namamu.." ucap Nindya asal. Tidak lama kemudian hape Nindya berdering. Nampak nama mas Bram muncul di layar hapenya. Nindya lalu menggeser tombol hijau.


"Hallo Nin, kamu belum tidur?" tanya Bram mengawali percakapannya dengan Nindya. Sekarang Bram sudah berada di dalam kamarnya.


"Belum mas, mas warna seragam keluarga Mahendra kenapa pink sih?" tanya Nindya langsung pada hal yang membuatnya gundah.

__ADS_1


"Wah aku ga tahu Nin, sepertinya tadi masalah warna belum dibahas, apa pas aku meninggalkan ruangan bahasnya, aku tadi kebelet pipis terus ijin ke kamar mandi" jawab Bram


"Ihhhh mas Bram kenapa harus ke kamar mandi segala ga diempet aja" ucap Nindya


"Ngompol dong ha...ha..." ucap Bram sambil tertawa


"Tenang aja, kan bisa dimusyawarahkan lagi, belum dibeli juga seragamnya. Aku buat group chatting ya.." ucap Bram selanjutnya


"Iya iya mas, setuju aku.. Mamah kalau sama ibu Murti kayaknya nurut dech" ucap Nindya sambil tersenyum.


Sementara itu di kamar kost Nindya, mamah Indah masih membujuk papah Mahendra yang merajuk karena sapi nya dijual tanpa sepengetahuannya.


"Sudahlah Pah, mamah minta maaf" ucap mamah Indah sambil mengusap usap pundak papah Mahendra yang tidur membelakanginya.


"Kata mbah Karto sapi nya ada yang bunting lagi, perutnya besar kemungkinan anaknya besuk banyak Pah" ucap mamah Indah. Papah Mahendra yang mendengar sapi nya ada yang bunting lagi matanya bersinar bahagia. Namun masih tetap memunggungi istrinya.


"Mamah besok lagi ijin papah deh kalau ambil keputusan, maaf ya Pah..." ucap mamah Indah masih dalam upaya membujuk papah Mahendra


"Harus ada gantinya" ucap papah Mahendra


"Apa gantinya kalau mau gituan jangan di kamar ini, nanti kedengaran kamar sebelah, menodai telinganya" jawab mamah Indah yang tahu maksud papah Mahendra kalau sedang merajuk minta ganti.


Namun tiba tiba hape keduanya berbunyi.


"Oooo ada group chat baru Pah, group lamaran Nindya" ucap mamah Indah setelah mengecek hapenya.


"Tolong ambilin hape ku Mah..." ucap papah Mahendra sudah dengan suara lembut dan bersahabat nampak sudah melakukan gencatan senjata.


Mamah Indah lalu mengambilkan hape milik papah Mahendra selanjutnya mereka berdua nyimak chatting di group lamaran Nindya. Nampak di group chatting Bram yang membuka percakapan lalu mengirim hasil kesepakatan pembicaraan. Setelahnya Bram menanyakan warna seragam. Arum yang menjawab kalau keluarga Bharata seragam warna lilac dan keluarga Mahendra warna pink. Nindya langsung menjawab tidak setuju warna pink.. akhirnya group chatting jadi ramai namun yang meramaikan adalah kaum hawa, sedangkan kaum adam sudah satu sepakatan kaum adam jas warna hitam. Sampai akhirnya ibu Murti mengusulkan warna salem untuk menengahi perseteruan antara mamah Indah dan Nindya. Tidak lupa ibu Murti mengirimkan gambar warna salem. Akhirnya mamah Indah setelah melihat warna salem yang dikirim ibu Murti, beliau sangat sangat setuju.


"Ahhh aku itu kok bingung sih antara warna peach, salem, rose, pink... kayaknya mirip mirip sih" gumam mamah Indah lalu meletakkan hapenya dan selanjutnya merebahkan tubuhnya di samping papah Mahendra


"Apalagi aku Mah.. tahuku warna merah kuning hijau... ha....ha..." ucap papah Mahendra sambil tertawa


"Itu warna lampu lalu lintas pah" ucap mamah Indah sambil menepuk paha papah Mahendra.


"Iya sama warna alarm dari mu, kalau sedang merah papah tidak bisa berkutik" ucap papah Mahendra


"Sekarang tidak merah tapi juga tidak bisa berkutik, ingat tempat ya..." ucap mamah Indah sambil mencubit pipi suaminya.


Pagi harinya sesuai rencana, Bram sudah datang menjemput mamah Indah untuk belanja seragam. Bram, ibu Murti dan Arum turun dari mobil berjalan menuju ke kamar kost Nindya. Saat mereka berjalan nampak mamah Indah, Nindya dan Lilian pun sudah bersiap dan berjalan ke luar kamar.


"Kalau sudah siap semua kita langsung saja, jam delapan toko sudah buka, kalau masih sepi malah lebih baik" ucap Bram. Lalu mereka semua setuju dan selanjutnya mereka masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju ke toko kain langganan Ibu Murti. Tidak lama kemudian mobil sudah sampai di depan toko.

__ADS_1


"Aku paling ganteng nih" ucap Bram sambil berjalan setelah turun dari mobil menuju ke dalam toko


"Iya kayak bebek ini Bram" ucap Ibu Murti


"Bagaimana bisa Bu, saya ganteng begini dibilang kayak bebek" ucap Bram protes


"Bebek itu kalau dalam rombongan kan jantannya satu betinanya yang banyak" jawab Ibu Murti


"Ibu bisa saja" ucap Nindya yang berjalan tidak jauh dari ibu Murti.


Mereka kemudian masuk ke dalam toko kain, melihat lihat mencari cari kain seragam yang terbaik. Menurut ibu Murti memberi itu berusaha memberikan yang terbaik. Mencari warna yang bagus juga kain yang nyaman dan sopan dipakai. Akhirnya mereka sudah mendapatkan semua bahan kain yang diinginkan. Ibu Murti dan mamah Indah berjalan menuju kasir lalu diikuti oleh langkah kaki Nindya dan Bram.


Saat sampai di depan kasir ibu Murti mengambil kartu debitnya dari dompet nya demikian juga mamah Indah.


"Mbakyu semua pakai kartu debit saya saja" ucap Ibu Murti


"Jangan begitu jeng, ini saya juga ada dana biar yang seragam keluarga Mahendra pakai kartu saya" ucap mamah Indah sambil mengulurkan kartu debit nya.


"Iya Bu, apa pakai kartu Nindya tabungan Nindya juga cukup untuk bayar seragam kok" ucap Nindya sambil mengambil dompet dari dalam tasnya.


"Sudahlah kartu kalian bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya, masih banyak kan kebutuhannya" ucap Ibu Murti. Nampak kasir masih memproses barang barang yang mereka beli. Namun tiba tiba Bram mengambil kartu debitnya dan memberikan pada mbak kasir.


"Sudah Bu, pakai kartu saya saja kemarin dapat bonus hasil eksport tepung pisang" ucap Bram dengan bangga.


"Kalau ini baru aku setuju" ucap Ibu Murti lalu menyimpan kembali kartu debitnya. Nampak mamah Indah menatap calon menantunya sambil tersenyum lalu mengucapkan terimakasih pada ibu Murti dan Bram. Sedangkan Nindya langsung matanya mengerjap ngerjap kalau digambar kan dengan emoji nampak emoji love love love keluar dari matanya.... he...he...


Setelah selesai pembayaran mereka semua berjalan menuju ke mobilnya. Semua belanjaan mereka akan dikirim menuju ke alamat seperti keinginan pembeli. Kecuali kain bahan untuk Nindya langsung dibawa karena akan segera dibawa di tukang jahit langganan Ibu Murti agar saat Nindya pulang sudah jadi bajunya.


Namun nampak Lilian hanya diam saja diantara mereka.


"Li, kamu kenapa kok diam saja?" tanya Nindya sambil mengandeng tangan Lilian ber jalan menuju ke mobil.


"Aku bingung Nin" jawab Lilian


"Kenapa?" tanya Nindya kuatir.


"Warna lilacnya bagus, yang salem juga bagus, bingung mau ikut keluarga Bharata apa keluarga Mahendra" ucap Lilian


"Buat kamu aku kasih dua, yang lilac dan salem" ucap Nindya lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Bram.


*****


ach othor tuh juga kayak mamah Indah suka bingung kalau dengan warna yang mirip mirip, pun juga bingung kayak lilian kalau disuruh milih diantara barang bagus 😁🤭

__ADS_1


__ADS_2