Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
147. Tedy dan Lilian menghilang


__ADS_3

Hari terus berganti hingga waktu pernikahan Bram dan Nindya semakin mendekat. Segala persiapan di kedua keluarga sudah semakin matang. Tedy dan Lilian pun akan tiba di rumah keluarga Mahendra. Mereka berdua tidak mau dijemput.


“Nin, kakakmu Tedy kok belum sampai katanya penerbangan pagi dari Yogya?” tanya mamah Indah dengan nada gelisah.


“Hape nya masih off tuh Mah" jawab Nindya


“Kamu coba hubungi kakakmu Alvin, suruh ngecek ke bandara atau ke agen maskapai" ucap mamah Indah


Nindya lalu terlihat menghubungi kakaknya Alvin yang sedang mengajak anak dan istrinya keluar jalan jalan sebab Bali sudah mulai rewel, sudah bosan dengan mainan yang ada di rumah. Bahkan sampai main kuda kuda an dengan mamah Indah pun dilakukan. Mamah Indah rela menjadi kuda demi bisa berdekatan dengan cucunya. Dan terakhir kali Bali menangis kejer karena mamah Indah tidak boleh beristirahat dan setelah dibujuk oleh Alvin akan dibelikan kuda baru berhenti menangisnya.


“Sudah Mah, ini kak Alvin baru di toko mainan cari kuda kudaan, Bali ga mau pulang katanya.”


“Syukurlah kalau sudah dapat kuda kuda an, kalau tidak dapat bisa bisa aku tidak bisa berdiri di hari nikahanmu, karena encok" ucap mamah Indah


“Punya cucu satu saja digendong ga mau maunya naik ke punggung aku dijadikan kuda kalau punya cucu tiga seperti Bali semua bisa encok permanen aku" gerutu mamah Indah


“Mah....”


“Hmmm"


“Apa karena dulu mamah awalnya ga suka dengan kak Vi, akhirnya anaknya jadi ga suka sama mamah he..he.. “ ucap Nindya


“Entahlah tapi akhirnya kan aku merestui.. kalau begitu berarti besok cucuku yang berdarah ungu suka ke aku.. Aku kan sejak awal setuju kamu sama Bram" ucap mamah Indah sambil tersenyum


“Kalau sama Lilian gimana Mah?” tanya Nindya


“Kalau sama Lilian jelas jelas mamah setuju, Lilian sudah seperti anak mamah sendiri” jawab mamah Indah


“Besok setelah acara ngunduh mantu aku mau main ke rumah Lilian, kalau papahmu mau biar sekalian langsung pembicaraan serius membahas hubungan Tedy dan Lilian” ucap mamah Indah selanjutnya


“Aku setuju Mah" ucap Nindya


“Gimana Alvin sudah tanya berita pesawat Tedy belum?” tanya mamah Indah yang tampak masih gelisah. Nindya lalu terlihat mengusap usap hapenya melakukan komunikasi dengan kakaknya Alvin.


“Sudah Mah, katanya pesawat sudah selamat mendarat sesuai jadwal” jawab Nindya

__ADS_1


“Terus kemana itu anak, bikin galau orang tua saja" ucap mamah Indah


Nindya terlihat masih mengusap usap hapenya namun tiba tiba terlihat ekspresi kaget di wajahnya.


“Mah kok ini status Tole dapat oleh oleh dari Yogya, dari siapa, apa Lik Marni kirim ke dia?” tanya Nindya


“Kayaknya tidak, coba kamu tanya Lik Marni" ucap Mamah Indah


“Ada apa namaku disebut?” Tanya Lik Marni yang berjalan mendekat sambil membawa mangkok mangkok


“Nin, jadwalmu luluran tapi aku mau nglulur mamah mu dulu pakai parem katanya boyoknya pegel karena jadi kuda he...he...” ucap Lik Marni lalu ikut duduk di dekat mereka


“Lik Marni ngirim oleh oleh ke Tole?” tanya Nindya


“Tidak, itu coklat buat dia mau kukasih besok kalau dia datang ke sini saja" jawab Lik Marni


“Sudah kamu telpon saja Tole" perintah mamah Indah


Nindya lalu mengusap usap hapenya untuk melakukan sambungan telpon dengan Tole. Dan tidak lama kemudian Tole sudah menerima sambungan telpon dari Nindya


“Ga usah keras keras Le, Le kamu dapat oleh oleh dari siapa?” tanya Nindya


“Mbak Nindya kepo ya he... he...”


“Iya oleh olehmu dari mamah Indah masih disimpan Lik Marni , kalau kamu tidak jawab oleh oleh coklat kesukaanmu tidak dikasih" ancam Nindya


“Ini dari kak Tedy sama pacarnya mbak" jawab Tole


“Ladalah kak Tedy kok sudah sampai situ, sekarang dimana dia, kasih hapemu ke dia” ucap Nindya


“Ya ga mau mbak kok hape ku disuruh kasih ke dia, aku nanti ga punya hape" ucap Tole


“Maksudku pinjamkan ke dia aku mau omong ke dia, hape dia dan pacarnya mati" ucap Nindya memperjelas maksudnya


“Orangnya sudah pulang mbak katanya mau ke hotel” jawab Tole

__ADS_1


“Ladalah kok ke hotel?” tanya Njndya


“Ga tahu tadi pamitnya gitu mau ke hotel yang bagus itu loh mbak"


Nindya lalu memutus sambungan telponnya dengan Tole. Pikirannya menerka nerka kenapa kakaknya dan Lilian langsung menuju ke hotel.


“Lilian kok begitu sih, dulu susah diajak pacaran sekalinya mau pacaran kok mau dibawa ke hotel. Kak Tedy kok juga keterlaluan sih kenapa tidak sabar. Aku dan mas Bram yang sudah pacaran lama saja ga macem macem. Apa Kak Tedy... “ gumam Nindya dalam hati


“Nin gimana, kok malah bengong?” Tanya mamah Indah yang ingin segera mendapat kabar tentang Tedy


“Hmmm Kak Tedy dan Lilian ke sana Mah, memang Lilian dari dulu pengen ke beatiful hill, kemarin kan belum sempat pas dia ke sini" jawab Nindya yang bingung omong ke mamah Indah tidak kalau kakaknya dan Lilian ke hotel


“Terus kok tadi kamu omong hotel hotel itu apa?” tanya mamah Indah


“Oo Tole tanya besok kalau ke sini tidur di hotel tidak" jawab Nindya bohong karena tidak mau Mamahnya bertambah pikiran.


“Yo wis, aku mau luluran dulu, ayo Ni" ucap mamah Indah lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya dan dikuti oleh Lik Marni.


Sedangkan Nindya terlihat masih bengong mikir kenapa kakaknya dan Lilian pergi ke hotel dan hape keduanya di off. Namun lamunannya terburai karena ada suara ketukan di pintu depan. Nindya lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke depan. Dan dibukanya pintu depan.


“Lek.. Hos.. Hos..” teriak suara Bali saat pintu sudah dibuka. Tangannya menunjuk nunjuk kuda kuda an yang dibawa Alvin, sedangkan dia nempel di gendongan Victoria


“Iya iya.. bagus” ucap Nindya sambil mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil alih Bali dari gendongan Victoria. Dan Bali dengan senang menyambut uluran tangan Nindya lalu nempel di gendongan Nndya. Dan selanjutnya mereka masuk ke dalam rumah.


“Bagaimana Tedy Lek sudah bisa dihubungi?” tanya Alvin pada Nindya yang sekarang ikut ikut Bali manggilnya Lek.


“Belum bisa dihubungi tapi sudah ketahuan mereka sedang di beautiful hill" jawab Nindya sambil menaruh Bali di mainan kuda kudaannya yang sudah di taruh Alvin di ruang keluarga. Tampak Bali sangat bahagia tertawa tawa riang gembira. Sedangkan Nindya pikirannya masih pada kakaknya Tedy dan Lilian. Dia bingung cerita ke kakaknya Alvin atau disimpan dulu ditanyakan langsung pada Lilian saja.


“Lek.. Lek... hos.. hos.. “ ucap Bali sambil menatap Nindya


“Lek... Lek.. hos ...hos... hos..“ ucap Bali lagi sambil tangan mungilnya menoel noel tangan Nindya minta kuda kudaannya digoyang goyang.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2