Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
166.


__ADS_3

Pagi harinya baby Andru sudah diantar perawat ke kamar perawatan Nindya.


“Bu, waktunya adik baby mendapat ASI.” Ucap perawat sambil memberikan baby Andru kepada Nindya.


“Baik Sus.” Ucap Nindya sambil menerima baby Andru.


“Bu, nanti adik baby sudah bisa di taruh di sini.” Ucap perawat sambil mengecek box bayi yang berada di kamar perawatan Nindya.


“Terimakasih Sus.” Ucap Nindya sambil menyusui baby Andru.


“Kalau ada perlu apa apa ngebel kami ya Bu, saya tinggal dulu.” Ucap perawat tersebut setelah Nindya mengiyakan lalu perawat tersebut meninggalkan kamar perawatan Nindya.


Tidak berapa lama Bram yang habis mandi datang mendekati anak dan istrinya. Dia tadi bangun lebih awal dari Nindya lalu membantu Nindya membersihkan diri sarapan dan minum obat selanjutnya baru dirinya pergi mandi.


Bram memang ditinggal sendirian menjaga Nindya oleh orang tua dan mertuanya.


“Tuh ayah sudah segar dan wangi nak.” Ucap Nindya sambil membelai lembut pipi anaknya dengan telunjuk jarinya.


Mereka berdua sudah sepakat panggilan anak untuk mereka ayah bunda. Sebab kalau bapak ibu sudah dipakai bapak Bharata dan ibu Murti, kalau papah mamah sudah papah Mahendra dan mamah Indah. Sedangkan kalau mommy daddy sudah dijadikan panggilan oleh Bali pada Victoria dan Alvin.


“Duh.. enaknya susu bunda, bagi dong.” Ucap Bram sambil duduk di depan Nindya dan anaknya. Bram pun membelai lembut kepala anaknya dengan sangat hati hati.


“Ga boleh ya nak, ayah minum air putih saja dengan gelas ....” ucap Nindya terlihat satu tangan mungil baby Andru pun tampak bergerak gerak serasa menyetujui omongan bunda nya sambil mulut mungilnya lebih kuat menyusu.


“Itu milik ayah ya nak, kamu hanya pinjem dan kontrak pinjam hanya dua tahun.” Ucap Bram sambil membelai telapak kaki baby Andru. Namun selesai Bram berucap tangannya Bram mendapat tendangan kaki mungil baby Andru.


“Ha...ha... ayah ditendang baby Andru.” Ucap Nindya sambil tertawa. Sementara Bram menggenggam gemas telapak kaki anaknya lalu menciuminya.


“Nin kita selama empat puluh hari ga boleh main hos hos ya?” tanya Bram setelah puas menciumi kaki anaknya.


“Lha iya Mas, masih masa nifas.. biar onderdilku sembuh dulu bayangin habis mengeluarkan segini.” Jawab Nindya sambil mengusap usap punggung anaknya.


“Iya ya Nin kulit kita lecet aja sakit dan perlu waktu untuk pemulihan.” Ucap Bram.


“Tapi kamu nanti bantu aku dalam bersolo karier ya..” ucap Bram lagi sambil meringis.


“Iya iya mas, aku sudah cari referensi pelayanan pada suami selama masa nifas sudah tanya tanya ke kak Vi dan tante Laras juga.” Ucap Nindya sambil menatap Bram lalu mengedipkan satu matanya.

__ADS_1


“Nin.... kamu jangan menggoda ya....”


Bersamaan dengan itu pintu terbuka muncul ibu Murti dan mamah Indah.


“Cucuku yang berdarah ungu lagi mikcu ya...” ucap mamah Indah dengan langkah cepatnya mendahului ibu Murti dan selanjutnya menggeser tempat duduk Bram. Mau tak mau Bram mengalah demi mertuanya.


“Mbakyu kok sejak kemarin Andaru dibilang berdarah ungu bagaimana to?” tanya Ibu Murti sambil mendekat... Terlihat Nindya memandang wajah suaminya kuatir kalau ibu Murti tersinggung


“Owh... hanya bercanda Jeng, warna biru dan merah kalau dicampur kan jadi ungu.” Jawab mamah Indah


“Lha katanya Bram masih berdarah biru lha kalau Nindya berdarah merah... cucuku ini kan campuran Bram dan Nindya he..he..” ucap mamah Indah selanjutnya


“Owalah mbakyu bisa saja.” Ucap ibu Murti sambil menepuk pelan pundak mamah Indah.


Setelah baby Andru selesai menyusu dia digendong oleh mamah Indah terlihat mamah Indah sangat bahagia.


“Semoga Andaru besok bisa dekat sama Oma ya... meskipun kita beda kota.” Ucap mamah Indah sambil membelai belai kepala baby Andru.


Tampak ibu Murti menatap sekilas sambil tersenyum, beliau memberi kesempatan kepada Mamah Indah untuk mengendong baby Andru. Beliau berpikir kesempatan berdekatan dengan baby Andru akan lebih banyak beliau dapat sebab mereka serumah.


Ibu Murti kemudian mendekati Nindya untuk menunjukkan paket jamu yang harus dia minum. Setelah memberitahu aturan minum jamunya beliau menaruh paket jamu tersebut di tempatnya. Tidak lupa beliau juga memberi tahu Bram dan agar Bram membantu dan mengingatkan Nindya dalam minum jamu.


“Bapak ke kantor, kamu kan diberi cuti 3 hari itu harus kamu manfaatkan benar benar untuk menemani anak dan istrimu.” Jawab Ibu Murti.


“Kalau papah Mahendra dan pak Man sedang ke pasar hewan.” Jawab Ibu Murti selanjutnya.


“Papah ke pasar hewan, Mau beli sapi apa Mah?” tanya Nindya saat mendengar ibu Murti mengatakan papah Mahendra ke pasar hewan.


“Bukan, Papahmu mau cari kambing buat aqiqoh anakmu, hadiah dari papah dia yang mau pilih sendiri kambingnya.” Jawab mamah Indah sambil menciumi cucunya.


“Terus naik apa Papah dan pak Man?” tanya Nindya


“Pakai mobilnya Bram.” Jawab Ibu Murti.


Sedangkan Bram yang mendengar menoleh ke arah ibu Murti dengan sedikit kuatir jangan jangan nanti mobilnya digunakan untuk membawa kambing.


“Bu, tapi nanti kambingnya tidak ditaruh ke mobil Bram kan?” tanya Bram

__ADS_1


“Mungkin tidak, setelah memilih mungkin kambingnya diantar pakai mobil pedagangnya.” Jawab Ibu Murti.


Sementara itu di pasar hewan. Papah Mahendra dan pak Man berkeliling untuk mencari dua kambing terbaik buat aqiqoh baby Andru.


Pak Man terlihat sangat bahagia bisa mengantar papah Mahendra ke pasar hewan. Dia juga sangat senang sebab juga mendapat ilmu tentang sapi.


“Ayo Pak, ke sana masih kurang satu kambingnya.” Ucap papah Mahendra


“Iya Pak, yang ini memang bagus banget kambingnya gemuk dan sehat umurnya juga pas, super pokoke.” Ucap pak Man sambil menarik seekor kambing gemuk sehat yang sudah dibeli.


“EEmmmmbekkkkk....." teriak sang kambing yang ditarik pak Man. Entah mengucapkan terimakasih pada pak Man karena sudah dipuji atau minta pak Man jangan cepat cepat jalannya .


“Pak Man belum capek kan, kita cari yang sama kayak ini gemuk dan sehat kualitas super.” Ucap papah Mahendra masih terus berjalan sambil melihat lihat kambing dagangan.


“Ya belum tho Pak, malah senang saya, buat anaknya Mas Bram saya siap jalan terus sampai nemu kambing kualitas super lagi. Kapan mereka pulang Pak, saya sudah tidak sabar pengen melihat anaknya mas Bram.” Ucap pak Man


“Besok paling sudah pulang.” Jawab papah Mahendra


“Eeemmmmmmmbek....” teriak kambing lagi


“Kamu juga sudah tidak sabar ya?” tanya pak Man sambil menoleh ke arah kambing yang ditarik.


“Eeeemmmmmmmbekkkk...”


“Dari tadi kok embek embek terus.” Gumam pak Man.


Papah Mahendra terus berjalan sambil masih melihat lihat kambing dagangan. Dan tidak lama kemudian beliau mendapatkan kambing kualitas super, yang gemuk, sehat dan umur sesuai. Setelah dibayar papah Mahendra menarik kambing tersebut.


“Pak tidak diantar pakai mobil pedagangnya saja apa Pak?” tanya pak Man saat mereka berdua berjalan menarik kambing menuju ke mobil Bram yang terparkir.


“Lebih tenang dibawa sendiri Pak, takutnya kalau nanti ditukar kita bisa apa coba, sudah capek capek milih yang datang tidak sesuai pilihan.” Jawab papah Mahendra.


“Benar juga Pak.” Gumam pak Man


Akhirnya pak Man dan papah Mahendra berusaha memasukkan kedua kambing tersebut ke dalam mobil Bram.


“Nanti kalau Mas Bram marah bagaimana Pak, kalau mobilnya kena kotoran kambing?” tanya pak Man setelah kedua kambing sudah berhasil masuk ke dalam mobil Bram.

__ADS_1


“Tidak boleh marah untuk keperluan anaknya, kan bisa dibersihkan.” Jawab papah Mahendra sambil menyalakan mesin mobil Bram.


__ADS_2