Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
175. Siapa pelakunya


__ADS_3

Malam hari Arum dan Johan datang ke rumah bapak Bharata. Mereka berdua diundang oleh Bapak Bharata. Andru yang melihat kedatangan Arum sangat senang sekali.


“Holeee... ibu Alum tatang......” teriak Andru sambil berlari menyambut Arum yang sudah masuk ke dalam rumah.


“Miting yuk....” ucap Andru sambil mendongak menatap Arum dengan senyum manisnya.


Arum lalu mengendong Andru dan menciumi wajah Andru.


“Ibu Arum mau meeting sama bos sepuh.” Jawab Arum


“Ih...cebel.. “ ucap Andru sambil mencebikkan bibirnya. Johan yang ikut berjalan di samping Arum gemas dengan Andru lalu mengacak acak puncak kepala Andru.


Bapak Bharata dan ibu Murti terlihat sudah duduk di sofa ruang keluarga. Nindya berjalan mendekati Arum lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil Andru di dalam gendongan Arum.


“Andru yok.. ibu Arum sudah ditunggu Eyang.” Ucap Nindya lalu mengambil Andru dari gendongan Arum.


Terlihat Arum dan Johan mendekat pada orang tuanya. Mereka berdua memberikan salam dan cium tangan pada bapak Bharata dan ibu Murti. Lalu terlihat mereka berbicara serius.


Nindya yang kepo duduk di ruang makan sambil membuatkan minuman untuk mereka. Karena Mak masih sibuk di dapur.


“Iya Pak, itu nomer rekening Arum tapi itu rekening lama aku sudah lama tidak ngecek. Memang masih ada saldo tapi hanya sedikit.” Ucap Arum saat bapak Bharata menanyakan rekening yang mencurigakan.


“Aku cari cari bukunya sampai sekarang juga belum ketemu.” Ucap Arum lagi


“Kartu debitnya juga tidak ketemu sudah kucari dimana mana.” Ucap Arum selanjutnya


“Apa kamu pernah menandatangani surat kuasa?” Tanya bapak Bharata lagi.


“Iya Pak, banyak surat kuasa aku tanda tangani, kan memang kalau aku sibuk tidak bisa keluar aku kuasakan pada Mas Johan atau aspri (asisten pribadi).” Jawab Arum


“Iya memang tidak apa apa dikuasakan pada orang yang dipercaya. Tapi harus dibaca dengan teliti setiap surat kuasa.” Ucap bapak Bharata sambil menatap tajam wajah Arum.


“Tidak asal tanda tangan.” Ucap Bapak Bharata kemudian dan tampak wajah kaget Arum dan Johan.


“Jadi ada yang mengunting di dalam lipatan....” Gumam Arum yang terdengar oleh mereka semua. Termasuk Nindya yang sedang nguping. Untung Andru sedang bisa duduk tenang sambil menikmati puding buah.


“Iya.” Jawab bapak Bharata


“Dan karena ketledoranmu itu, kamu akan dapat hukuman.” Ucap Bapak Bharata


“Terus siapa yang melakukan itu Pak?” tanya Arum dan Johan secara bersamaan. Terlihat ibu Murti pun juga menatap wajah bapak Bharata ingin mengetahui siapa yang sudah berkhianat.


Pun demikian Nindya yang sedang berada di ruang makan dia memasang kupingnya lebar lebar.

__ADS_1


“Bun.. abis.. “ ucap Andru yang puding di depannya sudah habis. Karena Nindya sedang berkonsentrasi dengan kekepoannya dia tidak mendengar ucapan Andru yang pelan.


“Bun... Bun... abis Bun.” Ucap Andru lagi dengan suara lebih keras.


Namun tiba tiba....


“Nin...” suara bapak Bharata memanggil Nindya


“E.. e.. eh.” Ucap Nindya kaget sambil memegang dadanya. Andru yang melihat bundanya kaget malah terkekeh imut.


“Hi.... hi.... Bunda tadet hi...hi..” Ucap Andru dengan tawanya.


“Iya Pak.” Jawab Nindya agak keras.


“Hust.” Desis Nindya sambil menatap Andru dengan tersenyum


“Mana kopinya.” Ucap Bapak Bharata dari ruang keluarga


“Andru di sini dulu ya, nanti bunda kasih lagi pudingnya kalau masih ingin.” Ucap Nindya sambil membawa nampan minuman.


“Maaf Pak, kopinya sudah dingin tadi mau masuk kayaknya masih serius rapatnya.” Ucap Nindya sambil menaruh nampan di meja.


“Kamu ikut duduk di sini kalau Mak sudah selesai.” Ucap Bapak Bharata dengan nada tegas.


“Baik Pak, Bu.” Ucap Nindya lalu dia berjalan menuju ke ruang makan untuk mengambil Andru dan akan dititipkan pada Mak dulu. Dia ingin segera ikut duduk di ruang tamu untuk ikut mendengarkan hot news.


“Andru ikut Mak dulu ya.” Ucap Nindya sambil mengendong Andru


“Bun, atu bica jayan cendiyi.” Ucap Andru


“Biar cepet.” Ucap Nindya karena tidak ingin ketinggalan berita.


Tidak lama kemudian Nindya dan Andru sudah sampai di dapur.


“Mak, titip Andru ya.” Ucap Nindya saat sudah di dekat Mak yang sedang mengelap tangan pertanda pekerjaannya sudah usai.


“Mbak Nindya mau kemana?” tanya Mak.


“Tidak kemana mana.” Ucap Nindya lalu menyerahkan Andru pada Mak. Dan selanjutnya dia berjalan setengah berlari menuju ke ruang keluarga.


“Bunda miting.. Mbah Mak.” Ucap Andru yang sudah berada di gendongan Mak.


“Mbah Mak bica baca butu ceyita?” tanya Andru sambil menatap Mak.

__ADS_1


“Bisa mana bukunya?” tanya Mak.


“Di tamal bunda, ayo tita te cana.” Ucap Andru antusias


“Andru ambil bukunya, kita baca di kamar Mbah Mak saja ya.” Ucap Mak yang lebih nyaman di kamarnya sendiri. Dan terlihat Andru turun dari gendongan Mak dan berlari menuju kamar orang tuanya untuk mengambil buku buku cerita. Ah mungkin dia masih penasaran dengan picang ajaib.


Sementara itu Nindya yang sudah duduk di samping Ibu Murti mendengarkan dengan seksama. Dia juga kuatir kalau bapak Bharata menyampaikan pada Arum dan Johan kalau bapak Bharata mengetahui temuan mutasi mencurigakan dari Nindya.


“Kamu Johan dan Nindya, kalian adalah menantuku. Pasangan dari anak anakku, kalian sudah menjadi anak anakku juga.” Ucap Bapak Bharata saat Nindya sudah duduk dengan sempurna.


“Aku berjuang membesarkan perusahaan dari nol, sampai sekarang dan anak anakku bisa menikmati jerih payahku.” Ucap Bapak Bharata sambil menatap Arum, Johan dan Nindya secara bergantian.


“Dan tugas anak anakku adalah melanjutkan kalau ingin perusahaan ini terus berjalan. Dan semua harta yang ada adalah untuk anak anakku, kalau aku dan ibumu mati tidak akan membawa harta duniawi.” Ucap Bapak Bharata lagi.


“Iya Pak.” Jawab Nindya sambil menganggukkan kepala.


“Bapak kok belum bilang siapa pelakunya apa aku ketinggalan berita waktu di dapur tadi.” Gumam Nindya dan tentunya hanya di dalam hati.


“Nin.” Ucap Bapak Bharata mengagetkan Nindya yang sedang kepo pelaku yang berkhianat.


“Iya Pak.” Jawab Nindya sambil menatap bapak Bharata.


“Karena keteledoran Arum, dia dapat hukuman tidak mendapatkan gaji. Kalau Bram melakukan hal yang sama juga mendapat punishment (hukuman) yang sama.” Ucap Bapak Bharata lagi.


“Iya Pak.” Ucap Nindya sambil menganggukkan kepala.


“Tugasmu sebagai pasangan harus selalu mengingatkan.” Ucap Ibu Murti sambil mengelus pundak Nindya


“Baik Bu.” Ucap Nindya


“Sudah sekarang kalian semua boleh pergi.” Ucap Bapak Bharata lalu beliau bangkit dari tempat duduknya.


“Pak, terus bagaimana dengan pelakunya?” tanya Arum sambil mendongak menatap bapak Bharata yang sudah berdiri.


“Harus keluar dari perusahaan. Aku juga sedang memikirkan langkah hukum tapi itu juga terserah padamu.” Jawab bapak Bharata lalu dia berjalan menuju ke kamarnya.


Nindya hanya bisa menatap punggung bapak Bharata, sambil masih menggenggam rasa kekepoannya.


Nindya mau bertanya pada Arum dan Johan tidak enak apalagi pada ibu Murti.


“Berarti aku ketinggalan berita nih.” Gumam Nindya dalam hati sambil masih berpikir pikir bagaimana caranya untuk mendapatkan informasi siapa pelakunya.


“Apa besuk tanya langsung ke bapak ya.” Gumam Nindya lagi.. Sementara itu terlihat Arum memberesi gelas gelas minuman di meja. Sedangkan ibu Murti terlihat meraih remot televisi dan mulai mengaktifkan televisi.

__ADS_1


__ADS_2