Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
164. Kelahiran Anak Bram Nindya


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian pintu ruang periksa terbuka. Dokter kandungan yang memeriksa Nindya keluar. Diikuti oleh brankar yang berisi Nindya didorong oleh para petugas rumah sakit. Salah seorang petugas meminta travel bag yang berisi perlengkapan untuk dibawanya.


Bram terlihat bingung dia menoleh kepada dokter dan kepada brankar yang berisi istrinya.


“Dok, bagaimana istri dan anak saya?” tanya Bram sambil berjalan mengikuti langkah Dokter yang berjalan di belakang petugas yang mendorong brankar Nindya. Sementara yang lainpun ikut berjalan mengikuti pak Dokter sambil mendengarkan pembicaraan Bram dan Dokter.


“Ibu dan janin baik baik Pak, mereka dibawa ke ruang persalinan.” Jawab Dokter


“Apa akan dilakukan operasi?” tanya Bram


“Tidak Pak, kondisi ibu memungkinkan untuk melakukan persalinan secara normal.” Jawab Dokter


“Dok tapi istri saya pingsan.” Ucap Bram tidak habis pikir istrinya yang hanya terbaring diam saja kenapa dibilang memungkinkan persalinan normal.


“Pak Bram nanti ikut masuk di ruang persalinan membantu istrinya ya.” Ucap Dokter sambil tersenyum menatap Bram.


Tidak lama kemudian brankar sudah dibawa masuk ke dalam ruang persalinan. Bram dan dokter pun masuk ke dalam ruang persalinan. Sedangkan ibu Murti, bapak Bharata, Arum dan Johan menunggu di luar ruang persalinan.


Terlihat ibu Murti sambil menunggu, beliau khusuk memanjatkan doa buat keselamatan menantu dan cucunya. Bapak Bharata terlihat berjalan mondar mandir bagai dejavu ke masa lalu saat menunggu kelahiran Bram anak pertamanya. Sedangkan Arum berusaha mengintip di pintu meskipun tetap tidak bisa melihat apa apa. Kemudian dia memasang telinganya untuk menguping suara di dalam ruang persalinan.


Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan Nindya mengejan dan terkadang juga diikuti suara teriakan Bram. Sekarang tidak hanya Arum yang memasang telinga namun juga bapak Bharata dan Johan.


Dan tidak lama kemudian terdengar suara oek oek tangis bayi yang sangat keras.


Tampak wajah wajah mereka lega dan bersyukur dengan tangan menengadah sambil mengucapkan syukur alhamdulillah atas kelahiran anak Bram yang dinanti.


Beberapa waktu kemudian pintu ruang persalinan terbuka tampak Dokter keluar dari ruangan tersebut.


“Dok, bagaimana cucu dan menantu saya?” tanya ibu Murti


“Selamat Bu, semua sehat.” Jawab Dokter sambil tersenyum


“Laki apa perempuan Dok?” tanya bapak Bharata


“Ganteng dan sangat kuat Pak.” Jawab Dokter


“Terimakasih kasih Dok.” Ucap Bapak Bharata


Terlihat mereka semua sangat bahagia. Terutama bapak Bharata terlihat ekspresi wajahnya sangat puas dan bahagia.

__ADS_1


“Feelingku benar kan Bu, cucu kita laki laki, aku sudah siapkan nama buat cucuku.” Ucap Bapak Bharata sambil tersenyum menatap ibu Murti.


Sementara itu di dalam ruang persalinan setelah baby dibersihkan oleh perawat kemudian digendong Bram dan dilantunkan doa di telinganya oleh Bram. Bram terlihat sangat kaku dalam mengendong anaknya. Hanya sebentar Bram mengendong, dia terlihat masih takut mengendong anaknya yang baru lahir tersebut. Perawat akhirnya mengambil alih bayi tersebut dan di dekatkan pada Nindya.


Bram pun terlihat mendekati Nindya


“Nin anak kita laki laki.” Ucap Bram dengan nada kuatir. Dia kuatir jika istrinya seperti ibu Murti yang awalnya tidak menerima kehadirannya.


“Iya Mas, ganteng kayak mas Bram rambutnya tebal kayak mas Bram” Ucap Nindya sambil menerima anaknya


“Rasanya semua sakit hilang saat melihatnya.” Ucap Nindya sambil tersenyum bahagia memandangi anaknya. Benar benar dia merasakan suatu mujijat, merasakan mengandungnya selama sembilan bulan dan sekarang sudah berada di luar di dalam pelukannya. Nindyapun mulai mencoba menyusui anaknya.


“Aduh adek baby pinter sudah bisa menyusu.” Ucap salah satu perawat


“Iya Sus.. belajar dari seniornya..” ucap Nindya sedangkan Bram terlihat malu.


Dan setelah semua selesai terlihat perawat mengambil lagi adik baby.


“Kita pindah ke ruang perawatan Pak, Bu.” Ucap salah seorang perawat lagi


“Anak saya.” Gumam Bram yang terdengar oleh suara perawat.


Sedangkan perawat yang lain mendorong brankar Nindya untuk dibawa ke ruang perawatan. Bram berjalan tidak jauh dari brankar Nindya sambil berulang kali menengok wajah istrinya.


Saat keluar ruangan terlihat bapak Bharata, ibu Murti dan Arum sudah menunggu mereka.


“Bagaimana Bram?” tanya ibu Murti sambil berjalan mengikuti langkah kaki Bram.


“Berkat doa ibu dan bapak, Nindya dan anakku selamat Bu..” jawab Bram sambil menoleh menatap ibu Murti dan terus berjalan mengikuti brankar Nindya


“Aku juga berdoa loh Mas..” protes Arum yang juga ikut berjalan mengikuti brankar.


“Bu, keluarga Mahendra sudah dikabari belum kalau cucunya sudah lahir?” tanya bapak Bharata


“Sudah Pak, tapi hape nya off mungkin sudah di dalam pesawat.” Jawab Ibu Murti


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di ruang perawatan. Nindya sudah dipindah di tempat tidur ruang perawatan. Bram lalu mengambil kursi dan duduk di dekat istrinya. Rasa sayang dan cintanya semakin dalam karena melihat perjuangan istrinya dalam melahirkan anaknya.


“Kamu kepengen apa sayang...?” Tanya Bram sambil membelai puncak kepala Nindya

__ADS_1


“Aku ngantuk Mas, pengen tidur.” Jawab Nindya yang matanya sudah terlihat sayu.


“Kamu tidak pura pura lagi kan?” tanya Bram


“Pura pura gimana?” tanya ibu Murti yang juga dekat di antara mereka.


“Tadi dia itu tidak pingsan Bu, hanya diam saja katanya untuk menyimpan energi agar saat mengejan tidak kehabisan energi.” Jelas Bram


“Aku sudah bener benar kuatir aku kira pingsan.” Ucap Bram lagi sambil melihat Nindya namun terlihat Nindya sudah tertidur pulas.


Sedangkan ibu Murti berjalan menuju ke pintu, kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan mencari cari suaminya.


“Bram bapakmu tadi kemana?” tanya ibu Murti


“Bram tidak melihat Bu.” Jawab Bram sambil membelai balai rambut Nindya


Sementara itu bapak Bharata, Arum dan Johan berjalan menuju ke ruang bayi. Mereka sangat senang melihat anak Bram. Terlihat wajah Bram mendominasi pada wajah anaknya.


“Nama yang kusiapkan sangat cocok dengan dia.” Gumam bapak Bharata sambil tersenyum melihat wajah cucunya yang ekspresinya juga tersenyum seakan menyambut kehadiran kakek yang menjenguknya.


Beliau lalu melangkahkan kaki menuju ke ruang administrasi untuk mendaftarkan nama anak Bram, agar tidak kedahuluan Bram ataupun papah Mahendra. Setelah berpesan agar petugas memasang nama di box cucunya, beliau meninggalkan ruang administrasi. Lalu berjalan menuju ke ruang perawatan Nindya.


“Itu bapak.” Ucap Arum saat melihat bapak Bharata muncul di balik pintu ruang perawatan Nindya.


“Bapak dari mana sih, tadi aku kira sudah berjalan ke sini.” Ucap Arum kemudian


“Mendaftarkan nama cucuku.” Jawab bapak Bharata sambil tersenyum menatap Bram


“Pak, kan dia anakku aku yang buat.” Ucap Bram


“Tugasmu besok memberi nama cucumu.” Ucap Bapak Bharata sambil duduk di tempat tidur untuk penunggu.


“Namanya siapa Pak?” tanya Bram dan Arum bersamaan


“Kalian lihat di box cucuku, sekarang sudah ada namanya.” Jawab bapak Bharata dengan senyum bangga tapi nada suara santai.


Sedangkan Bram dan Arum langsung bangkit berdiri dan berjalan cepat meninggalkan ruang perawatan. Mereka berdua sangat penasaran dengan nama yang diberikan bapak Bharata, terutama Bram. Johan yang menunggu di luar sampai terlonjak kaget melihat Bram dan Arum berebut saat mau keluar pintu dan mereka berdua berjalan setengah berlari dan terlihat tergesa gesa.


“Rummmm ada apa?” teriak Johan sambil ikut berjalan cepat mengejar Arum dan Bram. Saat melihat tujuan mereka menuju ke ruang bayi membuat Johan semakin panik

__ADS_1


“Rum... ada apa dengan adik bayi?” teriak Johan membuat beberapa orang yang berada di sekitar mereka ikut menoleh ke arah mereka, bahkan ada beberapa orang ikut berjalan cepat mengikuti langkah mereka.


__ADS_2