
Keesokan harinya di kamar depan terlihat Bram dan Tedy saling memeluk guling yang sama yang berada di tengah di antara mereka.
Bram membuka matanya terlebih dahulu saat terbuka matanya yang terlihat di depannya adalah Tedy dia sangat kesal, sebab di dalam mimpinya dia sedang berhadapan dengan Nindya yang terhalang oleh pohon kayak kayak film India. Seketika Bram mengambil guling tersebut dan memukulkan pada Tedy.
"Apa sih" teriak Tedy sambil membenarkan posisi tidurnya lagi dengan memeluk guling
"Ayo bangun. lihat sun rise" ucap Bram yang sudah bangkit berdiri kemudian berjalan keluar kamar.
Sedangkan Tedy tidak mempedulikan ajakan Bram. Dia melanjutkan tidurnya.
Saat keluar kamar ruang tamu nampak sepi tidak ada orang di situ, Bram membuka pintu depan kemudian berjalan ke luar udara masih terasa dingin, dan matahari belum keluar. Bram berinisiatif membereskan sisa sisa bebakaran tadi malam. Tidak berapa lama lik Marni keluar dengan membawa sapu lidi
"Sudah bangun Mas Bram?" tanya lik Marni basa basi kemudian dia mulai menyapu halaman
"Iya" jawab Bram sambil melanjutkan membereskan pekerjaan nya. Tidak berapa lama sudah selesai
"Sudah biarkan di situ saja Mas, nanti saya bawa ke belakang" ucap Lik Marni. Bram hanya diam saja kemudian dia duduk di kursi teras menunggu matahari terbit.
Tidak berapa lama yang ditunggu Bram muncul, matahari mulai nampak dengan warna jingga cerahnya di balik gunung yang nampak dari teras rumah tersebut. Hamparan kebun kopi di seberang nampak berkilau keemasan oleh sinar matahari pagi. Pohon gamal atau gliricida tanaman peneduh pohon kopi juga sedang berbunga sangat bagus sekali. Nampak bunga gliricida dan bunga kopi terhampar indah, perpaduan warna putih bunga kopi dan warna ungu bunga gliricida. Pucuk pucuk pohon cengkehpun nampak mempesona bergoyang goyang tertiup angin, pucuk dengan warna bersemu merah.semakin cerah oleh terpaan sinar matahari pagi.
Aroma kopi membuyarkan lamunan Bram. Nindya datang dengan membawa secangkir kopi dan duduk di dekatnya.
Bram menoleh ke samping di lihat nya Nindya sedang menyesap kopi dari cangkirnya.
"Aku kok ga dibuatkan?" ucap Bram memelas
"Kukira memandang kebun kopi sudah cukup he...he..." jawab Nindya sambil tertawa dan masih memegang cangkir kopinya.
"Itu buat aku saja" pinta Bram sambil akan meraih cangkir kopi Nindya
"Tuh di ruang tamu sudah ada" ucap Nindya sambil menikmati kopinya. Bram hanya menatap kemudian bangkit berdiri berjalan masuk ke ruang tamu untuk mengambil kopi. Saat di ruang tamu sudah ada papah Mahendra dan Tedy duduk sambil menikmati kopi nya.
"Selamat pagi Om" ucap Bram pada papah Mahendra
"Selamat pagi, ayo ngopi" ucap papah Mahendra
Bram lalu mengambil satu cangkir kopi yang masih utuh tersedia untuknya. Dia lalu berjalan keluar untuk kembali duduk di tempat semula.
__ADS_1
Bram mengambil hapenya lalu mengarahkan kamera hape pada dirinya dan Nindya yang sedang duduk ngopi bersebelahan cekrek cekrek... Lalu Bram mengusap usap hape nya dan tidak berapa lama terdengar ...derttt derttt drettt drettt ada suara dari hape nya nampak panggilan video dari Lilian. Ya tadi Bram mengirim foto pada Lilian. Bram tersenyum lalu menggeser tombol hijau, nampak wajah Lilian yang sedang berada di rumah nya
"Hai kalian dimana pagi pagi sudah berduaan ngopi kayak juragan muda" teriak Lilian dari hape, Nindya pun kemudian mendekat ke hape Bram
"Mas Bram jahat ngak ngajak ngajak" ucap Lilian selanjutnya
"Mendadak Li, ditugaskan bapakku untuk survei kebon kopi calon supplier" jawab Bram bohong sambil mengarahkan hape pada hamparan kebun kopi di seberang halaman rumah. Untung depannya ada kebun kopi begitu batin Bram
"Sejak kapan Mas Bram peduli sama usaha bapaknya?" tanya Lilian menelisik
"Sejak tadi ha...ha...ha..." jawab Bram sambil tertawa
"Aku mau omong sama Nindya" pinta Lilian kemudian Bram memberikan hape nya pada Nindya
"Liiiiiii aku kangen" ucap Nindya
"Ada berita bagus apa Nin?" tanya Lilian
"He..He... nanti ya ceritanya" jawab Nindya
"Oke aku tunggu ya, sekarang di mana kamu, Mas Bram tidak menganiaya kamu kan?" tanya Lilian yang suaranya terdengar oleh Bram
"Ini di rumah orang tua mamah, aku dulu pernah cerita ke kamu kan rumah orang tua mamah di gunung banyak kebun kopi dan cengkih" ucap Nindya membuat Bram tersenyum bahagia setidaknya Nindya memberi keterangan yang mendukung jawabannya pada Lilian. Benar benar pasangan idaman begitu batinnya.
"Ke sini sama mamah, papah dan kak Tedy" ucap Nindya lebih lanjut
"Aku jadi pengen ke situ" ucap Lilian
"Pengen ketemu kak Tedy?" goda Nindya
"Engggak" saut Lilian cepat
"Ya sudah Nin, aku tutup ya.. mau bantu ibu nyiapin sarapan nihhh" ucap Lilian kemudian
"Okey, bye bye.." ucap Nindya lalu sambungan telpon terputus. Nindya kemudian memberikan hape pada Bram
Tidak berapa lama mamah Indah muncul dari dalam rumah dengan membawa kantong kantong plastik besar kemudian beliau berjalan menuju ke tempat mobil terparkir. Di taruhnya kantong kantong plastik besar itu di dekat mobil, dia mencoba membuka pintu mobil namun sepertinya pintu mobil masih terkunci. Lalu mamah Indah berjalan meninggalkan mobil dan melangkah kembali menuju ke rumah.
"Ayo cepat siap siap pulang, mandi sana di kamar mandi dalam atau kamar mandi luar, biar cepet" ucap mamah Indah setelah sampai di depan teras
"Dingin Mah" jawab Nindya
__ADS_1
"Lik Marni sudah buat air panas satu drum" ucap mamah Indah mendramatisir
Lalu mamah Indah berjalan masuk. Terdengar kalimat yang sama juga diucapkan pada suami dan anak lelakinya
Akhirnya saat waktunya akan kembali pulang ke kota S pun tiba. Mereka semua sudah siap, sudah berpamit ria dengan lik Marni tidak lupa mamah Indah dan lik Marni saling berpelukan untuk melepas rasa rindu yang belum tuntas. Setelahnya mereka semua berjalan keluar rumah. Saat sampai di luar rumah terlihat beberapa ekor kambing berjalan dari halaman menuju keluar ke jalan raya.
"Kambing siapa?" tanya papah Mahendra kepada lik Marni
"Tetangga" jawab Lik Marni singkat.
Terlihat mamah Indah berjalan menuju ke halaman samping tempat dimana dia meletakkan bunga krisan yang dibelinya kemarin sore. Namun terdengar teriakan mamah Indah
"Bungaku....." teriakan mamah Indah dari halaman samping kemudian lik Marni dan lainnya berjalan menuju ke mamah Indah berada
"Bungaku dimana bungaku?" teriak mamah Indah lagi
"Kenapa tinggal pot dan batang batang ini sungguh tragis ?" tanya mamah Indah entah kepada siapa sambil jongkok mengamati sisa sisa bunga krisan yang dibelinya
"Ooooh dimakan kambing In" ucap Lik Marni dengan pelan dan penuh keprihatinan
"Kambing tidak punya akhlak" ucap Tedy yang berdiri paling belakang dengan raut wajahnya yang menahan tawa.
"Kambing tidak bermoral" ucap papah Mahendra ikut menimpali
Bram terlihat berjalan mendekati mamah Indah ikut berjongkok di depan pot pot tersebut
"Tan masih ada batang dan akarnya, daun bawah juga masih tersisa, masih bisa hidup" ucap Bram sambil mengamati korban kambing tak berakhlak
"Tapi apa bagusnya coba?" tanya mamah Indah
"Bagusnya kalau Tante bisa membuatnya kembali tumbuh dan berbunga" ucap Bram serius namun mamah Indah kesel mendengarnya
"Itu butuh waktu lama Bram" ucap mamah Indah
"Bagi pecinta tanaman itu tantangan Tante" ucap Bram lagi
"Iya juga sih" ucap mamah Indah membenarkan perkataan Bram.
"Ayo Mah, dibawa aja siapa tahu bisa tumbuh" ucap Nindya sambil ikut membantu Mamahnya membawa pot pot tersebut ke dalam mobil.
Akhirnya setelah mamah Indah bisa menerima tragedi yang menimpa bunganya, mereka semua masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang.
__ADS_1