Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
71. Kemunculan Devina


__ADS_3

Mobil Bram sampai di depan pintu gerbang kampus, terlihat pak Man menatap kagum bangunan gapura besar kampus dan segala ornamen di sekitarnya


"Mas, nanti foto di situ ya" ucap pak Man sambil menoleh ke arah Bram


"Iya, nanti di sana juga banyak tempat bagus untuk foto Pak, ada danau buatan juga" ucap Bram sambil fokus dengan kemudi mobilnya sebab nampak jalan masuk ke kampus sudah ramai. Bram lalu mengambil hapenya dan diulurkan ke arah belakang


"Nin, lihat hape ku aku belum sempat buka dari tadi, tolong tanya Arum mereka parkir dimana" ucap Bram sambil tangan kirinya mengulurkan hape kepada Nindya. Nindya menerima hape dari Bram


"Pin nya mas?" tanya Nindya


"Tanggal kita jadian" jawab Bram. Nindya lalu mengetik sederet angka, lalu membuka banyak pesan masuk, termasuk pesannya juga belum terbuka. Dilihat juga ada pesan dari Arum lalu dibukanya.


"Mereka parkir di dekat kopma, mas Johan sudah memgaplingkan tempat parkir buat mas Bram" ucap Nindya setelah membaca pesan dari Arum


"Okey" ucap Bram


"Kopma itu apa Mas? tanya pak Man sambil menoleh ke arah Bram


"Apa sejenis kolam" ucapnya selanjutnya


"Kopma itu koperasi mahasiswa pak, singkatan" jawab Bram


"Ooo..." gumam pak Man


Mobil berjalan pelan pelan sebab sudah banyak mobil yang berjalan di jalan menuju gedung pusat. Akhirnya mobil sampai di depan kopma yang berada tidak jauh dari gedung pusat. Bram sudah bisa melihat mobil Johan dan pak Bharata berada di halaman kopma. Lalu Bram menjalankan mobilnya masuk ke halaman kopma dan memarkirkan dengan manis di samping mobil Johan.


Mereka semua turun dari mobil, mata mereka mencari cari sosok keluarga Bharata berada. Mereka tidak menemukan salah satu sosok yang dicari. Bram lalu meminta hape nya dari Nindya, lalu menghubungi Arum. Setelah terhubung mendapat informasi mereka sudah menunggu di gedung Pusat.


"Ayo jalan, mereka sudah di gedung Pusat di pintu timur" ucap Bram lalu menggandeng tangan Nindya. Lilian berjalan di belakangnya bersebelahan dengan pak Man.


"Kita kayak double date ya Li" ucap Nindya sambil menoleh ke arah Lilian yang ditimpali senyuman oleh Bram. Namun dijawab dengan memdapat tipukan tas di pundaknya oleh Lilian. Sedangkan pak Man tidak menghiraukan sebab matanya melihat banyaknya orang orang yang berada di sekitar kampus.


"Banyak sekali yang wisuda ya mbak?" tanya pak Man menoleh ke arah Lilian

__ADS_1


"Iya Pak dari semua fakultas, Pak Man lihat itu warna list di toga nya macem macem ada biru, hijau, merah, ungu, kuning itu menunjukkan fakultasnya" jawab Lilian


"Ooo yang punya mas Bram warna biru itu" ucap pak Man sambil mengamati toga Bram


"Iya, nanti kalau pak Man lihat yang warna sama itu satu fakultas dengan Mas Bram" ucap Lilian. Terlihat pak Man berjalan sambil matanya melihat lihat semua di sekitar yang dilewatinya.


Tidak berapa lama mereka sudah sampai di gedung pusat di tempat keluarga Bharata sudah menunggu. Akhirnya mereka bisa berkumpul dalam satu titik. Terlihat mereka bersendau gurau mencandai pak Man dan Mak, mereka juga sudah mulai berfoto foto, sebelum acara di mulai.


Namun sesaat mereka terkaget oleh datangnya satu sosok perempuan dengan memakai baju yang sama dengan Ibu Murti, Arum dan Nindya, cuma bedanya hanya di model perempuan itu memakai dengan model sexy.


"Bram selamat ya" ucap perempuan itu


"Devina" ucap Bram yang tidak bisa menolak uluran tangan Devina untuk berjabat tangan. Lalu mereka berbincang bincang, karena terlihat Devina bertanya tanya pada Bram.


Terlihat ibu Murti mendekati Arum dan berbisik bisik


"Kamu yang kasih tahu seragam kita?" bisik Ibu Murti


"Besuk lagi tidak usah posting posting sebelum hari H" ucap Ibu Murti lalu beliau terlihat membuka tasnya, dan mengeluarkan tiga helai selendang sutera dengan warna senada dengan seragam mereka. Lalu ibu Murti memakai satu selendang tersebut hingga menutupi sebagian besar dari seragam nya hanya nampak di satu sisi pundak dan satu lengannya. Sekarang bajunya lebih dominan tertutup selendang sutera dengan hiasan benang perak elegan.


Lalu beliau memberikan satu selendang kepada Arum, dan Arum terlihat memakai selendang tersebut sebagai scarf di lehernya. Dengan cekatan Arum memakai sekarang pun nampak penampilannya lebih cantik


"Nin... " ucap Ibu Murti sambil menatap Nindya yang masih bengong. Namun dia mendengar panggilan dari ibu Murti lalu menoleh ke arah ibu Murti. Terlihat ibu Murti mengangguk sebagai kode agar Nindya mendekat. Nindyapun berjalan mendekat pada ibu Murti. Lalu Ibu Murti memasangkan scraf selendang sutra tersebut di leher Nndya.


"Kalau selendang ini saya pesan khusus, Devina tidak bisa menyamai" ucap Ibu Murti sambil memasangkan scarf pada Nindya


"Sekarang mbak Devina sudah tidak sama dengan keluarga Bharata he..he.." ucap Mak yang berada di dekat ibu Murti.


Nampak Devina melihat apa yang dilakukan Ibu Murti pada Nindya, terlihat dia sudah tidak bisa berkonsentrasi berbincang bincang dengan Bram. Ekspresi wajahnya nampak tidak suka. Dan terlihat Bram undur diri dari Devina. Karena terlihat Farid dan teman teman sudah datang mendekat pada keluarga Bharata.


Berapa menit kemudian waktu yang ditunggu tiba. Terdengar informasi dari dalam gedung pusat, peserta wisuda diminta masuk ke dalam gedung bersama orang tua atau walinya. Pak Bharata dan ibu Murti lalu terlihat menggandeng tangan Bram, dan mereka memasuki gedung pusat.


Sementara itu yang lain tetep menunggu di luar gedung pusat. Terlihat Devina mendekati Arum.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Devina pada Arum dengan menunjuk sosok Nindya dengan dagunya


"Pacarnya mas Bram" jawab Arum


"Sejak kapan?" tanya Devina lagi yang dijawab Arum dengan mengangkat kedua pundaknya.


"Dijodohkan?" tanya Devina lagi


"Enggak" jawab Arum singkat


"Sahabatnya Lilian" ucap Arum kemudian


"Ooooh ada comblang nya, dia ga dapat terus jadi comblang" ucap Devina dengan sinis sambil menatap Lilian


Karena posisi berdiri mereka tidak jauh jadi apa yang diucapkan Devina terdengar oleh Nindya dan Lilian


"Mbak jangan sok tahu, jangan buat kesimpulan sendiri" ucap Nindya sambil menatap Devina


"Ga dianalisa kok langsung buat kesimpulan" ucap Nindya kemudian.


"Persahabat Lilian dan mas Bram itu tulus" ucap Nindya lagi membela Lilian sahabatnya


"Sudah Nin, biarin" ucap Lilian meredakan emosi Nindya. Terlihat wajah Devina memerah.


"Sudah Dev, kamu kan sudah ngasih selamat ke mas Bram, pergi sana dari pada nanti mas Bram marah, apalagi kalau ibu tahu" ucap Arum mengusir Devina


"Iya Dev, jangan merusak hari bahagia keluarga Bharata" ucap Johan.


"Hust... hust...hust...hust... " ucap pak Man dengan tangan mengibas ngibas mengusir Devina


Lalu tingkah pak Man dikuti oleh Farid dan teman teman yang juga berada di situ


"Hust...hust....hust...hust..." ucap mereka semua mengusir Devina. Mau tak mau Devina meninggalkan mereka, karena semua mata terfokus memandangnya.

__ADS_1


__ADS_2