
Malam hari Bram gelisah tidak bisa tidur. Arum belum memberi kabar berita. Bram lalu mengambil hapenya dan menelpon pada Arum. Bram berjalan menuju ke sofa agar tidak mengganggu istrinya yang sudah tidur nyenyak karena tadi sempat bermain hos hos meskipun hanya satu ronde.
“Rum bagaimana?” tanya Bram
“Aku masih lembur ini Mas, aku masih cek data data.” Jawab Arum
“Mas Bram kirim saja besok tidak apa apa.” Ucap Arum selanjutnya
“Operasional masih bisa jalankan kalau semua pengiriman dipercepat?” tanya Bram.
“Aku yang tanggung jawab Mas.” Jawab Arum.
“Baiklah, sekarang sudah larut lebih baik kamu tidur. Pikiran kusut dan kurang tidur tidak bisa bekerja dengan baik.” Ucap Bram lalu menutup sambungan telponnya.
“Apa besok aku tanya Nindya ya, apa temuan dia, kenapa Arum tidak selesai selesai.” Gumam Bram dalam hati lalu dia berjalan ke tempat tidur menyusul istrinya.
Keesokan harinya karena malam Andru tidak tidur dengan ayah bundanya,pagi pagi dia sudah bangun dan berlari menuju ke kamar ayah bundanya.
Kehebohan Andru di pagi hari membuat Bram lupa menanyakan pada Nindya perihal mutasi yang mencurigakan.
Dan setelah ritual pagi selesai Bram berangkat ke kantor. Pengiriman barang barang akan dilakukan hari ini. Terlihat semua karyawan sudah sibuk sejak pagi hari.
“Pak ada info dari bagian pengiriman, ada sebagian yang tidak bisa dikirim hari ini.” Ucap Sisi kepada Bram
“Masalahnya apa?” tanya Bram
“Ada surat surat yang belum selesai.” Jawab Sisi. Tampak Bram mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Namun tiba tiba saat di siang hari Bram masih di dalam kantor dia mendapat kabar dari Om Prabu. Kabar yang sangat mengagetkan bagai badai yang menggelegar di siang hari.
“Mbak Sisi tolong pesankan tiket buat saya ke Jakarta.” Ucap Bram setelah mendapat kabar dari Om Prabu.
“Hari ini Pak?” tanya mbak Sisi.
“Iya kalau bisa jangan malam malam, penerbangan sore atau sebelum makan malam.” Jawab Bram
“Om Prabu nanti malam sudah berangkat ke Singapore, aku harus ketemu Om Prabu sebelum beliau berangkat.” Ucap Bram
“Aku belum tahu sampai kapan di Jakarta. Aku bicarakan dulu dengan bapak.” Ucap Bram kemudian dan terlihat Sisi menganggukkan kepala sambil fokus menatap layar komputer untuk memesan tiket buat Bram.
“Kamu besok pastikan pengiriman semua barang sudah selesai.” Ucap Bram
“Aku pantau semua pekerjaan dari Jakarta.” Ucap Bram lagi
“Baik Pak.” Jawab Sisi yang sudah selesai memesankan tiket bosnya.
Sementara itu di paviliun seperti hari hari biasanya. Nindya bekerja ditemani bos kecilnya.
Setelah mendapat telpon dari suaminya tampak Nindya menutup komputernya. Andru yang sekarang duduk di sofa sambil membuka buka buku yang dibelikan Eyangnya mendongak menatap bunda nya.
__ADS_1
“Bunda capek?” tanya Andru.
“Ayo nak, kita masuk rumah. Nyiapin keperluan ayah.” Jawab Nindya yang sudah dipesan oleh Bram untuk menyiapkan baju dan keperluannya untuk berangkat ke Jakarta.
“Bos becal mau datan?” tanya Andru
“Mau miting?” tanya Andru dengan senyum bahagia.
“Iya tapi meeting dengan Bos sepuh dan Eyang Prabu, bukan meeting dengan Bos kecil.” Jawab Nindya sambil tersenyum.
“Ih.. cebel.” Ucap Andru sambil mencebikkan bibirnya.
Nindya lalu mengendong Andru karena bos kecil sedang sebel maka dia tidak menolak digendong bunda nya.
Setelah sampai kamar Nindya lalu menyiapkan keperluan suaminya. Andrupun ikut membantu. Dan tidak lama kemudian Bram sudah sampai di rumahnya.
“Nin bapak dimana?” ucap Bram saat masuk ke dalam kamar
“Bos cepuh sedang miting di lual.” Saut Andru sambil mendekat ayahnya. Dan Brampun langsung tersenyum dan mengendong Andru tak lupa menciumi kedua pipi gembulnya.
“Geli...ayah....” ucap Andru sambil terkekeh.
“Katanya ketemuan sama temannya, paling sebentar juga pulang.” Jawab Nindya.
Dan tidak lama kemudian pintu kamar mereka terdengar suara ketukan. Bram yang masih mengendong Andru lalu membuka pintu tersebut.
“Prabu sudah ngabari aku.” Terdengar suara bapak Bharata dengan nada serius setelah pintu terbuka. Mereka lalu berjalan menuju ke ruang keluarga.
“Iya meskipun tidak bisa merawat langsung tapi kalau sudah berada di dekatnya tenang.”Ucap bapak Bharata yang sudah dikabari Om Prabu kalau Tante Laras terkena wabah, dan dirawat di rumah sakit.
“Biarlah mereka sekarang berkumpul. Prabu sudah banyak perjuangannya membesarkan Bharata Group.” Ucap Bapak Bharata
“Pak, saya sampai kapan di Jakarta?” tanya Bram
“Aku juga tidak tahu. Kamu lanjutkan dulu yang sudah dipegang Prabu.”
“Di sini ada aku dan Johan.” Ucap Bapak Bharata selanjutnya
“Pak, bolehkah saya membawa Nindya dan Andru?” tanya Bram. Andru yang disebut namanya tampak menoleh ke arah ayahnya dan Eyangnya secara bergantian.
“Bukannya aku memisahkan kalian. Tapi situasi dan kondisi belum memungkinkan.” Jawab bapak Bharata
“Kita lihat perkembangannya dulu.” Ucap Bapak Bharata kemudian
“Baik Pak.” Ucap Bram lalu dia menciumi wajah Andru. Andru yang merasa ciuman ayahnya berbeda terlihat dia memeluk erat ayahnya dengan tangan mungilnya.
“Kita berdoa semoga Tante Laras cepat sembuh, dan kondisi segera normal.” Ucap Bapak Bharata.
“Sudah kamu siap siap saja, biar Andru sama aku.” Ucap Bapak Bharata kemudian sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil alih Andru. Namun kali ini Andru tidak seperti biasanya yang mau pindah gendongan ke Eyangnya atau keluarga lainnya. Tampak Andru menggeleng gelengkan kepalanya sambil semakin erat memeluk ayahnya.
__ADS_1
“Andru ikut Eyang dulu.” Ucap Bapak Bharata sambil mengelus elus kepala Andru.
“Emoh (ogah).” Jawab Andru.
“Kok emoh.” Ucap Bram yang memperingati anaknya tidak boleh pakai bahasa ngoko kepada orang tua.
“Mboten (Tidak).” Ucap Andru lirih
“Biarlah Pak.” Ucap Bram kemudian, lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.
Saat sampai di kamar terlihat Nindya duduk di sofa sambil berlinang air matanya. Bagaimana tidak, baru saja mendapat kabar kakaknya Alvin kesulitan mendapat bahan pangan, ditambah ada masalah laporan keuangan di perusahaan dan kabar terakhir Tante Laras terkena wabah dan suaminya harus berangkat ke Jakarta untuk menggantikan Om Prabu dalam batas waktu yang tidak tentu. Saat pintu kamar terbuka Nindya buru buru menghapus air matanya tidak ingin anak dan suaminya melihat dia menangis.
Sedangkan Andru tidak mau berpisah dengan Bram, sampai mandi pun dia juga ikut mandi. Bram memakai baju ganti untuk pergipun dia juga ikut pakai baju bagus.
“Bunda mandi sana, biar nanti Andru ikut ngantar sampai bandara.” Ucap Bram, lalu terlihat Nindya berjalan ke kamar mandi setelah selesai memakaikan baju anaknya.
“Atu itut ya yah..” ucap Andru sambil tersenyum.
“Iya ikut sampai bandara.” Jawab Bram sambil sibuk menyiapkan yang akan dibawa.
“Holeeeeee...” teriak Andru sambil tepuk tangan. Dia bahagia mungkin yang dia tahu yang penting ikut.
Tidak lama kemudian mereka sudah siap. Bapak Bharata dan Ibu Murti juga sudah siap di ruang tengah. Dan tidak lama kemudian Mak datang dari dapur berjalan tergopoh gopoh...
“Mbak Nindya ini jamu untuk mas Tedy dan mbak Lilian sekalian dibawa mas Bram saja.” Ucap Mak sambil menyerahkan suatu bungkusan ke Nindya.
“Mbak tadi saya ke pasar harga bahan bahan jamu sudah mahal sekali, katanya untuk obat wabah penyakit itu.” Ucap Mak selanjutnya
“Mak, tetap beli saja tetap buat jamu untuk kita semua. Pak Man juga nanam beberapa empon empon lumayan bisa dipanen.” Ucap Ibu Murti
“Injih Bu...” ucap Mak
Mereka semua lalu berjalan menuju ke mobil kecuali Mak, dia tetap tinggal di rumah. Mobil berjalan menuju ke bandara jangan ditanya Andru duduk di depan dipangku Nindya terlihat sangat bahagia.
Sesampai di bandara, setelah memarkir mobil mereka berjalan menuju ke tempat keberangkatan.
“Liat pecawat bun...” ucap Andru sambil tersenyum Nindya hanya menganggukkan kepala.
Karena jadwal penerbangan Bram sudah tidak lama lagi maka Bram akan langsung masuk ke ruang cek in.
“Hati hati ya yah.” Ucap Nindya sambil mencium tangan Bram. Bram lalu mencium kening Nindya dan anaknya. Tidak lupa mencium tangan kedua orang tuanya. Bram lalu berjalan masuk ke ruang cek in.
Dan bersamaan dengan itu terdengar suara tangis Andru. Andru yang jarang menangis sekali nya menangis seluruh bandara mendengar tangisnya.
“Ayaaaaahhhhhh.... itut ...... huaaaaa....huaaa....... huaaa......”
“Atu itut ayaaaaaahhhhhhhhh...... huaaaaaaa....huaaaa.....huaaaaaa......” suara tangis Andru mengharu biru.
Bram menoleh rasanya sangat berat meninggalkan anaknya. Nindya terlihat melambaikan tangan untuk memberi kekuatan pada suaminya. Sementara bapak Bharata dan ibu Murti berusaha menenangkan Andru tapi sangat susah sekali. Andru masih saja menangis.
__ADS_1
“Andru besok kita ikut Ayah kita datang ke sana lihat Pak De Tedy dan Bu De Lilian juga.” Ucap Nindya
“Sekarang ayah siapkan tempat buat kita dulu.” Ucap Nindya selanjutnya dan tampak Andru lebih tenang