
"Jangan melamun sayang..." bisik Bram di telinga Nindya saat mengambil kardus yang berada di dekat Nindya dan akan ditaruhnya di atas troli.
"Mas Bram ngangetin" ucap Nindya lalu menoleh ke arah suara Bram, wajah mereka yang berdekatan membuat desiran dan degupan di jantung mereka.
"Ehm..ehemmm" deheman bapak Bharata sambil menarik koper nya. Membuat Bram dan Nindya segera menetralkan perasaan hati dan degupan jantungnya.
"Makanya jangan melamun" ucap Bram kemudian
"Kok banyak banget sih Mas, bawaannya" ucap Nindya sambil membantu membawa beberapa paper bag.
"Ini belum seberapa, besuk bisa satu truk" ucap Bram sambil menata barang barang di troli
"Apalagi kalau papahmu minta sapi kik..kik..kikkkkk" ucap Bram kemudian sambil tertawa kecil, dan terlihat Nindya hanya bisa membalasnya dengan ekspresi wajah cemberut imut sebab kedua tangannya sedang membawa paper bag.
Setelah semua barang tertata rapi mereka berempat berjalan menuju pintu keberangkatan penumpang, dan setelahnya melakukan cek in.
"Mas aku hubungi mamah dulu ya, mumpung belum masuk pesawat" ucap Nindya yang berjalan di samping Bram sambil memegang lengan Bram. Sedangkan bapak Bharata dan ibu Murti berjalan di depan mereka.
"Iya" jawab Bram sambil terus melangkah mengikut bapak dan ibunya yang berjalan menuju ruang tunggu.
"Hapeku di tas Mas" ucap Nindya yang masih berjalan sambil mengandeng lengan Bram.
"Nanti saja kalau sudah di ruang tunggu, pesawat masih setengah jam lagi" ucap Bram yang masih berjalan mengikuti bapak dan ibunya.
Tidak lama kemudian mereka sudah berada di ruang tunggu, mencari tempat duduk di dekat nomer pintu yang tertera di boarding pass. Ibu Murti terlihat berjalan lebih dulu saat melihat beberapa deretan kursi kosong, kemudian beliau duduk selanjutnya diikuti oleh Bapak Bharata.
Bram melepas tas ransel Nindya yang berada di punggungnya. Lalu dia ikut duduk di samping bapak Bharata sambil memangku tasnya Nindya. Nindya lalu duduk di samping Bram kemudian mengambil hapenya.
"Hati hati lho Mas, ada laptop nya" ucap Nindya saat mengambil hape dari tas yang di pangku Bram.
"Iya, aku sangat hati hati nih serasa mengendong dan memangku kamu he..he..." ucap Bram sambil tertawa kecil. Namun tawanya langsung terhenti dan berganti suara mengaduh karena mendapatkan sikutan yang lumayan keras dari bapak Bharata.
__ADS_1
Nindya hanya mengabaikan dia sibuk mengusap usap hapenya. Lalu melakukan sambungan telpon pada Mamahnya. Mata Nindya mencari cari tempat toilet, kemudian dia berjalan agak cepat sambil memegang hapenya. Setelah mendapatkan tempat yang nyaman untuk berbicara dengan mamah Indah, Nindya menempelkan hape lebih dekat di telinganya.
"Ramai sekali Nin" ucap mamah Indah di seberang sana
"Iya Mah sudah di bandara sebentar lagi masuk pesawat" ucap Nindya
"Mah, ibu Murti bawa oleh oleh banyak sekali, mamah nyiapin apa?" tanya Nindya. Dia sengaja ke toilet selain mencari tempat yang tidak begitu gaduh juga agar tidak terdengar oleh keluarga Bharata.
"Kamu itu gimana katanya tidak usah menyiapkan apa apa, ya mamah tidak menyiapkan apa apa" jawab mamah Indah
"Mamah nanti mau ke salon, perawatan luluran biar harum kaya putri keraton, terus nanti berhias pakai konde dan kebaya tidak lupa kain batik panjang dengan motif sido mukti apa sido...apa ya Nin?" ucap mamah indah selanjutnya
"Mamah.... ga perlu kayak gitu, ibu Murti aja hanya pakai gaun ga pakai kebaya ga pakai konde... " ucap Nindya tambah nervous mendengar jawaban mamah Indah
Namun tiba tiba ada suara bariton yang sangat familiar baginya.
"Nin.." ucap Bram sedikit keras karena dia berdiri di pintu luar toilet wanita tersebut. Nindya menoleh ke arah suara Bram. Lalu berjalan menuju ke tempat Bram berada dengan masih memegang hape yang berada di dekat telinga nya. Terdengar mamah Indah masih berbicara tentang rencana penampilannya dalam menyambut calon besannya.
"Mah... Sudah ya ini sudah mau masuk ke pesawat, hape kumatiin nih.. doakan penerbangan lancar ya..."ucap Nindya lalu memutus sambungan telponnya.
"Sudah bilang mamah kalau kita sudah mau terbang?" tanya Bram, Nindya hanya mengangguk pelan
Tidak lama kemudian mereka sudah masuk ke dalam pesawat. Bram berjalan di belakang Nindya mereka berdua mengikuti langkah bapak Bharata dan ibu Murti yang berjalan menuju ke kursi nya.
Sesaat kemudian Bapak Bharata sudah masuk ke barisan kursi dan duduk di kursi dekat jendala, namun ibu Murti tidak duduk di sampingnya namun masuk di barisan kursi depan nya.
"Nin kamu duduk di samping Ibu, biar Bram di samping Bapak" ucap Ibu Murti sambil menoleh ke arah Nindya lalu ibu Murti duduk di kursi dekat jendala.
Nindya hanya bisa menurut dan duduk di samping Ibu Murti, sebenarnya Nindya sangat ingin duduk di samping jendela, namun dia belajar untuk mengalahkan keinginannya.
Sedangkan Bram yang berharap bisa duduk di samping Nindya sambil pegang pegang tangan mesra hanya bisa menelan kekecewaannya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian pesawat take off dengan sempurna tidak bikin pusing di kepala, perjalanan lancar karena cuaca cerah. Dan beberapa menit kemudian pesawat pun landing dengan sempurna pula tidak membikin jantung penumpang deg deg an.
Setelah mengikuti segala prosedurnya mereka berempat sudah berada di bandara di area kedatangan penumpang. Mereka sedang menunggu mobil jemputan dari hotel.
"Nin kok diem aja dari tadi?" tanya Bram sambil merangkul pundak Nindya
"Mabok udara Nin?" tanya ibu Murti sambil memandang kuatir pada Nindya. Nindya hanya menggeleng pelan.
"Bu, apa saya sebaiknya langsung ke rumah saja naik taxi?" tanya Nindya memberanikan diri, sebab dia sangat ingin melihat kesiapan rumahnya dan ingin berbicara langsung dengan mamah Indah.
"Nanti saja kita sama sama ke hotel dulu, nanti kamu diantar Bram ke rumahmu" jawab Ibu Murti. Nindya hanya diam saja tidak berani melawan kemauan calon mertuanya.
"Sebentar mobil jemputan datang, tuh lihat antri kan mobil mobil penjemput" ucap Bram sambil mengusap usap pundak Nindya memberi ketenangan.
Tidak lama kemudian mobil jemputan dari hotel telah tiba di depan mereka. Lalu mereka berempat dan barang barang bawaannya masuk ke dalam mobil jemputan dan mobil berjalan menuju ke hotel tempat untuk keluarga Bharata menginap. Beberpa menit kemudian mobil sudah sampai hotel, setelah melalui prosedur hotel mereka berempat sudah berada di depan kamar hotel.
"Nindya tunggu di lobby ya Mas" ucap Nindya lalu berjalan menuju lobby hotel yang berada tidak jauh dari kamar mereka.
"Bram kalau barang barang sudah masuk kamar kamu segera antar Nindya" perintah bapak Bharata pada Bram. Bram hanya mengangguk. Nampak pegawai hotel ikut membantu membawa barang barang mereka.
Tidak lama kemudian Bram berjalan menghampiri Nindya yang duduk dengan gelisah di lobby.
"Ayok ke antar kamu ke rumah kita pakai taxi on line aja ya" ucap Bram saat berada di dekat Nindya.
"Pamit bapak Ibu tidak?" tanya Nindya yang sudah bangkit berdiri.
"Tidak usah sudah kupamitkan, mereka paling sedang istirahat atau bongkar bongkar" jawab Bram
"Entah bongkar bongkar apa ha..ha..." ucap Bram selanjutnya sambil tertawa.
Bram lalu mengusap usap hape nya memesan taxi on line, alamat calon mertua sudah hafal di luar kepala Bram. Tidak lama taxi on line pun tiba. Mereka berdua lalu masuk ke dalam taxi on line yang akan mengantar mereka ke rumah keluarga Mahendra.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian taxi sudah berada di depan rumah Nindya. Nindya merasa ada sesuatu yang berbeda dengan rumah nya.
"Kok ada yang beda ya Nin?" tanya Bram saat mereka turun dari taxi. Ternyata Bram juga merasakan hal yang sama