Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
130. Penjelasan Tedy


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, mereka semua berbagi tugas untuk memberesi alat alat makan yang sudah digunakan. Namun tiba tiba terdengar suara motor berhenti di halaman rumah Lilian. Dan tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang lumayan keras.


“Siapa sih malam malam bertamu dengan mengetuk ngetuk pintu keras sekali” ucap Bapaknya Lilian lalu berjalan menuju ke arah pintu yang diketuk ketuk.


“Kalian ikut bapak sana" ucap Ibunya Lilian sambil menatap ke arah Rangga, Tedy dan Bram yang sedang ikut memberesi piring piring kotor. Mereka bertiga akhirnya ikut berjalan menuju ke ruang tamu.


Sesampai di ruang tamu, terlihat bapaknya Lilian sedang membukakan daun pintu dengan perlahan lahan. Setelah pintu terbuka lebar nampak sosok seorang nenek dengan seorang pemuda.


“Pak De, Nenek minta dianter ke sini katanya kangen dengan Lilian, tadi dapat kabar dari Ibu katanya Lilian pulang" ucap pemuda itu yang merupakan sodara sepupu Lilian


“Mana cucuku" ucap Nenek tadi yang langsung nyelonong masuk ke dalam.


Bapaknya Lilian hanya sempat menoleh sedangkan neneknya Lilian sudah berlalu masuk ke dalam.


“Pak De saya langsung pulang, katanya nenek mau menginap di sini" ucap pemuda tadi kemudian langsung mohon diri. Bapaknya Lilian hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya kemudian menutup pintu rumahnya lagi.


Terlihat Tedy, Rangga dan Bram duduk di kursi ruang tamu. Neneknya Lilian tidak menghiraukan keberadaan mereka sebab yang dicari cucunya yang bernama Lilian.


“Tadi paling yang ketuk ketuk pintu Nenek, Pak" ucap Rangga saat bapaknya sudah ikut duduk di antara mereka.


“Pasti itu, paling ketukan sekeras itu terdengar lirih di telinganya” ucap Rangga lagi


“Hust.. “ ucap bapaknya Lilian sambil menatap ke arah Rangga anak lelakinya.


Mereka berempat lalu mengobrol ngobrol seputar pekerjaan Tedy dan Bram. Sepertinya Bapaknya Lilian ingin mengetahui lebih banyak tentang Tedy, bagaimanapun sepengatuannya Tedy adalah pacar puterinya, jadi harus mengetahui tentang masa depannya. Kalau tentang keluarga Mahendra beliau sudah tahu dari cerita Nindya dan Lilian.


Namun tiba tiba Nenek datang dengan mengandeng Lilian, dan tidak lama kemudian ibunya Lilian datang menyusul dengan Nindya.


“Mana yang calon cucu mantuku?” tanya Nenek sambil duduk di kursi sofa panjang setengahnya beliau menggeser bapaknya Lilian. Dan Lilianpun diajak duduk di samping Nenek.


Semua mata menatap ke arah Tedy, namun tidak demikian dengan Nenek, beliau menatap Tedy dan Bram secara bergantian.


“Saya, Nek" ucap Tedy sambil menganggukkan kepalanya.


“Sini sungkem dulu" ucap Nenek sambil melambaikan tangannya ke arah Tedy sebagai kode agar Tedy mendekat ke arahnya.

__ADS_1


“Sana Bro" ucap Bram, sambil tangannya mendorong pundak Tedy. Terlihat Tedy ragu ragu saat akan bangkit berdiri.


“Jangan takut kakak ipar" bisik Rangga.


Tedy lalu dengan hati hati bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat duduk Neneknya Lilian. Terlihat dia membungkukkan badannya setelah sampai di depan neneknya Lilian sambil mengulurkan tangannya.


“Sungkem” ucap Neneknya Lilian sambil menerima uluran tangan Tedy. Tedy terlihat menuruti permintaan neneknya Lilian.


“Belum lebaran Nek kok sudah disuruh sungkem" ucap Rangga sambil tersenyum


“Hust" hardik neneknya Lilian


“Siapa namamu?” tanya neneknya Lilian sambil menunduk menatap kepala Tedy


“Tedy" jawab Tedy


“Nama lengkap” ucap Neneknya Lilian lagi. Terlihat Nindya tersenyum dengan ekspresi yang sulit diartikan antara melihat adegan lucu kakaknya dan nenek lilian namun juga antara kasihan dan haru, dia ingat juga waktu di wawancara ibu Murti


“Tedy Putra Mahendra" jawab Tedy sambil menatap wajah neneknya Lilian


“Bagus” jawab neneknya Lilian


“Jangan pergi dulu, tetap di sini" ucap Neneknya Lilian


“Waduh... apa ini karma aku sering nyandaain mamah sih" gumam Tedy dalam hati sambil mengusap usap jidatnya. Sedangkan Bram terlihat tersenyum senang, namun tidak lama kakinya mendapat injakan dari Nindya yang duduk tidak jauh darinya .


“Ayo ceritakan, meskipun malam hari aku bisa melihat berlian mahal atau tidak, juga masih bisa melihat jelas orang ganteng atau tidak" ucap Nenek nya Lilian sambil tersenyum menatap Tedy


“Nenek...” ucap Lilian pelan sambil menepuk pelan paha Neneknya


Sedangkan yang lain memasang telinganya menunggu Tedy menceritakan asal muasal liontin dan kalung yang diberikan kepada Lilian kekasih idaman hatinya.


“Saya dikasih Nek" jawab Tedy pelan


“Barang bagus dan mahal seperti ini dikasihkan kamu?” tanya Nenek sedikit kaget. Terlihat Tedy menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Gratis?” tanya neneknya Lilian lagi


“Iya” jawab Tedy, yang lain juga terlihat kaget.


“Siapa yang ngasih?” tanya Neneknya Lilian lagi


“Teman saya Angel designer perhiasan tersebut dengan kolega bisnisnya" jawab Tedy dengan tegas


“Kok bisa, apa Angel menaruh hati padamu sampai kamu mendapatkan barang spesial?” sekarang bapaknya Lilian yang berganti menanyakan kepada Tedy. Beliau kuatir ada perempuan lain di hati Tedy.


“Ceritanya begini Pak, Nek.... Angel adalah teman saya sesama seniman Cuma bedanya Angel sebagai designer perhiasan, suatu saat Angel akan mengadakan pameran dia terbentur oleh pendanaan. Nah saya mengenalkan Angel kepada pak Ricard yang membantu saya dalam penggadaan dana pameran" ucap Tedy


“Kamu masih ingat pak Ricard kan Bro?” tanya Tedy sambil menoleh ke arah Bram. Tampak Bram menganggukkan kepalanya.


“Pak Ricard yang menurut saya sudah kaya dan banyak modal ternyata tidak sanggup untuk mendanai pameran Angel, kemudian Angel dikenalkan pada temannya pak Ricard. Nah mereka kemudian mengadakan pameran dan ternyata sukses besar, dan setelah pameran mendapat banyak orderan yang fantastis" ucap Tedy kemudian


“Nah sebagai ucapan terimakasih saya dikasih satu kalung dan liontin yang kata mereka itu bukan apa apa dibanding kesuksesan mereka saat pameran dan setelah pameran" ucap Tedy selanjutnya


“Padahal ini berlian biru asli seperti punya kakek buyut yang sangat bagus itu, mahal ini" gumam neneknya Lilian masih mengamati dengan kagum liontin Lilian.


“Itu mungkin hanya kebetulan saja Nek, saya dapat yang berlian biru. Sebab Angel bikin nya satu jenis batu permata satu design makanya dikatakan limited edition” jelas Tedy


“Sudah jelas aku sekarang, dan sekarang kamu boleh duduk" ucap Neneknya Lilian sambil menepuk nepuk pelan pundak Tedy terlihat sebagai bentuk tepukan sayang.


Tedy lalu kembali duduk di kursinya dengan tenang dan lega.


“Kakak dapat surat resmi perhiasan ini tidak?” tanya Nindya sambil menatap wajah kakaknya.


“Ada aku simpan, ada surat resmi, kuitansi dan sertifikat dari perusahaan pembuat perhiasan ini, juga ada sertifikat dari Angel. Mereka bilang bisa dijual resmi bila membutuhksn uang" jawab Tedy. Semua yang mendengar penjelasan Tedy terlihat lega.


“Tapi aku tidak melihat berapa angka nominal di kuitansi tesebut, langsung aku simpan semua” ucap Tedy


“Apa Lilian berniat akan menjualnya?” tanya Tedy sambil menatap Lilian. Tampak Lilian menggelengkan kepalanya.


“Jangan dijual, Nenek mencari cari berlian biru yang sama kayak punya kakek buyutmu ga dapat dapat, kalau kamu butuh uang mending jual salah satu tanah Nenek saja, simpan baik baik itu” ucap Neneknya Lilian

__ADS_1


“Ya sudah, Nenek setuju Tedy jadi suami Lilian, daripada siapa kemarin yang mau dijodohkan dengan Lilian, siapa itu anak teman ibumu itu" ucap Neneknya Lilian sambil menoleh menatap Lilian kemudian berganti menoleh ke arah ibunya Lilian. Namun ibunya Lilian hanya diam.


“Aku sekarang mau tidur, aku mau tidur di kamar ibu nya Lilian, bapaknya Lilian tidur dengan Rangga yo..” ucap Neneknya Lilian kemudian bangkit berdiri dan melangkah menuju ke kamar tidur orang tuanya Lilian. Sedangkan bapaknya Lilian terlihat tersenyum masam karena tempat tidurnya tergusur oleh mertuanya.


__ADS_2