
Pertarungan untuk pertama kalinya dua insan manusia yang sudah resmi sebagai suami istri tersebut akhirnya terlaksana dengan sukses.
Bram memeluk tubuh Nindya yang sekarang sudah terbalut selimut. Tadi setelah selesai Nindya langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
“Kok ditutupi selimut sih?” ucap Bram sambil memeluk dan mencium kepala Nindya bagian belakang sebab Nindya memunggungi Bram.
Namun tiba tiba Bram kaget karena terdengar suara isakan tangis Nindya. Bram lalu bangkit dari tidurnya dan melihat wajah Nindya yang berurai air mata.
“Nin... apa sakit lagi?” tanya Bram dengan nada yang sangat kuatir. Nindya menjawab dengan gelengan kepala
“Terus kenapa kok menangis?” tanya Bram. Nindya tidak menjawab, hanya menghapus air matanya.
“Kok tidak menjawab, kenapa kok nangis?” tanya Bram lagi
“Malu jawabnya..” ucap Nindya sambil menarik selimut dan menutupi wajahnya. Bram terlihat tersenyum melihat tingkah istrinya.
“Mau lagi apa?” tanya Bram sambil mendekatkan kepalanya di telinga Nindya yang sekarang posisi Bram sudah kembali berbaring di samping istrinya. Nindya lalu membuka selimut yang menutupi wajahnya.
“Mas Bram ga capek?” tanya Nindya dengan mata berbinar sambil menoleh menatap Bram.
“Enggaklah “ ucap Bram penuh semangat
“Sudah mau pagi Mas, aku mau mandi nanti sembayang bareng ya” ucap Nindya. Lalu Nindya bangkit dari tidurnya dan akan berjalan ke kamar mandi. Namun Bram ikut bangun dan turun dari tempat tidur lalu menggendong istrinya dan dibawa menuju ke kamar mandi. Dan merekapun melanjutkan pertarungannya di sana.
Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang bersinar cerah. Dan setelahnya mereka berdua melakukan sembayang pagi hari tidak lupa mengucapkan segala syukur atas nikmat dan berkah juga kelancaran pernikahannya. Nindya dan Bram terlihat bahagia bisa sembayang bersama untuk mengawali harinya. Nindya mencium tangan suaminya dan Bram mencium kening istrinya. Dan setelahnya mereka berjalan menuju ke dapur kecil akan membuat kopi.
“Mas, beliin aku baju dong kata Lilian ada toko di hotel ini” ucap Nindya yang sekarang memakai kemeja Bram dengan lengan panjang yang digulung karena terlalu panjang untuk ukuran tangan Nindya.
“Pakai itu juga keren kok" ucap Bram sambil tersenyum mesra menatap Nindya yang sedang sibuk membuat kopi.
“Aku kan pengen jalan jalan ke bawah lihat taman di bawah, Mosok kita seminggu di sini terus" ucap Nindya.
“Iya satu minggu di sini terus dan kita gituan terus he...he...” ucap Bram yang lalu menggandeng tangan Nindya diajak keluar kamar.
“Ayo lihat sun rise.” Ajak Bram
“Iya iya.. tapi nih sambil bawa kopinya" ucap Nindya sambil membawa satu cangkir. Dan Bram pun akhirnya juga membawa cangkir kopinya. Lalu mereka berdua berjalan menuju ke kursi taman untuk melihat matahari terbit.
__ADS_1
“Mas....” ucap Nindya setelah menyesap kopi di cangkirnya
“Hmmmmm" jawab Bram sambil menoleh ke arah Nindya yang duduk di sampingnya
“Ternyata enak ya" ucap Nindya dan terlihat dia tersenyum malu
“Apanya, kopi?” tanya Bram
“Bukan, kok kopi" jawab Nindya
“Terus apa kalau bukan kopi?” tanya Bram menggoda padahal dia sebenarnya sudah tahu maksud pernyataan Nindya
“Itunya, sakitnya sedikit enaknya banyak he... he...” jawab Nindya
“Mau lagi he...he...?” tanya Bram sambil tangannya bermain main di tengkuk Nindya
“Ih... Mas Bram ga capek apa, istirahat dulu, habis sarapan aku mau tidur dulu" jawab Nindya.
“Nanti sore renang ya Nin" ajak Bram sambil memainkan tangan Nindya. Nindya tidak menjawab namun dia bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke kamar.
Sesampai di kamar Nindya menuju ke tempat tidur ditariknya selimut akan dilipatnya namun sesaat matanya tertuju pada sprai yang ada noda darah.
“Darahku” gumamnya. Lalu dia tampak bingung, ingin menyembunyikan noda tersebut.
“Dibersihkan dengan apa ya, malu sama petugas hotel" gumam Nindya lagi.
Dan tidak lama kemudian terdengar dering telpon. Bram yang sudah masuk lalu berjalan menuju ke telpon yang berdering. Setelah diangkat ternyata informasi dari hotel kalau sarapan sudah siap. Dan bila diijinkan petugas house keeping akan membersihkan kamar.
“Nin petugas hotel mau bersihin kamar, juga ambil baju yang akan dilaundri" ucap Bram.
“Mas sprai nya ada darah" ucap Nindya takut takut
“Tidak apa apa, tapi aku dokumentasikan dulu dan nanti aku laporkan pada bapak Bharata “ ucap Bram dengan bangganya. Lalu dia mengambil hape nya dan memotret sprai yang ternoda dan belum dirapikan itu. Dan selanjutnya foto tersebut dikirim ke nomer hape bapaknya, sebagai laporan kalau perintahnya sudah terlaksana.
“Mas Bram aneh aneh saja" gumam Nindya
“Eh Nin kamu pakai leggingmu ya sebentar lagi petugas hotel masuk jangan sampai dia lihat kakimu" ucap Bram
__ADS_1
“Sudah kotor Mas mau aku laundry, beli baju saja dulu suruh petugas hotel bawain, terus aku ganti dulu baru dia boleh masuk" usul Nindya.
“Okey okey” ucap Bram lalu tampak Bram mengusap usap hapenya melihat lihat toko hotel lewat aplikasi.
“Piyama biasa aja Mas, tshirt dan kulot” pinta Nindya. Bram tampak menganggukkan kepalanya dan selanjutnya memesan segala kebutuhan Nindya.
Beberapa menit kemudian telpon berdering lagi, informasi dari hotel kalau petugas house keeping dan belanjaan pesanan sudah di depan pintu.
“Kamu tunggu di sini" ucap Bram lalu dia bangkit berdiri untuk keluar kamar guna memgambil sarapan dan belanjaan Nindya.
Tidak lama kemudian Bram sudah masuk ke.dalam kamar dengan membawa sarapan dan belanjaan Nindya.
“Sudah segera dipakai, petugas house keeping sudah duduk di taman" ucap Bram
“Kata kakak ipar ini privasi hanya aku dan kamu ternyata petugas hotel juga masuk" gerutu Bram
“Lha memang Mas Bram mau bersihin kamar” gumam Nindya sambil melangkah ke kamar mandi untuk ganti baju.
Tidak lama kemudian Nindya sudah keluar dengan tampilan tshirt dan kulot barunya.
“Lumayan lah, kalau begini kan tidak malu kalau mau turun atau nemuin Om Prabu dan Tante Laras" gumam Nindya dalam hati.
Nindya lalu berjalan menuju ke tempat tidur dan menarik semua sprai agar tidak terlihat noda darahnya. Bram yang duduk di sofa terlihat menoleh dan tersenyum.
“Biar tidak terlihat ya, petugas hotel malah curiga kita pakai gaya apa sprai sampai terlepas he...he...” ucap Bram lalu bangkit berdiri memberi tahu petugas hotel sudah boleh masuk.
Setelah petugas hotel masuk kamar mereka berdua berjalan menuju ke teras dengan membawa meja dorong yang berisi sarapan. Mereka berdua sarapan di teras sambil menikmati pemandangan di pagi hari yang indah.
“Mas habis sarapan turun ke bawah ya, kita temui Om Prabu dan Tante Laras, malu kalau di kamar terus" ucap Nindya
“Ngapain malu, mereka kasih kado kamar ini kan biar kita berdua di kamar terus" ucap Bram sambil tersenyum menatap Nindya
“Aku habis sarapan mau renang, kayaknya segar nyebur di sana" ucap Bram selanjutnya
“Aku mau tidur" ucap Nindya
“Aku gendong kamu aku ceburin di kolam... ha....ha.... “ goda Bram.
__ADS_1