Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
159. Ngidam


__ADS_3

Waktu terus bergulir rumah tangga Bram dan Nindya berjalan dengan bahagia. Beberapa bulan kemudian kebahagian mereka lengkap dengan kabar kehamilan Nindya.


Meskipun pernah berselisih paham itu merupakan suatu hal yang biasa namanya juga keluarga menyatukan dua insan yang besar dari dua keluarga. Selisih paham yang agak meruncing saat Nindya ingin bekerja namun dilarang oleh Bram.


Banyak tawaran kerja tertuju pada Nindya baik dari teman teman ataupun dari para dosen nya. Bahkan ada tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.


“Bukannya aku melarang atau menghalang halangi kamu untuk berkembang" ucap Bram sambil mengelus elus pundak Nindya


“Tapi aku ingin kerja” ucap Nindya


“Nanti kamu bekerja di Bharata Group saja itupun saat anak anak kita sudah besar" ucap Bram


“Sekarang dan selama anak anak masih kecil, kamu kerja di rumah saja, sambil mengawasi mereka.” Ucap Bram lagi


“Boleh melanjutkan pendidikan tapi juga yang on line. Bayangin kalau kamu ke luar negeri aku di sini, apalagi kamu sudah hamil, aku tidak bisa bekerja karena mikirin kamu dan anak kita. Padahal aku juga harus bekerja untuk Bharata Group untuk keluarga kita juga" ucap Bram


“Terus aku ngapain di rumah percuma juga aku sekolah tinggi kalau tidak kerja?” tanya Nindya


“Ya bekerja buat aku dan buat anak anak kita besok" jawab Bram sambil tersenyum.


“Kerja jadi ibu rumah tangga itu juga keren, kepintaranmu buat didik anak anak itu super hebat." ucap Bram


“Kalau kamu tidak sekolah tinggi tidak ke Yogya kamu kan tidak ketemu aku" ucap Bram lagi sambil mencium puncak kepala Nindya sambil mengelus elus perut Nindya yang belum membuncit.


“Iya jadi ibu rumah tangga itu memang hebat bekerja dari sebelum matahari terbit hingga setelah mata suami terpejam" ucap Nindya sambil mencubit pinggang suaminya.


Nindya akhirnya mengalah dia ingat pesan dari Mamahnya harus nurut pada kemauan suami. Karena dipikir pikir juga untuk kebaikan keluarganya. Bram tampak tersenyum saat Nindya menuruti kemauannya.


Namun beberapa hari kemudian Nindya kembali merajuk, dia hanya diam saja sejak Bram pulang kerja, tadi pagi juga terkesan dingin dia hanya formalitas saja menyiapkan segala kebutuhan Bram.


Setelah makan malam, Nindya langsung masuk ke dalam kamar. Tidak seperti biasanya yang ikut membantu Mak membereskan meja makan.


“Nindya kenapa Bram?” tanya Ibu Murti yang merasakan Nindya tidak seperti biasanya.


“Sejak pagi aneh Bu, tidak bicara pada saya.” Jawab Bram


“Mungkin capek atau bawaan bayi mas.” Saut Mak yang masih membereskan meja.


“Ya sudah kamu susul, kamu tanya baik baik, mungkin ngidam tapi dia tidak mau menyampaikan” ucap Ibu Murti lagi.


Bram lalu berjalan menuju ke kamarnya. Dilihat Nindya duduk di sofa yang berada di dalam kamar, sambil mengusap usap hapenya. Bram lalu duduk di samping istrinya.

__ADS_1


“Ada apa kok sejak pagi diam saja, Kalau sakit gigi dan sariawan kok tadi kulihat makannya banyak" ucap Bram sambil menggoda istrinya. Nindya hanya diam saja sambil mengusap usap hapenya


“Hiks.. hiks... Lilian dan Rita akan melanjutkan S2 sambil kerja... Aku kepengen kayak mereka" ucap Nindya


“Kamu kan juga bisa melanjutkan pendidikan tapi yang on line, atau privat dosennya datang ke rumah, kamu juga bisa kerja di rumah. Kemarin kan sudah setuju kamu" ucap Bram. Ini pasti sahabat Nindya memprovokasi gumam Bram dalam hati.


“Hiks... hiks... pengen kerja di kantor" ucap Nindya lagi


“Tapi tidak sekantor dengan mas Bram" ucap Nindya kemudian padahal tadi Bram ada ide untuk membawa Nindya ke kantornya.


“Mas di depan itu ada lowongan kerja, yang kantor biro perjalanan itu kerjanya hanya sebagai admin. Boleh ga aku kerja di situ. Kan masih dekat dengan rumah dan tidak sekantor dengan mas Bram" ucap Nindya sambil menatap Bram dengan mata berbinar. Namun Bram hanya diam saja.


“Pokoknya aku pengen kerja, pagi berangkat sore pulang dan pakai baju kerja" ucap Nindya lagi..


“Mosok menantu bapak Bharata kerja di kantor depan Nin, gimana omongan tetangga” ucap Bram sambil mengusap kasar wajahnya


“Kalau ga boleh aku melanjutkan study ke luar negeri saja" ucap Nindya


“Nin....”


“Gimana kalau kamu kerjanya di paviliun saja, itu kan juga kantor" ucap Bram ingat dia dulu training di paviliun belakang.


“Ya ga apa apa Mas yang panting aku kerja di kantor tidak di rumah dan tidak sekantor dengan mas Bram" ucap Nindya


“Besok mulai kerja ya Mas" ucap Nindya lagi


“Ya jangan besok, kan paviliun sudah lama tidak dipakai kantor, dibersihkan dulu ya" ucap Bram sambil berpikir untuk memberi pekerjaan apa pada Nindya


“Pokoknya besok ya besok" ucap Nindya lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar.


“Apa itu ngidamnya Nindya apa ya.. Kalau ngidam kenapa tidak minta makanan kenapa minta pekerjaan” gumam Bram dalam hati


Bram lalu bangkit berdiri dan menyusul langkah kaki istrinya, namun di ruang keluarga tidak terlihat hanya ada ibu Murti dan Bapak Bharata. Bram lalu berjalan ke ruang makan dan tidak ada sosok Nindya.


“Mungkin di dapur sedang pengen memasak makanan sesuatu" gumam Bram dalam hati lalu berjalan menuju ke dapur. Namun dapur sudah sepi. Bram lalu kembali berjalan ke ruang keluarga.


“Maaf Bu, Pak lihat Nindya tidak?” tanya Bram


“Weleh piye to istri sampai hilang” jawab Bapak Bharata


“Kan tadi di kamar sama kamu" ucap Ibu Murti

__ADS_1


“Iya Bu, tadi dia baru saja keluar kamar kok tidak terlacak" ucap Bram lalu berjalan menuju ke ruang tamu tapi tetap tidak ada.


“Haduh kemana sih Nindya" ucap Bram lalu membuka pintu rumah. Saat pintu dibuka tampak Nindya berada di dekat pintu pagar. Tampak sedang omong omong dengan bapak penjaga malam.


Bram lalu berjalan cepat menuju ke tempat Nindya berada.


“Nin, ngapain kamu di sini?” tanya Bram dengan nada kuatir. Namun Nindya hanya diam saja.


“Itu Mas, sedang motret spanduk lowongan kerja, katanya mau daftar mau lihat syarat syaratnya” ucap Bapak penjaga malam


“Mosok mbak Nindya mau kerja di depan Mas, kantor Bharata Group sudah penuh karyawan ya” Ucap bapak penjaga malam selanjutnya


“Masih ada lowongan sudah diterima kerja di kantor Bharata Group cabang utama ha...ha...” jawab Bram lalu menarik tangan Nindya dengan lembut


“Iya besok mulai kerja" ucap Bram kemudian


“Bener Mas?” tanya Nindya dengan mata berbinar binar. Bram menjawab dengan anggukan kepala. Mereka berdua lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


“Sekarang masuk kamar, siapkan baju untuk kerja besok. Aku nemuin bapak Bharata dulu” ucap Bram lalu dia berjalan menuju ke ruang keluarga.


“Sudah ketemu istrimu?” tanya bapak Bharata saat melihat Bram sudah memasuki ruang keluarga lagi


“Dia sedang hamil Bram harus kamu jaga dengan benar" ucap ibu Murti


“Iya Pak, Bu, sudah ketemu. Kayaknya Nindya ngidam kerja, tidak mau dilarang dan ditunda maunya besok kerja di kantor yang penting kantor, tapi tidak sekantor dengan suaminya, terus aku suruh dia kerja di pavillion daripada kerja di kantor biro perjalanan depan rumah.” jawab Bram


“Tapi kerja apa ya Pak, bagian keuangan sudah ada Arum dan Ibu?” tanya Bram


“Ya sudah, besok aku training dia. Kamu sama ibu ke kantor.” Ucap bapak Bharata


“Sepertinya cucuku rajin bekerja masih di dalam perut sudah mau kerja.” Gumam bapak Bharata sambil tersenyum.


Sementara itu Nindya di dalam kamar terlihat sangat bahagia karena besok diperbolehkan bekerja meskipun di kantor paviliun. Setelah menyiapkan baju kerja untuk dirinya dan suaminya. Dia teringat baju tidur kurang bahan hadiah dari Arum. Dia memilih milih akhirnya mengambil satu kemudian dia mencoba memakainya.


“Biar mas Bram suka" gumamnya dalam hati dia memakai sebagai hadiah karena suaminya sudah memperbolehkan kerja.


Setelah memakainya terlihat dia senyum senyum sendiri karena malu melihat tampilannya di cermin. Seterusnya dia berjalan cepat menuju ke tempat tidur lalu menutup tubuhnya rapat rapat dengan selimut.


****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2