Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
177. Kepergok Mobil Mogok


__ADS_3

Keesokanharinya Bram sibuk dengan pekerjaannya. Masalah keuangan semakin memburuk akibat wabah yang terus menjalar ke berbagai negara.


“Pak, bagaimana dengan gaji para karyawan?” tanya sekretaris Niko


“Kita utamakan gaji karyawan tetap dibayarkan dan kita usahakan tidak ada PHK.” Jawab Bram.


“Seperti hasil rapat kemarin, beberapa investasi perusahaan kita cairkan saja, untuk operasional.” Ucap Bram kemudian


“Baik Pak.” Ucap sekretaris Niko


“Tadi pagi Om Prabu juga menghubungi jika perlu beliau juga mau mencairkan investasi pribadinya demi keselamatan kita semua.” Ucap Bram


“Kita lebih fokus untuk pengiriman dalam negeri dulu saja.” Ucap Bram lagi


“Yang penting masih bisa jalan dulu.” Ucap Bram selanjutnya


“Baik Pak.” Ucap sekretaris Niko


Waktu terus berlalu hingga tidak terasa jam kerja telah usai. Kesibukan di kantor karena permasalahan permasalah yang datang tidak terduga, membuat waktu terasa cepat berlalu.


Para karyawanpun terlihat pulang lebih lambat dari hari hari biasa. Jam kerja sudah usai tetapi mereka terlihat masih sibuk.


Setelah menjelang maghrib beberapa karyawan sudah mulai meninggalkan kantor. Sekretaris Niko dan Brampun akhirnya meninggalkan ruangan.


Bram berjalan menuju ke pintu lift untuk kembali ke ruang istirahat nya. Setelah sampai di kamarnya dia membersihkan diri dan selanjutnya melakukan ritual doanya. Mengucapkan syukur pada pemberi hidup dan rejeki dan memohon perlindungan dan tuntunanNya.


Setelah selesai berdoa dia merasakan damai hatinya. Lalu dia mengambil hapenya untuk menghubungi anak istrinya sambil menunggu makan malam datang.Bram belum memberitahu Nindya tentang siapa pelaku yang berkhianat. Dia menghubungi Nindya dan Andru untuk berkangen kangen ria dan menanyakan tumbuh kembang anaknya.


Setelah selesai menghubungi anak istrinya. Bram tersenyum rasanya hati dan otaknya damai dan segar mendengar obrolan istrinya dan celoteh anaknya.


Namun tiba tiba hape nya berdering lagi. Bram meraih hape yang berada di atas meja di depannya. Terlihat nama kontak Tedy yang menghubungi.


“Halo kakak ipar.” Ucap Bram setelah menggeser tombol hijau


“Bro, seperti janjiku aku otw ke tampatmu. Mamah dan Lik Marni sudah di rumah menemani Lilian.” Ucap Tedy


“Baiklah kakak ipar yang baik hati aku tunggu kakak ipar.”


“Kamu bilang satpam dulu, nanti aku dipersulit masuk lagi.”


“Baiklah.” Jawab Bram


“Ya sudah aku tutup sambungan telponnya.” Ucap Tedy lalu menutup sambungan telponnya.


Setelah sambungan telponnya terputus dengan Tedy. Bram memberi kabar kepada Bapak satpam kalau kakak iparnya yang bernama Tedy Putra Mahendra.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Tedy memberi kabar kalau dia sudah berada di depan pintu. Bram lalu berjalan menuju ke pintu dan membuka pintu. Saat pintu terbuka tampak sosok Tedy dan di sampingnya meja dorong yang berisi menu makan malam Bram.


Terlihat Bram tersenyum saat melihat situasi seperti itu.


“Terima kasih kakak ipar yang baik hati sudah membawakan makan malam saya.” Ucap Bram menggoda kakak iparnya .


“Sialan, aku datang sudah ada meja dorong ini.” Ucap Tedy lalu berjalan masuk.


“Kakak ipar tolong bawa meja itu, kakak kan kalah taruhan.” Ucap Bram sambil terus berjalan menuju ke ruang makan.


“Iya iya.. Kamu masih ingat saja.” Ucap Tedy lalu kembali membalikkan tubuh dan berjalan untuk menarik meja dorong dan membawanya ke ruang makan.


“Aku akan selalu ingat dengan kemenanganku kakak ipar. Sebelum taruhan itu masa berlakunya habis.” Ucap Bram lalu menaruh pantatnya ke salah satu kursi makan.


Terlihat Tedy melayani Bram. Karena taruhan mereka yang kalah harus jadi abdi atau pelayan saat mereka hanya berdua.


“Sudah sekarang dimakan, apa perlu aku suapi.” Ucap Tedy lalu dia mengambil makanan untuk dirinya.


“Yang sopan.” Ucap Bram


“Silahkan dimakan.” Ucap Tedy kemudian. Dan terlihat Bram tertawa kecil.. mempunyai sodara lucu memang bisa menghibur gumamnya dalam hati.


Setelah mereka berdua selesai makan malam. Tedy yang bertugas memberesi meja makan termasuk membawa meja dorong keluar. Kemudian mereka berdua duduk di sofa. Bram menceritakan kasus keuangan di perusahaannya. Dia juga menceritakan tentang pengkhianatan Johan.


“Aku juga lagi pusing.” Ucap Tedy kemudian


“Kakak ipar pusing kenapa?” tanya Bram


“Bagaimana tidak pusing mamah datang malah nyalahin aku katanya aku kurang perkasa. Padahal Lilian selalu puas dengan dengan senjata triple t ku. Permasalah Lilian belun hamil kan karena kesibukan kami.” Jawab Tedy


“Kamu pikir aku juga tidak terimbas oleh wabah ini, dunia seni malah sangat terpuruk. Pameran pameran dibatalkan. Jasa konsultan juga sepi.” Ucap Tedy kemudian.


“Iya, semua kena imbasnya, ya sudah tidak usah pusing bukan kita sendiri yang terkena. Siapa tahu kakak ipar sepi di kerjaan malah bisa muncul si junior Tedy karena seniornya punya banyak waktu memproduksi.” Ucap Bram


“Lilian juga sudah mengurangi aktifitasnya kan?” tanya Bram kemudian


“Iya, ayo Bro kita cari angin. Kamu Cuma dapat angin AC terus tidak baik buat kesehatan.” Ucap Tedy


“Aku bawa mobil sendiri Bro, sekarang aku sudah bisa beli mobil meskipun second.” Ucap Tedy selanjutnya.


“Ya sudah ayo, kakak ipar jadi sopirku kan? Nanti antar aku pulang ya.” Ucap Bram.


“Iya aku tidur di sini dari pada di rumah mamah membahas itu itu saja.” Ucap Tedy


Mereka berdua lalu berjalan keluar selanjutnya menuju pintu lift dan turun ke lantai satu.

__ADS_1


Bram dan Tedy masuk ke dalam mobil milik Tedy. Tedy menjalankan mesin kemudian mobil berjalan pelan pelan keluar dari halaman kantor Bharata Group.


Mobil terus berjalan membelah jalan raya ibu kota. Bram dan Tedy terlihat berbincang bincang santai sambil bercanda. Namun tiba tiba mobil Tedy terlihat bermasalah dan tidak lama kemudian terlihat macet. Untung Tedy sudah menepikan mobilnya jadi tidak mendapat omelan dari pengendara lain.


“Mogok Bro.” Ucap Tedy dengan nada santai


“Terus aku harus dorong?” tanya Bram dengan nada kuatir.


“Tidak tenang saja, hanya butuh sentuhanku perlahan.” Ucap Tedy lalu dia membuka pintu lalu berjalan untuk melihat mesin mobilnya.


Bram tetap duduk di dalam karena Tedy bilang hanya sebentar. Namun sudah beberapa menit Tedy masih sibuk dengan mesin mobilnya. Bram lalu membuka pintu dan berjalan mendekati Tedy.


“Bagaimana Bro, katanya hanya butuh sentuhan?” tanya Bram sambi melihat mesin mobil Tedy


“Lama tidak kalau lama kita tinggal saja kita panggil bengkel.” Ucap Bram kemudian


“Sabar Bro” ucap Tedy sambil masih terus utak utik dengan mesin mobilnya


“Malu Bro, dekat rumah makan elit nanti kalau ada kolegaku.” Ucap Bram karena mobil mogok tidak jauh dengan rumah makan elit.


“Kenapa malu, aku yang punya mobil saja tidak malu.” Ucap Tedy santai


“Kalau kamu malu tunggu saja di dalam. Ini sudah mau selesai tinggal diusap usap dikit.” Ucap Tedy kemudian


“Kayak lampu ajaib saja diusap usap eh pisang ajaib ha...ha...ha....” ucap Bram sambil tertawa dia malah teringat Andru anaknya juga teringat pisang ajaibnya yang diusap usap istrinya.


“Oke aku tunggu di dalam.” Kata Bram kemudian


Namun saat Bram mau melangkah menuju ke pintu mobil. Matanya menangkap sosok yang sangat dia kenal sedang berjalan menuju ke rumah makan elit tersebut.


Bram lalu mendekati Tedy sambil kepala ikut tertunduk dan pura pura sibuk membantu Tedy.


“Ngapain kamu dekat dekat aku.” Ucap Tedy sambil menyikut tubuh Bram agar menjauh.


“Bro lihat siapa yang berjalan masuk ke rumah makan itu. Kamu lihat pelan pelan jangan sampai dia tahu.” Ucap Bram pelan


Tedy lalu menoleh pelan pelan untuk melihat orang yang dimaksud Bram.


“Kenapa dia sampai ke sini sama perempuan lagi.” Ucap Tedy lalu dia kembali fokus ke mesin mobilnya


“Entahlah, orangnya sudah masuk. Aku ke dalam ya, aku hubungi Arum, aku tanya dia. Ini kesempatan agar dia tidak kaget kalau mendengar informasi dari Bapak.” Ucap Bram lalu dia cepat cepat masuk ke dalam mobil dan seterusnya menghubungi Arum adiknya.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2