
Beberapa hari kemudian Bram dan Dito sudah membaik kondisinya. Mereka berdua dipanggil ke kantor polisi untuk memberi keterangan lebih lanjut.
Dengan langkah tegaknya Bram memasuki kantor polisi diikuti oleh Dito yang setia berjalan disampingnya. Bram dan Dito melangkah menuju ke tempat bagian informasi yang berada di bagian depan kantor tersebut. Setelah menyampaikan maksud dan tujuannya, Bram diarahkan untuk masuk ke dalam satu ruangan dan diantar oleh salah satu petugas.
Saat masuk di dalam suatu ruangan, nampak di dalam ruangan tersebut ada pak babin dan bapak Kepala Desa juga beberapa petugas.
"Selamat pagi Pak" ucap Bram sambil menundukkan kepala demikian juga dengan Dito
"Selamat pagi mas" ucap mereka semua yang sudah lebih dulu di dalam ruangan tersebut
"Mari silahkan duduk" jawab salah satu petugas
"Gimana mas sudah sehat kan?" tanya bapak Kepala Desa
"Sudah Pak" jawab Bram dan Dito bersamaan.
"Mas, pelaku sudah menyebutkan otak dibalik kejadian tersebut, dan sudah kami tangkap dia mengakui semua, lalu sudah diberi pemahaman oleh Bapak Kepala Desa, mereka semua sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya" ucap salah satu petugas
"Apa mas Bram dan mas Dito bisa memaafkan dan mau berdamai?" tanya petugas selanjutnya
"Iya Pak kami maafkan" jawab Bram
"Apa boleh kami tahu siapa orangnya?" tanya Bram kemudian
"Boleh boleh, nanti mas mas bisa melihat di ruang tahanan sementara" jawab petugas.
Terlihat Bram, Dito, pak babin dan bapak Kepala Desa berbincang bincang, sedang salah satu petugas keluar dari ruangan menuju ke ruangan lain, sedang seorang petugas yang lain terlihat sibuk mengetik ngetik seperti membuat suatu surat.
"Mari mas saya antar" ucap salah satu petugas.
Lalu Bram, Dito, pak babin dan bapak Kepala Desa mengikuti salah satu petugas berjalan keluar ruangan menuju ke ruang tahanan sementara.
Setelah sampai di depan ruangan tahanan sementara, Bram melihat dua laki laki yang menghadang di jalan malam hari tersebut, kondisinya sudah berubah tidak garang lagi, lalu ada satu orang lagi yang sudah pernah dilihatnya yaitu orang yang selalu menolak program mahasiswa KKN siapa lagi kalau bukan orang yang bernama pak Heri.
Saat Bram dan Dito mendekat, nampak pak Heri juga mendekat dengan takut takut dengan kepala sedikit menunduk.
"Mas, maafkan saya" ucapnya lirih
"Kita damai saja ya, saya punya anak istri yang harus saya hidupi" ucap pak Heri dengan terisak, dua lelaki suruhannya pun ikut berwajah melow.
"Iya mas, kami punya keluarga yang butuh kami untuk mencarikan makan" ucap salah satunya.
__ADS_1
"Iya kami maafkan, jangan diulangi" ucap Bram terlihat ketiganya mendongakkan kepala sambil tersenyum
"Iya iya terimakasih" jawab mereka bertiga
"Dukung program yang membantu masyarakat" ucap Bram selanjutnya
"Baik baik" ucap mereka bertiga serempak.
"Baiklah kalau sudah masing masing menerima mari mas kita ke depan, mereka bertiga nanti bisa bebas tapi masih dalam pantauan kami" ucap Bapak petugas.
Bram, Dito, pak babin dan bapak Kepala Desa akhirnya berjalan mengikuti pake petugas meninggalkan ruangan tahanan sementara tersebut.
Setelahnya mereka berempat mohon diri dan meninggalkan kantor polisi menuju ke tempat tugasnya masing masing.
*****
Hari berganti hari program KKK bisa berjalan dengan lancar. Di sore hari Bram sedang sendirian duduk sambil memangku lap topnya sedang mengerjakan sesuatu. Sesaat pak Dukuh datang menghampiri setelah berbasa basi, pak Dukuh memberi kabar pada Bram kalau pak Heri sudah bebas dan sudah berada di rumahnya.
"Rumahnya di mana ya Pak" tanya Bram kepada pak Dukuh
"Di dekat perempatan di belakang tugu dusun paling jauh mas" jawab pak Dukuh
"Iya mas" jawab pak Dukuh. Sejenak mereka terdiam, Bram mengusap usap hape nya melihat di google map lokasi yang disebut pak Dukuh tadi, Bram ingin melihat kehidupan keluarga pak Heri, dia merasa kepo melihat ekspresi pak Heri waktu meminta maaf waktu di ruang tahanan sementara saat itu. Penasaran hanya pura pura atau bener benar memohon maaf karena keluarganya.
"Kenapa mas Bram tanya rumahnya?" tanya pak Dukuh membuyarkan lamunan Bram.
"Pengen tahu saja Pak" jawab Bram
"Ya sudah mas, saya masuk ke dalam" ucap pak Dukuh lalu bangkit berdiri dari tempat duduknya
"Teman teman yang lain di mana mas?" tanya pak Dukuh sambil berjalan melihat ruangan tampak sepi
"Ooo sedang keluar Pak, ada yang sedang mandi, kalau Dito sedang main di tetangga desa nengok pacarnya" jawab Bram, yang diangguki kepala pak Dukuh lalu hilang di balik tirai yang menjuntai di pintu antar ruang
Bram sendirian di ruang tamu lalu dia mengusap usap hapenya lalu menghubungi Nindya
"Hallo" ucap Nindya setelah sambungan terhubung.
"Kamu di mana?" tanya Bram
"Di kost" jawab Nindya
__ADS_1
"Lilian di kost apa pulang?" tanya Bram
"Di kost" jawab Nindya
"Kamu kok jawab pendek pendek, lagi apa sih?" tanya Bram
"Rahasia" jawab Nindya
"Nin"
"Hmmm"
"Besok nengok aku di lokasi ya, kan hari minggu ga ada kegiatan kampus kan?" ucap Bram Bram merasa situasi dan kondisi di lokasi sudah aman bila Nindya dan Lilian menengoknya di lokasi, pun demikian wajah Bram sudah kembali mulus tidak ada lagi bekas luka dan memar memar di tubuhnya. Di samping itu dia juga merasa iri karena Dito bisa nyambi nge date di sela sela tugasnya di lokasi KKN.
"Iya, nanti aku tanya Lilian ya" jawab Nindya
"Baiklah, kutunggu ya..." ucap Bram
"Okey" jawab Nindya.. Sejenak mereka terdiam tidak ada lagi yang bicara kemudian Nindya menutup sambungan telponnya.
Tidak berapa lama teman teman Bram yang mandi di tetangga kiri kanan sudah datang satu persatu. Kamar mandi pak Dukuh memang hanya ada satu, itupun kalau Avanti yang sedang mandi lama sekali bisa berjam jam lamanya.
"Belum mandi kamu Bram?" tanya salah satu dari mereka yang sudah mandi terlihat segar dan beraroma sabun mandi
"Nanti saja" jawab Bram yang masih duduk di kursi sambil mengetik ngetik di lap topnya
"Masih buat laporan ya Bram?" tanya teman yang lain sambil duduk di samping Bram
"Iya nih" jawab Bram masih terus melanjutkan pekerjaannya membuat laporan program KKN mereka.
Terlihat yang lain juga sudah mulai duduk di kursi ruang tamu tersebut. Leon nampak juga sudah duduk di depan Bram.
"Laporanmu sudah kamu buat belum Le?" tanya Bram tanpa menatap Leon
"Belum, nanti Bram" jawab Leon sambil mengusap usap hape nya.
Tidak lama kemudian muncul Avanti yang sudah wangi dengan membawa nampan berisi gelas gelas berisi kopi dan teh. Lalu menaruh nampan tersebut di meja
"Mas Bram kalau mau mandi kamar mandi sudah kosong" ucap Avanti sambil menatap Bram
"Ya" jawab Bram singkat tanpa menoleh dan mendongak
__ADS_1