Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
116. Farid menguntit


__ADS_3

Sore harinya Bram bersama Mak sudah sampai di depan kost Nindya. Bram membuka jendela mobilnya.


"Mak, tunggu di mobil saja ya" ucap Bram sambil menoleh ke arah belakang di mana Mak duduk


"Iya Mas, seperti rencana kita saya duduk di jok belakang, nanti biar mas Tedy berdampingan dengan mbak Lilian" ucap Mak lalu pindah duduk di jok paling belakang.


"Sip, aku turun sebentar menjemput mereka kata Nindya mereka sudah siap" ucap Bram lalu membuka pintu mobil dan selanjutnya turun kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar kost Nindya.


Sesampai di depan kamar kost Nindya nampak Tedy sudah siap dan sedang duduk di kursi teras kamar kost Nndya.


"Hai Bro" sapa Bram lalu menjabat erat tangan Tedy dan duduk di kursi dekatnya.


"Bagaimana sudah ada perkembangan belum?" tanya Bram


"Entahlah Bro" jawab Tedy


"Nanti sudah aku atur sama Nindya dan Mak, kamu bisa duduk sampingan dengan Lilian" ucap Bram yang selanjutnya terdiam sebab Lilian dan Nindya sudah berada di dekat mereka.


"Ayo kita berangkat aku sudah pamit ibu kost" ucap Nindya yang sudah siap dengan bawaannya. Demikian juga Lilian.


Terlihat Bram mendekat ke arah Nindya dan melepas tas punggung yang dibawa Nindya lalu Bram berganti membawakannya. Bram menoleh ke arah Tedy lalu kepala sedikit mendongak dan mengangguk ke arah Lilian sebagai kode agar Tedy melakukan hal yang sama. Tedy lalu mendekat ke arah Lilian, namun terlihat bingung dan akhirnya hanya garuk garuk kepala. Bram lalu tersenyum dan menepuk pundak Tedy.


"Kamu bawain tas tengtengan Lilian itu" ucap Bram kemudian nampak mereka sudah berjalan menuju ke mobil Bram. Tedy lalu mempercepat langkahnya mensejajarkan dengan langkah Lilian selanjutnya tangannya memegang tangan Lilian yang memegang pegangan tas yang ditenteng Lilian. Lilian yang tangannya mendadak disentuh Tedy terlihat kaget dan menoleh ke arah Tedy.


"Kak Tedy tangannya kok dingin banget, sakit ya?" tanya Lilian


"Tidak Li, aku bawain tas mu, kalau kamu bawa tas punggung dan tas tentengan nanti kecapekan" ucap Tedy sambil mengambil alih tas tentengan Lilian.


"Terimakasih kak tapi tidak berat kok" ucap Lilian. Bram dan Nindya yang berjalan di belakangnya saling pandang dan saling tersenyum. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di mobil Bram.


"E.. Mak apakabar Mak" sapa Nindya dan Lilian secara bersamaan saat mereka semua sudah masuk.di dalam mobil


"Baik mbak Nindya mbak Lilian, Mak duduk di belakang ya" ucap Mak sambil tersenyum

__ADS_1


"Biar Lilian yang di belakang saja Mak, nanti Mak pusing kalau di jok paling belakang" usul Lilian


"Tidak mbak .. " jawab Mak


Namun saat Bram mulai menyalakan mesin mobil mendadak ada motor parkir tepat di depan mobil Bram. Pengendara motor tersebut lalu turun dari motor dan berjalan menuju ke mobil Bram. Selanjutnya berdiri di dekat jendela mobil sambil mengetuk ngetuk.


Bram yang jendela di sampingnya diketuk ketuk lalu membuka kaca mobilnya.


"Hai Rid, kamu itu ngageti aja" sapa Bram pada pemuda yang menghampirinya dan itu adalah Farid.


Nampak Farid melongokkan kepalanya yang masih memakai helm ke dalam mobil Bram, melihat orang orang yang berada di dalam mobil.


"Mau kemana, kok ada Lilian juga?" tanya Farid dengan tatapan mata cemburu sebab Lilian duduk di samping pemuda lainnya.


"Ke stasiun Rid, maaf ya Ini keburu waktunya" jawab Bram


"Nanti kamu ke rumahku saja bila ada perlu" ucap Bram selanjutnya dan menutup jendelanya. Selanjutnya Bram menjalankan mobilnya pelan pelan. Nampak Farid berjalan menuju ke motornya dan selanjutnya berjalan mengikuti mobil Bram.


"Ngapain si parit itu ikut ke stasiun?" gumam Tedy.


"Mungkin ada perlu penting dengan aku Bro" ucap Bram menenangkan Tedy sambil turun dari mobilnya.


Mereka semua sudah turun dari dalam mobil dan siap berjalan menuju ke pintu masuk stasiun.


Tedy membawa tas punggungnya dan menenteng tas tentengan Lilian. Farid yang berada di dekat mereka nampak melihat Tedy yang sedang membantu Lilian. Farid lalu mendekat ke arah Lilian.


"Li aku bawakan tas mu?" ucap Farid menawarkan bantuan.


"Kak Farid bantu bawain tasnya Mak aja" ucap Lilian


"Iya ini mas Farid tolong bawakan" ucap Mak sambil mengulurkan travel bag nya ke arah Farid. Mau tak mau Farid menerimanya dan membawakan tas Mak yang besar dan tujuannya sampai ke dalam tampat cek in.


"Lumayan, aku bisa jalan melenggang" gumam Mak sambil tersenyum puas dan mengipas ngipaskan kedua telapak tangannya pada wajahnya. Sedangkan Farid dan Tedy saling pandang dengan tatapan tidak bersahabat.

__ADS_1


Mereka semua sudah berada di depan tempat cek in. Tedy dan Lilian sudah berjalan lebih dulu menuju ruang tunggu, sekarang giliran Nindya yang akan masuk ke dalam ruang tunggu. Nampak Bram memasangkan tas punggung Nindya, selanjutnya membalikkan tubuh Nindya hingga mereka saling berhadapan


"Hati hati ya... " ucap Bram nampak Nindya menganggukkan kepalanya kemudian Bram mencium kening Nindya. Mak yang berada di dekat mereka nampak baper kemudian mengusap usap keningnya dengan kedua tangannya sambil tersenyum senyum manja selanjutnya merangkul pinggang Farid yang berdiri di dekatnya.


"Mak, ngapain sih" ucap Farid lalu menyerahkan tas Mak dan menaruh pegangan tas tersebut di telapak tangan Mak


"Mak masuk sana" ucap Bram yang sudah melepas Nindya masuk ke ruang tunggu. Akhirnya Mak pun menenteng tasnya dan berjalan mengikuti Nindya.


Sekarang tinggal Bram dan Farid yang masih berdiri di dekat tempat cek in sambil melihat punggung Nindya dan Mak yang berjalan masuk ke ruang tunggu.


"Siapa laki laki tadi Bram?" tanya Farid yang belum pernah bertemu dengan Tedy.


"Pacarnya Lilian" jawab Bram


"Kapan mereka jadian, aku kok tidak tahu?" tanya Farid. Bram menjawab dengan mengangkat kedua bahunya lalu berjalan meninggalkan tempat cek in untuk keluar stasiun menuju ke tempat parkir mobil nya. Farid mau tak mau mengikuti langkah kaki Bram.


"Sepertinya dia kakaknya Nindya dech, kayaknya aku pernah lihat fotonya di med sos Nndya" ucap Farid sambil mengingat ingat dan berjalan di samping Bram. Bram hanya diam saja.


"Iya kan Bram?" tanya Farid memastikan


"Iya tapi sepertinya juga bakal jadi pacarnya Lilian" jawab Bram


"Bram, yang bener?" tanya Farid


"Kamu tanya saja ke Lilian" ucap Bram


"Okey, nanti aku tanya ke Lilian kalau belum pacaran aku mau bersaing dengan kakaknya Nindya secara fair" ucap Farid kemudian


"Iya bersainglah secara fair, aku bantu kamu dan bantu kakaknya Nindya" ucap Bram sambil menatap Farid


"Fair kan?" tanya Bram sambil tersenyum menggoda


"Aku dulu sudah berusaha membantu kamu loh" ucap Bram kemudian berlalu berjalan menuju ke mobilnya dan Farid berjalan menuju ke motornya

__ADS_1


__ADS_2