Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
174. Terimbas


__ADS_3

Keesokan harinya di rumah keluarga Bharata semua sudah siap rapi di meja makan. Begitu juga Andru sudah duduk manis di kursi makan khusus buatnya. Kali ini dia minta duduk di samping Bos sepuh yaitu bapak Bharata. Bapak Bharata tampak tersanjung karena merasa terpilih oleh Andru di antara yang lain.


Andrupun tampak manis di samping bapak Bharata. Beberapa kali menoleh menatap Bos sepuh sambil tersenyum manis.


“Atu bica maem cendili.” Ucap Andru


“Andaru memang pinter.” Ucap Bapak Bharata sambil menempatkan piring makanan Andru di meja yang terpasang di kursi khusus Andru.


Mereka semua makan tanpa banyak bicara, Andrupun juga dan bisa menghabiskan makanan tanpa tersisa dan tercecer. Semua tersenyum bangga pada Andru.


“Bos..” ucap Andru sambil menoleh menatap bapak Bharata


“Iya bos kecil.” Jawab bapak Bharata sambil mengusap lembut kepala Andru. Sementara Nindya dan Ibu Murti membantu Mak merapikan meja makan.


“Kita miting di toto butu ya.” Ucap Andru serius sambil menatap bapak Bharata.


“Buku yang kita beli kemarin belum semua dibaca.” Ucap Bapak Bharata sambil menatap Andru.


“Macih tuyang.. “ ucap Andru


“Apa?” tanya bapak Bharata


“Butu picang ajaib.” Jawab Andru antusias. Bapak Bharata terlihat mengeryitkan dahinya sambil menatap Nindya. Namun Nindya pura pura tidak memperhatikan sambil menyibukan diri membantu Mak.


“Ya yang...” ucap Andru lagi


“Iya... iya... tapi nanti ya kalau urusan Eyang sudah selesai.” Jawab bapak Bharata


“Anak kecil ceyayu di beyatang.” Ucap Andru dengan bibir cemberut.


“Andru tidak boleh nakal ya.” Ucap Nindya sambil menatap Andru. Terlihat Andru menundukkan kepalanya.


Bapak Bharata terlihat tidak tega melihat Andru yang sedang kecewa. Beliau bangkit dari kursi makan dan berdiri lalu mengambil tubuh mungil Andru dari kursi khususnya dan seterusnya mengendong Andru.


“Eyang sudah janjian dengan teman Eyang jadi harus menemui dia dulu ya...” ucap Bapak Bharata sambil mencium pipi gembul Andru.


“Janjian dengan bos kecil kan baru saja, antri ya ...” ucap Bapak Bharata lagi dan tampak Andru memahami arti kata antri, dan dia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu...

__ADS_1


“Iya bos cepuuuuhh....” Ucap Andru sambil mencium pipi bapak Bharata.


Sementara itu Bram di kantor Bharata Group Jakarta bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia sudah menyiapkan segalanya di malam hari dan bantuan dari sekretaris Niko sangat membantu kelancaran dia dalam bekerja.


Saat di sore hari hape dia berdering dia lalu meraih hape yang berada di meja kerjanya. Terlihat nama Sisi yang sedang melakukan sambungan telpon.


“Hallo.” Ucap Bram


“Pak, ini ada laporan sebagian barang yang dikirim harus dilakukan sterilisasi di negara tujuan. Jadi harus tambah biaya untuk sterilisasi.” Ucap Sisi


“Kamu sudah lapor ke bagian keuangan?” tanya Bram


“Sudah Pak, nunggu keputusan dari pak Bram. Bapak Bharata tidak bisa dihubungi. Padahal ini harus segera dijawab mau terus atau kirim balik”


“Dan lagi Pak, ini ada email beberapa buyer belum bisa melunasi Pak.” Ucap Sisi lagi.


Bram tampak terdiam. Dia terlihat berpikir keras. Kalau barang tetap diteruskan harus tambah biaya dan tidak ada uang masuk karena tidak ada pelunasan. Kalau barang dikirim balik sama saja tambah biaya pengiriman balik, dan barang hanya numpuk di gudang.


“Suruh bagian keuangan mengeluarkan dana untuk biaya sterilisasi.” Ucap Bram.


“Baik Pak.” Jawab Sisi. Bram lalu menutup sambungan telponnya.


“Pak, ini laporan hari ini.” Ucap sekretaris Niko sambil menyerahkan kertas. Bram lalu menerima kertas yang berisi point point laporan yang sudah dibuat oleh Niko.


“Sama semua...” ucap Bram sambil mengetuk ngetuk meja dengan ujung telunjuknya nampak dia sedang berpikir keras.


“Pengeluaran bertambah pemasukan minim, kebanyakan buyer belum bisa melunasi.” Ucap Bram kemudian.


“Iya Pak.” Jawab sekretaris Niko.


“Negara negara yang sudah terserang wabah terpuruk perekonomiannya, kita yang belum terserang juga sudah terkena imbasnya.” Ucap Bram kemudian


“Kita harus melakukan pengetatan pengeluaran yang kiranya tidak begitu penting kita pending. Kita juga harus pakai sistem subtitusi untuk penghematan.” Ucap Bram lagi tampak sekretaris Niko yang masih berdiri di depan Bram mengangguk angguk mengerti.


“Besok pagi seluruh menejer meeting, agendakan.” Ucap Bram sambil menatap layar lap topnya. Dan jari jari nya sibuk dengan tetikus untuk melihat data data.


“Aku sudah kirim email ke kamu, apa apa yang harus disiapkan meeting besok. Segera kamu hubungi semua menejer untuk menyiapkan materi.” Ucap Bram kemudian.

__ADS_1


“Baik Pak.” Jawab sekretaris Niko lalu kembali ke meja kerjanya.


Terlihat situasi kantor Bharata Group tampak hening dan terkesan lebih serius, karena ada informasi rapat penting besok pagi. Karyawan biasa terlihat sudah mulai pulang meninggalkan kantor karena jam kerja kantor sudah lewat. Namun beberapa petinggi kantor masih sibuk di meja kerjanya.


“Sekretaris Niko kalau sudah selesai boleh pulang.” Ucap Bram sambil melihat jam di tangannya. Terlihat sekretaris Niko menganggukkan kepala sambil memberesi pekerjaannya, sedangkan Bram terlihat masih serius di depan lap topnya.


Berbeda dengan Bos besar yang sedang berpikir keras dengan masalah perusahaannya. Bos kecil terlihat girang bersemangat. Dia minta mandi sore lebih awal dan memakai baju bagus siap untuk meeting dengan Bos sepuh. Saat dia mendengar suara mobil bapak Bharata memasuki halaman. Dia langsung berlari ke luar rumah.


Bapak Bharata yang melihat Andru berlari dari pintu depan langsung memarkir mobilnya di depan teras.


“Atu cudah ciaaaap.” Teriak Andru sambil berlari saat bapak Bharata membuka mobilnya.


Melihat wajah ceria Andru dan bersemangat terasa beban masalah yang sedang dihadapi bapak Bharata sirna seketika. Seharian tadi bapak Bharata bersama teman yang dia percaya untuk menyelidiki kasus keuangan yang sedang menimpa. Mereka diam diam juga ke bank untuk ngecek semua bukti bukti.


Bapak Bharata lalu menangkap tubuh mungil Andru dan digendongnya tidak lupa beliau menghujani ciuman di wajah Andru yang wangi. Rasanya seperti energi bapak Bharata kembali penuh seratus persen.


“Ayo kita berangkat sekarang.” Ucap Bapak Bharata lalu membawa Andru masuk ke dalam mobil kembali.


“Eyang uti mana?” tanya Andru yang tidak melihat ibu Murti di dalam mobil.


“Eyang itu masih di kantor bersama ibu Arum.” Jawab bapak Bharata yang sudah menjalankan mobilnya menuju ke toko buku terbesar.


Sesampai di toko buku mereka berdua langsung menuju ke bagian buku anak anak.Terlihat petugas toko menanyakan apakah ada yang bisa dibantu.


“Cali butu picang ajaib.” Jawab Andru sambil menatap wajah pelayan toko yang memakai baju putih dan bawahan hitam tersebut.


Nampak petugas gemas dengan Andru namun dia hanya bisa tersenyum, padahal sebenarnya tangannya gatal ingin memegang pipi gembul Andru.


“Cari buku pisang ajaib Kak, tolong bantu ya.” Ucap Bapak Bharata sambil melihat lihat buku. Terlihat petugas buku mencari cari buku yang dicari Andru sampai capek namun tidak ada.


“Kata ayah ada.” Ucap Andru saat petugas mengatakan buku tidak ada.


Akhirnya bapak Bharata mengendong Andru menuju ke bagian informasi. Bapak Bharata menyampaikan maksudnya untuk mencari buku pisang ajaib. Terlihat petugas toko mengecek di komputer di depan.


“Kalau buku anak anak, adanya buku tongkat ajaib, lampu ajaib,.... Namun pisang ajaib tidak ada.” Ucap petugas toko sambil jari jarinya masih sibuk memainkan tetikus untuk mencari buku yang dicari costumernya.


“Ini ada buku khasiat ajaib pisang. Pak.” Ucap petugas toko selanjutnya.

__ADS_1


“Sudah semua yang ajaib ajaib aku beli untuk cucuku.” Ucap Bapak Bharata. Terlihat pelayan toko mengangguk dan menyuruh temannya untuk mengambilkan semua buku yang diminta Bapak Bharata. Terlihat Andru tersenyum puas.


“Besok minta ayah yang bacakan ya.” Ucap Bapak Bharata sambil mencium Andru yang berada di dalam gendongannya.


__ADS_2