
Setelah selesai beberes dan bersiap diri. Nindya melangkahkan kaki menuju pintu kamarnya.
"Nin, aku malu dan ga enak sama kak Tedy" ucap Lilian saat Nindya sudah memegang handel pintu
"Tenangkan hatimu Li... serahkan pada pawangnya... Ha...Ha..." ucap Nindya sambil menoleh menatap Lilian kemudian tertawa dan selanjutnya melangkah meninggalkan kamarnya untuk menuju ke kamar kakaknya.
Tidak lama kemudian Nindya sudah sampai di kamar kakaknya, nampak pintu tidak tertutup dan yang terlihat berada di dalam kamar hanya Tedy seorang.
"Wuih... harum nya kakakku, pakai parfum sebotol ya?" ucap Nindya sambil hidungnya mengendus ngendus kakaknya.
"Apaan sih kamu" ucap Tedy sambil menghindar dari Nindya dan nampak sedikit malu.
"Lilian itu sukanya aroma tubuh natural, dia pusing kalau bau parfum berlebih" ucap Nindya kemudian
"Beneran Tot?" tanya Tedy serius
"Emang wajahku nampak bohong" jawab Nindya dengan memasang ekspresi wajah serius
"Kalau gitu aku mandi lagi dan ganti baju" ucap Tedy lalu bersiap akan pergi ke kamar mandi
"Ga usah Kak, ganti baju aja ha...Ha... Aku mau omong sesuatu yang penting" ucap Nindya
"Apa?" tanya Tedy serius
"Lilian akan dijadikan menantu temannya ibunya" jawab Nindya yang to the point membuat Tedy bergetar dan langsung tubuh nya melemas lalu terduduk di tempat tidurnya. Nampak Tedy mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kakak yang sabar ya...." ucap Nindya sambil mengusap usap pundak kakaknya.
"Kok nasibku begini, terus kita mau ke rumah Lilian ngapain mau lihat dia lamaran? sudah lah aku ga usah ikut ke Yogya aku langsung ke Jakarta dari sini aja" ucap Tedy frustasi
"Kakak sabar...." ucap Nindya
"Sabar apa ... ogah ya jogja...jodoh orang gue jaga, aku mau ke bandara aja sekarang langsung ke Jakarta" ucap Tedy yang sudah akan bangkit berdiri
"Kakaaaakkkk Lilian nya tuh ga mau dijadikan menantu teman ibunya" ucap Nindya sambil menarik tangan kakaknya agar kembali duduk di sampingnya.
"Beneran?" tanya Tedy dengan mata bersinar sambil menatap Nindya. Nindya menganggukkan kepala dengan mantap.
"Tapi ada suatu masalah, dan hanya kak Tedy yang bisa bantu Lilian" ucap Nindya kemudian
__ADS_1
"Aku siap bantu sepenuh jiwa dan raga ku untuk Lilian, mau aku lamar sekarang juga okey" jawab Tedy dengan serius sambil menyunggar rambutnya
"Ihhh maunya kakak" ucap Nindya sambil mencibir
"Kalau orang tua Lilian punya hutang apa kakak mau bantu nglunasi utangnya" ucap Nindya selanjutnya dengan nada dan ekspresi wajah serius
"Apapun wujud bantuan yang dimintanya aku siap bantu" jawab Tedy tidak kalah serius
"Bener?" tanya Nindya minta keyakinan
"Yakin" jawab Tedy dengan pasti
"Lilian minta bantuan kakak jadi pacar pura pura nya" jawab Nindya sambil tersenyum
"Kok begitu, kenapa tidak pacar beneran?" tanya Tedy. Kemudian nampak Nindya menjelaskan serius kepada kakaknya
"Ach nasib" ucap Tedy setelah mendapat penjelasan dari Nindya
"Daripada nanti Lilian dilamar orang, mending sekarang kakak jagain Lilian dan semoga menjadi jodoh kakak" ucal Njndya sambil mengusap usap punggung kakaknya
"Diterima ya Kak?" ucap Nindyauntuk memastikan Tedy menerima menjadi pacar pura pura Lilian.
"Iya lamaran pura pura" ucap Tedy
"Kakak sabar dulu, meskipun pacar pura pura kan bisa deket deket kesempatan buat kakak buat mesra mesra dengan Lilian besok saat di rumahnya, gimana gimana... ide ku okey kan? siapa tahu Lilian jadi bergetar hatinya" ucap Nindya sambil tersenyum jenaka
"Iya iya BonTot memang okey, terimakasih ya sudah membantu kakakmu ini" ucap Tedy sambil memeluk adiknya dari samping lalu mengacak acak puncak rambut kepala Nindya. Mereka berdua tampak tersenyum. Dan tidak lama kemudian terdengar teriakan mamah Indah dari lantai bawah yang menyuruh mereka segera turun sudah ditunggu papah Mahendra.
"Ayo turun, aku pengen segera ketemu pacar pura puraku" ucap Tedy sambil bangkit berdiri
"Kakak ganti baju, nanti Lilian pusing bau parfum kakak yang over dosis" ucap Nindya sambil berjalan keluar kamar Tedy. Dan Tedy pun lalu mengikuti anjuran Nindya untuk berganti baju.
Beberapa menit kemudian mereka yang akan kembali ke Yogya sudah siap di dalam mobil papah Mahendra. Mereka sudah berpamitan dengan yang tertinggal rumah. Dan yang tertinggal di rumah mengantar kepegian mereka sampai di pintu pagar.
Mobil terus melaju menuju hotel tempat menginap Bram. Sejak tadi Bram sudah menunggu, dia beberapa kali menelpon Nindya namun tidak diangkat oleh Nindya dan setelah menelpon Lilian baru mendapat kabar kalau Nindya sedang di kamar Tedy membicarakan hal serius.
Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di depan hotel.
"Nin kamu yang turun jemput Bram, mobil nunggu di jalan saja ga usah masuk, waktunya sudah mepet,lama nanti markir dan keluarnya kalau parkir di dalam" ucap papah Mahendra yang menghentikan mobil di tempat parkir di tepi jalan.
__ADS_1
"Iya iya... ini mas Bram ngambek aku telpon ga diangkat" ucap Nindya sambil membuka pintu mobil lalu berjalan menuju ke tempat resepsionis hotel di mana Bram menginap.
Sesampai di depan petugas resepsionis Nindya menyampaikan maksudnya untuk menjemput tamu hotel yang tidak bisa dihubungi telponnya. Nindya minta tolong petugas resepsionis untuk menelpon kamar yang di tempati Bram. Dan tidak lama kemudian petugas resepsionis sudah bisa menghubungi Bram dan menyampaikan kalau sedang ditunggu.
Nindya lalu duduk di loby hotel beberapa menit kemudian muncul sosok Bram dengan wajah datarnya. Nindya lalu bangkit berdiri dan tersenyum menatap Bram.
"Kalau ngambek tambah ganteng mas Bramku, tambah cool" ucap Nindya sambil mengandeng tangan Bram
"Merayu" ucap Bram yang masih terus berjalan di samping Nindya dengan lengan yang dipegang mesra Nindya
"Iya" jawab Nindya sambil tertawa kecil
"Bahas masalah apa sama kakak ipar sampai lupa sama calon suami?" tanya Bram kemudian sambil menoleh ke arah Nindya
"Penting banget, ceritanya nanti kita di dalam kereta, masih ada papah di mobil" jawab Bram
"Penting banget sampai main rahasia sama papah" ucap Bram yang sekarang sudah merangkul pundak Nindya sambil berjalan menuju ke arah mobil yang sudah tidak jauh. Nindya hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Tidak lama kemudian mereka berdua sampai di depan mobil papah Mahendra.
"Mas Bram depan nemeni papah, aku di belakang nemeni Mak" ucap Nindya lalu melangkah dan membuka pintu mobil belakang. Sedangkan Bram membuka pintu depan lalu duduk di jok samping papah Mahendra setelah mengucapkan salam dan cium tangan pada papah Mahendra, Bram menoleh ke arah belakang, dia melihat Tedy dan Lilian duduk bersebelahan lalu Bram tersenyum menatap Tedy, sedangkan Tedy yang ditatap pura pura tidak melihat.
"Ini pasti ulah Nindya membuat mereka berdua duduk bersebelahan" gumam Bram dalam hati lalu dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah depan. Dan beberpa menit kemudian mobil sudah sampai di depan stasiun. Mereka semua pamit dan mengucapkan terimakasih pada papah Mahendra kemudian memasuki stasiun sedangkan papah Mahendra langsung pulang sebab masih punya tugas di rumah.
bersambung....
...*****...
...MARAHABAN YA RAMADHAN.....
...MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN...
...SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENUNAIKAN......
...SEMOGA ALLAH SWT MERIDHOI AMAL IBADAH KITA DIBULAN SUCI INI.....
...AAMIIN YRA...
...🙏🙏🙏🤲🤲🤲...
__ADS_1