Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
162. Malam Menyenangkan 2


__ADS_3

Bram lalu pura pura tidur, dia memejamkan matanya. Namun meskipun mata terpejam bayangan tubuh istrinya dengan baju tidur kurang bahan menari nari di pelupuk matanya. Dia membayangkan Nindya sudah berjalan keluar kamar mandi dan menyusulnya naik ke tempat tidur.


Beberapa waktu kemudian dia mendengar langkah kaki Nindya dan semerbak aroma wangi semakin mendekat. Bram menahan diri untuk tidak membuka matanya juga menahan hasratnya, dia ingin istrinya yang memulai penyerangan. Dia akan menjadi penikmat dan penyeimbang saja demi janin di dalam kandungan Nindya.


Masih dengan mata terpejam dan menunggu nunggu Bram mulai tidak sabar kenapa Nindya belum juga menyusulnya di tempat tidur. Bram lalu membuka matanya dan pandangan matanya mencari keberadaan Nindya.


Betapa kagetnya Bram saat matanya menangkap keberadaan Nindya duduk di sofa sambil memangku lap top dan sudah tidak memakai baju kado dari Arum. Tetapi tubuh Nindya terbungkus dengan bathrobe.


“Nin.....” ucap Bram


“Eh Mas .. kirain sudah tidur karena kecapekan.” Ucap Nindya sambil tersenyum manis dan mendongakkan wajahnya menatap Bram.


“Apa dia berganti baju dan kecewa mengira aku sudah tidur.” Gumam Bram dalam hati. Lalu dia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke sofa tempat Nindya duduk.


“Apa kamu masih melanjutkan mempelajari materi bapak Bharata?” tanya Bram saat sudah duduk di samping Nindya.


“Tidak Mas.” Jawab Nindya sambil mengeser lap top nya agar Bram tidak bisa melihat layarnya.


Bram tampak penasaran dengan apa yang sedang dibuat Nindya. Bram semakin menggeser tubuhnya. Kini dia sambil memeluk pundak Nindya. Sedangkan Nindya semakin menggeser lap topnya dan tangan nya berusaha untuk menutup layar lap top secara pelan pelan.


“Kamu masih melanjutkan kerja ya?” tanya Bram


“Tidak.” Jawab Nindya sambil tersenyum lucu namun penuh misteri


“Kamu tidak boleh kerja lembur untuk materi materi training bapak Bharata.” Ucap Bram sambil berusaha meraih lap top Nindya


“Bolehnya lembur kerja berdua di tempat tidur.” lanjut Bram dengan senyum nakalnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


“Mas Brammmm... aku tuh lagi cari informasi tentang gituan yang aman buat janin... Aku juga pengen hos.. hos...” ucap Nindya sambil menyikut tubuh suaminya.

__ADS_1


“Ya sudah ayo kita hos..hos...” ucap Bram sambil berusaha menutup lap top Nindya


“Sebentar Mas, aku lagi cari informasi. Aku tadi tanya kak Vi, dia pernah pendarahan waktu gituan pas hamilnya Bali, sampai bed rest. Aku ga mau kayak gitu...” ucap Nindya sambil menepis tangan Bram


“Kok bisa sampai pendarahan memangnya pakai gaya apa, apa kak Alvin terlalu bersemangat menengok Bali saat masih dikandung?” tanya Bram


“Mereka itu malah tidak menyadari kalau kak Vi hamil, dikira kak Vi hanya terlambat haid biasa.” Jawab Nindya


“Pengaruh hormon kehamilan kak Vi saat itu katanya juga membuat kak Vi lebih berhasrat.” Ucap Nindya lagi


“Ya sudah kata dokter kan harus hati hati, aku ngikut kamu saja, kamu yang mengira ngira...” ucap Bram sambil menciumi tengkuk istrinya.. Nindyapun tidak kuasa menahan hasratnya. Bram yang menyadari istrinya juga menginginkan lalu menutup lap top Nindya dan menaruhnya di sofa. Terlihat tali bathrobe Nindya terurai dan memperlihatkan tubuh Nindya yang terbungkus baju tidur kurang bahan. Bram tersenyum, lalu sambil mengendong istrinya dia melepas bathrobe di tubuh Nindya. Bram membawa tubuh Nindya ke tempat tidur dan merekapun akan memulai pertarungannya.


Namun tiba tiba terdengar suara dering hape Nindya.


“Hapeku Mas.” Ucap Nindya lirih di antara nafas yang memburu


“Biarin.” Ucap Bram sambil terus melancarkan godaan kepada istrinya agar meneruskan penyerangannya.


“Mas hape.” Ucap Nindya lagi


“Aku saja yang ambil hape.” Ucap Bram lalu melakukan gencatan senjata sebentar untuk mengambil hape Nindya yang tidak tahu diri.


Bram lalu meraih hape Nindya yang berada di sofa. Setelah dilihat ternyata panggilan video dari Victoria.


“Nin, video call kak Vi.” Ucap Bram sambil mengulurkan hape


“Mas Bram saja yang angkat dan duduk di sofa.” Ucap Nindya, dia malu pada kakak iparnya karena memakai baju tidur kurang bahan.


Bram yang masih memakai tshirt lalu duduk di sofa dan menggeser tombol hijau. Setelahnya muncul wajah Bali yang menggemaskan.

__ADS_1


“Lek... bebi.... bebi... Lek...” ucap Bali di layar hape Nindya


“Bali...” ucap Bram


“Bebi.. bebi.. Lek..” ucap Bali lagi


“Bali, bebi Lek belum launching.” Ucap Bram sekenanya. Terdengar suara tawa Victoria di belakang Bali.


“Bram....... dimana Nindya?” tanya Victoria kemudian sekarang di layar hape Nindya muncul wajah Victoria, suara Bali yang menyebut nyebut bebi Lek bebi Lek masih terdengar


“Nindya sudah tidur kak.” Jawab Bram bohong. Dan di tempat tidur sekarang Nindya terlihat meraih selimut dan menutup seluruh tubuhnya hingga batas leher.


“Owh.. tadi dia tanya sesuatu ke aku.. Okey lah.. hati hati ya.. jaga baby baik baik..” ucap Victoria kemudian.. Di seberang sana suara kecil Bali masih terus menyebut nyebut bebi Lek.. bebi Lek..


“Iya kak, terimakasih.” Ucap Bram.. sambil menunggu Victoria menutup sambungan telponnya, namun sepertinya Bali tidak memperbolehkan karena terlihat di layar hape tangan Bali berusaha mengambil hape Victoria sambil menyebut nyebut bebi Lek..bebi Lek... Dan akhirnya Victoria berhasil menutup sambungan telponnya.


Bram terlihat lega, lalu menaruh hape Nindya di sofa lagi dan tidak lupa sudah menonaktifkan lebih dulu. Agar tidak terganggu lagi.


“Pasti dikira Bali sudah ada bayi yang bisa dilihatnya.” Ucap Nindya sambil menatap Bram yang sudah berjalan menuju ke arahnya.


“Iya padahal bayinya masih mau ditengok seniornya.” Ucap Bram sambil membuang selimut yang menutupi tubuh istrinya.


“Sepertinya dia kalau pagi dan sore inginnya jalan jalan dan malamnya ingin ditengokin untuk bermain main..” ucap Bram sambil menciumi perut Nindya.


“Iya bermain hos..hos...” ucap Nindya sambil membelai balai rambut Bram, selanjutnya dia bangkit dari duduknya kemudian membiarkan suaminya yang berbaring. Dan akhirnya merekapun bermain hos hos bersama.


Seperti malam sebelumnya Bram lebih banyak menjadi penikmat dan membiarkan istrinya yang memegang kendali demi menjaga janin yang di dalam kandungan Nindya. Meskipun mereka melakukan dengan hati hati namun mereka berdua mendapatkan kepuasan bersama. Bram lalu mengendong istrinya untuk dibawa ke kamar mandi. Kali ini mereka tidak melanjutkan pertarungan di kamar mandi. Mereka membersihkan diri dan seterusnya melanjutkan istirahat karena besok pagi akan melanjutkan aktifitasnya.


“Besok jangan ngidam aneh aneh ya....” ucap Bram sambil menciumi perut Nindya sedangkan Nindya sudah tertidur pulas.

__ADS_1


“Yang kuat di dalam perut ya nak...besok main main lagi...” ucap Bram lagi masih dengan menciumi dan mengusap usap perut Nindya.


__ADS_2