
Sementara itu di rumah bapak Bharata sejak pagi pun juga sudah terlihat sibuk. Mak menyiapkan segala keperluanmya. Baju baju yang akan dipakai dan dibawa sudah tersetrika rapi, sudah siap di kamar mereka masing masing, tas koper dengan segala perlengkapan keperluan pribadi bapak Bharata dan ibu Murti juga sudah nampak siap, demikian juga untuk Bram.
Tiba tiba bel pintu rumah terdengar..
"Mak, coba kamu lihat mungkin Sisi" ucap Ibu Murti saat berdua dengan Mak yang sedang mengecek barang barang yang akan di bawa
"Baik Bu" jawab Mak lalu melangkah menuju ke pintu depan. Mak membuka pintu benar nampak Sisi di depan pintu dengan banyak paper bag di tangannya dan kardus kardus di dekat kakinya yang berdiri.
"Mbak Sisi, bawa banyak banget? gimana tadi bawanya?" tanya Mak kaget saat melihat banyak paper bag
"Tadi dibantu pak Sopir bawanya ke sini Mak" jawab Sisi
"Sekarang bantuin bawa masuk ya Mak" pinta Sisi. Mak menganggukkan kepala lalu membantu Sisi membawakan paper bag. dan kardus kardus.
"Ini semua pesenan Ibu Murti dan Mas Bram, untuk oleh oleh katanya" ucap Sisi saat mereka berjalan masuk ke ruang tengah. Kemudian semua barang di taruh di ruang keluarga , dan Sisi duduk di sofa. Sementara Mak berjalan ke kamar Ibu Murti untuk memberikan laporan tentang kedatangan Sisi. Tidak lama kemudian ibu Murti berjalan menuju ke ke ruang keluarga.
"Bu, ini pesanan Ibu dan Mas Bram" ucap Sisi saat Ibu Murti sudah sampai di ruang keluarga.
"Bram pesan apa?" tanya Ibu Murti sambil matanya menatap barang barang pesanannya lalu mengecek isinya sambil duduk di sofa
"Bakpia kering" jawab Sisi
"Itu banyak sekali pesanan Bram" ucap Ibu Murti sambil melihat kardus kardus.
"Mas Bram nya dimana Bu?" tanya Sisi
"Di paviliun belakang sama Bapak katanya tadi ngurus kerjaan, coba kamu ke sana" ucap Ibu Murti
"Baik Bu, ini juga sekalian serahkan tiket yang sudah saya cetakkan, e tiket juga sudah saya kirim lewat email" ucap Sisi, lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar rumah menuju ke paviliun belakang.
Di taman nampak pak Man sedang jongkok sibuk mengurus tanaman tidak melihat Sisi sedang berjalan, demikian juga Sisi yang pikirannya fokus menemui Bosnya tidak melihat keberadaan pak Man di antara gerumbulan tanaman.
Tidak lama kemudian Sisi sampai di pintu paviliun yang tidak tertutup, dari pintu nampak Bapak Bharata dan Bram berada di meja kerja di ruangan tersebut.
"Selamat pagi Pak... Mas Bram" sapa Sisi di depan pintu
__ADS_1
"Pagi mbak Sisi" ucap Bram, sedangkan bapak Bharata hanya menoleh pada arah pintu sambil mengangguk dan kembali fokus pada kerjaannya.
"Mas Bram, pesanan Mas Bram sudah saya bawa, itu Ibu tanya kenapa banyak sekali" ucap Sisi setelah masuk ke dalam ruang kerja di pavillion.
"Itu satu kardus kamu kirim saja, nanti aku tanyakan dulu alamatnya" ucap Bram lalu mengambil hapenya.
"Terus saya bawa balik lagi?" tanya Sisi
"Kamu hubungi cargo saja, biar diambil cargo tinggal di kasih alamat dan dititipkan Mak" ucap Bram lalu mengusap usap hapenya untuk menghubungi seseorang. Sedangkan bapak Bharata yang mendengar hanya mengeryitkan dahinya sebentar lalu kembali pada pekerjaannya. Dan terlihat Sisi menunggu perintah selanjutnya dari Bram, sambil menyerahkan tiket yang sudah dicetak kepada Bapak Bharata.
"Hallo" ucap Bram di hapenya
"Itu sudah ada pesenan kakak ipar terus dikirim kemana?" tanya Bram pada orang yang di telpon
"Kamu memang adik ipar yang baik hati" terdengar suara Tedy di balik hape Bram
"Awas kalau kakak ipar tidak memuluskan hajatku, kemauanmu sudah kuturuti itu" ucap Bram pada Tedy
"Beres, nanti aku hubungi papah dan mamah dech agar menyetujui semua mau mu ha...ha..." ucap Tedy diiringi tawanya
"Siapa Bram?" tanya bapak Bharata yang mendengar percakapan Bram dengan telponnya
"Tedy kakaknya Nindya" jawab Bram sambil melihat hape nya yang sudah ada pesan masuk dari Tedy.
"Kamu nyogok?" tanya bapak Bharata
"Usaha Pak, agar urusan lancar" ucap Bram sambil menatap bapak Bharata
"Aku maafkan dalam urusan ini, namun kalau kamu lakukan untuk urusan bisnis tidak ada ampun dariku Bram" ucap Bapak Bharata dengan suara tegas dan menatap Bram dengan serius.
"Baik Pak, itu Ibu juga belikan oleh oleh untuk orang tua Nindya he..he.." ucap Bram
"Ngeyel" ucap Bapak Bharata
"Itu ujud kepedulian dan perhatian bukan nyogok ga pakai ancam ancaman kayak kamu itu" ucap Bapak Bharata kemudian kembali pada pekerjaannya.
__ADS_1
"Iya Pak, maaf" jawab Bram sambil mengangguk hormat pada bapaknya, lalu melihat lagi pada hapenya dan meneruskan pesan yang dikirim Tedy yang berisi alamat kepada Sisi.
"Sudah aku kirim ke mbak Sisi alamat Tedy" ucap Bram kemudian. Terlihat Sisi lalu melihat hapenya.
"Baiklah Pak dan mas Bram saya pamit" ucap Sisi sambil menatap pada bapak Bharata
"Iya Si, kamu setelah ngurus paketan Bram, langsung ke kantor, Arum dan Johan akan ke kantor nanti" ucap Bapak Bharata sambil menatap Sisi yang sudah siap siap akan meninggalkan ruang kerja di pavillion tersebut. Nampak Sisi mengangguk sopan lalu melangkah meninggalkan paviliun tersebut.
*****
Waktu yang ditunggupun tiba, bapak Bharata ibu Murti dan Bram sudah siap akan berangkat ke bandara, mereka bertiga berjalan menuju ke mobil yang sudah berada di depan teras rumah. Semua barang barang sudah ditaruh di dalam mobil yang akan mengantar mereka.
"Hati hati Bu, Pak, Mas Bram" ucap Mak saat mereka bertiga sudah siap masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh pak Sopir.
"Semoga lancar Mas Bram" ucap pak Man yang ikut berdiri di dekat mobil. Terlihat Bram mengangkat ibu jarinya lalu masuk ke dalam mobil, terlihat Bram duduk di depan di samping pak Sopir. Setelah memesan sesuatu pada Mak, ibu Murti juga terlihat masuk ke dalam mobil mengikuti bapak Bharata yang sudah masuk lebih dahulu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang tujuan langsung ke kampus menjemput Nindya. Beberapa menit kemudian mobil telah sampai ke dalam kampus karena bukan mobil dosen maka mobil hanya bisa berparkir di depan gedung kampus fakultas. Bram dengan gesit langsung membuka pintu dan keluar berjalan setengah berlari menuju ke gedung laboratorium dimana Nindya berada.
Saat sudah berada di depan gedung laboratorium nampak Nindya sudah berada di lantai satu dan sedang berjalan keluar gedung. Mereka saling pandang dengan senyum merekah.
"Sini aku bawakan ranselnya" ucap Bram saat mereka sudah berdekatan. Bram lalu melepas ransel yang berada di punggung Nindya.
"Tasnya mas Bram?" tanya Nindya saat Bram melepas ransel dari tubuhnya
"Di mobil, bawanya koper" jawab Bram sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian mereka sudah berada di dekat mobil keluarga Bharata. Bram membuka pintu mobil nampak Ibu Murti berada di jok tengah.
"Bram kamu duduk di belakang sama bapak" ucap Ibu Murti saat melihat Bram melongok melihat isi mobil. Terlihat Bapak Bharata sudah duduk di jok belakang
"Iya biar Nindya duduk di tengah sama Ibu" ucap Bapak Bharata. Bram lalu masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Nindya.
Mobil lalu berjalan menuju ke bandara dengan kecepatan sedang, dan tidak lama kemudian mobil telah sampai di bandara. Mobil masuk ke halaman bandara kemudian berhenti di depan di area mobil yang menurunkan penumpang yang akan berangkat.
Mereka berlima keluar dari dalam mobil, pak sopir dengan sigap langsung menuju ke bagasi mobil dan mengeluarkan isi di dalamnya. Sedangkan Bram dengan membawa ransel Nindya di punggungnya menarik troli yang berada tidak jauh darinya. Sementara itu Nindya kaget melihat banyaknya bawaan mereka.
__ADS_1
"Haduh mereka bawa oleh oleh banyak sekali bagaimana kalau mamah tidak menyiapkan apa apa" gumam Nindya dalam hati kekuatiran mulai menyelimuti hatinya