Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
96. Sesuatu syarat dari Nindya


__ADS_3

Sementara itu di ruang tamu nampak mamah Indah duduk di samping papah Mahendra sedangkan ibu Murti duduk di sebelah bapak Bharata. Dua pasangan suami istri tersebut duduk saling berhadapan. Mereka mengawali perbincangan dengan mengenalkan diri dan keluarga masing, perbincangan mereka nampak hangat dan akrab. Mamah Indah terlihat berbicara sangat hati hati selalu mengingat pesan dari anak gadisnya agar tidak keceplosan dalam bercanda.


Beberapa saat kemudian nampak Bram dan Nindya ikut bergabung duduk dengan mereka setelah menaruh oleh oleh di belakang dan memberikan minum dan kudapan untuk orang tua mereka.


"Wah ini kudapan nya kolaborasi" ucap Mamah Indah saat melihat suguhan di meja adalah oleh oleh dari ibu Murti dan kudapan yang sudah disiapkannya. Semua yang ada di ruang tamu menanggapi dengan senyuman manis kecuali dua anak manusia Bram dan Nindya nampak tersenyum malu.


Namun tiba tiba ada suara deheman dari bapak Bharata.


"Ehm...ehm... " suara deheman bapak Bharata sebagai kode ingin berbicara serius.


"Maaf bapak dan ibu Mahendra, kedatangan saya dan istri ke sini pertama dalam rangka silaturrahmi dan berkenalan kemudian yang kedua kami ingin membicarakan tentang keseriusan hubungan Bram dan Nindya" ucap Bapak Bharata dengan suara tegasnya


"Dan langsung saja pada inti pembicaraan yang ingin saya sampaikan bagaimana kalau hubungan mereka segera kita resmikan, kami melihat mereka saling mencintai" ucap Bapak Bharata kemudian dan terdiam sejenak menunggu respon dari papah Mahendra dan mamah Indah. Terlihat Nindya tertunduk malu tersipu sipu sedangkan Bram nampak tersenyum menatap Nindya.


"Hmmm... kalau saya sih setuju setuju saja, saya juga melihat nak Bram serius sejak awal, dia juga sudah menyelamatkan nyawa Nindya" ucap mamah Indah dengan senyum merekahnya. Mamah Indah sejak kemarin sudah diprovokasi oleh lik Marni dan mbah Karto agar mensegarakan pernikahan Bram dan Nindya.


Terlihat Bram tersenyum puas sebenarnya ia ingin mengepalkan tangannya sambil berkata ..yes.. yes...yes.. . Namun hal itu tidak bisa dilakukan hanya bisa tertahan karena pasti akan mendapat marah dari bapak Bharata dan ibu Murti.


Bapak Bharata dan ibu Murti pun nampak tersenyum saat mendengar ucapan mamah Indah. Tersenyum karena mamah Indah menyetujui untuk segera meresmikan hubungan anaknya dan tersenyum bangga pada Bram anaknya yang mendapat pujian dari calon besannya.


Namun tidak demikian dengan papah Mahendra, terlihat ekspresi wajah papah Mahendra hanya datar datar saja dan cenderung nampak ekspresi wajah papah Mahendra sedang berpikir keras.


"Bukannya begitu Pah?" ucap mamah Indah sambil menatap wajah suaminya


"Terimakasih atas kedatangan bapak dan ibu Bharata, juga Bram. Kami merasa sangat tersanjung dan merasa terhormat karena keluarga kami yang sederhana ini didatangi oleh keluarga Bharata, apalagi dengan maksud yang sangat mulia untuk membahas hal keseriusan hubungan anak kita" ucap papah Mahendra tidak kalah tegas dari suara bapak Bharata.


"Namun tidak mengurangi rasa hormat kami pada maksud baik bapak dan ibu Bharata, mohon ijinkan kami menyelesaikan tanggung jawab kami terlebih dulu untuk menyelesaikan studi anak kami Nindya" ucap papah Mahendra kemudian dengan penuh nada sopan, sambil kedua telapak tangannya menyatu ditaruh di depan dadanya sambil menundukkan kepala dengan sopan, menghadap bapak Bharata, ibu Murti juga pada Bram secara bergantian.


Beberapa saat nampak wajah wajah kecewa berada di ruang tamu tersebut.


"Baiklah Bapak Mahendra saya menghargai sikap dan keputusan Bapak sebagai orang tua Nindya" ucap Bapak Bharata menetralkan suasana.


"Namun bagaimana kalau kita adakan lamaran resmi sebagai kesanggupan pihak perempuan menjadi istri kemudian pertunangan lebih dulu, dan pernikahan resmi nya menunggu Nindya lulus kuliah" ucap Bapak Bharata bernegosiasi.


Terlihat papah Mahendra masih terdiam nampak sedang berpikir pikir, sedangkan yang lain nampak wajah tegang mereka menunggu jawaban papah Mahendra.


"Baiklah tapi nanti menunggu saat Nindya akan melaksanakan KKN, agar kita semua merasa tenang karena saat KKN biasanya cinta seseorang teruji" ucap papah Mahendra dengan tenang.


"Baiklah saya juga setuju, sebagai motivasi juga agar Nindya segera menyelesaikan kuliahnya" ucap bapak Bharata terlihat lega sebab ada hasil kesepakatan yang baik untuk semua.

__ADS_1


"Begitu kan Bu?" tanya bapak Bharata pada ibu Murti sambil menoleh menatap istrinya, nampak ibu Murti menganggukkan kepala dengan anggunnya.


"Bagaimana kalau saya juga mengajukan syarat" ucap Nindya secara tiba tiba, membuat semua kaget dan menatap pada wajah Nindya, penasaran dengan syarat apa yang akan diajukan.


"Kamu mau minta syarat apa Nin?" tanya bapak Bharata


"Syaratnya jangan aneh aneh ya Nin" pinta Bram dengan suara kuatirnya.


"Tadi kan agar Nindya termotivasi untuk lulus kuliah, bagaimana kalau saya mengajukan syarat menikahnya setelah saya lulus kuliah dan mas Bram sudah bisa mengeksport tepung pisang" ucap Nindya dengan suara yang lancar


"Kan memotivasi mas Bram untuk kerja keras" ucap Nindya lagi dengan menatap wajah Bram sambil tersenyum dengan senyuman termanisnya.


"Bapak setuju Nin, dan itu harus dilakukan dengan cara bisnis yang bersih" ucap Bapak Bharata dengan senyum mengembang menatap Bram dan Nindya secara bergantian.


"Begitu lebih bagus kan Bu, aku jadi ingat dulu syarat aku bisa meminangmu kan juga harus berhasil dulu dalam bisnis meskipun kita sudah dijodohkan" ucap Bapak Bharata sambil menoleh menatap ibu Murti, nampak ibu Murti mengangguk dan tersenyum sedikit tersipu malu.


"Saya juga setuju.. ha...ha.. anggap saja yang sekarang ini perjodohan mereka meskipun mereka sudah saling cinta he.. he..." ucap papah Mahendra yang sekarang sudah bisa sedikit rileks


"Baik... Baik.. Baik..." ucap Bapak Bharata sambil mengangguk anggukan kepalanya


"Kamu harus berjuang demi cinta dan obsesi mu Bram anakku tercinta" ucap Bapak Bharata sambil tersenyum senang menatap wajah Bram. Sedangkan Bram hanya diam saja sambil menunduk dan mengusap usap tengkuknya.


Bram lalu bangkit berdiri


"Siap laksanakan" ucap Bram dengan tegas sambil memberi hormat pada Nindya kemudian pada bapak Bharata dan papah Mahendra.


"Ha....ha....ha..." tawa mereka semua


"Baiklah kalau sudah mendapatkan kesepakatan bagaimana kalau sekarang kita makan malam" ucap mamah Indah menghentikan tawa mereka.


"Nin coba kamu lihat sudah siap belum di meja makan" ucap Mamah Indah pada Nindya. Lalu nampak Nindya bangkit berdiri dan berjalan menuju ke ruang makan. Sedangkan yang lain nampak berbincang bincang ringan.


Tidak lama kemudian muncul Nindya dari dalam..


"Sudah Mah" ucap Nindya setelah berada di dalam ruang tamu.


"Monggo Jeng.. bener kan kalau saya panggil Jeng Murti biar akrab, karena usia Jeng Murti lebih muda dari saya" ucap mamah Indah berusaha lebih akrab dengan calon besan.


"Iya mbakyu, tapi setelah memanggil saya jeng jangan langsung memanggil bapak Bharata dengan kang ya.." ucap Ibu Murti

__ADS_1


"Lha kenapa?" tanya mamah Indah serius


"Lha jadinya monggo jengkang, artinya jadi silahkan terjungkal jatuh terlentang nanti" jawab Ibu Murti lalu yang lain tertawa, nampak Nindya tersenyum


"Ooo Ibu Murti bisa bercanda dengan mamah" gumam Nindya dalam hati.


Mereka semua akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruang makan, jamuan santap malam sudah tersaji lengkap disediakan oleh lik Marni dan mbah Karto.


Setelah acara santap malam mereka berbincang bincang sejenak lalu keluarga Bharata pamit untuk istirahat di hotel. Mereka masih menggunakan mobil papah Mahendra, karena mereka semua besuk paginya berencana untuk pergi ke beautiful hill, kecuali lik Marni dan mbah Karto bertugas menjaga rumah keluarga Mahendra.


Papah Mahendra dan mamah Indah nampak tersenyum puas karena merasa acara menyambut kedatangan calon besan berjalan lancar.


Namun nampak Nindya duduk dengan wajah serius tangan sibuk mengetik ngetik di layar hapenya.


"Sedang apa Nin?" tanya mamah Indah yang sudah berganti memakai daster.


"Chattingan dengan kak Tedy, tadi kata mas Bram kak Tedy dihubungi mas Bram ga diangkat, pesan cuma dibaca ga dibalas" jawab Nindya


"Apa Bram kecewa" gumam mamah Indah


♥️♥️♥️♥️♥️


Othor said:


"Aduhhh.. Bram othor moon maap.. pengen nya sih kamu segera menikah, tapi salah sendiri kamu ga kirim bakpia ke othor... coba kalau kirim bakpia yang kulitnya krispi dalam nya keju berasa manis asin yang pas.."


Bram:


"Tor...kenapa ga bilang dari kemarin aku bisa kirim satu truk"


Othor:


"Mau nyuap ya? aku bilangin bapak Bharata kamu"


Bram:


"Sialan othor tukang lapor"


Othor:

__ADS_1


"Sabar Bram... santai aja ... ga lama lagi kok... penuhi syarat Nindya dulu.. dan jaga stamina mu buat malam pertama...ha...ha... kabuuur..🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️"


__ADS_2