Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
108. Permintaan Tedy 2


__ADS_3

Waktu berlalu...., sore menghilang dan malam pun datang. Satu persatu tamu rekan bisnis Om Prabu undur diri. Kini tinggal beberapa orang saja, termasuk Pak Tony masih asyik masyuk berbincang bincang dengan Om Prabu dan salah satu temannya. Demikian juga Tedy terlihat masih serius berbincang bincang dengan satu teman Om Prabu yang lainnya.


Bram sibuk dengan hapenya melakukan chating dengan Nindya tercinta. Namun tiba tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang.


"Bram, asyik sekali kamu dengan hapemu" ucap orang tersebut sambil menepuk salah satu pundak Bram. Bram terlonjak kaget hampir saja hapenya jatuh.


Bram lalu menoleh ke arah suara yang menepuk pundaknya.


"Eh pak Tony, ini sedang kabar kabar dengan calon istri he..he.." jawab Bram sambi meringis malu


"Sudah cepat saja dinikahi" ucap Pak Tony sambil menepuk pundak Bram lagi. Tapi saat ini Bram tidak kaget. Bram hanya menjawab ucapan pak Tony dengan seulas senyuman.


"Yok Bram, aku pamit masih ada janjian nih" ucap pak Tony lagi dan selanjutnya dia melangkah kaki meninggalkan ruang pertemuan.


"Janjian dengan siapa Pak?" tanya Bram namun hanya berani diucapkan di dalam hati.


Dan tidak lama kemudian teman yang lain pun juga undur diri. Bram mengakhiri chatingannya dengan Nindya. Lalu Bram berjalan ke arah Om Prabu.


"Om, sudah selesai acaranya?" tanya Bram sambil menatap Om Prabu yang masih duduk di kursi. Kemudian dia bergantian menatap Tedy yang masih serius berbincang bincang dengan satu teman Om Prabu yang masih tertinggal.


"Sudah" jawab Om Prabu sambil menegak minumannya.


"Bro kamu serius amat?" tanya Bram kepada Tedy. Tedy hanya menjawab dengan mengibaskan tangannya yang diarahkan pada Bram, sebagai kode agar Bram tidak mengganggu.


Namun tidak lama kemudian nampak lawan bicara Tedy tersebut memberikan sehelai kartu namanya kepada Tedy, selanjutnya nampak mereka berdua berjabat tangan sambil saling tersenyum ramah. Dan kemudian seorang tamu yang tertinggal karena tersandera oleh Tedy tersebut mohon diri, pamit pada Om Prabu dan Bram.


Kini tinggal mereka bertiga, dua orang pegawai terlihat datang dan bersiap siap memberesi meja dan ruang pertemuan.


Nampak Om Prabu bangkit berdiri lalu melangkah meninggalkan ruang pertemuan, diikuti oleh Bram dan Tedy yang berjalan tidak jauh dari beliau.


"Bro, karena Devina tidak datang jadi kesepakatan kita batal" bisik Bram pada Tedy saat mereka sudah berada di depan pintu lift.


"Tidak bisa" jawab Tedy dengan suara keras


"Ada apa kalian ini?" tanya Om Prabu pada mereka berdua. Bram dan Tedy hanya diam, lalu mereka bertiga masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai tempat tinggal.


Setelah sampai di depan pintu, Om Prabu membuka pintu selanjutnya mereka bertiga masuk ke dalam dan menuju ke kamarnya masing masing.


"Kakak ipar tidak pulang ke kost?" tanya Bram sambi melepas jas nya

__ADS_1


"Tidak, sebelum permintaanku kamu penuhi" jawab Tedy sambil tersenyum


"Kalau aku mau pulang ke Yogya malam ini gimana" ucap Bram menggoda Tedy, lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi.


"Bro, kamu sudah janji" teriak Tedy di depan pintu kamar mandi. Bram hanya diam saja. Tedy kemudian berjalan menjauh dari pintu kamar mandi dan melepas jas keren pinjamannya .


Tidak lama kemudian Bram keluar dari kamar mandi terlihat tubuhnya sudah segar karena sudah selesai mandi dan sudah berganti baju santai.


"Kakak ipar mau mandi apa mau langsung pulang he..he..?" tanya Bram menggoda.


"Aku sebentar lagi mau ikut makan malam Om Prabu" ucap Bram lalu berjalan keluar dari kamar meninggalkan Tedy. Mau tak mau Tedy berjalan menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Tedy keluar dari kamar mandi, dia sudah selesai mandi dan sudah berganti baju santai. Saat dia sampai di depan pintu dilihatnya Bram sudah berada lagi di kamar sambil rebahan dan mainan hape.


"Katanya mau makan malam dengan Om Prabu kok malah rebahan?" tanya Tedy lalu ikut rebahan di sampingnya.


"Om Prabu sedang video call an dengan Tante Laras" jawab Bram


"Bro, tadi pak Ricard ternyata pecinta seni, dia tertarik jadi donatur pameranku" ucap Tedy sambil tersenyum bahagia


"Wah keren donk" ucap Bram ikut senang


"Iya Bro, aku ingin cepet selesai kuliahku, jangan sampai dua dua nya kesalip Nindya" ucap Tedy selanjtnya


"Lha iya... nanti nikah duluan Nindya lulus kuliah juga duluan dia.. yach kalau jodoh itu misteri tapi kalau lulus kuliah bisa lah aku usahakan he... he..." jawab Tedy sambil terkekeh


"Aku kan sudah berusaha membantu kakak ipar he...he... " ucap Bram. Namun tiba tiba hape nya berdering nampak kontak nama Jecklyn muncul di layar hape


"Ini yang aku maksud muncul kakak ipar, mungkin ini jodohmu" ucap Bram sambil tersenyum. Namun terlihat Tedy langsung bangkit berdiri dari tempat tidur dan pergi menjauh. Bram tertawa melihat tingkah Tedy, setelah habis tawanya Bram menggeser tombol hijau.


"Selamat malam Tuan Bram" ucap Jecklyn mengawal percakapan


"Selamat malam Nona Jecklyn, ada yang bisa saya bantu" ucap Bram dengan sopan


"Maaf kalau Tuan Bram dan Tuan Tedy tidak ada acara malam ini, saya mengundang Tuan tuan untuk makan malam" ucap Jecklyn dengan ramah


"Maaf Nona kalau saya sudah ada acara malam ini, coba saya tanyakan pada Tuan Tedy, nanti nona Jecklyn bisa memghuhungi saya lagi tentang kepastian Tuan Tedy" ucap Bram sambil menahan tawanya


"Baiklah" ucap Jecklyn lalu sambungan telpon terputus. Setelah yakin sambungan telpon terputus Bram tertawa ngakak.


"Huaha...ha...ha...." tawa Bram

__ADS_1


"Gimana Bro, ini ada jodoh di depan mata, disambar enggak?" tanya Bram dengan senyum menggoda Tedy


"Tidak Bro, awas kamu Bram!" ucap Tedy nampak wajahnya berekspresi marah. Tidak lama kemudian hape Bram berdering lagi


"Aku banting hape mu kalau kamu macem macem" ucap Tedy lagi dengan ketus. Nampak Tedy sangat emosi.


Bram nampak mengambil hapenya terlihat kontak nama nona Jecklyn muncul lagi. Bram menggeser tombol hijau


"Bagaimana Tuan?" tanya Jecklyn


"Maaf Nona Jecklyn, tuan Tedy sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirnya" jawab Bram


"Owh.. sungguh memyesal, baiklah mungkin lain waktu saja, Okay terima kasih " ucap Jecklyn lalu menutup sambungan telponnya.


Terlihat Tedy lega dengan jawaban Bram. Lalu kembali mendekat ke tempat Bram berada.


"Sebagai perempuan Jecklyn memang cantik, sexy, menarik secara fisik Bro, sebagai laki laki kita pasti mengakui hal itu" ucap Tedy saat sudah berada di dekat Bram. Bram hanya diam saja..


"Benar tidak?" tanya Tedy pada Bram


"Kamu tidak usah takut jika jawabanmu iya" ucap Tedy selanjutnya


"Iya, tapi bagiku yang paling cantik, sexy dan menarik adalah Nindya seorang" jawab Bram sambil tersenyum


"Nah itu, aku juga seperti itu, ada perempuan lain yang menarik buatku dan itu bukan Jecklyn" ucap Tedy serius


"Siapakah dia, perempuan malang itu?" tanya Bram penuh kepo


"Sialan kamu bilang malang, dia itu perempuan beruntung dikagumi seorang Tedy" ucap Tedy sambil menimpuk wajah Bram dengan sebuah bantal.


"Iya iya.. Siapa dia" ucap Bram sambil menjauhkan bantal dari wajahnya


"Nah Bro kalau kamu ingin tahu ini ada sangkut pautnya dengan kesepakatan kita tadi" ucap Tedy selanjutnya sambil tersenyum.


Namun tiba tiba pintu kamar mereka terdengar suara ketukan.


*****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2