Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
84. Mengantar Sisi periksa


__ADS_3

Bram langsung mengambil uang dari dompetnya 2 lembar uang seratusan ribu. Lalu menyuruh petugas hotel membawa dua kelapa hijau sebagai penawar.


Mereka berdua berjalan cepat menuju ke ruang vip. Nampak Jecklyn dan Sisi masih tertawa terbahak bahak sampai keluar air matanya. Beberapa petugas hotel dan pak Sopir masih menjaga di ruang tersebut. Diantara mereka ada yang ikut tertawa, ada yang hanya tersenyum senyum.


Petugas hotel yang membawa kelapa hijau lalu datang mendekat ke meja dan menaruh dua kelapa hijau yang sudah dibuka di bagian atasnya dan di beri sedotan. Petugas hotel menyuruh Sisi dan Jecklyn meminum air kelapa tersebut. Namun kedua perempuan itu tidak merespon dan hanya bisa tertawa.


"Pak ditaruh gelas saja apa ya, terus dipaksa" ucap Bram mendekat pada petugas hotel


"O iya Tuan" jawab petugas hotel. Tidak berapa lama petugas hotel sudah menaruh air kelapa hijau pada dua buah gelas yang bersih. Lalu mereka memaksa kedua perempuan tersebut untuk meminum air kelapa tersebut. Dengan susah payah mereka memaksakan agar air kelapa masuk sempurna ke dalam lambung dua perempuan tersebut. Setelah sudah masuk ke lambung ke dua perempuan tersebut, beberapa menit kemudian nampak kedua perempuan tersebut terdiam sudah tidak tertawa tertawa lagi.


"Haus" ucap mereka berdua secara bersamaan


"Pak ambilkan air mineral" ucap Bram sekarang dia berani duduk di kursinya lagi.


Tidak lama kemudian petugas hotel menyerahkan air mineral pada Sisi dan Jecklyn, mereka meminum semua hingga tandas.


"Mbak Sisi" ucap Bram. Sisi menatap Bram.


"Masih haus?" tanya Bram lagi


"Sudah cukup" ucap Sisi, Bram yang mendengar lega karena Sisi sudah normal


"Nona Jecklyn" ucap Bram


"Ya, maaf" ucap Jecklyn. Bram yang mendengar Jecklyn sudah normal dia juga lega. Terlihat beberapa pegawai hotel sudah keluar ruangan tersebut karena tamunya sudah normal.


"Karena sudah malam kami pamit" ucap Bram. Jecklyn menjawab dengan menganggukkan kepala.


Bram, Sisi dan pak Sopir kemudian berjalan meninggalkan ruangan dan berjalan menuju ke mobilnya. Sedangkan Jecklyn nampak masih terduduk menunduk dengan memegang kepalanya dengan kedua tangannya yang tertumpu pada siku di atas meja.


Mobil yang membawa Sisi dan Bram sudah meninggalkan lokasi hotel


"Pak, mampir ke dokter Willy dulu" ucap Bram setelah mobil sudah berjalan beberapa meter dari hotel


"Ya Mas" jawab pak Sopir


"Siapa yang sakit?" tanya Sisi

__ADS_1


"Tidak ada yang sakit, hanya memeriksakan mbak Sisi, memastikan kondisi kesehatan mbak Sisi" jawab Bram.


"Saya sehat mas, saya sadar cuma tadi itu rasanya bibir tertarik sendiri untuk tersenyum kemudian tertawa entah menertawakan apa" ucap Sisi


"Iya biar nanti pak dokter yang periksa, takutnya yang masuk obat berbahaya" ucap Bram.


Beberapa menit kemudian mobil sampai di depan rumah dokter Willy, setelah pintu pagar dibuka oleh satpam mobil masuk ke dalam halaman, lalu berhenti di depan ruang prakteknya. Nampak Sisi dan Bram keluar dari mobil. Bram dan Sisi masuk ke dalam ruang praktek menuju ke tempat petugas


"Mas Bram, mbak Sisi siapa yang sakit?" tanya suster petugas pendaftaran pasien yang sudah kenal dengan Bram dan Sisi. Karena dokter Willy adalah dokter langganan keluarga Bharata dan karyawan Bharata Group.


"Tidak ada yang sakit hanya periksa kesehatan mbak Sisi" jawab Bram, membuat suster petugas sedikit kaget dan curiga menduga duga Bram dan Sisi ada hubungan pribadi


"Ehm baik Mas, tunggu sebentar sedang ada pasien di dalam" ucap suster petugas. Bram dan Sisi lalu duduk di kursi tunggu. Suster petugas nampak mencuri curi pandang melihat mereka berdua.


Namun tiba tiba hape khusus Bram berdering. Bram langsung mengambil hape nya dari saku kemejanya, panggilan video dari Nindya. Aduh kalau dijawab pasti salah paham tidak dijawab juga salah paham. Bram berjalan keluar dari ruang praktek menuju ke halaman lalu menggeser tombol hijau


"Hallo" jawab Bram


"Mas Bram dimana, masih di hotel?" tanya Nindya


"Sudah pulang dari hotel Tapi sekarang di pak dokter Willy" jawab Bram


"Mbak Sisi" jawab Bram


"Sakit apa?" tanya Nindya


"Ga tahu, belum diperiksa. Masih nunggu antrian" jawab Bram


"Kamu sudah makan belum?" tanya Bram


"Sudah, ya sudah kututup ya Mas" ucap Nindya lalu menutup sambungan telponnya. Bram menaruh lagi hape nya ke dalam saku, lalu berjalan kembali menuju tempat duduknya. Suster petugas yang menajamkan pendengarannya agar mendengar percakapan Bram di telpon semakin menatap curiga pada Bram dan Sisi.


Tidak berapa lama, pintu ruang periksa Pak Dokter sudah terbuka pasien yang di dalam sudah keluar. Suster petugas nampak masuk ke dalam ruang periksa dokter dan menyampaikan Bram dan Sisi menunggu. Tidak berapa lama Suster keluar dan menyuruh Bram dan Sisi masuk.


"Ayo mbak" ajak Bram nampak Sisi bangkit berdiri dengan malas. Suster masih mencuri curi pandang, tingkah Sisi yang nampak malas diperiksa membuat Suster penjaga kepo.


Akhirnya Bram dan Sisi masuk ke dalam ruang periksa. Suster penjaga yang kepo, berdiri di balik pintu yang tertutup. Dia menempelkan telinganya di daun pintu.

__ADS_1


Namun tiba tiba ... gubrak...


"Aduh" teriak Suster penjaga sambil memgusap usap telinganya yang panas karena terbentur daun pintu, karena pintu dibuka oleh pak Dokter Willy


"Kenapa Suster?" tanya dokter Willy


"Ehm anu dok saya mau mengetuk pintu, tapi pintu sudah terbuka" jawab Suster bohong sambil mengusap usap jarinya yang tidak sakit padahal yang sakit telinganya


"Ooo.. tolong ambilkan tempat sample urin di dalam habis" ucap dokter Willy lalu kembali masuk ke dalam ruangannya.


Suster penjaga lalu berjalan menuju ke lemari tempat peralatan medis.


"Ooohhh mau periksa urin, apa bener perkiraanku ya" ucap Suster pada dirinya sendiri.


Suster lalu berjalan menuju ke ruang praktek untuk memberikan tempat sample urin.


Bebepa menit kemudian dokter Willy, Bram dan Sisi keluar dari ruang praktek. Bram dan Sisi merupakan pasien terakhir.


Dokter Willy mengantar sampai di pintu depan ruang praktek. Suster petugas duduk di tempat nya tapi tidak lupa menajamkan pendengaran meskipun dia terlihat sibuk membereskan mejanya.


"Jadi mbak Sisi sehat kondisinya ya Dok?" tanya Bram memastikan


"Iya, semoga hasil lab urine negatif" jawab Dokter, sebab tadi di dalam ruang periksa Bram menyampaikan kekuatirannya kalau minumannya dicampur narkoba. Suster penjaga yang mendengar jawaban pak Dokter semakin yakin pada kecurigaannya.


Tidak lama kemudian mobil sudah berada di depan mereka, setelah menyampaikan terimakasih dan pamit Bram dan Sisi masuk ke dalam mobil.


Mobil berjalan keluar dari halaman rumah pak dokter.


"Kita kemana dulu Mas?" tanya pak Sopir


"Ngantar mbak Sisi dulu Pak" jawab Bram. Mobil melaju menuju ke rumah Sisi. Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di depan rumah Sisi, setelah Sisi turun, mobil kembali melaju untuk mengantar Bram pulang. Namun saat mobil akan membelok ke arah jalan pulang.


"Pak, antar saya ke kampus" ucap Bram sebelum mobil membelok menuju ke arah jalan ke rumah bapak Bharata.


"Baik Mas" ucap pak Sopir


"Tapi Mas, malam malam kok ke kampus?" tanya pak Sopir

__ADS_1


"Saya capek Pak, pengen mendinginkan otak" jawab Bram


"Mas Bram ini aneh, anak anak muda yang lain kalau capek hiburan malam malam pergi ke club mas Bram malah ke kampus" ucap pak Sopir sambil geleng geleng kepala


__ADS_2