
Nenek dan ibunya Lilian sudah menghilang dari ruang tamu mereka berdua sudah berada di dalam kamarnya.
“Nin ke kamar yok, aku capek” ucap Lilian yang langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Terlihat Nindya menatap ke samping ke arah Bram, dan Bram yang merasa ditoleh oleh Nindya spontan menoleh ke arah Nindya.
“Sana temeni Lilian, kami kaum laki laki paling masih mau ngobrol ngobrol “ ucap Bram sambil menepuk pundak Nindya dengan pelan
“Iya mbak Nin, nanti kalau kami butuh kopi Rangga yang buatkan" saut Rangga sambil menatap Nindya. Nindya lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar Lilian, saat melewati ruang keluarga terlihat Astri dan Mak sedang asyik menonton TV.
Sesampai di kamar Lilian tampak Lilian sudah merebahkan badannya di tempat tidur.
“Nin, kok jadi rumit begini" ucap Lilian sambil menatap langit langit kamarnya.
“Rumit bagaimana sih, kalau menurutku malah lancar ide ku memang top markotop” ucap Nindya sambil ikut merebahkan tubuhnya di samping Lilian dengan penuh kelegaan
“Keluargaku jadi mengira aku pacaran beneran dengan kak Tedy, dan mereka pasti berharap banyak” ucap Lilian lagi
“Berarti sukses kan" ucap Nindya sambil memiringkan tubuhnya menatap wajah Lilian
“Kan kesepakatan hanya pura pura" jawab Lilian
“Hanya kamu Li, yang pura pura, yang lain serius. Sekarang permasalahan justru ada pada dirimu sendiri” ucap Nindya dengan nada serius
“Mamah sudah cerita ke aku tentang masa lalumu. Tolong maafkan mamahku, bukan beliau yang ember tidak bisa memegang rahasia, tetapi aku yang mendesak beliau untuk bercerita" ucap Nindya selanjutnya
“Tidak apa apa Nin" ucap Lilian
“Mas Bram ga cerita ke kamu?” tanya Lilian kemudian
“Tidak, Mas Bram menghargai rahasiamu, meskipun dengan aku calon istrinya. Dia ingin kamu sendiri yang omong" jawab Nindya
__ADS_1
“Aku sebenarnya ingin cerita ke kamu Nin, tetapi saat ingin cerita dada dan leherku terasa sakit, belum cerita mata sudah rasanya penuh air" ucap Lilian dengan pelan. Nindya lalu mengusap ngusap pundak Lilian untuk memberi ketenangan.
“Yang lalu biar berlalu Li, kamu harus mengiklaskan kepergian Adit semoga almarhum bahagia di sana. Kalau kamu selalu sedih juga malah kasihan rohnya” ucap Nindya memberi penghiburan pada Lilian
“Tentang orang tua Adit anggap aja saat itu mereka sedang shock kehilangan anaknya, ikhlaskan juga saat itu kamu dituduh, pasti lama lama mereka juga akan menyadari kalau semua adalah takdir" ucap Nindya lagi
“Iya Nin, tapi aku sayang banget sama Adit, kasihan dia kalau aku sama lelaki lain" ucap Lilian sambil mengusap air matanya yang sudah meleleh. .
“Aku juga tidak tega bila aku mau pacaran beneran dengan kak Tedy tapi sebagian ruang hatiku masih terisi oleh Adit" ucap Lilian lagi
“Aduh Li... Aku sampe bingung harus gimana” ucap Nindya nampak frustasi
“Kalau kamu tidak mencoba mengisi ruang hatimu dengan yang lain ya akan terisi oleh Adit terus Li. Tetapi dia kan sudah meninggal Li" ucap Nindya lagi sambil menatap serius Lilian
“Maaf ya Li, hubunganmu sudah sejauh mana sih sampai susah banget move on, kamu sudah gituan?” tanya Nindya
“Gituan apa sih, enak aja kamu itu, aku masih bisa menjaga kehormatanku ya, Adit itu baik banget Li, susah mencari penggantinya" jawab Lilian
Sebenarnya Nindya mau bilang Adit ngasih boneka sedangkan kakaknya Tedy memberi kalung dan liontin berlian biru, tapi Nindya tidak tega dan tidak sampai hati sebab dia tahu kadang ada orang yang melihat suatu pemberian tidak dari harganya. Kalau dia bilang begitu Nindya kuatir kalau Lilian tersinggung atau ngambek kalung dsn liontin dikembalikan malah berantakan rencana yang sudah hampir berhasil.
“Maksudku mungkin kak Tedy lebih baik dari Adit dan lebih baik dari yang lain" ucap Nindya lagi dengan tersenyum
“Huehe...he...he... Aku jadi kayak promosikan kak Tedy, tapi itu yang kamu minta dulu kan, aku promosikan kakakku" ucap Nindya selanjutnya
“Li.....” ucap Nindya kemudian nampak Lilian mendongak menatap Nindya
“Apa kamu belum bisa mengiklaskan Adit, kadang memang mulut bisa berkata iklas tetapi hati berkata lain?” tanya Nindya sambil membelai rambut Lilian, terlihat Lilian kemudian menangis sesengukan.
“Maaf ya Li, kamu harus bisa mengiklaskan, dan coba kamu isi ruang hatimu dengan yang lain. Kamu tidak harus melupakan semua kenangan dengannya, bila itu merupakan hal hal yang manis yang mengisi masa remajamu. Tetapi kamu juga harus ingat kamu sekarang di masa kini jangan hanya larut pada masa lalumu. Kamu juga harus memikirkan masa depanmu” ucap Nindya sambil mengusap usap pundak Lilian
“Apa kak Tedy sabar menunggu sampai ruang hatiku tidak terisi nama Adit?” tanya Lilian sambil menatap Nindya dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
“Aku tahu sifat kak Tedy meskipun dia suka bercanda tapi dia tidak suka main main dengan cewek, aku yakin dia sabar menunggu mu, kenapa kamu masih meragukan kalung dan liontin yang bagus saja sudah diserahkan ke kamu enggak ke Mamahnya atau ke adiknya" jawab Nindya
“Tapi kamu harus mulai memasukkan nama kak Tedy ke ruang hatimu agar pelan pelan hanya nama Tedy yang mengisi ruang hatimu" ucap Nindya kemudian sambil tersenyum
“Apa kamu mau Nin ngantar aku ke makam Adit?” tanya Lilian sambil menatap Nindya dengan serius
“Aku siap membantu kamu Li, kak Tedy juga bersedia membantu kamu dengan seluruh jiwa raganya, mosok masih kamu ragukan" jawab Nindya
“Dimana makamnya?” tanya Nindya
“Tidak di luar kota kan?” tanya Nindya lagi
“Tidak Mas Bram tahu tempatnya, dia dulu sering menemani aku ke makam Adit. Kami lama tidak ke sana karena terakhir ke makam ketemu orang tua Adit mereka masih marah marah ke aku" jawab Lilian.
“Baiklah, sekarang kamu istirahat ya... Aku keluar sebentar menemui Mas Bram" ucap Nindya lalu bangkit berdiri.
Nindya lalu berjalan keluar dari kamar Lilian dan selanjutnya melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu terlihat kaum lelaki masih setia duduk di kursinya dan nampak di meja ada empat gelas kopi yang sudah akan habis isinya. Saat Nindya memasuki ruang tamu terlihat mereka semua menoleh ke arah sosok Nindya. Apalagi Bram terlihat ekspresi wajah kaget Bram saat melihat Nindya.
“Belum tidur Nin?” tanya Bram
“Ada masalah apa tidak bisa tidur, sini ...sini....” ucap Bram kemudian sambil melambaikan tangannya agar Nindya mendekati. Padahal tidak usah disuruh mendekat memang tujuan nya mau menemui mas Bram nya. Nindya terus berjalan mendekati Bram.
“Mas,mau omong penting, yuk di ruang keluarga saja" bisik Nindya yang berada di belakang kursi tempat duduk Bram, dan Nindya kemudian berjalan menuju ke ruang keluarga. Bram lalu bangkit berdiri.
“Apaan sih mau kemana?” tanya Tedy
“Ke ruang keluarga entahlah Nindya, mungkin mau minta sun bobok he..he...” jawab Bram sambil terkekeh
“Enggak bisa Mas, Terlihat dari sini kena sensor” saut Rangga, sebab dari tempat duduk Rangga ruang keluarga bisa jelas terlihat.
Tapi Bram terus berlalu menyusul Nindya yang sudah duduk di karpet di depan TV ruang keluarga. Mak dan Astri yang tadi masih asyik menonton TV sudah digeser oleh Nindya agar mereka berdua segera masuk kamar dan tidur. Bram lalu ikut duduk di karpet di samping Nindya.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Bram sambil memainkan remot TV mencari cari chanel yang acaranya menarik baginya namun sepertinya tidak mendapatkan karena sejak tadi hanya pencet pencet dan akhirnya TV dimatikan. Dan Nindya menceritakan keinginanan Lilian yang akan ziarah ke makam Adit. Terlihat Bram menyanggupi kemudian menghubungi pak sopir agar lebih bagi datang ke rumah Lilian.