Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
69. Kelulusan Bram 1


__ADS_3

Detik berganti detik, menit berganti menit, hari berganti hari, bulan berganti bulan ... waktu terus bergulir... Saatnya hari kelulusan Bram tiba, keluarga Bharata menyambut hari wisuda anak lelakinya dengan hati bahagia. Segala yang dibutuhkan untuk acara wisuda sudah disiapkan, pesan makanan untuk syukuran, beli kain untuk baju seragam keluarga, dan lain lainnya.


Bram melangkahkan kaki keluar rumah dengan membawa satu paper bag berisi kain seragam untuk Nindya. Di taman depan nampak pak Man sedang merawat tanaman


"Selamat pagi pak Man" sapa Bram dengan senyum merekahnya.


"Selamat pagi mas, pagi pagi kok sudah rapi pasti sudah kangen kost nya he...he..." ucap pak Man sambil tertawa terkekeh menggoda


"Ha...Ha... yang dikangeni yang berada di depan kost Pak" jawab Bram


"Mau nganter ini Pak, baju seragam" ucap Bram kemudian sambil menunjukkan paper bag yang dipegang


"Seragam apa Mas Bram, apa Mas Bram sudah mau nikah?" tanya pak Man dengan wajah sedikit kaget sebab yang diketahui baju seragam sekolah dan seragam mantenan


"Belum Pak, seragam untuk acara wisuda Pak" jawab Bram


"Ooo kapan Mas Bram mau wisuda, saya dapat seragam tidak mas?" tanya pak Man


"Dua minggu lagi" jawab Bram


"Apa pak Man mau ikut datang ke kampus juga?" tanya Bram


"Waduh kalau datang ke kampus ditest tidak Mas, ketemu dosen ga?" tanya pak Man takut


"Ya tidak ada test Pak, emang pak Man mau kuliah kok minta di test he..he... kalau ketemu dosen ya hanya lewat atau dari jauh mereka tidak ngurus pak Man, pak Man kalau ikut datang wisuda ya hanya kumpul kumpul dengan keluarga di luar gedung" ucap Bram


"Foto foto Pak dan lihat orang orang wisuda" ucap Bram kemudian


"Kalau begitu ikut mas, pengen lihat kampusnya mas Bram" jawab pak Man


"Tapi tidak bisa masuk gedung ya Mas?" tanya pak Man kemudian


"Tidak Pak, yang di gedung pusat hanya untuk undangan dua orang, yang di gedung fakultas hanya untuk empat orang" jawab Bram memberi penjelasan


"Terus saya di luar gedung dengan siapa, nanti saya kayak orang hilang kalau diculik gimana?" tanya pak Man memelas


"Haa...Ha... siapa yang akan menculik pak Man" tawa Bram pecah mendengar ucapan dan mimik wajah pak Man


"E... siapa tahu" gumam pak Man dengan wajah malu

__ADS_1


"Nanti kalau di gedung pusat kan hanya bapak dan ibu yang masuk, pak Man bisa dengan Arum, Nindya, Johan, Lilian" jawab Bram


"Nanti di fakultas pak Man bisa dengan Lilian, Johan dan ada banyak teman Bram yang pak Man kenal" ucap Bram kemudian


"Mak ikut tidak Mas?" tanya Pak Man kemudian


"Belum tahu Pak, coba pak Man masuk sana tanya Mak mau ikut tidak, aku ambil motor dulu" ucap Bram lalu berjalan menuju garasi dimana motornya diparkir.


Pak Man terlihat berjalan setengah berlari menuju ke dalam rumah, dia terus berjalan masuk ke dalam rumah mencari dimana Mak berada.


"Mak...Mak..." ucap pak Man sedikit berteriak saat melihat Mak berada di dapur


"Apa tho Pak kok teriak teriak?" ucap Mak sambil menoleh ke arah Pak Man


"Mak mau ikut datang ke wisuda mas Bram tidak?" tanya pak Man dengan senyum mengembang


"Memang boleh ikut?" tanya Mak


"Boleh Mak" jawab Pak Man


"Tapi aku takut Pak, minder.. Nanti yang di sana penggede penggede" ucap Mak dengan mimik wajah sendu


"Enggak di test Mak, mereka para penggede enggak ngurus kita kata mas Bram" ucap pak Man


"Bener begitu, kalau begitu aku juga ikut Pak, pengen foto foto di kampus, kapan lagi bisa begitu" ucap Mak dengan senyum mengembang


"Yo wis, aku bilang ke mas Bram, keburu dia pergi" ucap pak Man lalu meninggalkan Mak, dan berjalan dengan cepat menuju ke tempat Bram berada.


Setelah keluar dari dalam rumah pak Man melihat Bram sudah di atas motornya menunggu di dekat pintu pagar rumah. Terlihat pak Man berlari menghampirinya.


"Mas...Mas..." teriaknya dengan sedikit nafas terenggeh enggeh


"Ga usah lari lari Pak, aku tunggu kok" ucap Bram


"Ikut mas, Mak juga ikut... seneng saya ada temen nya" ucap pak Man setelah mendekat pada Bram


"Ya sudah, aku ke tempat Nindya dulu" pamit Bram lalu terlihat pak Man membukakan pintu pagar, dan Bram melajukan motornya menuju ke kost Nindya.


Beberapa menit kemudian motor sudah sampai di kost Nindya, Bram langsung berjalan menuju ke kamar Nindya setelah memarkir motornya.

__ADS_1


Tok...Tok. Tok... Bram mengetuk pintu kamar Nindya yang tertutup. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Nindya keluar dari kamar kemudian mereka berdua duduk di kursi teras.


"Nin, ini seragam buat acara wisudaku besuk" ucap Bram mengulurkan tangan memberikan paper bag


"Pakai seragam ya Mas?" tanya Nindya sambil mengintip isi di dalam paper bag


"Iya, ini kain bahan buat kamu sama dengan Ibu dan Arum" jawab Bram


"Kamu bisa jahitkan di penjahit langganan Ibu Murti kalau kamu mau atau kalau kamu punya penjahit sendiri ya ga apa apa" ucap Bram selanjutnya


"Ga punya mas, biasanya beli jadi" ucap Nindya


"Ya sudah kuantar sekarang apa?" tanya Bram


"Lilian dapat seragam ga Mas?" tanya Nindya


"Nah ini aku yang bingung, ibu Murti hanya kasih buat kamu, kamu kembaran sama ibu dan Arum, terus Johan sama Bapak. E.. tadi pak Man juga minta seragam, terus sekarang juga kepikiran Lilian" ucap Bram


"Kita belikan motif sama beda warna atau yang mirip mirip gimana?" usul Nindya


"Aku tanya Ibu dulu ya, takutnya beliau tidak berkenan" ucap Bram


"Betul.. Betul...Betul..." ucap Nindya.


Lalu terlihat Bram mengambil hapenya dan terlihat mengetik pesan text untuk Ibu Murti. Tidak lama kemudian Bram sudah mendapat balasannya.


"Gimana Mas?" tanya Nindya


"Kita ke toko kain, cari yang buat Lilian motif sama warna beda. Untuk Pak Man dan Mak, ibu Murti yang akan membelikan" ucap Bram


"Aku tanya Lilian dia mau warna apa ya mas" ucap Nindya


"Iya" jawab Bram. Lalu terlihat Nindya berjalan menuju ke kamar Lilian sambil membawa paper bag nya.


Tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan senyum di bibirnya


"Gimana sudah?" tanya Bram


"Sudah" jawab Nindya

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita jalan, kamu sudah siap kan?" tanya Bram


"Sudah, aku ambil jaket dan tas dulu" ucap Nindya lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil kelengkapannya. Tidak lama kemudian mereka melaju menuju toko kain langganan keluarga Bharata


__ADS_2