
Seorang wanita setengah baya tersebut mengenakan kacamata hitam dan berkerudung hitam, tampak tangannya membawa satu buah keranjang kecil kalau dilihat dari wujud keranjangnya, sudah bisa dipastikan itu isinya bunga tabur. Dia terus berjalan menuju ke tempat Bram dan rombongannya.
“Mamahnya Adit" ucap Lilian dengan suara sangat pelan dan bergetar. Tangannya spontan memegang lengan bawah Tedy yang berdiri di sampingnya, seperti meminta suatu kekuatan. Tedy merasakan telapak tangan Lilian yang sangat dingin. Tedy lalu memegang erat telapak tangan Lilian untuk memberi kekuatan.
Sedangkan Bram yang juga melihat kehadiran Mamahnya Adit langsung menoleh ke arah Lilian.
“Tenang" ucap pelan Bram, mulut Bram bisa mengatakan tenang, tetapi ekspresi wajah Bram juga tampak sedikit kuatir, dia teringat saat Lilian pingsan karena mendapat marah dari mamahnya Adit.
“Bro jaga Lilian" ucap Bram kemudian.
“Mamahnya mas Adit" bisik Mak di telinga Nindya, dia juga berjalan mendekat ke arah Nindya dan Bram berada setelah melihat kedatangan Mamahnya Adit. Terlihat Nindya juga kuatir dia menoleh menatap Bram dan Lilian secara bergantian.
Wanita setengah baya tersebut terus berjalan mendekat pada Bram dan rombongan yang berjalan pelan pelan meninggalkan makam Adit. Tampak Lilian berjalan dengan menundukkan kepala sedangkan tangannya memegang erat tangan Tedy.
“BBrammmmmm" teriak wanita tersebut saat sudah berada di jarak yang dekat
“Bram ya?” ucapnya kemudian dan Bram mengangguk pelan.
“Brammm.... tante kangen" ucapnya sambil mempercepat langkah kakinya mendekati Bram
“Tante...” ucap Bram saat Mamahnya Adit sudah berada di dekatnya
“Apa kabar Tan?” tanya Bram sambil mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Mamahnya Adit saat mereka sudah saling berhadapan
“Seperti beginilah" jawab Mamahnya Adit sambil menerima jabatan tangan Bram, dan terlihat Bram mencium tangan Mamahnya Adit. Namun tiba tiba Mamahnya Adit menangis dan memeluk Bram. Bram lalu tangannya terlihat mengusap usap punggung Mamahnya Adit. Bram melihat Mamahnya Adit lebih kurus dia juga bisa merasakan ada tulang yang menonjol saat mengusap usap punggungnya.
Mamahnya Adit lalu melepas pelukannya, dia lalu membuka kacamatanya untuk mengusap air matanya. Terlihat cekungan di sekitar matanya.
“Bram tolong Tante" ucapnya kemudian
“Ada apa Tante?” tanya Bram
“Papahnya Adit sedang di rumah sakit, dia selalu memanggil manggil nama Adit, maka Tante ke sini. Mungkin papahnya Adit kangen dengan Adit" ucap Mamahnya Adit sambil terisak
“Tante merasakan saat ketemu kamu seperti kangen Tante terobati" ucap Mamahnya Adit lalu menoleh ke arah orang orang di sekitar Bram.
“Owh kenalkan Tante, ini Nindya calon istri saya" ucap Bram saat menyadari Mamahnya Adit menoleh noleh menatapi orang orang di sekitarnya. Mamahnya Adit lalu menjabat tangan Nindya sambil berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
“Dan itu calon kakak ipar saya" ucap Bram kemudian sambil wajahnya menoleh ke arah Tedy
“Li....”ucap Mamahnya Adit saat menoleh ke arah Tedy tetapi perhatiannya justru pada sosok Lilian yang berada di samping Tedy. Telapak tangan Lilian yang dipanggil semakin terasa dingin, dan tentu saja Tedy semakin mengeratkan genggamnya. Sambil mengajak Lilian untuk berjalan mendekat pada mamahnya Adit.
“Saya Tedy” ucap Tedy sambil mengulurkan tangannya. Mamahnya Adit menerima uluran tangan Tedy dan mereka berjabat tangan sebentar. Namun tiba tiba Mamahnya Adit menghambur memeluk Lilian.
“Li... maafin Tante ya... ayo Li kita ke rumah sakit, tengok papahnya Adit ya... tolong.. Li....” ucap Mamahnya Adit sambil memeluk Lilian dan dengan suara dan isakan tangis yang bergantian.
“Iya Tan" jawab Lilian pelan yang sekarang tangannya sudah terlepas dari genggaman tangan Tedy tetapi sudah berubah memeluk tubuh Mamahnya Adit.
“Ya sudah, Tante berdoa sebentar di makam Adit, kalian tunggu ya" ucap Mamahnya Adit sambil mengurai pelukannya
“Tante tadi ke sini pakai apa?” tanya Bram
“Taxi on line” jawab Mamahnya Adit
“Kalau Tante mau, bisa satu mobil dengan kami” ucap Bram menawarkan tumpangan
“Nanti Mak, duduk di belakang bertiga dengan aku dan Nindya ya" ucap Bram kemudian sambil menoleh menatap Mak, dan Mak nampak menganggukkan kepalanya.
Sedangkan Bram terlihat mengambil hapenya lalu mengusap usap dan memencet mencet, untuk memberikan kabar kepada Bapak Bharata akan terlambat menuju kantor karena harus menengok papahnya Adit di rumah sakit.
Tidak lama kemudian Mamahnya Adit sudah selesai berdoa setelahnya dia bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke arah Bram dan rombongannya.
“Sudah Tan ?” tanya Bram basa basi. Terlihat Mamahnya Adit mennganggukan kepalanya.
“Mari Tan, kita jalan mobil yang parkir di depan itu" ucap Bram sambil memberikan ibu jarinya sebagai kode mempersilahkan Mamahnya Adit berjalan di depan. Sedangkan pak Sopir sudah berjalan setengah berlari menuju mobil, dan kemudian dia sudah membukakan semua pintu mobil.
“Tante duduk di depan ya" ucap Bram dengan sopan saat mereka sudah sampai di dekat mobil.
“Terimakasih Bram, terimakasih Li, terimakasih semua...” ucap Mamahnya Adit lalu masuk ke dalam mobil. Mak juga terlihat langsung masuk ke dalam mobil dan mengambil tempat duduk di jok belakang di pojok dekat salah satu jendela.
“Mbak Nindya di tengah ya" ucap Mak saat Nindya sudah menyusulnya.
“Mak yang di tengah aja" ucap Nindya
“Wah ga nyaman mbak pantat Mak besar ha...ha... lagian biar mbak Nindya dan mas Bram tambah mesra kalau dekat dekat" ucap Mak.. yang selanjutnya Bram sudah ikut duduk di jok belakang. Dia belum bisa bercanda pikirannya sedang sibuk memikirkan ada apa dengan orang tua Adit.
__ADS_1
Mobil lalu berjalan setelah semua sudah masuk ke dalamnya. Pak Sopir sudah mendapatkan informasi dari mamahnya Adit, rumah sakit mana tempat papahnya Adit dirawat. Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah sakit. Setelah berhenti di tempat parkir. Semua turun dari mobil dan berjalan mengikuti langkah kaki Mamahnya Adit.
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di depan kamar rawat papahnya Adit.
“Siapa yang nunggu Tan?” tanya Bram saat Mamahnya Adit mengetuk pintu kamar rawat. Karena Bram tahu Adit anak tunggal mereka.
“Perawat Bram, tadi Tante ijin ke makam sebentar sebab papahnya Adit mengingau terus panggil panggil Adit” jawab Mamahnya Adit
“Bagaimana kabar Ardian. Tan?” tanya Bram saat mengingat Ardian sodara sepupu Adit. Namun sebelum Mamahnya Adit menjawab pintu sudah terbuka. Lalu Mamahnya Adit berjalan masuk dengan tampak tergesa gesa dan seterusnya menuju ke tempat papahnya Adit terbaring dengan alat alat medis yang menempel di tubuhnya.
“Pah.... ini ada teman teman Adit, papah masih ingat Bram kan" ucap mamah nya Adit di dekat telinga papahnya Adit
“Adit.. Adit...” gumam papahnya Adit dengan mata masih terpejam
“Bram... Lilian....” gumamnya kemudian dan terlihat Bram dan Lilian datang mendekat. Sedang yang lain menunggu di luar.
“Iya Bram dan Lilian mereka ke sini kangen dengan papah ayo Pah sapa mereka” ucap Mamahnya Adit. Namun tiba tiba terlihat air mata meleleh dari kedua mata papahnya Adit. Bram dan Lilian yang berada di kedua samping tempat tidur masing masing memegang tangan papahnya Adit sambil mengusap usap dengan lembut
“Bram... Lilian... “ gumam papahnya Adit lagi
“Om kangen...” ucap papahnya Adit dengan suara yang sangat pelan
“Sama Om" ucap Bram
“Om cepat sehat ya, nanti kita main main lagi seperti dulu, Bram temeni Om main tenis lagi” ucap Bram mencoba memberi semangat papahnya Adit. Terlihat bibirnya papahnya Adit terbentuk sedikit tarikan senyuman. Mamahnya Adit sedikit lega
“Ceritanya gimana Tan, kok sampai seperti ini?” tanya Bram karena melihat kedua orang tua Adit terlihat lebih kurus apalagi papahnya Adit sampai terbaring sakit.
“Satu tahun yang lalu Ardian berangkat ke luar negeri dia dapat kerjaan di sana, bisa pulangnya hanya enam bulan sekali” jawab Mamahnya Adit
“Selama ini Ardian yang menemani kami seperti mengantikan Adit, kami jadi kayak kehilangan anak dua kali” ucapnya Mamahnya Adit kemudian
“Ardian tidak bisa melepaskan tawaran kerja di luar negeri tersebut sebab prospek sangat bagus untuk kariernya, terus dia menawarkan membawa kami ikut serta ke sana, nah itu malah yang membikin papah depresi , dia bingung katanya kasihan Adit kalau ditinggal" ucap mamahnya Adit kemudian sambil berderai air matanya
“Tan, Om... kalau diijinkan kami akan sering main ke tempat Om dan Tante" ucap Bram kemudian setelah mendengar cerita Mamahnya Adit, dan tiba tiba tangan Bram dan tangan Lilian mendapat genggaman erat dari tangan papahnya Adit.
*****
__ADS_1
Bersambung