
Tiga Tahun Kemudian
Seperti kesepakatan yang sudah dibuat oleh Bram dan Nindya waktu dulu. Nindya boleh bekerja di rumah. Tugas utama Nindya adalah mendidik anaknya. Andru tumbuh menjadi anak yang sehat, lincah, kreatif dan penuh curahan kasih sayang.
Nindya masih meneruskan kerja membantu Bharata Group dan mengerjakan pekerjaannya di paviliun bersama Andru. Hal yang mungkin dipandang remeh oleh sebagian orang, namun sebenarnya malah tugas yang berat. Bagaimana tidak Nindya harus bekerja sambil mendidik dan bermain bersama anaknya.
Di dalam ruang kerja Nindya, Nindya duduk di kursi di depan meja komputernya dan Andru duduk di kursi kecil dengan komputer mainan di depannya. Andru menganggap dirinya Bos kecil sedangkan Nindya dianggapnya sekretarisnya.
“Mbak Ninda.... Tolong tlepon ibu Alum.” Ucap Andru, kalau saat menganggap Nindya sebagai sekretarisnya dia memanggilnya Mbak, karena melihat ayahnya Bram memanggil sekretarisnya mbak Sisi.
“Bos kecil mau apa minta ditelponkan ibu Arum?” tanya Nindya sambil menoleh menatap anaknya.
“Miting.” Ucap Andru sambil mengetuk ngetuk komputer mainannya.
Terlihat Nindya tersenyum menatap Andru, kalau ingin meeting itu artinya dia ingin ketemu dengan Arum lalu diajak jalan jalan ke mall untuk makan es krim atau makanan kesukaannya. Arum yang sudah menikah dengan Johan namun belum memiliki anak sangat menyayangi Andru dan meminta Andru memanggilnya Ibu Arum.
“Ibu Arum sedang sibuk Bos.” Jawab Nindya karena tahu saat ini Arum sedang sibuk untuk menyiapkan laporan keuangan.
“Ganti Bos becal aja.” Ucap Andru sambil menatap Nindya dengan tatapan memohon.
“Bos Besar juga sedang sibuk.” Jawab Nindya karena dia juga tahu kalau suaminya Bram juga sedang sibuk karena ada rapat penting. Selain Arum, Bram kadang juga kalau istirahat jika jadwal tidak padat menjemput Andru untuk makan bersama meskipun hanya sekedar makan di rumah atau di kedai dekat rumah.
“Ah cemua cibuk.” Ucap Andru dengan nada putus asa. Nindya yang memahami kalau anaknya sedang bosan, kemudian menutup komputernya.
“Ayo nak, kita buat makanan.” Ucap Nindya sambil jongkok di depan Andru
“Ooo mau platihan.” Ucap Andru dengan mata berbinar
“Benar Bos.” Ucap Nindya lalu mengendong anaknya.
“Bunda atu bica jalan cendili.” Ucap Andru sambil melorotkan tubuhnya ingin berjalan sendiri.
Mereka berdua lalu berjalan keluar dari paviliun. Saat berjalan mereka melihat ada pak Man yang sedang bekerja mengurus tanaman.
“Mbah Man....” teriak Andru lalu berlari memeluk Pak Man dari belakang.
__ADS_1
“Mbah Man kaget....” ucap pak Man pura pura kaget sambil memegang dadanya. Dan Andru malah tertawa senang.
“Bos kecil mau istirahat?” tanya Pak Man
“Mau platihan.” Jawab Andru sambil menatap bunda nya
“Iya Mbah Man.” Ucap Nindya.
Mereka berdua lalu berjalan menuju ke rumah dan setelahnya berjalan menuju ke dapur. Terlihat Mak juga sedang sibuk di dapur.
“Mbah Mak, atu bantu ya.” Ucap Andru
“Wah ada chef Andru nih.” Ucap Mak sambil menoleh dan menunduk menatap Andru yang sudah memakai celemek atau apron kecil di tubuhnya. Nindyapun juga sudah memakai apron. Setelah mereka berdua cuci tangan lalu mulailah mereka membuat adonan kue.
“Bun atu minta.” Ucap Andru sambil tangannya menoel noel adonan. Nindya lalu memberikan segenggam adonan. Setelah mendapatkan adonan Andru langsung berlari meninggalkan dapur dan sepertinya keluar rumah. Nindya membiarkan saja sebab seperti biasanya dia akan menunjukan pada pak Man.
“Sama kayak ayahnya ucul...” ucap Mak sambil tertawa mengingat kecilnya Bram sering berlari menemui pak Man.
Sementara itu Andru yang mendapatkan adonan kue sepenggam tangannya Nindya berlari menuju ke garasi tidak menemui pak Man.
Pak Man yang melihat Andru berjalan menuju ke garasi, dia langsung menyusul untuk mengawasi anak tersebut.
“Bagus.” Ucap Andru saat melepas adonan dan mendapatkan motif ban pada adonan yang ditempel.
Lalu dia berdiri saat melihat pak Man berdiri di belakangnya Andru dengan bangga menunjukkan hasil cetakannya. Selanjutnya dia berlari lagi masuk ke dalam rumah untuk menunjukkan hasil karyanya pada Bunda nya dan Mbah Mak.
“Bun... bagus Bun.” Teriak Andru sambil berlari lari memegang adonan bermotif ban.
“Bun liat.” Ucap Andru sambil menunjukan adonan bermotif ban ke Nindya.
“Andru ini sangat bagus tapi kotor, tidak bisa dimakan, kalau dimakan bisa sakit.” Ucap Nindya saat melihat hasil karya anaknya.
“Ooo.” Ucap Andru tampak kecewa.
“Ya sudah itu buat mainan Andru saja, lain kali jangan ya sayang, makanannya kan jadi terbuang.”
__ADS_1
Namun tiba tiba hape Nindya berdering. Nindya lalu mencuci tangannya dan mengambil hape yang ditaruh di dekatnya. Terlihat mamah Indah menelponnya.
“Nin... kamu ngikuti berita tidak, bahaya Nin.. wabah penyakit itu sudah sampai di kota kakakmu Alvin.” Ucap mamah Indah saat Nindya sudah menggeser tombol hijau.
“Terus mereka bagaimana Mah?” tanya Nindya kuatir.
“Katanya sudah kesulitan mendapatkan bahan pangan, di toko toko sudah habis, ini Alvin minta kiriman bahan pangan, katanya saat ini barang dari Indonesia masih boleh masuk.”
“Barang dari negara yang sudah terserang wabah tidak boleh masuk.” Ucap mamah Indah selanjutnya
“Ooo,baiklah Mah nanti aku juga kirim bahan pangan buat kak Alvin terutama makanan untuk Bali, kasihan dia.” Ucap Nindya.
“Kamu hubungi kakakmu Tedy ya, mamah mau belanja sekarang terus dikirim kilat biar cepet sampai sebelum nanti dilarang masuk barang dari Indonesia.” Ucap mamah Indah lalu menutup sambungan telponnya.
“Ada apa Mbak?” tanya Mak yang mendengar percakapan Nindya
“Wabah itu sudah sampai di kota kak Alvin, mereka kesulitan mendapatkan bahan pangan.” Jawab Nindya sambil menghapus air matanya yang menetes, memikirkan masalah wabah yang sudah sampai di kota kakaknya.
Andru yang mendengar percakapan Bunda nya seperti memahami apa yang sedang menjadi pembicaraan. Dia yang masih memegang adonan tercetak motif Ban lalu menunduk menatap adonan tersebut. Ekspresi penyesalan tampak diraut mukanya, dia lalu menggenggam erat adonan tersebut dan..
“Huaaaa ....... huaaaa... huahaaa....” suara tangis Andru pecah sambil menggenggam adonan tersebut.
Nindya yang melihat anaknya menangis lalu menggendongnya.
“Maaf bun hua.... hua....huaaaa.” Ucap Andru di sela tangisnya.
“Iya tidak apa apa, sudah jangan menangis, bunda tambah bingung kalau Andru menangis.” Ucap Nindya.
“Kita belanja buat kak Bali ya, nanti biar Bu Sisi yang kirim, kita telpon Pak De Tedy juga biar dia juga kirim makanan buat kak Bali.” Ucap Nindya sambil menghapus air mata Andru padahal air mata Nindya juga terus mengalir.
“Mbak Nindya mau belanja ke mana biar saya temani, ini masaknya sudah selesai, kue mbak Nindya dimasak nanti saja tidak apa apa kan?” ucap Mak
“Belanja on line saja Mak, biar langsung dikirim ke kantor nanti biar mbak Sisi yang ngurus pengirimannya.” Jawab Nindya sambil mengusap usap punggung Andru.
“Badan saya sekarang rasanya lemes.” Ucap Nindya yang sekarang sudah duduk di kursi ruang makan sambil memangku Andru.
__ADS_1
***
Bersambung