
Waktu terus berlalu Bram belum berhasil mengajak Nindya datang menemui orang tuanya. Namun jalinan asmara mereka tetap terjalin mesra.
Bram sudah mulai melakukan penelitian tugas akhirnya, hingga banyak waktu kebersamaan mereka di laboratorium. Di sela sela istirahat atau selesai kuliah Nindya selalu menyempatkan diri membantu Bram. Seperti saat ini mereka berdua berada di laboratorium, eh enggak ding ada satu lagi seorang bapak pegawai tetap laboratorium di ruang tersebut.
Terlihat Bram sangat serius sedang melakukan aktivitasnya di ruangan laboratorium tersebut, kedua tangannya terlihat sibuk dengan benda benda lab. Bram yang biasa beraktivitas di luar ruangan sekarang dengan terpaksa harus tekun dan teliti di suatu ruangan dan dengan memakai jas lab nya. Terlihat nampak keringat di dahinya. Nindya tidak tega melihatnya lalu Nindya mengambil tisu dan dengan perlahan menghapus keringat di dahi Bram. Mendapatkan perlakuan seperti itu Bram tersenyum senang.
Tidak berapa lama aktifitasnya sudah sedikit santai hanya menunggu proses. Mereka berdua duduk di kursi berdekatan.
"Kamu ga capek, ikut kuliah bantu aku, terus nanti masih ngasisten atau ikut praktikummu sendiri?" tanya Bram sambil menatap Nindya
"Enggak" jawab Nindya
"Kalau kerja dengan senang hati enggak capek mas" ucapnya selanjutnya
"Iya juga, makasih ya sudah bantu dan dukung aku" ucap Bram sambil merapikan rambut Nindya
"Terus kapan kamu mau ketemu bapak ibuku?" tanya Bram sambil menatap lekat pada Nindya
"Aku takut mas" jawab Nindya jujur
"Takut kenapa kan ada aku" ucap Bram sambil memegang tangan Nindya
"Mereka juga ga ngigit he..he..." ucap Bram selanjutnya sambil terkekeh. Dibalas dengan tatapan mata Nindya yang sedikit melebar.
"Ya sudah, aku tunggu sampai kamu tidak merasa takut" ucap Bram kemudian sambil mengusap usap punggung tangan Nindya.
"Mas Bram ga dijodoh jodohin sama orang tuanya?" tanya Nindya dengan hati hati
"Haaa ha..." tawa Bram pecah lalu terhenti karena mendapat peringatan dari Nindya sebelum mendapat peringatan dari bapak petugas lab.
"Enggak, andai dijodohkan aku juga ga mau" ucap Bram kemudian.
"Bener?" tanya Nindya butuh keyakinan
"Suer" jawab Bram sambil tangannya memberi kode suatu kepastian.
Lalu mereka melanjutkan aktifitasnya. Bila Bram lebih dulu selesai dia akan menunggu Nindya di sekretariat atau di perpustakaaam.
Sore hari mereka berdua pulang bersama, di atas sepeda motor Bram mereka melaju meninggalkan kampus menuju ke tempat kostnya.
Setelah motor sampai di kost, Nindya turun dari boncengan sepeda motor Bram lalu berjalan masuk menuju ke kamarnya. Sedangkan Bram menjalankan motornya menuju ke kostnya.
Setelah membersihkan diri Nindya berjalan menuju ke kamar Lilian dilihatnya pintu kamar Lilian terbuka
"Li.." sapa Nindya saat berada di depan pintu
"Ya Nin masuk aja" jawab Lilian dari dalam. Nindya lalu berjalan masuk ke dalam kamar Lilian terlihat Lilian sedang di depan cermin nampak habis mandi.
__ADS_1
"Baru pulang ya Nin?" tanya Lilian
"Iya, tapi aku sudah mandi" jawab Nindya lalu duduk di tepi tempat tidur Lilian.
"Iya sudah wangi dan segar" ucap Lilian yang masih sibuk di depan cerminnya
"Kenapa wajahmu?" tanya Nindya saat melihat Lilian sibuk dengan wajahnya
"Jerawatan nih Nin" jawab Lilian
"Mikir apa kamu?" tanya Nindya
"Atau kangen siapa he..he..?" tanya Nindya lagi
"Tahulah mikir tugas paling ha..ha.." jawab Lilian lalu menghadap ke arah Nindya
'Ada apa kamu, seperti ada beban di matamu?" tanya Lilian kemudian saat melihat wajah Nindya terlihat menyimpan sesuatu masalah
"Mas Bram tanya lagi kapan aku mau ketemu orang tuanya" jawab Nindya
"Terus kamu jawab apa?" tanya Lilian lagi
"Ga tahu, masih takut ibunya" jawab Nindya
"Kamu harus berani Nin, kalau kamu serius sama mas Bram sekarang atau besuk besuk pasti ketemu keluarganya" ucap Lilian memberi semangat
"Emang aku ada tipe mempermainkan orang?" ucap Nindya balik bertanya
"Ya sudah datang ke sana sama mas Bram, kalau kamu takut terus dan tidak mau dikenalkan. orang tuanya dikira kamu enggak serius" ucap Lilian
"Takutnya nanti dikira orang tua mas Bram, mas Bram belum punya pacar terus dijodoh jodohkan kayak di novel novel itu, tambah rumit nanti masalahmu" ucap Lilian kemudian
"Kamu itu kok nakut nakuti terus sih, dulu bilang ibunya jenis orang sulit sekarang jodoh jodohan" ucap Nindya dengan sedikit cemberut
"Makanya udah sana ke rumah orang tua mas Bram, cari cari muka dikt ga apa apa demi memperjuangkan cinta" ucap Lilian memberi masukan
"Doain ya Li.." ucap Nindya
"Pasti aku selalu berdoa untuk kebahagiaan dua sahabatku yang merajut cinta" ucap Lilian sambil memeluk Nindya
"Udah deh kuatkan hati" ucap Lilian kemudian sambil melepas pelukannya. Setelah sedikit lega mereka berdua berbincang bincang hingga jam makan malam. Karena kesibukan aktivitas di kampus mereka tidak masak sendiri. Rencana malam ini akan makan bertiga dengan Bram ke salah satu warung makan di dekat kost kostan namun jauh dari jangkauan ibu ibu club ngrumpi.
Malam harinya setelah acara makan malam dan ngobrol ngobrol bertiga. Kini Nindya sudah berada di dalam kamarnya. Meskipun sudah curhat dengan Lilian namun dia masih merasa ada beban pikiran, perasaan takut pada keluarga Bram masih ada. Nindya lalu mengambil hapenya lalu melakukan panggilan pada mamah Indah. Tidak lama kemudian
"Hallo Nin.. " ucap mamah Indah dari hape Nindya
"Mahhh" ucap Nindya
__ADS_1
"Apa?" tanya mamah Indah
"Minta kiriman uang?" tanya mamah Indah lagi
"Enggak mah.. Aku punya tabungan honor asisten dosen" ucap Nindya
"Terus kenapa?" tanya mamah Indah
"Mah mas Bram ngajak aku ketemu orang tuanya" jawab Nindya
"Lah.. Kamu itu belum pernah ke rumah Bram belum pernah ketemu orang tuanya?" tanya mamah Indah
"Sudah ke rumahnya tapi belum pernah ketemu orang tuanya"
"Aku takut mah" ucap Nindya kemudian
"Takut kenapa, kamu punya salah apa?" tanya mamah Indah
"Kamu kan tidak nyolong anaknya?" tanya mamah Indah lagi
"Mamahhhh" ucap Nindya sedikit berteriak karena gemes dengan Mamahnya yang suka bercanda di saat dia sedang serius
"Keluarganya mas Bram itu ada aliran darah biru kata Lilian, juga kata Mak dan pak Man yang kerja di rumah mas Bram" ucap Nindya
"Terus kenapa?" tanya Mamah Indah
"Mereka keluarga ningrat kita keluarga biasa" ucap Nindya dengan hati hati
"Ealeh kamu itu ga usah takut aliran darahmu itu darah merah, keluarga pejuang, keluarga pahlawan ga kalah keluarga kita " ucap mamah Indah
"Lah kok pahlawan segala?" tanya Nindya bingung
"Lha papahmu kan pahlawan tanpa tanda jasa, pejuang dia, kamu juga harus semangat berjuang demi cinta kalau kamu memang cinta Bram" ucap mamah Indah
"Papah sudah merestui kalian itu berarti Bram dilihat papah sungguh sungguh ke kamu" ucap mamah Indah lagi
"Iya mah" ucap Nindya sedikit termotivasi
"Eh Nin" ucap mamah Indah selanjutnya
"Apa Mah?" tanya Nindya
"Kalau aliran darah Bram biru terus kamu merah, kalau kamu punya anak jadi aliran darah ungu ya?" tanya mamah Indah dengan nada suara serius
"Mamahhhh.. " teriak Nindya yang paham Mamahnya suka bercanda
"Haaa haaa... Sudah kututup kutunggu laporanmu" ucap mamah Indah kemudian lalu menutup sambungan telponnya
__ADS_1