Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
113. Jual sapi


__ADS_3

Week end yang dinantipun tiba, hari dimana Papah Mahendra dan mamah Indah akan berangkat ke Yogyakarta. Mereka berdua berangkat pagi hari memakai kereta api. Siang hari mereka sudah sampai di Yogya kemudian langsung ke kost Nindya naik taxi on line.


Malam hari nya mendapat undangan makan malam di rumah keluarga Bharata. Calon menantu yang bernama Bramantyo Wicaksono setelah Maghrib sudah datang menjemput.


Nampak Bram turun dari mobil dengan wajah segar dan senyuman tersungging di bibirnya. Setelah menutup pintu mobilnya Bram melangkah menuju ke kost Nindya.


Saat di depan kamar kost Nindya, nampak Nindya duduk di kursi teras dengan memakai baju rumah dengan wajah murung. Bram nampak kaget kenapa Nindya belum siap siap.


"Nin kok belum siap siap?" tanya Bram sambil duduk di samping Nindya


"Kata Mamah ini pembicaraan orang tua, aku ga boleh ikut" jawab Nindya masih dengan wajah cemberut


"Ya sudah kamu di kost saja he...he..." ucap Bram sambil mengenggam tangan Nindya


"Tapi aku kan pengen dengar" jawab Nindya


"Nanti aku kasih tahu hasil pembicaraannya" ucap Bram yang tangan kirinya masih menggenggam telapak tangan Nindya sedang tangan kanannya sekarang mengusap usap lembut punggung tangan Nindya.


"Mamah sama papah sudah siap belum?" tanya Bram sambil kepalanya menoleh ke arah pintu kamar Nindya yang masih tertutup.


"Entahlah katanya sedang latihan bertamu di keluarga ningrat, aku di suruh di luar ga boleh melihat" ucap Nindya


"Latihan gimana sih?" gumam Bram. Lalu Bram bangkit berdiri selanjutnya mengetuk ngetuk pintu kamar Nindya.


"Sebentar Nin" teriak papah Mahendra


"Ini Bram Om" ucap Bram. Tidak lama kemudian pintu kamar Nindya dibuka oleh mamah Indah.


"Ooo nak Bram sudah menjemput" ucap mamah Indah dengan nada suara yang halus menyerupai nada suara ibu Murti. Bram yang mendengar mengeryitkan dahinya. Sedangkan Nindya hanya tertawa kecil.

__ADS_1


"Mamah ga usah kayak gitu, nanti malah ibu Murti tersinggung" ucap Nindya selanjutnya.


"Apa benar begitu Bram?" tanya mamah Indah serius.


"Iya, Tante biasa biasa aja, nanti di rumah kan cuma bapak dan ibu, paling ditambah Arum dan Mak" jawab Bram sambil tersenyum.


"Yang penting mamah jangan bercanda berlebihan dan jangan kentut, kentut kecil pun jangan apalagi kentut besar besar" pesan Nindya yang sudah ikut bangkit berdiri di depan mamah Indah. Mamah Indah hanya tertawa kecil sambil mencubit pipi anak gadisnya.


"Mari Tante dan Om kalau sudah siap kita berangkat" ajak Bram dengan sopan. Lalu mereka bertiga berjalan menuju ke mobil sedangkan Nindya masuk ke dalam kamarnya dan selanjutnya ditemani Lilian.


Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di depan rumah keluarga Bharata. Setelah pintu dibukakan oleh penjaga malam Bram memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah, Mobil berhenti di depan teras, untuk menurunkan calon mertua tercinta, agar tidak terlalu jauh mereka berjalan kaki menuju ke pintu rumah. Saat mamah Indah dan papah Mahendra turun dari mobil, nampak pintu rumah terbuka dan muncul sosok bapak Bharata, ibu Murti dan Arum di depan pintu lalu mereka pelan pelan berjalan menuju ke tempat mamah Indah dan papah Mahendra yang masih berdiri.


"Monggo mbakyu selamat datang" sapa Ibu Murti sambil tersenyum. Nampak bapak Bharata juga menyapa papah Mahendra.


"Om Tante kenalkan saya Arum adiknya Mas Bram" ucap Arum sambil mengulurkan tangannya. Kemudian mamah Indah dan papah Mahendra menyambut uluran tangan Arum. Tidak lama kemudian Bram juga sudah berdiri bersama mereka.


Mereka semua nampak akrab saling berjabat tangan dan saling berbincang bincang sejenak menanyakan kabar. Lalu mereka masuk ke dalam rumah. Setelahnya langsung menuju meja makan untuk santap malam, sebab menu makanan sudah tersaji. Setelah acara makan malam selesai, nampak mereka pindah duduk di ruang keluarga untuk membahas acara lamaran Nindya. Pembicaraan berjalan lancar dan akhirnya sudah mendapatkan suatu kesepakatan. Acara lamaran akan diadakan satu minggu sebelum Nindya berangkat KKN. Bentuk acara, wakil keluarga dan segala hal yang diperlukan juga sudah dibahas. Nampak mereka semua puas dengan hasil kesepakatan dalam pembicaraan tersebut.


Setelah pembicaraan selesai mamah Indah dan papah Mahendra pamit pulang ke kost Nindya dan diantar oleh calon menantu tercinta.


Mamah Indah duduk di samping papah Mahendra di jok belakang kemudi.


"Sepertinya baru kemarin mengantar Nindya mendaftar kuliah, sekarang kita ke sini lagi Nindya sudah akan lulus dan juga akan menikah" ucap Mamah Indah


"Iya ya Mah... Alhamdulillah" ucap papah Mahendra.


"Mamah ingat saat pertama Nindya datang ke kota ini, dia ingin penginapan yang berkonsep jawa. Eeee lha kok dapat calon suami dari keluarga masih berdarah biru" ucap mamah Indah nampak Bram yang duduk di kursi kemudi tersenyum manis.


"Tadi lihat rumah keluarga Bharata berkonsep Jawa ya Pak" ucap mamah Indah lagi

__ADS_1


"Iya Mah, memang otak bawah sadar kita bisa membawa kita pada suatu kenyataan. Maka kita kalau mikir hal hal yang baik agar kenyataannya jadi baik" ucap papah Mahendra


"Iya Pah, aku dulu kalo ngeloni anak anak juga aku bisikkan hal hal yang baik, aku lantunkan doa doa agar otak bawah sadar mereka berisi hal hal baik" ucap mamah Indah sambil pandangan mata menerawang mengingat ingat masa lalu.


"Kalau ngeloni papahnya Nindya dibisiki apa Tan?" tanya Bram kepo


"Sama kalau papah sudah setengah sadar mau tidur itu aku bisikkan hal hal baik, agar papah kerja bener, setia pada keluarga" jawab mamah Indah, Bram menanggapi dengan mengangguk angguk kan kepalanya merasa paham.


"Eh Pah, mumpung di Yogya besok kita belanja seragam ya... seragam nanti buat pak dan bu erte, terus pak erwe dan bu erwe, sodara dekat kita...


"Mah, papah belum gajian" saut papah Mahendra


"Tenang pah, aku punya uang" jawab mamah Indah sambil tersenyum manis


"Uang apa?" tanya papah Mahendra


"Uang sapi" jawab mamah Indah


"Uang sapi gimana?" tanya papah Mahendra tidak sabar


"Dijual satu Pah sapinya" jawab mamah Indah santai


"Kok mamah ga bilang papah, jual sapi papah" ucap papah Mahendra serius


"Apa yang jadi milik papah kan milik mamah" ucap mamah Indah sambil tersenyum jenaka


"Malam malam mbah Karto nelpon butuh uang. Papah sudah tidur nyenyak. Terus di telpon ada suara Tole nangis nangis, minta sepeda baru, ya sudah Mamah ga tega kusuruh saja jual sapi satu, lagian kita juga butuh dana buat lamaran Nindya" ucap mamah Indah kemudian


"Memang kalau aku ijin dulu papah nglarang jual sapi itu, enggak kan?" tanya mamah Indah, papah Mahendra hanya diam saja. Sejenak suasana hening.

__ADS_1


"Kalau mau belanja seragam besok saya antar Tante, coba nanti saya tanya Ibu, jadi nanti bisa belanja bersama sama di toko kain langganan Ibu Murti" ucap Bram berusaha menengahi keributan yang terjadi pada calon mertuanya.


"Setuju Bram, cocok itu" ucap mamah Indah


__ADS_2