Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
68. Kesiangan


__ADS_3

"Siapa Devina Li?" tanya Nindya menelisik


"Kamu pernah dengar dari siapa" tanya balik Lilian


"Siapa ya, pak Man apa Mak ya, aku lupa lupa ingat, hanya menyebut sebentar sih ga cerita" jawab Nindya sambil mengingat ingat.


"Devina itu temannya mbak Arum, cantik orangnya dia seorang model" jawab Lilian


"Terus ceritanya ibu Murti ga suka dengan Devina gimana, padahal kata mu cantik?" tanya Nindya kepo lalu dia berbaring dengan posisi miring kepala disangga tangannya bertopang siku sambil menatap wajah Lilian


"Cantik saja tidak cukup membuat orang suka Nin, sore hari aku datang ke rumah mas Bram, saat itu mas Bram sudah lulus dia akan datang ke sekolah untuk jadi mentor di acara exkul, saat aku masuk ke rumahnya di ruang tamu ada ibu Murti, mas Bram, mbak Arum dan Devina, terlihat mereka berbicara serius" ucap Lilian


"Terus" ucap Nindya


"Aku disuruh mas Bram nunggu di ruang keluarga dulu, aku lihat Devina memandang sinis aku" ucap Lilian


"Terus" ucap Nindya


"Terus Mak datang ngasih minum ke aku, namun saat itu juga ibu Murti masuk ke dalam kamarnya melewati ruang keluarga, terus aku tanya Mak ada apa"


"Terus" ucap Nindya


"Katanya kalau ibu Murti pergi meninggalkan saat ada suatu pembicaraan itu tanda ibu Murti tidak suka"


"Ooo" gumam Nindya


"Mereka bicara serius masalah apa, kamu tanya Mak tidak?" tanya Nindya


"Katanya Devina minta diantar pulang mas Bram, terus mas Bram ga mau, mbak Arum minta ibu Murti membujuk mas Bram" jawab Lilian


"Ooo gitu, terus kalau ke kamu suka ga he..he..?" tanya Nindya lalu tertawa


"Suka ya.. Aku kan anak baik hati" jawab Lilian


"Percaya... Eh Li, aku tuh kepikiran gimana kalau mamahku ketemu ibunya mas Bram, kamu lihat sendiri kan mamah ku kayak gitu ibu Murti kayak gitu" ucap Nindya dengan wajah serius, posisi tubuhnya sudah berubah dengan posisi tidur terlentang dengan kepala tertaruh manis di bantal sambil memandang langit langit kamar.


"Iya juga Nin, apa mamahmu yang berubah jadi pendiam apa ibu Murti yang berubah jadi heboh ha...Ha..." ucap Lilian lalu tertawa membayangkan bila terjadi perubahan pada beliau beliau


"Aku tuh kuatir kalau mamah spontan bercanda terus ibu Murti tersinggung" ucap Nindya serius


"Pusing aku mikirnya" ucap Nindya kemudian.. Namun tiba tiba hape Nindya bergetar ada panggilan masuk dari Bram


"Mas Bram" ucap Nindya pada Lilian


"Angkat aja, paling juga ga bisa tidur" ucap Lilian yang kemudian dia merubah posisinya, tidur miring memunggungi Nindya sambil menutup telinga dengan bantal.


Nindya bangkit dari tidurnya kemudian duduk di kursi belajarnya


"Hallo" ucap Bram setelah terhubung


"Belum tidur Nin?" tanya Bram

__ADS_1


"Lilian sudah tidur belum?" tanya Bram lagi


"Belum tidur semua" jawab Nindya


"Kamu tadi dimarahi ibu kost tidak?" tanya Bram merasa kuatir


"Tidak tadi Ibu kost langsung masuk ke rumah induk" jawab Nindya


"Ooo" gumam Bram


"Ya sudah selamat tidur ya.. semoga mimpi indah" ucap Bram dengan nada suara lembut mesra


"Iya mas selamat tidur juga, btw kok mas Bram selalu berharap aku mimpiin mamah, ga ingin aku mimpiin mas Bram apa?" tanya Nindya


"Maksudmu gimana, ya ingin donk di dalam mimpimu selalu ada aku" ucap Bram sedikit bingung


"Kok selalu bilang semoga mimpi indah, indah kan mamahku" ucap Nindya namun seketika ada bantal melayang mengenai tubuhnya


"Haaa...Ha... Terus aku harus bilang selamat tidur ya... semoga mimpi Bram gitu?" ucap Bram


"He..he.."


"Udah ya udah dini hari nih... mimpiin aku ya..." ucap Bram kemudian


"Siyap Mas, selamat tidur juga mimpiin aku juga hanya aku ya" ucap Nindya


"Iya...Ha...Ha..." ucap Bram mereka kemudian terdiam sejenak lalu Bram menutup sambungan telponnya


Terlihat Lilian yang belum tidur menatap ke arah Nindya


"Hai melanjutkan apa hayo?" ucap Lilian. lalu bangkit berdiri mendekat pada Nindya


"Lihat lehermu" ucap Lilian sambil menyibak rambut Nindya berusaha untuk melihat leher Nindya


"Kamu kenapa sih Li?" tanya Nindya sambil memundurkan kepalanya menghindar dari Lilian namun tidak bisa Lilian bisa melihat seluruh leher Nindya


"Aman ga ada bekas" gumam Lilian


"Coba lihat dadanya" ucap Lilian sambil berusaha menyibak krah baju Nindya


"Li.. jangan nanti bajuku rusak, kamu tuh kenapa sih kamu pikir mas Bram pegang pegang aku" ucap Nindya lalu berlari menuju ke tempat tidurnya lalu mengambil posisi meringkuk. Terlihat Lilian ikut berlari mendekat pada Nindya


"Udah Li, tidur... ngantuk aku.." ucap Nindya sambil memejamkan mata


"Yang dipegang mas Bram apamu?" tanya Lilian masih kepo


"Tangan" jawab Nindya sudah seperempat tidur


"Apa lagi?" tanya Lilian masih kepo


"Pundak" jawab Nindya sudah setengah tidur

__ADS_1


"Apa lagi?" tanya Lilian lagi tapi Nindya sudah tidak menjawab. Terlihat Lilian mengangkat kepalanya melihat wajah Nindya yang sudah terlelap. Dan akhirnya mereka berdua pun tertidur.


Pagi harinya Bram bangun kesiangan dia langsung mandi lalu setelahnya menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya karena jadwal training dari Om Prabu tetap harus dijalani.


Sedangkan di kamar Nindya, terlihat lampu teras masih menyala. Ibu kost lalu berjalan menuju ke kamar Nindya sebab saklar lampu teras ada di kamar Nindya.


tok..tok..tokkk suara ketukan pintu kamar Nindya yang diketuk oleh Ibu kost.


"Nin bangun sudah siang" ucap Lilian menepuk nepuk paha Nindya. Nindya akhirnya membukakan matanya.


"Ada yang mengetuk pintu" ucap Lilian


"Mas Bram apa ya" gumam Nindya


"Aduh aku masih pake baju ini" ucap Nindya lalu dia menyaut selimut dan membungkus tubuhnya dengan selimut lalu berjalan menuju ke pintu kamar, sebelum membuka pintu dia mengintip dari jendela


"Ibu kost" ucap Nindya tanpa suara menoleh ke arah Lilian. Lilian akhirnya ikut bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Nindya membuka pintu kamar dengan pelan pelan


"Bu" ucap Nindya setelah pintu terbuka


"Kesiangan ya?" tanya ibu kost basa basi


"Iya Bu"


"Tolong lampu teras matikan" ucap Ibu kost kemudian


"O iya Bu" ucap Nindya lalu berjalan menuju saklar lampu dan memencet tombol off


"Kamu sakit apa Nin, kok tubuh berbungkus selimut" ucap Ibu kost merasa kuatir lalu berjalan masuk dan duduk di kursi.


"Ehm tidak Bu" ucap Nindya berjalan menuju tempat tidurnya lalu duduk di tepi tempat tidur menghadap ke ibu kost


"Nindya malu Bu, itu masih pakai baju penuh memori" ucap Lilian yang baru keluar dari kamar mandi


"Gimana pertemuan mu kemarin dengan orang tua Bram" tanya ibu kost


"Ehmmm" gumam Nindya bingung mau jawab apa


"Seperti nya keluarga mas Bram bisa menerima Nindya Bu" ucap Lilian membantu Nindya dan kemudian ikut duduk di samping Nindya


"Alhamdulillah" ucap Ibu kost


"Tapi gimana nanti kalau mamah ketemu sama ibunya mas Bram, mereka beda sekali, ibunya mas Bram irit bicara dan juga menjunjung tinggi etika sedang mamah Indah... aduhhhh mamah Indah kadang kentut besar besar" ucap Nindya sambil tepuk jidat mengingat tingkah laku mamahnya


"He..he..." tawa kecil ibu kost dan Lilian


"Pernikahan memang bukan hanya menyatukan dua hati, dua pribadi tapi juga menyatukan dua keluarga besar Nin" ucap Ibu kost


"Masing masing harus menghargai tidak boleh egois" ucap Ibu kost lagi

__ADS_1


"Sudah jangan dipikir berat berat kamu jalani dulu setiap proses nya, yang penting kamu tetap jaga etika dan norma" ucap Ibu kost kemudian


__ADS_2