
Setelah puas melihat lihat sapi papah Mahendra melangkahkan kaki meninggalkan kandang sapi tersebut, Bram mengikutinya berjalan di belakang papah Mahendra.
"Mbah pamit ya" ucap papah Mahendra saat melewati pintu rumah mbah Karto
"Ya bos" jawab mbah Karto dari dalam rumah
Papah Mahendra melanjutkan langkahnya Bram masih setia mengikuti, mereka berjalan dalam diam. Tidak berapa lama mereka sampai di halaman belakang rumah. Papah Mahendra berhenti di suatu bangunan kecil belakang rumah, rupanya ada kamar mandi di belakang.
"Bram cuci tangan dan kaki dulu di kamar mandi luar, kalau langsung masuk rumah ada yang ngomel ngomel" ucap papah Mahendra sebelum masuk ke kamar mandi
"Iya Om" ucap Bram sambil berhenti, dan berdiri menunggu papah Mahendra selesai. Setelah papah Mahendra selesai gantian Bram yang masuk. Sedangkan papah Mahendra langsung berjalan menuju ke rumah tanpa menunggu Bram.
Setelah selesai Bram berjalan menuju ke rumah, dia masuk ke dalam rumah. Terlihat Tedy duduk di ruang tamu sambil memainkan gitar, sedangkan papah Mahendra tidak nampak.
"Dari lihat sapi Bro?" tanya Tedy sambil memetik gitar.
"Iya" jawab Bram sambil tersenyum lalu mendudukkan diri di samping Tedy
"Kok wajahmu seperti terpuaskan, apa ada sapi yang mempesonamu?" tanya Tedy dengan senyum di wajahnya
"Kakak ipar sialan" gerutu Bram
"Sejak kapan aku jadi kakak iparmu, kamu habis melamar sapi papah?" ucap Tedy
"Sapi papahmu?" tanya Bram
"Iya yang di belakang itu sapi papah, dipelihara mbah Karto terus bagi hasil kalau sudah banyak" ucap Tedy
"Oooo" gumam Bram paham.
"Ted, ayo makan ajak Bram ke sini" Teriak mamah Indah dari dalam. Kemudian Tedy menaruh gitarnya dan bangkit berdiri.
"Ayo Bro" ajak Tedy
Saat masuk ruang makan nampak ada enam kursi, papah Mahendra sudah duduk di salah satu kursi di ujung meja, kemudian di dekatnya mamah Indah dan Nindya yang saling berhadapan. Tedy langsung berjalan dan mengambil tempat duduk di samping mamah Indah. Bersamaan Bram masuk lik Marni juga masuk dari dapur. Terlihat Bram dan lik Marni bersamaan mau mengambil tempat duduk di samping Nindya. Dan Bram yang lebih dahulu mendapatkan.
__ADS_1
"Ngapain kamu dekat dekat Nindya?" tanya papah Mahendra menggoda Bram
"Saya menjaga perasaannya Om" ucap Bram membuat semua menatap Bram
"Kamu di ujung sana" ucap papah Mahendra masih ingin menggoda Bram
"Biar saya yang di sini ga apa apa, sama saja" ucap Lik Marni.
"Sudah.., papah ngapain sih masalah tempat duduk dibikin ribut" ucap mamah Indah Sambil mengambilkan nasi papah Mahendra
"Selesai makan kita ke makam dulu baru ke kebun bunga" ucap mamah Indah.
Mereka semua kemudian makan tanpa keributan setelah selesai makan dan membereskan semuanya. Mereka sudah siap akan berangkat ke makam dan ke kebun bunga.
Tedy masih tetap pada posisinya sebagai sopir kemudian Bram duduk di sampingnya. Di belakang nya mamah Indah dan lik Marni, sedangkan Nindya dan papah Mahendra duduk di jok belakang.
Mobil keluar halaman rumah yang tanpa pintu pagar kemudian berbelok melewati jalan yang berlawanan arah dengan jalan menuju ke air terjun. Tidak berapa lama mobil sudah mendekati pada sebuah makam desa. Mereka semua turun dari mobil kemudian berjalan menuju makam untuk mendoakan arwah orang tua mamah Indah dan beberapa kerabat mamah Indah. Setelah selesai mereka kembali ke dalam mobil dan mobil berjalan menuju ke kebun bunga.
Mobil akhirnya berjalan pada suatu jalan aspal yang lebih lebar dan terasa jalan lebih ramai. Jalan berkelok kelok dan naik turun. Beberapa saat kemudian mobil sampai di suatu tempat wisata kebun bunga beautiful hill.
"Mamah mau beli bunga apa?" tanya Nindya di samping Mamahnya
"Nanti lihat lihat dulu" jawab Mamah Indah
"Ada yang bisa dibeli apa Nin?" tanya Bram
"Iya ada yang bisa dibeli ada yang tidak" jawab Nindya pada Bram yang berjalan di dekatnya
"Aku mau bunga desa saja" ucap Tedy
"Lik Marni itu Ted bunga desa kamu mau" ucap mamah Indah yang langsung dipukul oleh lik Marni dengan tasnya
"Lik Marni bunga ****** he...he..." ucap Tedy sambil tertawa kemudian merangkul lik Marni dan seketika mendapat cubitan dari lik Marni
Mereka kemudian berjalan tampak di depan berhamparan aneka bunga warna warni.segala jenis dan warna nya terlihat ada bunga krisan, mawar, sedap malam, gladiol, herbra, dan lain lainnya
__ADS_1
"Nin ke area bunga krisan yok" ajak mamah Indah kemudian berjalan menuju area bunga krisan. Ada berbagai macam jenis bunga krisan di situ. Yang lain pun mengikuti mamah Indah. Setelah sampai di area bunga krisan mamah Indah melihat lihat
"Mah yang itu bisa dibeli" tunjuk Nindya pada suatu tempat ada beberapa macam bunga krisan dan ada tulisan dijual. Mamah Indah kemudian mendekat diikuti oleh lik Marni, Nindya dan Bram pun tidak jauh dari Nindya
Mamah Indah melihat lihat bunga bunga tersebut
"Tante cari yang jenis lokal lebih mudah perawatannya lebih mudah hidupnya dari pada yang hibrid" ucap Bram pencitraan
"Mana yang lokal mana yang hibrid, kamu tahu?" tanya mamah Indah
"Pengalaman tukang kebun saya Tante" ucap Bram
"Itu yang warna putih, kuning, ungu yang helaian mahkotanya komposit tidak single itu Tan mudah tumbuhnya" ucap Bram selanjutnya
"Tapi bagus yang warna maroon itu Mas" ucap Nindya
"Ya terserah aku hanya bilang pengalaman pak Man" ucap Bram
"Ya sudah beli masing masing satu mana yang hidup nanti" ucap mamah Indah
"Mas fotoin kita donk" ucap Nindya pada Bram sambil memberikan hape nya.
"Papah dan Tedy kemana?" tanya mamah Indah mata nya mencari cari suami dan anak lelakinya.
"Itu Mah, mereka duduk di gasebo" ucap Nindya sambil menunjuk ke suatu arah ada gasebo di mana papah Mahendra dan Tedy nampak duduk memandangi hamparan kebun bunga.
"Ya sudah biar mereka menunggu di sana" ucap Mamah Indah. Setelah memilih bunga yang dibeli mereka pindah ke area bunga mawar ada segala jenis bunga mawar. Setelah puas di area bunga mawar, mereka pindah area bunga sedap malam. Tidak lupa Nindya selalu berfoto foto di setiap area.
"Mah aku mau lihat ke area sukulen dan kaktus" ucap Nindya lalu berjalan menuju ke area sukulen dan kaktus. Sedangkan mamah Indah dan lik Marni berjalan menuju ke area lain. Bram berjalan mengikuti Nindya.
"Kamu suka bunga apa Nin?" tanya Bram
"Bungalow ha...ha..." jawab Nindya yang kemudian mendapat cubitan di pinggangnya
Setelah puas melihat lihat mereka berjalan menuju ke gasebo tempat papah Mahendra dan Tedy duduk menunggu.
__ADS_1