Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
118. Curahan hati Lilian


__ADS_3

Tedy dan Lilian terlihat berada di ruang makan sedang memotong motong buah buah pada satu telenan yang sama. Mereka berdua bekerja dalam diam sibuk dengan pikirannya masing masing. Tedy mengamati jari jari lentik Lilian yang berada di depan matanya. Dan tiba tiba....


"Aduhhhhhh" teriak Tedy sambil menarik telunjuk jarinya yang tergores oleh pisaunya sendiri. Tedy lalu melepas pisau yang dipegangnya dan memegang jarinya yang tergores


"Keiris Kak?" tanya Lilian sambil melihat jari tangan Tedy yang dipegang oleh Tedy.


"Iya" jawab Tedy sambil masih memegang jarinya


"Coba lihat" ucap Lilian


"Kalau berdarah diobati Kak, dan Kak Tedy istirahat saja, aku kerjakan sendiri ga apa apa" ucap Lilian kemudian


"Ga berdarah kok, cuma kaget aja" jawab Tedy sambil memperlihatkan jarinya yang tergores oleh pisau. Lalu dia kembali memotong motong buah meskipun tidak berdarah tetapi terasa perih jika terkena air buah yang namun Tedy tidak menghiraukan. Sayang kesempatan bisa menatap Lilian dari jarak dekat ditinggalkan. Begitu batinnya. Dan merekapun melakukan pekerjaannya hingga selesai.


Waktu terus berlalu kegiatan demi kegiatan untuk persiapan acara mereka lakukan bersama sama saling membantu. Kadang tetangga dekat juga datang membantu. Di halaman rumah juga sudah terpasang tenda, meskipun acara hanya dilakukan secara sederhana dan hanya mengundang sodara dan kerabat dekat.


Setelah acara makan malam mereka semua duduk duduk santai di ruang keluarga.


"Sepertinya semua persiapan sudah okay ya Mah?" tanya papah Mahendra


"Iya Pah, semua sudah saya pastikan beres" jawab mamah Indah


"Keluarga Bharata katanya nanti juga sudah sampai di hotel, pakai penerbangan terakhir dan langsung istirahat di hotel. Besok mereka datang langsung di acara" ucap papah Mahendra. Lalu terlihat papah Mahendra berjalan menuju ke lantai dua akan beristirahat di kamar Tedy. Seperti rencana yang dibuat Nindya agar Lilian tidur dengan mamah Indah.


Sementara itu Nindya mengajak Mak dan Lik Marni masuk ke dalam kamarnya sebagai alasan ingin memperlihatkan baju yang akan dipakai besok. Dan selanjutnya mereka bertiga ngobrol di dalam kamar Nindya. Nindya terdengar tertawa tawa sebab Mak banyak cerita tentang masa kecilnya Bram.


Lilian berjalan menuju ke kamar Nindya dia berdiri di depan pintu kamar. Dilihat Mak sedang asyik bercerita sementara Nindya dan lik Marni sangat antusias mendengarkan cerita dari Mak. Sesekali mereka berdua menimpali dengan pertanyaan pertanyaan dan selanjutnya juga tertawa tawa.


Lilian kembali melangkahkan kaki ke ruang keluarga, nampak Tedy sedang melihat layar tv tetapi perhatiannya pada sosok Lilian. Sedangkan mamah Indah masih sibuk dengan hape nya untuk cek sana sini dan membalas beberapa pesan yang menanyakan kabar lamaran Nindya. Setelah selesai sibuk dengan hapenya mamah Indah menatap Lilian.

__ADS_1


"Li, kalau sudah ngantuk tidur di kamar Tante saja yok, Tante juga mau istirahat" ajak mamah Indah


"Sebentar Tante, nunggu Mak selesai cerita dulu, Lilian tidur di kamar Nindya saja" jawab Lilian yang merasa sungkan tidur di kamar mamah Indah


"Tapi sepertinya mereka sedang asyik, apalagi Mak cerita masa kecil Bram, Nindya bisa betah dengerinnya sampai besok pagi" ucap mamah Indah selanjutnya


"Tante mau masuk kamar Li, kalau kamu ngantuk ikut ke kamar Tante, kalau tidak ngantuk ya ngobrol ngobrol aja sama Tedy" ucap mamah Indah selanjutnya sambil bangkit berdiri tidak lupa melihat sekilas pada Tedy dan Lilian secara bergantian. Tedy nampak tersenyum berharap sedangkan Lilian nampak malu lalu ikut bangkit berdiri dan berjalan mengikuti mamah Indah menuju ke kamar.


Sesampai di kamar mamah Indah langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, beliau sangat merasakan penat tubuhnya saat bisa merebahkan tubuh di tempat tidur terasa sangat nyaman dan rileks apalagi sudah memakai daster kesayangannya.


"Sini rebahan sini, anggap Tante ibumu saja" ucap mamah Indah sambil menepuk nepuk kasur di samping yang ditiduri.


Lilian lalu berjalan dan duduk di tepi tempat tidur.


"Tidak apa apa Tan, Lilian bobok di sini?" tanya Lilian.


"Sini.. ga apa apa sprai dan sarung bantal baru Tante ganti tidak bau papahnya Nindya he...he..." jawab mamah Indah


Lilian lalu nampak mulai merebahkan tubuhnya di samping mamah Indah namun punggungnya masih menyandar di sandaran tempat tidur disanggah oleh bantal.


"Tidak terasa Li, anak anak sudah besar dan akhirnya sudah menemukan pasangannya, nanti tinggal Tedy katanya dia juga sedang menyukai seorang perempuan" ucap mamah Indah sambil menoleh menatap Lilian namun Lilian nampak hanya diam saja.


"Kata Nindya kamu disukai banyak cowok Li?" tanya mamah Indah selanjutnya, nampak sekarang Lilian tersenyum manis.


"Ah Nindya bisa aja Tante" jawab Lilian kemudian


"Tapi Tante percaya kok pasti banyak cowok suka sama kamu, kamu baik, cantik, pintar apalagi terkenal di kampus. Pilih salah satu yang sreg dengan hatimu Li" ucap mamah Indah


"Jangan bingung bingung, apa tanya ke Tante sini siapa saja yang suka nanti tante bantu pilihkan he... he..." ucap mamah Indah selanjutnya. Lilian nampak tersenyum.

__ADS_1


"Lilian takut Tan" ucap Lilian dengan suara sangat pelan. Mamah Indah lalu mengangkat kepala dan punggungnya selanjutnya menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur sekarang sudah sejajar posisinya dengan Lilian.


"Takut kenapa, takut ada yang kecewa?" tanya mamah Indah sambil menatap Lilian dan tangannya mengusap usap pundak Lilian. Nampak Lilian hanya menggeleng gelengkan kepalanya namun ada genangan air mata di kedua matanya.


"Takut karena kejadian masa lalu Tan" ucap Lilian kemudian sekarang air mata itu sudah mengalir di kedua pipinya. Nampak mamah Indah mengusap air mata di kedua pipi Lilian


"Kejadian masa lalu adalah masa lalu Li, pengalaman bisa untuk belajar kita" ucap mamah Indah


"Apa pacar mu meninggalkanmu?" tanya mamah Indah hati hati. Nampak Lilian menganguk


"Dia pergi ke perempuan lain?" tanya mamah Indah, nampak Lilian menggeleng gelengkan kepalanya.


"Terus?" tanya mamah Indah lagi


"Dia meninggal saat acara naik gunung bersama Tan, maka saya dan mas Bram kemarin waktu Nindya dipaksa naik gunung kami kuatir sekali, kami tidak ingin lagi kehilangan orang terdekat hik...hik.. hikk " ucap Lilian dan sekarang air matanya semakin deras mengalir


"Dan Mamahnya Adit menyalahkan saya Tan, saya dianggap penyebab kematian Adit... hua....hua....hua..." ucap Lilian selanjutnya dan sekarang tangisnya pecah. Mamah Indah memeluk Lilian, nampak mamah Indah juga ikut menangis ikut merasakan kesedihan Lilian yang sudah kehilangan seorang kekasih untuk selamanya masih ditambah dituduh sebagai penyebab kematian kekasihnya.


"Sabar Li" ucap mamah Indah sambil mengusap usap punggung Lilian. Mamah Indah sebenarnya sangat ingin mendengarkan cerita secara lengkap tapi tidak etis untuk mengorek orek luka Lilian, jadi mamah Indah hanya menunggu Lilian sendiri yang cerita.


"Sabar Li, umur manusia sudah digariskan, kita semua tidak ada yang tahu, juga penyebab kematian kalau menurut Tante itu juga sudah digariskan sebab kalau belum waktunya meskipun kecelakaan berat juga bisa terselamatkan kalau takdirnya masih hidup" ucap mamah Indah berusaha menghibur. Nampak Lilian mengurai pelukan mamah Indah dan menghapus air matanya.


"Kamu masih muda Li, masih panjang langkahmu masa depan cerah juga ada di depanmu, jangan tenggelam dalam kesedihan karena masa lalu" ucap mamah Indah selanjutnya.


"Iya Tan" jawab Lilian pelan.


"Janji ya harus bisa move on" ucap mamah Indah sambil tersenyum menatap Lilian sambil membelai rambut Lilian


"Lilian usahakan Tan" ucap Lilian pelan

__ADS_1


"Terimakasih Tante mau mendengarkan cerita Lilian" ucap Lilian


"Tante siap mendengarkan ceritamu kapan saja" ucap mamah Indah masih membelai belai rambut Lilian nampak Lilian menganguk.


__ADS_2