Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
160. Ngidam 2


__ADS_3

Bram sudah lega karena bapak Bharata menyanggupi memberi training pada Nindya. Lalu dia memberi kabar pada Pak Man agar besok pagi pagi langsung membersihkan paviliun. Setelahnya dia langsung pamit pada bapak Bharata dan ibu Murti untuk masuk ke kamarnya.


Dengan bibir berhias senyuman Bram membuka daun pintu kamar pelan pelan. Saat pintu sudah terbuka dia sedikit kaget saat melihat Nindya menutup tubuhnya dengan selimut sampai batas leher.


“Nin kalau AC kedingian kan bisa dinaikkan suhunya" ucap Bram sambil meraih remot AC


“Padahal suhu seperti biasanya Nin, katanya kalau orang hamil malah kegerahan kok kamu malah kedinginan” ucap Bram sambil memencet remot AC untuk menaikkan suhu


Nindya hanya diam saja dengan mata terpejam padahal dia belum tidur.


“Apa kamu sakit?” ucap Bram sambil menempelkan tangannya di dahi Nindya


“Kalau sakit, besok tidak usah kerja, istirahat di kamar saja" ucap Bram sambil duduk di tepi tempat tidur.


“Tidak sakit kok" ucap Nindya yang sekarang posisi tidurnya berubah miring memunggungi Bram.


“Kok selimutan rapat rapat gini" ucap Bram


“Besok kamu kerja dengan bapak Bharata ya..” ucap Bram lagi


Bram menoleh ke arah Nindya, pandangan matanya menyapu tubuh Nindya dari kepala menuju ke arah tubuh Nindya bagian bawah. Namun tiba tiba Bram mengeryitkan dahinya saat melihat ada pita merah menjuntai di luar selimut di bagian belakang pantat Nindya yang tertutup selimut.


Bram memegang pita itu pelan pelan.


“Kok sepertinya Nindya belum pernah pakai baju dengan pita seperti ini” gumam Bram dalam hati.


Bram lalu merunut pita itu dan membuka pelan pelan selimut Nindya di bagian pita yang menjuntai. Setelah selimut sedikit terbuka yang tidak disadari oleh Nindya. Mata Bram sedikit melotot melihat pemandangan indah di depannya. Dan selanjutnya Bram menelan air liurnya.


“Apa yang harus kulakukan" gumam Bram dalam hati karena ia ingat pesan dokter agar hati hati menjaga janin di dalam kandungan Nindya, apalagi pesan dari bapak Bharata dan ibu Murti yang panjang lebar agar Bram menahan hasratnya demi janin di kandungan.


“Semoga ini juga ngidamnya Nindya" gumam Bram lagi sambil tersenyum senang nanti bisa untuk alasannya kalau bapak dan ibunya marah pada dirinya karena tidak bisa membendung hasratnya untuk bertarung.


Bram lalu membuka pelan pelan selimut Nindya agar terbuka lebih banyak. Nindya pun tidak bereaksi seperti nya dia sekarang sudah merasakan selimut bagian bawahnya dibuka oleh suaminya. Terlihat Nindya mengigit bibir bawahnya, posisinya masih sama tidur miring sambil memunggungi Bram.


“Nin.. “ ucap Bram dengan suara parau


“Mas Bram suka tidak?” tanya Nindya


“Kenapa tanya begitu” ucap Bram sambil membuang selimut yang menutupi Nindya.

__ADS_1


Dan selanjutnya terjadilah pertarungan diantara mereka. Pengaruh hormon di kehamilan Nindya membuat dia yang lebih banyak melakukan penyerangan di saat ppertarungan. Dan itu membuat Bram sangat sangat senang dan bahagia, dia lebih banyak menikmati pertarungan yang terjadi dimana istrinya yang lebih banyak memegang kendali.


Pagi harinya Bram bangun lebih dulu, dilihatnya Nindya masih tertidur pulas lalu diciuminya wajah istrinya tidak lupa juga janin yang masih di dalam perut Nindya. Nindya tidak bereaksi sepertinya terlalu pulas, kemudian Bram menuju ke kamar mandi.


Setelah membersihkan diri Bram kembali melihat istrinya, Nindya sudah bangkit dari tidurnya. Nindya yang sudah memakai baju piyama itu lalu berjalan menuju ke kamar mandi.


“Perutnya tidak sakit kan Nin, tidak kram kan?” tanya Bram yang kuatir dengan kondisi janinnya


“Tidak kok Mas, dia baik baik saja" jawab Nindya sambil mengusap usap perutnya


Setelah mereka berdua selesai melakukan ritual pagi hari. Mereka lalu berjalan ke luar kamar untuk menuju ke ruang makan. Bram dan Nindya sudah memakai baju kerja rapi. Terlihat Nindya sangat bahagia.


“Mbak Nindya mau ikut ke kantor ya?” tanya Mak


“Iya Mak" jawab Nindya


“Tapi di kantor belakang nanti ngantornya sama aku" ucap bapak Bharata yang baru masuk ke ruang makan masih dengan baju santai.


“Kantor belakang mana Pak, mau berkebun ya?” tanya Mak dengan lugunya.


“Tapi kok mbak Nindya pakai baju kantoran." Ucap Mak kemudian


Setelah mereka selesai makan pagi. Bram dan ibu Murti siap akan berangkat ke Kantor. Namun Nindya merajuk lagi. Dia minta Bram mengantarnya ke kantor tempat dia bekerja.


“Ya ayo aku antar ke paviliun, paling masih dibersihkan Pak Man" ucap Bram sambil berjalan keluar rumah.


“Di antar pakai mobil" ucap Nindya sambil berjalan di samping Bram


“Pakai mobil bagaimana, jalan ke paviliun kan jalan setapak" ucap Bram tidak mengerti maksud Nindya


“Ya pakai mobil putar putar dulu di jalan terus nanti masuk lagi ke sini" ucap Nindya dengan nada sedikit emosi


“Nanti aku dan ibu telat Nin" ucap Bram. Nindya diam saja namun terlihat matanya berkaca kaca.


“Ayo kuantar ke paviliun” ucap Bram sambil memegang tangan Nindya karena terlihat Nindya hanya berdiri tidak berjalan saat Bram bilang kalau telat bila mengantar Nindya putar putar.


“Sudah sana pergi" ucap Nindya.


Suara Nindya yang ketus dan mengandung nada tangis terdengar oleh Ibu Murti.

__ADS_1


“Ada apa Bram?” tanya Ibu Murti.


“Itu Bu, Nindya minta putar putar dulu pakai mobil, kan kita keburu telat" ucap Bram sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


“Apa kamu nanti putar putar sama Bapak” ucap Bram. Nindya hanya menjawab dengan gelengan kepala.


“Ya sudah, ayo dituruti saja" ucap Ibu Murti.


Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Seperti keinginan Nindya mobil putar putar dulu di jalan lalu kembali masuk ke halaman rumah.


Setelah mobil berhenti Nindya cium tangan Bram dan ibu Murti kemudian dia turun dan tampak bahagia. Mobil Bram kemudian kembali berjalan menuju kantor Bharata Group.


“Tidak usah tergesa gesa Bram, tidak ada meeting pagi hari kan" ucap Ibu Murti


“Tidak ada Bu" jawab Bram


“Besok kamu lebih pagi siap nya, kayaknya besok anakmu juga minta putar putar dulu sebelum kamu berangkat kerja" ucap Ibu Murti sambil tersenyum


“Apa aku dulu juga begitu Bu?” tanya Bram sambil fokus pada kemudinya


“Iya.” Jawab Ibu Murti sambil tersenyum


“Bedanya dulu Ibu tidak berani bilang ke bapakmu saat Ibu ngidam.” ucap Ibu Murti kemudian


“Terus aku ngecesan Bu?” tanya Bram sambil tersenyum kecut.


“Untung tidak, Kalau ibu kepengen banget Ibu naik taxi, atau kalau tidak minta pak Man nganter muter muter pakai motor selepas mobil bapak keluar.” Ucap Ibu Murti lagi


“Bapak tidak tahu?” tanya Bram


“Pernah lihat dan tanya kenapa mengikuti mobilnya, Ibu jawab hanya ingin.” Jawab Ibu Murti


“Owh...” gumam Bram, dia merasa kasihan juga pada Ibu Murti yang diawal awal pernikahan kurang komunikasi karena perjodohan.


“Setelah kamu bisa minta sendiri pada bapakmu kamu ikut mobil putar putar dulu sebelum bapak ke kantor" ucap Ibu Murti lagi.


“Terimakasih ya Bu..sudah menjaga Bram.” ucap Bram tulus kepada Ibunya, sekarang dia bisa merasakan perjuangan ibu nya saat mengandung dirinya, setelah dia sekarang turut menjaga kandungan Nindya.


“Iya Bram itu sudah tanggung jawab orang tua. Sekarang tugasmu menjaga kandungan Nindya dan sampai besok anaknya besar.” Nasehat ibu Murti

__ADS_1


“Iya Bu....” jawab Bram sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan meskipun Ibu Murti duduk di jok belakang kemudi.


__ADS_2