
Sore hari mobil Bram memasuki halaman rumah. Mobil berhenti di depan teras. Bram dan ibu Murti turun dari dalam mobil. Bapak Bharata sudah pulang lebih dulu karena keburu kangen dengan cucu, ibu Murti ditinggal karena masih sibuk dengan laporan keuangan.
“Bu, saya lihat ke paviliun biasanya Andru menunggu di sana.” Ucap Bram. Ibu Murti menjawab dengan anggukan kepala lalu beliau berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Bram terus berjalan menuju ke paviliun.
Bram tersenyum berharap Andru dan Nindya sudah mandi dan berdandan rapi menyambutnya lalu Andru antusias mengajak jalan jalan.
Namun saat sampai di paviliun harapan tinggal harapan. Paviliun tampak sepi, hanya dilihatnya Nindya masih sibuk di depan komputernya.
“Nin dimana Andru?” tanya Bram sambil mendekati Nindya lalu memegang kedua bahu Nindya dari belakang sambil mencium puncak kepala Nindya.
“Eh.. ayah sudah pulang.” Ucap Nindya sambil menoleh ke arah Bram.
“Andru habis bobok siang tadi langsung mandi sama Bapak, terus diajak ke toko buku.” Jawab Nindya kemudian lalu dia melanjutkan sibuk dengan data data di layar komputer.
“Sudah Nin, tutup saja komputernya.” Ucap Bram
“Ini tadi diminta Bapak bantu ngecek data keuangan, sepertinya ada mutasi mencurigakan.” Ucap Nindya, dan terlihat ekspresi kaget di wajah Bram. Namun kemudian dia segera menetralkan.
“Ya sudah dilanjutkan nanti saja, sepertinya Arum juga menemui hal itu, sekarang dia sedang di Bank, semoga segera clear.” Ucap Bram kemudian. Nindya lalu menutup komputernya, selanjutnya mereka berdua berjalan meninggalkan paviliun.
Nindya lebih dulu masuk ke rumah dan lalu menuju ke dalam kamarnya, sebab Bram memasukkan mobilnya dulu ke garasi.
“Nin...” ucap Bram yang sekarang sudah menyusul Nindya ke dalam kamar.
Bram tidak mendapatkan jawaban dari Nindya. Namun akhirnya dia mengerti kalau Nindya sedang berada di dalam kamar mandi.
“Ah kesempatan mumpung Andru sedang dengan Bapak.” Gumam Bram dalam hati. Lalu dia mengunci pintu kamar agar bocil tidak menganggu bila sudah pulang nanti.
Bram lalu melepas pakaian kerjanya, sambil tersenyum penuh arti dia berjalan menuju ke kamar mandi.
“Nin... “ ucap Bram
Tok... tok... tok.... suara pintu diketuk ketuk Bram
“Sebentar Mas.” Jawab Nindya dari dalam kamar mandi diantara guyuran air.
“Tolong ini sebentar, urgen.. penting ... darurat... “ teriak Bram
“Cepat Nin...” teriak Bram lebih keras
Nindya yang kuatir langsung membuka pintu kamar mandi. Dan tidak pakai lama Bram langsung masuk ke dalam kamar mandi. Mereka berduapun akhirnya menumpahkan segala hasrat yang ada.
Setelah beberapa menit kemudian mereka berdua keluar tampak wajah wajah mereka bahagia terpuaskan.
“Terimakasih ya sayang...” ucap Bram sambil mencium puncak kepala Nindya saat Nindya sudah duduk di meja rias sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Mas.. Lilian kayaknya hamil dech, tadi waktu telpon kak Tedy katanya Lilian mual mual.” Ucap Nindya
__ADS_1
“Syukurlah, aku telpon kakak ipar sekarang.” Ucap Bram sambil memakai tshirt nya. Lalu dia berjalan menuju ke meja untuk mengambil hapenya.
“Bun tolong keringin rambutku juga.” Ucap Bram yang sekarang sudah berada di dekat Nindya lagi. Lalu dia menundukkan kepalanya. Dan Nindyapun membantu mengeringkan rambut suaminya.
“Pakai hair dryer apa Mas?”
“Ga usah, enak pakai handuk sambil dielus elus...” Jawab Bram.
“Nanti kalau rambutku masih basah kalau video call sama kakak ipar pasti dijailin” ucap Bram kemudian.
Setelah dirasa rambutnya sudah kering Bram lalu melakukan video call dengan Tedy. Tidak lama Tedy langsung menerima panggilan video dari Bram. Tampak wajah Tedy terlihat lelah.
“Hai adik ipar wajahmu cerah sekali.” Ucap Tedy
“Jelas kakak ipar aku habis olah raga sore, aliran darahku lancar car jadi wajah cerah.” Ucap Bram
“Kakak ipar kenapa wajah kusut katanya Lilian hamil?” Tanya Bram
“Bagaimana tidak kusut ini habis selesai packing keperluan kak Alvin, besok pagi cargo baru bisa ngambil.” Jawab Tedy.
“Lilian tidak bisa bantu masih lemes, tapi diajak ke dokter tidak mau jadi tambah kusutlah daku.” Ucap Tedy kemudian
Nindya yang mendengar lalu mendekat ke suaminya.
“Sudah di test pack belum?” tanya Nindya.
“Li... kamu pucat banget, pergi ke dokter ya..” ucap Nindya saat melihat wajah Lilian di hapenya.
“Sudah ga mual kok Nin.” Jawab Lilian dengan suara lemas
“Iya tapi demi suatu kepastian, kamu test pack coba.”
“Takut kecewa kalau hasilnya negatif Nin..” Jawab Lilian
“Kalau ke dokter takutnya hasil negatif dan mual mualnya karena sakit lambung, kayak dulu itu, kecewa banget Nin.” Ucap Lilian lagi.
“Ya ampun Li, namanya juga usaha. Kalau kamu ga mau ke dokter nanti aku suruh mamah Indah datang ke tempatmu, biar mamah Indah yang ngantar kamu ke dokter.” Ucap Nindya
“Kamu sekarang sudah mengurangi aktifitasmu kan?” tanya Nindya kemudian dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Lilian.
“Iya Nin, tugas study banding ke singapore sudah aku tolak padahal Rita juga jadi peserta di acara itu, sudah janjian dengan Tante Laras juga mau ketemuan. Sudah aku batalkan Kak Tedy tidak ngijinkan.” Ucap Lilian kemudian.
“Baguslah sekarang mikirin program hamil dulu daripada kecewa belakangan, namanya juga ikhtiar.” Ucap Nindya
“Nin kalau boleh, minta Mak buatin jamu donk buat aku dan Lilian.” Saut Tedy
“Berani bayar berapa itu jamu spesial buat aku dan Nindya.” Ucap Bram yang mendengar permintaan Tedy.
__ADS_1
“Matre.” Ucap Tedy dan Nindya bersamaan
“Iya Kak, nanti aku bilang ke Mak, dan aku kirim kalau sudah siap jamunya. Tapi dengan catatan kalian berdua harus banyakin waktu berduaan, percuma minum jamu kalau masing masing sibuk dengan aktivitasnya.”
“Iya iya adikku sayang, Lilian sudah mengurangi aktifitasnya aku juga sekarang aku lebih banyak jadi konsultan tidak lagi turun langsung di pameran pameran.” Jawab Tedy
“Ya sudah, jaga makanan Lilian dipaksa makan makanan bergizi, kasihan kalau sudah ada baby di perutnya.” Ucap Nindya lalu menutup sambungan telponnya. Lalu menyerahkan hape tersebut kepada Bram.
“Aku yang nelpon kenapa kamu yang omong dan yang nutup sih.” Ucap Bram sambil menatap Nindya.
“Ha... ha... lupa Mas, ya telpon lagi aja.” Ucap Nindya sambil tertawa.
“Eh Nin.. kok Andru belum pulang ya, ini sudah waktunya makan malam, biasanya dia kan sudah lapar lebih dulu.” Ucap Bram sambil melihat jam
“Coba kita lihat.” Ucap Nindya lalu dia berjalan membuka pintu kamar dan diikuti oleh langkah Bram.
Saat sampai di ruang keluarga terlihat Andru duduk manis di dalam pangkuan bapak Bharata dan terlihat Ibu Murti berada di dekatnya sambil menyuapi makanan pembuka buat Andru. Terlihat Bapak Bharata membacakan buku cerita buat Andru.
“Aduh anak ayah asyik sama Eyang ya...” ucap Bram lalu duduk di samping bapak Bharata setelahnya mencium puncak kepala Andru.
“Ayah atu bobok cama Eyang.” Ucap Andru
“Ayah juga bisa bacakan buku cerita.” Ucap Bram
“Butan yah... bial ayah bunda bica buat adik bayi tduwa...”
“Kalo ada atu adik bayina malu ga mau datan...”
“Ini pasti ajaran dari Bapak.” Gumam Bram dan bapak Bharata menoleh ke arah Bram.
“Bukannya kamu suka.” Ucap Bapak Bharata.
“Sudah ayo kita makan, Andaru ayo bacanya dilanjut nanti.” Ucap Ibu Murti. Kemudian mereka semua berjalan menuju ke ruang makan. Andru digendong bapak Bharata lalu Andru didudukkan di kursi makan khusus buat dia dan kali ini dia duduk di dekat ibu Murti.
Setelah selesai makan, benar Andru ke kamar ayah bunda nya hanya mengambil baju tidurnya dan kemudian dia keluar untuk berjalan menuju ke kamar Eyangnya. Tidak lupa Bram dan Nindya menciuminya lebih dulu.
“Aku sudah ambil kesempatan tadi eee sekarang dia malah memberi banyak waktu.” Gumam Bram sambil tersenyum
“Tapi pasti aku nanti akan kangen Andru.” Ucap Nindya.
“Kan ada aku Andru besar.” Ucap Bram sambil mengerlingksn matanya.
Namun tiba tiba Bram teringat Arum, yang tadi bilang akan datang ke rumah untuk menyerahkan laporan keuangan dan ingin bertemu Andru.
“Kenapa Arum belum datang ya, apa laporan keuangan belum selesai.” Gumam Bram dalam hati.
“Nindya tadi juga menemui mutasi rekening mencurigakan.” Gumam Bram lagi
__ADS_1