Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
181. Butuh yang segar segar


__ADS_3

Beberapa hari kemudian masa karantina Bram sudah berakhir. Kondisi emosi Arum pun sudah mulai stabil, peran keluarga dalam membesarkan hatinya sangat membantu memulihkan semangat hidup Arum. Terlebih kebersamaannya dengan Andru sangat membantu menghibur hatinya.


“Ibu Alum.... atu bobok cama ibu Alum ladi ya.” Ucap Andru setelah selesai makan malam


“Iya sayang....” ucap Arum sambil membelai rambut Andru


“Bial picang ajaib ayah tidak malu.” Ucap Andru lagi. Sedangkan Bram yang mendengar buru buru bangkit berdiri dan meninggalkan ruang makan. Dia kuatir kalau ditanya tanya lagi oleh Andru.


Sedangkan Arum yang ikut membereskan meja makan mengeryitkan dahinya menatap Nindya yang juga membereskan meja makan. Nindya hanya memberikan kode agar tidak menanyakan tentang pisang ajaib.


“Mas Bram pasti mengingatkan lagi pisang ajaib pada Andru.” Gumam Nindya dalam hati.


Setelah membereskan meja makan, Nindya berjalan menuju ke kamarnya. Sedangkan Andru sudah berjalan digandeng Arum menuju ke kamar Arum.


Nindya membuka pintu kamar pelan pelan. Terlihat suaminya sudah berbaring di tempat tidur sambil memegang hape.


“Nin.. Andru memang anak yang sangat memahami orang tuanya.” Ucap Bram sambil menoleh menatap Nindya yang sedang berjalan.


“Mas Bram ya yang nyuruh Andru tidur di kamar Arum lagi...” Ucap Nindya sambil berjalan menuju ke almari Andru.


“He..... He... He....” Bram menjawab dengan tertawa kecil.


“Bukannya menguntungkan kita dan Arum. Kita bisa melepas rindu, Arum terhibur hatinya.” Ucap Bram lagi sambil menatap Nindya dengan tersenyum penuh arti.


“Nin... sini....” ucap Bram sambil menepuk nepuk tempat tidur.


“Sebentar Mas, ini ngantar keperluan Andru dulu.” Jawab Nindya sambil terus berjalan meninggalkan kamar menuju ke kamar Arum untuk memberikan piyama tidur anaknya dan keperluan lainnya.


Tidak berapa lama setelah Nindya memberikan keperluan tidur Andru dan memberikan beberapa pesan buat anaknya. Nindya kembali masuk ke dalam kamarnya.


“Pintu dikunci Nin...” ucap Bram saat mendengar Nindya masuk lagi ke dalam kamarnya.


“Masih sore Mas...” jawab Nindya masih terus berjalan


“Nin... apa kamu tidak kangen pisang ajaibku...” ucap Bram sambil menarik tangan Nindya yang kebetulan berjalan di dekat tempat tidur. Karena kuatnya tarikan dari Bram, Nindya yang tidak siap langsung ikut terbaring di tempat tidur.


“Mas Bram..” ucap Nindya sambil menyikut tubuh Bram. Bram malah tertawa sambil memeluk dan menciumi istrinya.. Nindya yang juga sudah memendam rindupun membalas perlakuan suaminya. Mereka berdua terhanyut oleh gelombang rindu yang mengelora.


Namun tiba tiba...


“Bun....bun.... “ teriak si bocil Andru mengetuk ngetuk pintu karena tangan mungilnya tidak kuat mengetuk pintu, tangannya meraih handel pintu dan lalu menggerak gerakkan.


“Bun.... bun.... buta pintu.” Teriak Andru yang sekarang kakinya menendang nendang pintu. Sebab menggerak gerakkan handel pintu tetap tidak terbuka pintunya.


“Mas.. sebentar...” ucap Nindya lalu bangkit berdiri dan membenarkan rambut dan baju yang sudah berantakan.


Nindya lalu berjalan membuka pintu. Tampak sosok Andru di depan pintu


“Bunda cudah tidul?” tanya Andru sambil mendongak menatap bundanya.


“Iya ayah juga sudah tidur.” Jawab Nindya berbohong dan terlihat kemudian Bram pura pura tidur.


“Ada apa sayang?” tanya Nindya sambil membelai rambut Andru.


“Mau ambi butu ceyita bun...” jawab Andru lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Nindya ikut berjalan di belakang Andru.

__ADS_1


“Mau ambil buku yang cerita apa?” tanya Nindya saat sudah di dekat rak buku Andru.


“Bawa semua saja.” Ucap Bram namun hanya bisa berkata di dalam hati sebab ia sedang berpura pura tidur.


“Apa ya bun, teleta ajaib cudah, lampu ajaib cudah, tongkat ajaib cudah....” ucap Andru sambil mengobrak abrik buku cerita nya.


“Picang ajaib mana ya bun..” ucap Andru sambil mencari cari buku pisang ajaib dia akan meminta Arum membacakan.


“Ini saja dibawa, nanti biar ibu Arum yang memilih.” Ucap Nindya lalu memberikan beberapa buku cerita Pada Andru.


“Iya Bun... matacih ya bun...” ucap Andru sambil menerima beberapa buku


“Hati hati bawanya ga usah lari.” Ucap Nindya sambil mencium puncak kepala Andru. Andru menganggukkan kepala lalu berjalan dengan hati hati.


“Kalau buku pisang ajaib nya tidak ada besok biar ayah yang bacakan ya.” Ucap Nindya sambil mengusap puncak kepala Andru yang sudah berada di depan pintu kamar.


“Iya bun.” Jawab Andru lalu terus berjalan menuju kamar Arum. Nindya lalu menutup pintu kamarnya lagi.


Dia lalu kembali menyusul suaminya di tempat tidur.


“Mas.. sudah tidur beneran apa?” tanya Nindya karena Bram diam saja saat dia ikut berbaring di sampingnya.


Terlihat Bram lalu mengubah posisi tidurnya sekarang dia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.


“Nanti saja dilanjut kalau Andru sudah tidur...” ucap Bram sambil membelai rambut Nindya


“Nin....”


“Hmmmmm" jawab Nindya sambil memeluk pinggang suaminya.


“Kamu masih cinta aku kan?” tanya Bram sambil mencium puncak kepala Nindya


“Mas, aku mencintai mas Bram karena kebaikan hati Mas Bram bukan karena harta Mas Bram.” Jawab Nindya


“Kita punya Andru Mas, harta yang tidak ternilai.. uang dan harta duniawi nanti bisa dicari lagi...” ucap Nindya sambil mempererat pelukannya


“Terimakasih ya...”


“Ini aset berhargaku masih kujaga tidak buat jaminan dalam kondisi apapun.” Ucap Bram kemudian


“Apa?” tanya Nindya.


“Pisang ajaib he...he...” jawab Bram sambil tertawa


“Mas kalau sertifikat rumah ini apa juga sudah untuk jaminan Bank, kita masih butuh dana segar.” Tanya Nindya selanjutnya


“Nin... sejak dulu bapak mengawali bisnis, bapak tidak mau menjaminkan sertifikat rumah tempat tinggal.. kuatir kalau kredit macet rumah disita. Tidak sampai hati kalau anak istri harus pindah pindah cari tempat tinggal.” Jawab Bram


“Kita cari cara yang lain saja.” Ucap Bram kemudian


“Kalau aku coba tanya papah gimana Mas, pinjam sapi sapi nya dulu, kayaknya papah juga punya deposito.” Ucap Nindya.


“Aku ga enak sama papah mamah Nin...” jawab Bram.


“Ga apa apa Mas, aku yakin kalau wabah sudah selesai perusahaan bisa bangkit lagi. Dana perusahaan di luar negeri kan masih dalam wujud piutang suatu saat akan balik kalau kondisi sudah membaik.” Ucap Nindya

__ADS_1


“Om Prabu juga menawari bantuan, tapi kondisi keuangan hampir sama. Investasi investasi kemungkinan dicairkan untuk menutup operasional.” Kata Bram.


“Om Prabu juga tidak tega merumahkan karyawannya lebih memilih merelakan investasi pribadi daripada mempertaruhkan nasib keluarga karyawan.” Ucap Bram kemudian


“Iya Mas, apalagi kalau sudah mengenal baik keluarga karyawan.”


“Benar Nin, pak Heri sudah menelponku tempo hari mau digaji berapapun asal tidak dirumahkan.”


“Bagus kalau karyawan juga memahami kondisi keuangan perusahaan. Baiklah aku hubungi papah dulu..” ucap Nindya lalu dia mau bangkit berdiri.


“Sebentar dulu Nin...” ucap Bram sambil meraih pinggang Nindya.


“Nanti saja Mas, aku mau cari dana segar dulu...” ucap Nindya


“Aku juga mau yang segar segar....” ucap Bram sambil tangannya usil menuju ke area favoritnya


“Hust....” dengus Nindya sambil menepis pelan tangan Bram yang sudah menjalar ke milk clip nya. Sedangkan Bram yang ditepis tangannya hanya tertawa kecil.


Nindya lalu bangkit berdiri dan berjalan untuk mengambil hapenya. Dia akan melakukan sambungan telpon dengan papah Mahendra. Namun beberapa kali melakukan panggilan tidak dijawab oleh papah Mahendra.


Nindya lalu berganti melakukan sambungan telpon pada mamah Indah.


“Halo Nin bagaimana kabar kalian?” ucap mamah Indah setelah menggeser tombol hijau


“Alhamdulillah... berkat doa mamah dan papah kita semua sehat, Andru tambah pinter mah.. Gimana kabar mamah papah.”


“Sehat sehat juga, papah ngajar daring sekarang.”


“Aku nelpon papah kok ga diangkat mah, apa sedang sibuk?” tanya Nindya


“Iya, sedang buat materi, media untuk ngajar daring. Serius tidak bisa diganggu.” Jawab mamah Indah


“Ada apa?” tanya mamah Indah selanjutnya


“Mah... Kalau boleh aku dan mas Bram mau pinjam sapi papah dan deposito papah. Butuh dana segar untuk bayar tagihan suplier.”


“Aduh Nin.. bukannya tidak mau bantu, tapi sapi dan deposito papah sudah dicairkan dan dikirim ke kakakmu Alvin.” Jawab mamah Indah


“Dia juga kesulitan keuangan.” Ucap mamah Indah selanjutnya


“Ooooooo...” gumam Nindya panjang


“Ya sudah mah ga apa apa...” ucap Nindya kemudian.


“Maaf ya Nin, nanti mamah bantu buat beli susu Andru hanya itu yang bisa mamah buat.. “ ucap mamah Indah dengan nada sedih. Bagaimanapun orang tua merasa kecewa jika tidak bisa membantu anaknya bila sedang dalam kesulitan.


“Terimakasih mah, yang penting doain kami ya....” ucap Nindya setelah mamah Indah mengiyakan mereka kemudian mengakhiri sambungan telponnya.


Nindya dengan lesu kembali berjalan menuju ke tempat tidurnya.


“Sudah dikirim ke kak Alvin ...” ucap Nindya sambil naik ke tempat tidur.


“Ya sudah besok kita cari cara lain.” Ucap Bram sambil memeluk tubuh Nindya


“Kita lanjutkan tadi saja yang sudah tertunda.” Ucap Bram sambil mencium rambut Nindya

__ADS_1


“Sudah jangan dipikir dulu masalah keuangan, tidak hanya kita yang sedang kesulitan. Kalau kita usaha pasti ada jalan...” ucap Bram sambil mengusap usap pundak Nindya. Dan selanjutnya tidak hanya menciumi rambut Nindya namun berubah ke tengkuk Nindya dan tangannya pun sudah menjalar menuju ke area area favoritnya.


__ADS_2