
Tiga hari sebelum lamaran Nindya, Tedy sudah sampai di Yogyakarta dia langsung memakai taxi online setelah turun dari bandara.
Setelah turun dari mobil taxinya, Tedy melangkahkan kaki menuju kost Nindya. Saat berjalan dia menatap sosok Lilian yang sedang berjalan dari kamar Nindya menuju ke kamarnya. Tedy hanya menatap punggung Lilian sedangkan Lilian tidak melihat kedatangan Tedy.
"Aduh kenapa dadaku berdebar dan bergemuruh seperti ini" gumam Tedy sambil memegang dadanya dengan salah satu tangannya.
"Baru juga melihat punggungnya dengan jarak beberapa meter sudah begini rasanya, apalagi kalau dekat..." gumam Tedy lagi
"Kak Tedy.... kok ga kasih kabar sudah sampai sini" Teriak Nindya mengagetkan Tedy yang masih berdiri mematung sambil memegang dadanya. Sedangkan Lilian sudah masuk ke dalam kamarnya tidak mendengar teriakan Nindya yang tidak keras.
"Iya Tot, kamu itu nambah bikin jantung ku berdebar debar" ucap Tedy lalu berjalan menuju ke kamar Nindya
"Aku tahu pasti kakak berdebar melihat Lilian yang baru keluar dari kamarku" ucap Nindya sambil menjabat tangan kakaknya untuk memberi salam
"Kamu tahu saja" jawab Tedy yang sudah duduk di kursi teras Nindya
"Aku kan lebih pengalaman jatuh cinta kak" ucap Nindya lalu masuk ke dalam kamarnya untuk membuatkan minum kakaknya.
"Gimana Nin, akhirnya kita pulang mau pakai apa?" tanya Tedy
"Kemarin Bram menawarkan mobil kantor dan sopirnya" ucap Tedy selanjutnya
"Kita semua pengen naik kereta api Kak, Mak katanya pusing kalau naik mobil lama lama, kalau naik pesawat takut" jawab Nindya sambil memberikan minuman pada kakaknya.
"Aku juga capek kalau naik mobil sendiri pasti malah nemenin pak Sopir ga bisa istirahat" ucap Tedy
"Ach aku tahu kakak ga bisa deket dekati Lilian" ucap Nindya menduga duga
"Bener kamu" ucap Tedy
"Nanti kalau naik kereta kamu duduk di samping Mak, aku di samping Lilian ya" pinta Tedy. Namun selanjutnya dia terdiam, dia justru kuatir sendiri baru melihat punggungnya dari jauh saja sudah berdebar apalagi kalau duduk berdekatan bisa bisa terkulai lemas di kursi.
"Iya iya... tapi kok kakak jadi diem aja, takut Lilian ga mau duduk di samping kakak ya?" tanya Nindya
"Nanti aku atur dech biar Mak duduk di sampingku" ucap Nindya kemudian
"Bukan Nin, dulu itu jantungku ga berdebar kayak gini kalau lihat Lilian tapi sekarang kok bergemuruh gini, apalagi kalau duduk dekat kalau aku pingsan gimana" ucap Tedy dengan mimik kuatir
"Itu tandanya kakak sudah bener bener jatuh cinta" jawab Nindya
__ADS_1
"Awas kalau pingsan kakak itu disuruh jaga kita malah pingsan gimana donk" ucap Nindya
"He.. He... lah berdebarnya juga otomatis" jawab Tedy
"Tapi rasa berdebarnya enak kan?" goda Nindya
"Beda kalau kita berdebar sedang kuatir atau takut" ucap Nindya selanjutnya
"He.. He... iya" jawab Tedy sambil tertawa kecil
"Ya sudah kakak istirahat di dalam aja, mengatur hati, nanti kalau berdebar ambil nafas dalam dalam ha...ha..." ucap Nindya lalu tertawa
"Aku ke kamar Lilian. Nanti sore kita berangkat, tiket sudah dibelikan mas Bram" ucap Nindya lalu dia melangkahkan kaki menuju ke kamar Lilian.
"Tot..." panggil Tedy saat Nindya sudah melangkah beberapa belum jauh dari kamarnya. Nindya lalu menoleh dan Tedy menganggukkan kepalanya sebagai kode agar Nindya mendekat, Nndya pun lalu kembali berjakan mendekat ke kakaknya.
"Apa?" tanya Nindya pelan
"Ini kamu kasih ke Lilian, temenku ada yang jadi designer perhiasan ini hasil karyanya" ucap Tedy sambil mengulurkan sebuah kotak perhiasan
"Waooo keren banget" ucap Nindya kagum saat melihat isi kotak perhiasan tersebut sebuah kalung dengan liontin yang cantik.
"Kata Bram kalau ngasih kamu dan Lilian, nanti Lilian ga merasa spesial di hatiku" ucap Tedy sambil meringis
"Ihhhhh kok gitu" ucap Nindya cemberut
"Ya sudah kasih itu dulu ke Lilian, ada buat kamu, kamu atur ya agar Lilian mau... " ucap Tedy sambil tersenyum selanjutnya Tedy kembali masuk ke kamar Nindya. Sedangkan Nindya berjalan menuju ke kamar Lilian. Nindya mengetuk ngetuk pintu kamar Lilian yang tertutup.
"Li...." teriak Nindya selanjutnya. Dan tidak lama pintu kamar Lilian terbuka dan muncul sosok Lilian di balik daun pintu.
"Masuk Nin, aku sedang beresin barang yang dibawa nanti" ajak Lilian yang sudah lebih dulu berjalan masuk, kemudian diikuti oleh langkah kaki Nindya.
"Li, aku mau nunjukin sesuatu" ucap Nindya saat sudah duduk di tempat tidur Lilian
"Apa?" tanya Lilian sambil menoleh ke arah Nindya
"Lihat nich...." ucap Nindya sambil menunjukkan kotak perhiasan
"Cincin lamaranmu?" tanya Lilian
__ADS_1
"Bukan, cincin lamaran masih dibawa ibu Murti" jawab Nindya
"Terus apa, kepo aku...?" tanya Lilian
"Abrak gadabrakkkkk" ucap Nindya sambil membuka kotak perhiasan
"Waoooo keren banget cocok tuh Nin untuk dipakai di acara lamaranmu, dari mas Bram ya?" tanya Lilian dengan mata bersinar kagum
"Kamu suka? ini emas putih Li, hasil karya designer..... berbakat" ucap Nindya yang tidak jadi mengatakan designer teman kak Tedy
"Suka sih, ini bagus banget Nin artistik elegan tapi kan ini punya kamu, tidak boleh menginginkan milik orang lain ha...ha..." ucap Lilian sambil tertawa
"Ini buat kamu" ucap Nindya sambil menaruh kotak perhiasan di telapak tangan Lilian dan mengenggamkan tangan Lilian pada kotak perhiasan tersebut
"Nanti mas Bram kecewa Nin kalau dikasih ke aku" ucap Lilian berusaha menolak
"Enggak, ini buat kamu... dari aku" ucap Nindya
"Serius?" tanya Lilian dan Nindya menganggukkan kepala dengan yakin
"Terimakasih ya, aku pakai besok pas acara lamaranmu" ucap Lilian sambil memeluk Nindya. Nindya sedikit terpaku dalam hati dia mengucap... maaf ya Li, ini bohong putih... Nindya kuatir kalau berkata dari kak Tedy, Lilian tidak mau menerima padahal dia sebenarnya menyukai barang itu, ach besuk pelan pelan mengatakan perhiasan itu dari Kak Tedy. Mata Nindya berkaca kaca namun secepat kilat dia menetralkan suasana hatinya kuatir Lilian mengetahuinya.
Lilian mengurai pelukannya, lalu dia kembali melihat perhiasan di dalam kotak tersebut, selanjutnya mengambil kalung dan liontin tersebut dan mencoba memakainya di leher. Dia berjalan menuju ke cermin hias yang berada di kamarnya. Nindya ikut berjalan di belakang Lilian lalu membantu mengaitkan kaitan kalung di leher Lilian. Nampak Lilian tersenyum sambil memantas mantas.
"Cantik Li, cocok banget kamu pakai" ucap Nindya dengan pujian tulusnya.
"Terimakasih ya Nin" ucap Lilian sambil tersenyum
"Semoga kamu suka, kalau sudah tidak suka jangan dibuang, jangan dikasih ke orang lain, dikasih lagi ke aku he...He..." ucap Nindya sambil terkekeh
"Ya enggak mungkin lah...Aku suka banget ini Nin" ucap Lilian lalu mencoba melepas kalung tapi dia kesulitan lalu dibantu dengan Nndya selanjutnya menaruh kembali kalung dan liontin di dalam kotak perhiasan dan Lilian menyimpan ke dalam tas perlengkapan pribadi yang akan dibawa nanti untuk ke rumah Nindya.
"Kamu sudah beres Nin persiapannya?" tanya Lilian kemudian
"Sudah tinggal nanti mandi dan nunggu jemputan, semua barang sudah beres. Sebagian kan sudah dikirim lewat cargo Li, jadi ga repot bawa bawa" jawab Nindya
"Nanti mas Bram yang ngantar Mak ke sini terus ngantar kita ke stasiun" ucap Nindya selanjutnya
******
__ADS_1
bersambung