
“Bu saya pamit mau lihat Andru.”ucap Nindya setelah Arum dan Johan sudah pulang. Ibu Murti menjawab dengan anggukan kepala sambil menatap Nindya. Kemudian beliau kembali menatap layar televisi.
Nindya lalu berjalan menuju ke kamar Mak. Nindya membuka pelan pelan pintu kamar Mak karena kuatir menganggu jika Andru sudah tertidur. Namun betapa terkejutnya Nindya saat melihat di dalam kamar Mak. Terlihat Mak sudah tertidur pulas dengan banyak buku berada di di sekitarnya termasuk di atas tubuh nya juga ada beberapa buku. Sedangkan Andru malah asyik membuka buka halaman buku.
“Andru kok belum bobok?” tanya Nindya sambil mendekati Andru
“Macih baca butu Bun.” Jawab Andru
“Baca buku apa?” tanya Nindya sambil duduk dan memberesi buku buku.
“Banyak bun.” Jawab Andru sambil membolak balik halaman buku di hadapannya.
“Ayo ke kamar kita bobok.” Ajak Nindya
“Bunda bacain ya.. mbah Mak bobok bayu baca dicit.” Pinta Andru sambil menatap bundanya.
“Iya.” Jawab Nindya dan dia berharap Andru sudah lupa dengan pisang ajaib.
Sesampai di kamar, setelah membersihkan diri dan berganti baju piyama tidur, mereka berdua lalu menuju ke tempat tidur.
“Bun, bacain butu teyeta ajaib ya Bun.” Ucap Andru sambil memberikan sebuah buku. Nindya terlihat lega karena Andru sepertinya sudah lupa dengan pisang ajaib. Nindya menerima buku sambil tersenyum.
“Ada tuda nya bun keyen.” Ucap Andru lagi.
“Iya...” jawab Nindya. Lalu Nindya mulai membacakan buku cerita yang diminta Andru. Andru terlihat menyandarkan tubuhnya di dada Nindya sambil mendengarkan Nindya membacakan buku cerita. Dan lama lama Andru tertidur.
Setelah Andru terlihat sudah tertidur pulas. Nindya membaringkan tubuh Andru, dan ditaruh boneka jerapah teman tidurnya di samping tubuh Andru.
Nindya lalu bangkit berdiri mengambil hapenya dan selanjutnya berjalan menuju ke sofa yang berada di dalam kamarnya. Nindya akan menghubungi suaminya, mau memberikan info terkini tentang kasus permasalahan keuangan Bharata Group Yogya.
Bram yang hape nya berdering ada panggilan dari istrinya langsung menggeser tombol hijau.
“Hallo.” Ucap Bram.
“Mas, ada hot news.” Ucap Nindya dengan nada serius
“Hot news apa?” tanya Bram. Dan Nindyapun lalu menceritakan apa yang di dengar saat rapat tadi.
__ADS_1
“Tapi aku ketinggalan berita utamanya jadi tidak tahu siapa pelakunya.” Ucap Nindya sambil tersenyum
“Karena berita tidak lengkap, kamu juga dapat hukuman.” Ucap Bram
“Mas Bram, aku sudah kasih info terkini masih dapat hukuman juga.” Ucap Nindya dan tampak Bram tersenyum.
“Ya sudah kamu sekarang istirahat. Terimakasih infonya, namun tunggu hukumannya.” Ucap Bram dia sebenarnya masih rindu dengan istrinya. Namun ia ingin segera menghubungi bapak Bharata ingin tahu siapa pelakunya.
Setelah mereka berdua mengucapkan selamat malam romantis lalu Nindya menutup sambungan telponnya.
Sementara itu Bram ingin segera mengetahui siapa pelaku yang berkhianat pada Bharata Group, dia langsung menghubungi bapak Bharata. Agak lama Bram mencoba menghubungi namun lama tidak diangkat oleh Bapak Bharata.
“Apa bapak sudah tidur ya.” Gumam Bram dalam hati sambil masih menunggu sambungan terhubung.
Dan tidak lama kemudian
“Halo ada apa Bram, malam malam menghubungiku?” tanya bapak Bharata dengan nada kuatir. Beliau kuatir Bram mendapat masalah di Jakarta.
“Bagaimana kabarmu?” tanya bapak Bharata
“Baik Pak, masih bisa terhandel.” Jawab Bram
“Pelaku apa?” tanya bapak Bharata untuk memastikan maksud pertanyaan Bram.
“Apa lagi kalau tidak masalah keuangan.” Jawab Bram
“itulah yang aku tidak habis pikir, kenapa dia tega melakukan.” Ucap Bapak Bharata
“Kuharap kamu tenang kalau mengerti siapa pelakunya. Arum pun belum aku beritahu.”ucap bapak Bharata kemudian
“Siapa Pak?” tanya Bram tidak sabar
“Semua bukti yang kudapat mengarah pada Johan.” Jawab bapak Bharata
“S***, bagaimana mungkin Pak.” Ucap Bram tidak percaya.
“Itulah, ibumu juga kuatir Arum tidak bisa menerima kenyataan kalau suaminya sudah berkhianat.” Ucao bapak Bharata
__ADS_1
“Bapak sudah telusuri kemana aliran dana yang dia selewengkan?” tanya Bram
“Ke perusahaan orang tuanya dan pada suatu rekening seperti nya pemiliknya seorang perempuan.” Jawab bapak Bharata
“Banyak ya Pak?” tanya Bram sambil mengusap wajahnya dengan kasar
“Lumayan, apalagi kondisi dunia sedang krisis seperti ini.” Ucap Bapak Bharata. Mendengar jawaban dari bapaknya, Bram merasa sangat geram dengan Johan. Spontan Bram mengepalkan tangannya.
“Pengen aku jadikan sam sak itu anak.” Gumam Bram.
“Jangan pakai kekerasan, uang tidak kembali malah kamu berurusan dengan hukum dan tensi naik.” Ucap Bapak Bharata yang mendengar gumaman Bram.
“Kita mencoba mengurusnya, jika memang tidak kembali ya sudah kits iklaskan. Rejeki yang didapat tidak dengan cara benar juga akan hilang psrcuma.” Ucap Bapak Bharata
“Kalau yang diambil itu masih rejeki kita pasti akan kembali kepada kita entah kapan dan dalam wujud apa.” Ucap Bapak Bharata lagi
“Rejeki itu tidak hanya dalam wujud uang.” Ucap Bapak Bharata selanjutnya
“Bapak kenapa bisa bicara seperti itu.” Gumam Bram yang didengar oleh Bapak Bharata
“Nanti pada saatnya kamu juga akan memahami, dan mulai sekarang camkan omongan aku tadi.” Ucap Bapak Bharata
“Baik Pak.” Ucap Bram. “Bapak... kalau kondisi keuangan sedang baik baik saja mungkin aku akan dengan mudah menerima omongan bapak, tapi saat kita dalam kesulitan rasanya sangat susah.” Gumam Bram dalam hati.
“Sudahlah kamu kerjakan tugasmu.” Ucap Bapak Bharata
“Aku lebih mengkuatirkan psikologis Arum dibanding uang yang kabur.” Ucap Bapak Bharata lagi dan tampak Bram juga berpikir tentang psikologis Arum jika mengerti suaminya berkhianat.
“Juga ibumu, di luar dia tegar, tapi saat sendirian di dalam kamar dia masih sering menangis setelah mengetahui Johan pelakunya.” Ucap Bapak Bharata lagi.
“Kita harus lebih banyak berdoa Bram. Sudah ya, aku capek aku mau istirahat. Kamu baik baik di Jakarta.” Ucap Bapak Bharata lalu beliau memutus sambungan teleponnya.
Sementara itu Bram masih terpaku. Dia mengingat ingat bagaimana perjalanan cinta Arum dan Johan. Mereka berdua berpacaran lebih lama dari pada dirinya dan Nindya. Johan pun terlihat sangat baik dengan Arum di saat pacaran. Sampai sampai semesteran saja Arum mendapat hadiah. Apalagi kalau Arum berulang tahun semua keinginan Arum dituruti.Benar benar tidak menyangka akan seperti ini setelah Arum menjadi istrinya malah dia berkhianat.
“Apa orang tuanya yang menyuruh atau perempuan yang kata bapak menerima sebagian aliran dananya.” Gumam Bram dalam hati.
“S*** saat kondisi krisis malah ada pengkhianat.” Gumam Bram lagi yang sebenarnya dia ingin memberi pelajaran pada Johan. Namun dia juga mengingat pesan bapak Bharata.
__ADS_1
Bram lalu berjalan menuju ke ruang makan untuk mengambil air minum agar otaknya mendingin.