
Bram bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke pintu kamar dan selanjutnya memutar pelan handel pintu, setelah terbuka nampak sosok Om Prabu
"Ayo makan" ajak Om Prabu dan Bram menjawab dengan angukan kepala. Setelah mendapat jawaban dari Bram lalu beliau berjalan menuju ke ruang makan.
Sedangkan Bram yang masih berdiri di dekat pintu menoleh ke arah Tedy.
"Ayo Bro, makan dulu nanti dibahas lagi kesepakatan kita" ucap Bram lalu berjalan mengikuti Om Prabu. Tedy akhirnya juga bangkit berdiri dan berjalan menuju ke meja makan.
Di meja makan nampak sudah tersedia menu makan malam, meja dorong nampak sudah kosong, sepertinya Om Prabu sudah mengatur semua sajian di meja makan. Bram dan Om Prabu sudah duduk di kursi meja makan tersebut.
"Apa Om Prabu mempunyai jiny oh jiny kok langsung ada makanan lengkap di meja makan?" tanya Tedy sambil mengamati meja makan lalu ikut duduk di salah satu kursi.
"Ada pegawai pantry di bawah yang masak untuk menyediakan makan juga buat pegawai yang tugas malam" jawab Om Prabu sambil mulai mengambil makanan dan menaruhnya ke piring nya.
"Kalian berdua dapat salam dari Tante dan Erlang, jangan bercanda berlebihan semua ruangan di sini ada cctv dan bisa di lihat Tantemu" ucap Om Prabu selanjutnya
"Semua ruangan Om?" tanya Bram dan Tedy bersamaan sambil menatap Om Prabu dengan ekspresi kaget dan kuatir.
"Iya" jawab Om Prabu singkat
"Tapi kamar mandi tidak" ucap Om Prabu selanjutnya karena Om Prabu menyadari ekspresi wajah Bram dan Tedy yang kuatir
"Ohhh.. syukurlah aku berganti pakaian di kamar mandi he... he..." ucap Tedy
"Makanya Om Prabu tidak berani macem macem karena dipantau Tante, aku kok jadi pengen pasang cctv di kamar Nindya" ucap Bram sambil tersenyum
"Tidak boleh" ucap Tedy dan Om Prabu bersamaan
"Sudah sekarang makan" ucap Om Prabu kemudian dan selanjutnya mereka makan malam dalam diam.
Beberapa menit kemudian mereka sudah menyelesaikan makan malamnya. Nampak Bram dan Tedy bertugas memberesi meja makan lalu menaruhnya di meja dorong.
"Kamu bawa meja dorong keluar, taruh di depan pintu, nanti pegawai mengambilnya " ucap Om Prabu lalu berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Bram kamu balik Yogya kapan?" tanya Om Prabu saat sudah berada di depan pintu kamar
"Besok Om" jawab Bram sambil mendorong meja dorong. Tedy tampak ikut berjalan di belakang Bram.
"Bro kamu pantas sekali memdorong meja ini he..he.. " ucap Tedy sambil tertawa. Bram tidak menghiraukan, dia terus mendorong dan menaruh meja dorong di depan pintu, lalu menutup pintu. Nampak Tedy berjalan ke ruang depan dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.
Setelah menutup pintu Bram berjalan dan selanjutnya ikut di duduk di dekat Tedy.
__ADS_1
"Ayo Bro dilanjut pembicaraan kita" ucap Bram setelah mendudukkan pantatnya di sofa.
"Tadi sampai mana?" tanya Tedy
"Siapa perempuan yang menurutmu beruntung dikagumi seorang Tedy he...he..." ucap Bram lalu diikuti tawa kecilnya
"Lilian" jawab Tedy dengan mantap, tetapi nampak ekspresi datar di wajah Bram
"Kamu harus bantu aku, aku sudah minta bantuan ke Nindya tapi hasilnya nihil. Kata Nindya sahabatmu juga dekati Lilian" ucap Tedy kemudian
"Apa yang sudah kakak ipar lakukan untuk mendapatkan hatinya?" tanya Bram serius sambil menatap Tedy
"Apa ya?" ucap Tedy malah ganti bertanya, nampak dia sedang berpikir mengingat ingat
"Kalau kakak ipar saja belum melakukan apa apa kok minta orang lain membantu" ucap Bram sambil melempar bantal kecil yang berada di sofa ke tubuh Tedy.
"Aku sudah melakukan banyak hal Bro, cuma mengingat ingat saja" kilah Tedy
"Kalau aku belikan sesuatu untuk Nindya aku juga belikan ke Lilian" ucap Tedy kemudian
"Itu belum spesifik pasti Lilian mengira kamu juga menganggap Lilian sebagai adikmu" ucap Bram
"Aku sering kirim pesan text ke dia tapi seringnya hanya dibaca doang, ga dibalas" ucap Tedy nampak frustasi
"Kamu malah ngetawain" ucap Tedy sambil bersungut sungut
"Kamu sudah janji loh menuruti mauku, mauku kamu membantu aku, aku jadian sama Lilian... titik" ucap Tedy kemudian
"Berat rivalmu Bro" ucap Bram
"Temenmu itu rivalku? siapa namanya kata Nindya namanya si parit apa selokan" ucap Tedy
"Sembarangan ganti nama orang namanya Farid, F A R I D " ucap Bram sambil memperjelas ejaan kata farid
"Terserah tahuku namanya parit" ucap Tedy
"Bukan Farid rival beratmu" ucap Bram. Nampak Tedy terlonjak kaget lalu menoleh menatap Bram
"Siapa Bro?" tanya Tedy tidak sabar
"Nindya pernah bilang Lilian mempunyai boneka kesayangan, apa itu rival terberatku, aku bisa mengalahkan boneka itu Bro sampai dia mati tidak berkutik kutik" ucap Tedy
__ADS_1
"Lha emang boneka nya sudah mati tidak berkutik kutik ...ha...Ha..." ucap Bram sambil tertawa dan melempar bantal sofa lagi ke arah Tedy
"Kamu jangan melempari bantal bantal ini ketahuan Tante mu ... ya Tante..ini Bram sangat kurang ajar melempar lempar bantal" ucap Tedy sambil menatap ke arah salah satu kamera cctv di ruangan tersebut. Nampak Bram juga sedikit ketakutan lalu mengambil bantal sofa yang jatuh di lantai.
"Rivalmu itu yang ngasih boneka itu" ucap Bram kemudian setelah kembali duduk di sofa
"Siapa yang ngasih, si parit bin selokan atau jangan jangan malah kamu?" tanya Tedy serius
"Bukan semua bukan aku dan bukan Farid" jawab Bram
"Siapa?" tanya Tedy lagi. Nampak Bram mengambil nafas dalam.
"Siapa Bro, kok nampaknya kamu susah sekali memberitahu" ucap Tedy
"Nindya juga tidak tahu tentang kisah cinta Lilian" ucap Tedy lagi
"Dia sahabatku waktu SMA" jawab Bram serius sambil pandangan matanya menerawang
"Oooo jadi kamu tidak bisa membantu aku karena dia sahabatmu, apa melebihi si parit persahabatan mu dengan dia?" tanya Tedy
"Farid juga minta tolong aku untuk nyombkangi dia dengan Lilian tapi sulit" ucap Bram lagi
"Entahlah sampai kapan Lilian bisa move on, kasihan juga anak itu, dia anak yang baik" ucap Bram
"Iya Bro, aku juga terpesona dengan kebaikannya pada Nindya adikku" ucap Tedy sambil tersenyum membayangkan wajah Lilian.
"Dia baik dengan banyak orang Bro" saut Bram
"Terus kenapa dia patah hati, disakiti sahabatmu itu,kurang ajar sekali sahabat mu itu kalau sudah menyakiti orang sebaik Lilian?" tanya Tedy
"Tidak Bro tidak ada yang menyakiti, mereka saling cinta, tapi maut memisahkan" ucap Bram kata katanya meluncur begitu saja
"Bro aku kelepasan omong, ini rahasia loh.. Aku kuatir Lilian tidak berkenan jika banyak orang tahu kisah cintanya, maksudku biar Lilian sendiri yang cerita tentang kisahnya. Tapi sepertinya ke Nindya pun dia belum menceritakan" ucap Bram kemudian. Nampak Tedy juga sedikit terdiam.
"Santai Bro, aku pegang rahasia ini, terima kasih infonya" ucap Tedy
"Jadi rival terberatku arwah ya" gumam Tedy kemudian, namun tiba tiba...
"Bro... Aku kok merinding merinding ya.." ucap Tedy kemudian sambil mengusap usap tengkuknya
"Kamu itu merinding ingat sentuhan tangan Jecklyn menggosok gosok lehermu itu.." ucap Bram lalu bangkit berdiri menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Sementara itu Tedy semakin merasa tubuhnya merinding njegrik (bulu kuduk berdiri) lalu Tedy juga ikut bangkit berdiri dan berlari menyusul Bram ke kamar.
"Bram ..." teriak Tedy