Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
75. Hadiah dari Nindya


__ADS_3

"Kok tanya sudah berkeluarga belum kenapa?" tanya Bram lagi


"Ehmmm karena belum pernah lihat keluarganya, kemarin juga cuma datang sendiri" ucap Nindya


"Sudah berkeluarga, anak dan istrinya di Singapore" ucap Bram


"Ooo, anaknya berapa, kok pisah rumah?" tanya Nindya sambil menatap Bram, sedangkan Bram masih menyesap kopinya


"Cuma satu laki laki namanya Erlangga" jawab Bram setelah selesai menyesap kopinya lalu menaruh gelas di meja


"Pasti ganteng" gumam Nindya namun didengar oleh Bram lalu Bram menoleh dan menatap Nindya dengan tajam


"Kamu memuji laki laki lain di depanku" ucap Bram yang masih menatap Nindya


"Terus harus bilang pasti cantik, yang cantik pasti ibunya" ucap Nindya


"Di Singapore punya usaha Mas?" tanya Nindya kemudian


"Tidak bagitu hanya usaha sampingan, yang utama anaknya sekolah di sana, istri Om Prabu tidak tega anaknya sendiri di sana maklum anak semata wayang. Akhir pekan mereka bertemu berkunjung bergantian, kadang anak istri ke jakarta ngunjungi Om Prabu, kadang Om Prabu yang ke Singapore. Kecuali akhir akhir ini karena Om Prabu kasih training ke aku, tapi kadang Minggu sore Om Prabu terbang ke Singapore" jawab Bram


"Ooooo" gumam Nindya


"Sudah tahu kan, ada yang ingin ditanyakan lagi ga?" ucap Bram


"Punya fotonya Erlangga ga ha...ha..." goda Nindya


"Ada tapi ga usah lihat, yakin ganteng aku kok" ucap Bram sambil tersenyum


"Eh Mas, mau tanya lagi tapi sekarang jangan diketawain ya" ucap Nindya sambil malu malu


"Haaa ha... belum tanya aja aku sudah tertawa ha..ha..." ucap Bram sambil tertawa


"Ihhh..." dengus Nindya


"Apa.. mau tanya apa lagi" ucap Bram


"Aku tuh mau kasih hadiah wisuda Mas Bram tapi bingung mau kasih apa, sekarang mas Bram bilang aja mau minta hadiah apa" ucap Nindya


"Bener kamu mau kasih apa yang ku minta?" tanya Bram dengan senyum menggoda


"Iya" jawab Nindya mantap

__ADS_1


"Minta cium" ucap Bram sambil memejamkan matanya dan memonyongkan bibirnya.


"Okey, pejamkan mata terus ya" bisik Nindya di telinga Bram


"Jangan terlalu monyong donk bibirnya" ucap Nindya kemudian yang masih dengan suara berbisik di telinga Bram. Bram sedikit memundurkan bibirnya sekarang menjadi sebuah senyuman.


Lalu Nindya mengambil gelas kopi Bram dan menempelkan gelas tersebut di bibir Bram sambil tertawa. Dan Bram seketika membukakan matanya.


"Ha...ha....ha..." tawa mereka berdua.


"Ciuman sama gelas mah sudah setiap saat" ucap Bram kemudian


Mereka berdua lalu sejenak terdiam


"Kalau hadiahnya nonton bioskop gimana Nin?" tanya Bram


"Okey, tapi aku sudah ga mau yang komedi lagi" jawab Nindya


"Terus apa yang romantis?" tanya Bram


"Enggak takut baper, yang horor aja" ucap Nindya


"Bener, kamu berani?" tanya Bram


"Ya sudah nanti kita berangkat sekalian keluar makan siang" ucap Bram


'Sama Lilian ya Mas, aku yang traktir semua dech" ucap Nindya


"Kalau sama Farid sekalian gimana?" usul Bram


"Cocok" ucap Nindya


"Ya sudah aku pulang bilang ke Lilian, Mas Bram ngabari kak Farid" ucap Nindya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Bram. Lalu Nindya bangkit berdiri berjalan menuju ke kostnya. Sedangkan Bram lalu mengambil hape nya dan menghubungi Farid, mengabari ada undangan makan siang dan nonton dengan Nindya dan Lilian. Dan tentu saja Farid sangat bahagia dan suka cita.


Sementara itu Nindya langsung berjalan menuju ke kamar Lilian


Tok.. tok.. tok... suara ketukan pintu kamar Lilian oleh Nindya


Tidak berapa lama pintu sedikit terbuka, nampak sosok Lilian terlihat baru bangun tidur


"Kamu tidur ya Li" tanya Nindya yang sudah berjalan masuk ke dalam kamar Lilian

__ADS_1


"Tertidur Nin" jawab Lilian yang sudah merebahkan diri lagi di kasur nya


"Li, nanti makan di luar dan nonton bioskop ya, hadiahku buat mas Bram wisuda" ucap Nindya yang sudah duduk di tepi tempat tidur Lilian


"Kok sama aku, harusnya kalian berdua saja" ucap Lilian


"Sama kamu juga, kamu kan juga sudah turut membantu kelulusan Mas Bram kita rayakan bersama" ucap Nindya


"Okey, baiklah, makasih ya" ucap Lilian kemudian


"Belum juga makan dan nonton nya, makasihnya nanti saja he..he..." ucap Nindya


"Nanti sama Kak Farid juga" ucap Nindya kemudian


"Ha? kok sama kak Farid juga?" tanya Lilian


"Mas Bram yang minta, aku sudah bilang menuruti permintaannya sebagai hadiah wisuda" jawab Nndya yang sebenarnya dia juga setuju dengan misi Bram yang mendekatkan Lilian dengan Farid.


Terlihat Lilian nampak bingung namun tidak bisa menolak ajakan kedua sahabatnya. Setelahnya mereka nampak berbincang bincang dan kemudian mereka segera bersiap siap untuk berangkat makan siang dan nonton bersama.


Beberapa waktu kemudian mobil Bram sudah berada di depan kost Nindya. Bram dan Farid turun berjalan menuju ke kamar Nindya. Pandangan mata Farid tertuju ke kamar Lilian, namun pintu kamar Lilian tertutup rapat.


Pintu kamar Nindya terbuka lebar setelah diketuk oleh Bram. Nampak Nindya dan Lilian sudah siap dengan tampilan cantiknya. Farid tidak menyadari jika Lilian sudah berada di depan pintu kamar Nindya, dia masih fokus menatap kamar Lilian berharap Lilian muncul dari pintu kamar Lilian.


"Rid ayo jalan" ucap Bram sambil menepuk pundak Farid. Farid lalu terlonjak kaget dan lebih kaget lagi Lilian sudah berada di dekatnya. Jantungnya semakin berdetak dengan cepat. Farid lalu memegang dadanya agar detak jantungnya sedikit melambat.


Mereka berempat lalu masuk ke dalam mobil, dan mobil berjalan berlalu menuju ke mall di pusat kota. Tujuan pertama mencari makan siang, setelah makan siang mereka berjalan jalan di mall untuk menunggu waktu. Setelah dirasa cukup mereka berjalan menuju ke lantai dimana gedung bioskop berada, tidak lupa juga sudah membeli minuman dan makanan ringan.


"Bener nih jadi film horor?" tanya Bram memastikan


"Iya" jawab Nindya


"Kamu berani Nin?" tanya Lilian


"Berani kan bohongan" jawab Nindya yakin sambil berjalan menuju ke loket tiket dan Bram setia mendampingi


Setelah mendapat tiket mereka berempat berjalan menuju ke ruang bioskop, lalu mereka mencari nomor kursinya setelah memasuki ruangan.


Setelah mendapat kursinya mereka kemudian duduk dengan posisi Nindya dan Lilian di tengah dan tentu saja Bram berada di samping Nindya sedangkan Farid di samping Lilian.


Tidak berapa lama lampu di ruangan sudah mulai padam, dan film segera di mulai. Suara horor sudah mulai terdengar di telinga. Terlihat Nindya menutup telinganya dengan kedua tangannya. Bram menoleh ke arah Nindya sambil tersenyum. Saat dirasa tidak ada suara mencekam Nindya melepas tangannya. Demikian juga saat ada tampilan layar mencekam Nindya memejamkan matanya. Kalau suara dan visual mencekam Nindya menutup telinganya dengan tangan dan matanya terpejam.

__ADS_1


Namun tiba tiba Bram punya ide jailnya. Saat Nindya serius melihat layar, pelan pelan tangan Bram terulur ke belakang kepala Nindya dan merabanya dengan pelan pelan


"Auuuuuuuu" teriak Nindya kaget sambil spontan memeluk Bram. Bram yang dipeluk tentu saja tertawa terbahak bahak.


__ADS_2