Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
154. Di luar skenario


__ADS_3

Nindya keluar dari kamar mandi tubuh segarnya terbungkus bathrobe. Rambut juga sudah wangi harum shampoo. Dia berjalan menuju ke tempat koper kecil yang kata Johan kado dari Arum. Dia pikir pasti koper kecil tersebut berisi baju dan perlengkapan pribadinya. Nindya membuka koper tersebut untuk mencari baju ganti, untuk pakaian dalam dia mendapatkan. Namun tidak menemukan baju yang diinginkan. Dia bongkar bongkar seluruh isi koper tersebut namun isinya hanya baju tidur **xy dengan berbagai macam model dan warna.


“Kok isinya baju topeng monyet sih" gumam Nindya dalam hati.


Nindya lalu berjalan menuju ke sofa tempat Bram berada dengan maksud akan meminta bantuan. Saat berjalan dia tahu kalau suaminya ternyata tertidur di sofa.


“Apa aku mandi terlalu lama akhirnya dia tertidur" gumam Nindya lagi. Lalu dia mendekat pada Bram.


“Mas... mas... “ ucap Nindya sambil menepuk nepuk pelan lengan Bram. Namun Bram tidak bereaksi masih lelap dalam tidurnya.


Nindya memgulangi beberapa kali membangunkan suaminya namun hasilnya nihil. Akhirnya Nindya berjalan lagi menuju ke tempat koper berada. Sekarang dia mendekati koper Bram. Dia buka pelan pelan koper tersebut.


“Untung tidak dikunci" gumam Nindya. Akhirnya Nindya mengambil sehelai tshirt milik Bram.


“Hi..hi.. berbungkus bungkus jamu dibawa, tapi tidur nyenyak"


“Habis makan tadi apa belum minum jamu ya dia?” tanya Nindya kemudian pada dirinya sendiri.


Nindya lalu memakai tshirt milik Bram, lumayan lah daripada pakai baju kurang bahan, begitu pikirnya. Dia lalu berjalan menuju ke cermin dan melihat dirinya dengan tampilannya sekarang.


“He.. he .. kayak pakai daster, lumayan lah pantat tertutup" ucap Nindya pada dirinya sendiri. Lalu dia berjalan keluar dari kamarnya untuk menuju ke taman karena dia memang ingin melihat sunset. Dia berharap nanti saat Bram terbangun akan menyusulnya.


Nindya menikmati sun set di taman seorang diri hingga matahari benar benar terbenam. Angin mulai dirasakan semilir menerpa wajah dan pahenya. Dia lalu bangkit berdiri dari kursi taman dan melangkah menuju ke kamarnya.


“Mas Bram marah apa ya kenapa tidak menyusulku" gumam Nindya sambil membuka handel pintu. Saat membuka pintu dia melihat Bram masih tidur di sofa sekarang posisinya meringkuk bagai bayi di dalam kandungan.


Nindya berjalan mendekat ke arah Bram, namun saat langkahnya sudah di depan Bram terdengar suara dering telpon yang berada di meja nakas. Nindya lalu membalikkan langkahnya menuju ke telpon yang berdering. Setelah diangkat ternyata informasi dari petugas hotel kalau makan malam sudah tersedia di depan pintu. Nindya lalu mengambil legging nya tadi untuk menutupi bagian tubuh bawahnya lalu dia berjalan mengambil makan malam untuk dia dan suaminya.


Setelah makan malam sudah berada di dalam kamarnya. Nindya membangunkan Bram, namun tetap saja dia gagal membangunkan Bram. Nindya merasa kuatir. Dia dekatkan tangannya di depan lobang hidung Bram, dipegangnya juga nadi nadi di tubuh Bram.

__ADS_1


“Masih hidup, tapi kenapa tidak bisa dibangunkan ya.”gumam Nindya yang masih kuatir.


“Turun ke kamar Om Prabu melaporkan apa ya, tapi kok malu aku pakai baju kayak gini" gumam Nindya lagi. Lalu dia berjalan menuju ke koper Bram tadi. Tadi dia melihat hape Bram, dia akan menghubungi kakaknya Tedy dengan hape Bram. Sebab Nindya tidak membawa hapenya.


Nindya memencet kontak nomer kakaknya Tedy.


“Hai Bro, sudah mencoba gaya apa?” tanya Tedy dengan cepat


“Gaya bayi meringkuk” jawab Nindya dengan ketus


“Hai Nin kok kamu aku kira adik ipar apakah dia terkapar melawan kamu. Adikku ternyata super strong ha...ha....”


“Kakak kalian buat apa pada suamiku?” tanya Nindya


“Ya buat kalian agar bahagia” jawab Tedy


“Mas Bram itu tidur nyenyak kayak orang pingsan. Aku takut dia kenapa kenapa sudah sejak tadi tidurnya kalau dibangunkan hanya berubah sedikit lalu tidur lagi."


Sementara itu Tedy yang mendapat laporan dari Nindya sedikit kaget karena ini di luar skenario, Bram tertidur nyenyak. Dia lalu berjalan menuju ke kamar Johan. Tedy tidak pakai mengetuk pintu dia langsung membuka daun pintu kamar Johan. Tampak Johan sedang berbaring sambil memegang hapenya sepertinya sedang asyik bermain game.


“Kenapa sih Bro, kayak orang kebelet masuk wc umum aja" ucap Johan sambil melihat sekilas Tedy lalu asyik lagi pada hape nya.


“Bram... bro.. kata Nindya tertidur sejak tadi dibanguni ga bisa.” Ucap Tedy sambil duduk di tepi ranjang Johan


“Santai saja pengaruhnya hanya delapan sampai sepuluh jam, paling nanti dia terbangun saat mbak Nindya tidur pulas.” Jawab Johan dengan nada santai


“Hai, kamu kasih obat tidur pada Bram ya?” ucap Tedy sambil merebut hape Johan.


“Sabar Bro, ide ku spontan saja waktu aku di apotik beli obat memar, ya maaf kalau keluar dari skenario" ucap Johan dengan wajah kuatir karena terlihat Tedy sedikit emosi.

__ADS_1


“Bapak Bharata bisa marah kalau tahu" ucap Tedy


“Bro, maaf Bro aku tadi karena juga sedikit emosi sebab pundakku bener bener sakit kena bogem mas Bram" ucap Johan sambil memperlihatkan pundak dan lengan atasnya memang bener bener biru legam karena bogeman Bram.


“Ha....ha... itu juga di luar skenario, aku juga tidak nyangka bogeman dia sekuat itu" ucap Tedy


“Ya sudah aku nanti bilang ke Nindya, kasihan dia malam pertama ditinggal tidur dan kuatir dengan suaminya" ucap Tedy sambil melangkah keluar.


“Jadi kenangan tak terlupakan bagi mereka Bro he.. he...” jawab Johan.


Sementara itu setelah mendapat kabar dari kakaknya Tedy, Nindya sedikit tenang kemudian mengambilkan selimut dan menyelimuti tubuh suaminya yang masih terlelap di sofa. Dan setelahnya dia makan malam seorang diri.


“Punya sodara kok aneh aneh semua, kasih kado aneh aneh ngasih kenang kenangan aneh aneh, awas saja besok kalian kalau menikah aku juga bisa buat kado spesial" gumam Nindya sambil menikmati makan malamnya. Dan setelah beberes dan bebersih diri dia menuju ke tempat tidur yang berukuran lumayan luas.


“Aku yang penasaran tentang malam pertama akhirnya tahu malam pertamaku seperti ini he...he... tidur sendiri sendiri" gumam Nindya dan akhirnya dia pun tertidur pulas.


Waktu terus berlalu beberapa jam kemudian di saat sudah dini hari. Bram membukakan matanya.


“Aku bermimpi Nindya menolak kuajak bermain, apa beneran ya?” tanya Bram pada dirinya sendiri


“Kok tidur terpisah gini, kayak pengantin karena perjodohan saja" gumam Bram lalu dia bangkit berdiri.


Bram lalu berjalan menuju ke tempat tidur dilihatnya Nindya tertidur pulas. Dibukanya selimut yang menutupi tubuh istrinya, dilihatnya Nindya memakai tshirt nya.


“Aku kira dia akan memakai baju di dalam koper kecil tadi ternyata mengambil bajuku he..he...” Ucap Bram dan dia terlihat gemes pada istrinya lalu dicium kening dan pipinya.


“Dibangunin marah ga ya?” tanya nya pada diri sendiri


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2