Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
122. Tulus


__ADS_3

Terlihat Nindya terdiam sejenak saat Lilian mengajukan pertanyaan. Dan tidak berapa lama kemudian Nindya bangkit dari duduknya lalu berdiri dan berjalan mengambil hapenya yang berada di atas meja riasnya.


"Aku tanya dulu ya, dia tulus tidak" ucap Nindya sambil mengusap usap hape.


"Siapa sih yang ngasih, orangnya ada dimana?" tanya Lilian. Nindya diam saja lalu dia berjalan menuju ke pintu kamarnya, lalu membuka daun pintu hanya sedikit saja, kemudian dia melongokkan kepalanya untuk melihat kakaknya Tedy ada di dekat kamarnya tidak. Dia akan menelpon Tedy kalau Tedy berada di dekat kamarnya, Lilian akan segera tahu siapa yang memberi. Setelah dilihat tidak ada sosok Tedy di dekat kamarnya Nindya mengusap usap hapenya untuk mencari kontak nama Tedy.


"Sudah sepi Li di luar kamar, sudah masuk kamar semua" ucap Nindya agar Lilian tidak curiga, dan Nindya tetep berdiri di dekat pintu


"Hallo" ucap Tedy di telpon Nindya yang tidak terdengar oleh Lilian.


"Bos kau kasih kalung dan liontin itu tulus tidak?" tanya Nindya


"Tulus setulus hatiku, hanya ingin Lilian merasakan senang dan bahagia, setidaknya ucapan terimakasih aku sebagai kakak kamu karena dia sudah berbuat baik ke kamu sejak awal kamu di kost hingga kini, apalagi sudah menyelamatkan nyawa adikku tersayang, karena dia juga kamu bertemu dengan jodohmu, itu belum seberapa Nin bila dilihat dari kebaikannya, kalau dia senang dengan barang itu aku sudah bahagia, melihat dia bahagia itu kebahagiaanku" ucap Tedy dengan suara pelan namun tegas


"Hiks.hiks... kok aku jadi terharu... I love you.. kak... Hiks...hiksss" ucap Nindya sambil terisak dan masih menempelkan hapenya pada telinganya.


"Nin... Kamu kenapa?" tanya Lilian sambil mendekat ke arah Nindya. Nindya lalu menjauhkan hape dari telinganya dan selanjutnya menutup sambungan telponnya


"Tulus Li, aku jadi terharu dengan ucapannya tadi" ucap Nindya sambil mengusap air mata yang mengalir


"Kok kamu bilang I love you jangan jangan kalung dan liontin buat kamu Nin, kamu selingkuh dari mas Bram, belum apa kamu sudah bermain main dengan hati" ucap Lilian yang menduga duga karena ucapan Nindya saat melakukan sambungan telpon tadi.


"Bukan Li, mana mungkin aku selingkuh mas Bram yang terbaik bagiku" ucap Nindya lalu kembali berjalan dan duduk di tepi tempat tidurnya, Lilianpun mengikuti Nindya.


"Dia ngasih khusus buat kamu Li, dia tidak berani ngasih sendiri karena kamu sulit didekati, dia takut kamu menolak pemberiannya...." ucap Nindya dan terlihat ada genangan air di matanya.


"Maka dia minta tolong ke aku, aku pun bingung takut kalau kalau kamu menolak pemberiannya, aku bingung Li.. kenapa kamu ....." ucap Nindya lagi namun tidak berlanjut dia lalu mengusap ujung matanya agar air mata tidak meleleh. Nampak Lilian menatap serius pada Nindya


"Tadi waktu ku telpon dia bilang tulus ngasih ke kamu hanya ingin kamu merasa senang dan bahagia, selain itu sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah selalu menolong aku hiks...Hiks... Dan itu tidak sebanding dengan kebaikanmu Li... hua...hua... I love you Li...." ucap Nindya pecah tangisnya lalu memeluk Lilian dan nampak Lilian juga memeluk Nindya

__ADS_1


"Aku juga tulus menolongmu Nin tidak mengharapkan pemberian pemberian apapun, kebaikanmu ke aku juga tidak bisa dihitung Nin" ucap Lilian sambil membelai rambut Nindya


"Katakan siapa yang ngasih, kamu tadi sebut Kak, siapa? Kak Farid, kak Tedy, kak Alvin atau siapa?" tanya Lilian. Nindya lalu mengurai pelukannya


"Kak Tedy" jawab Nindya sambil menatap tajam Lilian sangat ingin melihat reaksi Lilian. Namun terlihat Lilian hanya bereaksi datar datar saja.


"Kak Tedy dapat dari mana?" tanya Lilian kemudian masih dengan wajah datarnya


"Katanya designer perhiasan itu temannya" jawab Nindya


"Kata Erlangga nama designer nya Angel, tadi aku lihat simbol di liontin gambar bidadari kecil" ucap Lilian


"Aku ga tanya, coba lihat" ucap Nindya lalu tangannya terulur memegang liontin Lilian yang menempel di dada Lilian setelahnya membalik liontin itu dan melihat simbolnya.


"Iya ada gambar bidadari kecil, bagus ya" puji Nindya


"Kak Tedy beli atau dikasih ya Nin?" tanya Lilian yang sekarang penasaran kenapa Tedy bisa mendapatkan barang spesial yang kata Erlangga hanya orang kalangan atas yang bisa beli atau orang orang terdekat designer nya.


"Aku ga tanya Li, aku cuma kagum saat melihat barangnya ga tahu kalau ini barang mahal dan limited edition" jawab Nindya


"Aku kok juga jadi mikir kalau kak Tedy kayaknya uangnya juga belum banyak meskipun sudah bekerja, mungkin dikasih...." ucap Nindya lalu nampak dia berpikir pikir


"Kalau kak Tedy dikasih si Angel apa kamu cemburu he....he...." ucap Nindya kemudian


"Ihhh... kenapa juga cemburu" ucap Lilian sambil menimpuk pundak Nindya


"Jadi kamu terima dengan hati terbuka kan pemberian kak Tedy ini?" tanya Nindya meyakinkan. Nampak Lilian hanya diam saja


"Li... Kalau kamu ga mau buat aku aja ya" ucap Nindya kemudian sambil menggoda tangannya terulur seperti mau melepas kalung yang menempel di tubuh Lilian

__ADS_1


"Jangan ya.... kata Erlangga aja, mas Bram belum bisa beli barang ini he...he... " ucap Lilian sambil memegang kalung yang ada di lehernya sambil berdiri menjauh dari Nindya


"Haduh kenapa mas Bramku kalah dalam hal ini" ucap Nindya sambil menepuk jidatnya. Namun di dalam hati Nindya sangat bahagia sebab Lilian tidak menolak pemberian Tedy kakaknya.


"Mas Brammu harus bekerja keras agar dapat uang banyak dulu, tapi kalau limited edition menunggu orang yang sudah membeli menjual lagi dan itu semakin mahal Nin" ucap Lilian sambil tersenyum menatap Nndya


"Iya lebih baik kerja keras cari duit tidak berusaha kenal dengan designer nya" ucap Nindya yang kuatir jika Bram dekat dekat dengan cewek akan datang masalah.


"Li, designer nya cantik tidak ya?" tanya Nindya


"Mana aku tahu, kamu tanya ke kak Tedy atau Erlangga" jawab Lilian


"Iya besok aku tanya ke kak Tedy dia kenapa bisa dapat barang ini, akupun belum dikasih kak Tedy lho Li, cuma bilang ada buat aku, tapi sampai sekarang belum dikasih he....he... " ucap Nindya sambil tertawa kecil. Namun tidak ada rasa iri di hati Nindya jika dia tidak diberi oleh Kak Tedy pun dia sudah mendapatkan cincin lamaran dan perhiasan dari keluarga Bharata. Nindya sudah cukup senang bila Lilian sahabatnya juga mendapatkan kebahagiaan dan hatinya mulai terbuka untuk cinta. Nindyapun jadi teringat ingin bertanya pada mamah Indah tentang curhatan Lilian namun hari telah larut malam. Dilihatnya Lilian sudah memakai baju tidur dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Nampak kalung dan liontin pemberian Tedy masih berada menempel di tubuhnya.


"Dia tidak mau melepas atau tidak bisa melepas kaitannya" gumam Nindya sambil tersenyum


"Li... semoga hati mu bisa mulai terbuka meskipun pelan pelan bagai bunga kuncup menuju mekar berproses secara pelan pelan, dan semoga kak Tedy juga sabar menunggu sampai bunga itu mekar" gumam Nindya lagi sambil menatap wajah Lilian yang sudah terpejam matanya namun ada sedikit sunggingan senyuman di bibirnya.


bersambung


...******...


...Reader tersayang terimakasih othor ucapkan karena kebaikan hati reader yang sudah meluangkan waktu dan kuota untuk membaca cerita Bram dan Nindya ini. Cerita mereka masih terus berlanjut dan othor usahakan up date setiap hari.....


...Kemudian othor akan memperkenalkan novel satunya yang berjudul Margi Nah tapi episodenya masih dikit 🤭😁 silahkan dikepoin ya... biar othor semangat up date.... buat yang sudah ngebaca, ngelike, ngevote, ngefavorit, ngasih komentar, ngasih hadiah... othor ucapkan banyak terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_1


__ADS_2