
Terlihat Bram dan rombongan sudah pamit pada Mamahnya Adit. Mamahnya Adit mengantar di depan pintu kamar rawat papahnya Adit, dia tidak berani meninggalkan papahnya Adit jauh jauh meskipun sedang tidur, karena tidak ada perawat yang menjaga. Sedangkan Rangga berdiri tidak jauh darinya.
“Mbak Li" ucap Rangga sebelum mereka berlalu
“Apa? Kamu bawa uang buat makan siang kan?” tanya Lilian pelan agar Mamahnya Adit tidak mendengar
“Bawa, Cuma mau bilang itu motorku aku parkir di tempat parkir yang dekat pos satpam, ambil sendiri ya oleh oleh nya, biar aku tidak bolak balik" ucap Rangga pelan sambil mendekati Lilian. Terlihat Lilian mengiyakan. Lalu mereka semua berjalan meninggalkan kamar rawat papahnya Adit.
“Ayo nak masuk ke dalam" ucap Mamahnya Adit dengan lembut kepada Rangga. Rangga yang usianya hampir sama dengan saat Adit meninggal membuat Mamahnya Adit bagai kembali ke masa lalu. Terlihat dengan sopan Rangga ikut masuk ke dalam kamar rawat.
“Maaf ya nak jadi merepotkan kamu, duduk sini atau kalau capek boleh tiduran di situ" ucap Mamahnya Adit lagi sambil menyodorkan kursi dan menunjukan bed kecil yang digunakan untuk tidur penjaga pasien.
“Iya Tan, saya duduk di sini saja” ucap Rangga lalu duduk di kursi dan matanya mengitari isi ruangan dan melihat papahnya Adit yang masih tertidur tetapi dengan senyuman di bibirnya.
“Kamu adiknya Lilian ya, Tante cuma ingat ingat lupa dulu Adit pernah cerita Lilian anak pertama" ucap mamahnya Adit sambil menatap Rangga
“Iya Tan, kami tiga bersaudara saya anak kedua laki laki sendiri” jawab Rangga
"Siapa namamu nak?" tanya Mamahnya Adit
"Rangga" jawab Rangga
“Oooh... maaf ya Tante mau tanya ke kamu, apa Tedy pacarnya Lilian ya, Tante pengen tanya tadi kok rasanya tidak enak?” tanya Mamahnya Adit dengan hati hati
“Iya Tan, kami sekeluarga sangat senang akhirnya mbak Lilian mau membuka hatinya setelah lama hatinya tertutup untuk laki laki lain semenjak meninggalnya mas Adit" jawab Rangga
“Owh.. jadi setelah meninggalnya Adit baru pacaran sekarang?” tanya Mamahnya Adit lagi
“Iya Tan, padahal banyak yang suka dengan mbak Lilian tapi mbak Lilian ga mau, kayak trauma... eh maaf" ucap Rangga yang kalimatnya tidak berlanjut takut Mamahnya adit tersinggung.
“Tante yang minta maaf sudah berlaku buruk saat itu pada Lilian, Tante stres saat itu, kemudian Ardian sering nemeni kami lama lama kami mulai bisa menjalani hidup dan kegiatan kami lagi" ucap mamah nya Adit
__ADS_1
“Iya Tan, kami maafkan, kata Nenek, anak itu cuma titipan jadi harus siap bila ditinggalkan kapanpun, tapi maaf Tan mungkin saya bisa bilang begitu karena saya belum punya anak” ucap Rangga dengan hati hati
“Iya nak, banyak yang kasih nasehat seperti itu tapi rasanya sulit sekali, maka Tante kadang heran kenapa ada orang tua yang membuang anaknya, padahal ada orang yang stres kehilangan anak. Kamu lihat itu papahnya Adit hanya bisa terbaring lemah begini karena kangen anak” ucap Mamahnya Adit
“Iya Tan" jawab Rangga sambil menatap wajah papahnya Adit namun tiba tiba terlihat matanya papah Adit terbuka.
“Tan, Om terbangun” ucap Rangga kemudian sambil mendekati papahnya Adit. Terlihat papahnya Adit mengeryitkan dahinya saat membuka mata melihat ada seorang pemuda di depannya dan selanjutnya beliau berusaha untuk mengangkat punggungnya namun tidak bisa.
“Mah... siapa dia kok ada anak laki laki seumuran Adit, tolong ini ditinggikan" ucap papah Adit sambil tangannya menepuk nepuk pelan sisi tempat tidurnya.
“Pah itu adiknya Lilian, umurnya jauh dari Adit kalau Adit masih hidup Adit sudah seperti Bram tadi sudah bekerja Pah he...he..” ucap Mamahnya Adit mendakat kemudian sambil mengatur tempat tidur, dan terlihat Rangga menganggukkan kepala dan tersenyum dengan sopan.
“Sini nak, lebih mendekat" ucap papahnya Adit dan Ranggapun mendekat
“Kakakmu kemana, dan yang lain tadi kemana?” tanya papahnya Adit
“Sudah pulang pah, mereka harus bekerja, Lilian juga ada urusan di kampus sudah mau KKN dia" jawab Mamahnya Adit
“Kamu mau temani kami?” tanya papahnya Adit penuh harap
“Iya Om" jawab Rangga sambil mengangguk dengan penuh keyakinan. Terlihat papahnya Adit tersenyum dan menggenggam erat tangan Rangga.
*****
Sementara itu Tedy di mobil sedang berpikir keras dengan masalah sekarung oleh oleh yang dibelikan Neneknya Lilian. Apalagi tadi Rangga berpesan harus dibawa itu oleh oleh sekarung.
“Li... “ ucap Tedy pelan sambil menoleh menatap Lilian
“Apa Kak" jawab Lilian sambil menoleh menatap Tedy
“Itu oleh oleh kok banyak banget,bagaimana aku bawanya?” tanya Tedy
__ADS_1
“Kamu harus bawa Bro, dipikul ha....Ha....” saut Bram yang mendengar pertanyaan Tedy dan tidak lupa menepuk pundak Tedy.
“Aku serius tanya Bro, kamu jangan menertawakan” ucap Tedy kemudian sambil menoleh ke arah belakang menatap Bram
“Aku juga serius jawab Bro, ingat pesen nenek harus dibawa ga boleh dipaket" ucap Bram lagi
“Kakak bawa secukupnya saja, yang lain bisa dipaket kalau mau kalau tidak mau ya bisa dibagi ke yang lain Kak, dibagi buat Mak, buat pak Sopir, buat pak Man, buat ibu kost, buat teman teman kost, pasti habis itu nanti slondok sekarung “ jawab Lilian
“Bener boleh begitu" ucap Tedy terlihat bahagia
“Aku laporin ke nenek" ucap Bram mengancam
“Mas Bram, Bro" teriak Tedy dan Lilian secara bersamaan.
“Boleh tadi nenek maksa Rangga ngantar kan kalau itu barang masih di rumah mubasir sebab orang orang sekitar sudah biasa makan slondok, kalau Nindya mau maketin ke tante indah juga lebih baik" ucap Lilian kemudian
"Mau... mau... Nanti aku bilang dari calon besan, pasti suka banget mamah" ucap Nindya dengan semangat
"Sekalian aku juga dipaketin ya Tot buat temen temen aku" ucap Tedy kemudian
"Kayaknya lebih nikmat kalau pacar yang paketin dech kak" jawab Nindya sambil tersenyum
"Aku ga tahu alamatnya" saut Lilian
"Bro itu Lilian minta alamat mu di jakarta " ucap Bram dan terlihat mereka semua tertawa.
Mereka terus bercanda dan tertawa, mobil terus berjalan tujuan pertama adalah mengantar Bram ke kantor Bharata Group. Selanjutnya ke bandara untuk mengantar Tedy, kemudian menuju ke kost Nindya dan Lilian. Terakhir kali mengantar Mak ke rumah keluarga Bharata.
Nasib slondok sekarung seperti usul Lilian, Tedy membawa secukupnya yang lain dibagi bagi dan dipaket ke mamah Indah dan ke alamat Tedy di jakarta. Dan dengan kesepakatan Likian yang mengirim paket ke alamat Tedy, sebagai cara agar mereka berdua mulai menjalin komunikasi.
*****
__ADS_1
Padahal sebenernya othor juga mau dipaketin itu slondok 😍🤩🤩🤩🤩