
Ibu Murti dan mamah Indah yang berdiri di dekat mereka tampak menitikkan air mata karena rasa haru telah selesaikan menikahkan anaknya. Namun terlihat mereka tersenyum karena mendengar suara imut Bali yang menjawab bisikan Bram pada Nindya.
Setelah Bram mencium kening Nindya, terlihat Nindya tersenyum dan juga mengusap lembut ujung matanya agar air mata yang menggenang tidak menetes. Dia merasa haru dan bahagia di hari pernikahannya. Perias yang juga berada di dekat Nindya buru buru mengecek wajah Nindya untuk melihat ada riasan yang rusak tidak. Setelah dilihat masih okey dia mundur beberapa langkah.
Bram dan Nindya selanjutnya melangkah menuju ke orang tua mereka secara bergantian, untuk mengucapkan terimakasih dan mohon maaf juga mohon restu untuk rumah tangganya ke depan.
Setelahnya Bram dan Nindya terlihat menuju ke meja tempat ijab tadi, pak Penghulupun masih duduk di kursinya. Mereka menyelesaikan segala hal yang menyangkut administrasi bukti sahnya pernikahan. Kemudian setelah selesai tampak Bram dan Nindya dituntun menuju ke pelaminan bersama orang tua mereka berdua.
Tamu tamu terlihat mulai berdatangan. Sedangkan keluarga, kerabat dan para saksi setelah memberi selamat pada pengantin dan orang tua mereka foto foto lalu berjalan menuju ke meja perjamuan. Demikian juga tamu tamu yang datang setelah memberi selamat mereka berjalan menuju ke meja perjamuan.
Bali terlihat sangat bahagia lari ke sana kemari diikuti oleh Tole dan mbah Girah yang juga berdandan cantik pakai baju seragam.
“Ih... ada bule lucu.” Ucap seorang tamu sambil menoel pipi Bali
“Ba....li..... No.. bu..le" teriak Bali dengan mimik wajah marah sampai pipinya yang gembul merona merah dan juga tidak lupa tangan mungilnya berkacak pinggang. Tamu yang mengatakan bule tadi malah gemes melihatnya. Sedangkan Tole di belakangnya memgusap usap lembut kepala Bali agar anak itu sedikit tenang.
“I’m sorry baby” ucap tamu tersebut
“Yees" jawab Bali. Mbah Girah yang yang berada di dekatnya lalu menggendong Bali, takut nanti pipi Bali ditoel lagi oleh tamu tamu.
Waktu terus berlalu acara berjalan lancar. Tampak tamu tamu puas dengan hidangan makanan yang disajikan, juga souvenir manis yang didapat. Kini tinggal keluarga besar kedua mempelai yang berada di gedung pertemuan. Mereka asyik melakukan foto foto.
“Sudah selesaikan?” tanya Bram dengan suara agak keras
“Sudah Mas” jawab Johan
“Aku dan Nindya mau istirahat” ucap Bram sambil menoleh menatap Nindya. Bram sudah ingin melepas rindu yang selama ini dipendam.
Namun tiba tiba, Alvin dan Tedy berjalan menuju ke arah mereka. Alvin langsung mendekati Nindya dan kemudian membopongnya. Bram yang melihat istrinya dibopong oleh kakak iparnya berusaha menghentikan langkah Alvin. Namun Johan dan Tedy menghalangi. Nindyapun terdengar berteriak teriak minta diturunkan.
Bali yang melihat kejadian tersebut tentu saja kaget dan menangis kejer sambil teriak teriak.
“Huaaa... huaaa..huuuuaaaa... dedi.. Lek... Lek...” tangis Bali di dalam gendongan Victoria. Entahlah apa yang dipikirkan Bali dia cemburu daddynya menggendong Nindya atau karena Nindya teriak teriak minta diturunkan.
__ADS_1
“Mau kalian apakan istriku?” tanya Bram dengan keras sambil berusaha mengejar Alvin. Namun langkahnya terhenti oleh hadangan Johan dan Tedy.
Tidak lama kemudian Om Prabu dan Erlangga datang mendekati Bram. Setelah Om Prabu datang, tampak Tedy berlari menyusul Alvin. Sedangkan yang lain tampak sekedar menyaksikan aksi mereka.
Kini Tedy sudah bisa menyusul langkah Alvin, terlihat Alvin lumayan ngos ngosan nafasnya. Mereka sudah berada di tempat parkir dan berada di dekat mobil papah Mahendra. Tedy lalu membukakan pintu belakang. Alvin segera memasukkan Nindya dan diapun ikut duduk di samping Nindya. Tedy lalu memasuki mobil lewat pintu kemudi, dan selanjutnya dia menjalankan mobil tersebut.
“Hiks... Hiks... Aku mau dibawa kemana kenapa aku dibawa lari" ucap Nindya di sela sela isak tangisnya.
“Kalau di cerita novel novel itu pengantin dibawa kabur sebelum acara dimulai hiks..Hiks...” ucap Nindya lagi
“Aku sudah mirip penculik belum?” tanya Tedy sambil fokus mengemudikan mobilnya.
“Kamu enak ngak ngos ngos an" ucap Alvin sambil mencari cari air mineral di dalam mobil
“Aku juga kena bogemnya adik ipar sialan.” Ucap Tedy
“Untung Om Prabu segera datang, aku yakin tubuh Johan lebih memar dari aku he..he...” ucap Tedy sambil tertawa ingat Johan yang mendapat lebih banyak bogem.
“Kakak......” teriak Nindya yang sekarang juga memukul mukul pundak Alvin.
Sementara itu di gedung pertemuan Bram masih teriak teriak protes kenapa yang lain hanya menonton.
“Ayo aku bantu kamu nyusul Nindya" ucap Om Prabu lalu mengandeng tangan Bram.
Johan dan Erlangga terlihat juga ikut berjalan mengikuti langkah kaki Bram dan Om Prabu.
“Nyusul pakai apa, kita ga bawa mobil” ucap Bram
“Sudah ayo nurut saja" ucap Om Prabu.
Mereka berempat lalu berjalan cepat dan di depan gedung sudah tersedia mobil hotel dengan pintu yang sudah terbuka.
“Ayo masuk” perintah Om Prabu pada Bram. Bram lalu masuk dan duduk di jok belakang kemudi bersama Om Prabu.
__ADS_1
“Er, kamu yang nyetir tanganku susah digerakkan" ucap Johan yang masuk di sisi samping kemudi. Erlangga lalu berjalan memutari mobil untuk masuk lewat pintu kemudi.
“Nanti mampir apotik dulu" ucap Johan saat Erlangga sudah duduk di jok kemudi. Erlangga lalu mulai menyalakan mesin dan selanjutnya menjalankan mobil sesuai arahan Johan. Sedangkan Bram hanya terduduk pasrah.
Setelah perjalanan satu jam lebih, Bram merasakan mengenali jalan yang dilewati mobil yang dijalankan oleh Erlangga.
“Kok arah ke beutiful hill, apa Nindya disembunyikan di sana" gumam Bram dalam hati.
“Kalian pasti sudah bersekongkol” gumam Bram
“Sudah diam saja kamu, nikmati saja kado dari kami he..he..” ucap Om Prabu sambil menepuk pundak Bram yang duduk lesu bersandar di sandaran jok mobil.
Mobil masih melaju dan berjalan nanjak lebih tinggi bukan arah menuju ke rumah orang tua mamah Indah
“Akan dibawa kemana aku, rumah mamah Indah di sana" ucap Bram. Namun mereka semua hanya diam tidak mmenanggapi ucapan Bram. Mobil terus melaju pemandangan di kanan kiri jalan nampak bagus. Om Prabu justru menikmati pemandangan yang dilewatinya.
“Er, kamu nanti jemput Mamahmu ya kayaknya aku juga ingin menginap di sini saja daripada di hotel kota" ucap Om Prabu. Terlihat Erlangga hanya menganggukkan kepala.
Beberapa menit kemudian mobil masuk ke sebuah halaman hotel yang tergolong mewah dan menjulang tinggi. Mobil terus berjalan menuju ke tempat parkir. Dan setelah keluar dari mobil, mereka berempat berjalan menuju ke tempat resepsionis hotel. Tampak Johan berbincang bincang dengan petugas resepsionis hotel. Selanjutnya mereka ditunjukkan arah lift hotel. Dan diberikannya sebuah kunci kamar.
Beberapa tamu hotel memandang ke arah mereka sebab memang tampilan mereka berbeda dengan tamu yang lain. Bram masih dengan baju pengantin lengkap juga ketiganya masih memakai baju seragam yang berkonsep tradisional jawa atau istilahnya beskapan dan bawahnya pakai kain batik dan masih dengan blangkon di kepalanya.
Mereka berempat kemudian masuk ke dalam lift. Johan memencet tombol nomor untuk lantai paling atas. Beberapa menit kemudian lift berhenti di lantai yang dituju. Setelah pintu lift terbuka mereka berempat berjalan ke luar lift.
Tampak ruangan luas dengan banyak sofa sofa beberapa set yang terpisah, juga terlihat sebuah tangga menuju ke lantai di atasnya lagi.
“Masih ada lantai atas lagi ya, aku kira ini paling atas" gumam Erlangga yang mengikuti langkah kaki Johan.
Dan tidak lama kemudian terlihat di depan mereka Alvin, Tedy dan Nindya sedang duduk di sofa sambil menghadap dinding kaca hotel yang memperlihatkan pemandangan indah di depannya.
Bram yang melihat istrinya sudah di depan mata lalu mempercepat langkahnya mendahului Johan.
***
__ADS_1
Bersambung